welcome indigo wife

welcome indigo wife
Pergi!


__ADS_3

....


Karla datang kehadapan Olive yang sedang duduk di kursi taman seorang diri.


Wajah Karla terlihat sangat senang, ia sangat bahagia, tidak sesuram dulu di mata Olive.


"Makasih banyak Olive, berkat lo sekarang gue udah bisa tenang, ayah dan ibu juga senang banget adopsi Lia," ujar Karla senang, air mata bahagia nya bahkan tak bisa tertahan lagi.


Andai ia masih hidup mungkin ia bisa merasakan betapa senang nya memiliki seorang adik, namun ia tidak menyesali hal itu, dia tidak masalah jika ia harus pergi sekarang, baginya Lia bahagia bersama kedua orang tua nya sudah cukup.


Olive menganguk ,"lo udah tenang kan? Sekarang pergi gih, disini bukan tempat lo," ujar Olive.


Karla menganguk, milah muncul di sana, Ia berlinang air mata, dengan cepat Ia memeluk tubuh Karla.


"Hiks....Kampret kenapa lo harus pergi duluan sih? Gue kesepian nanti!!" ujar Milah di sela isak tangis nya.


"Urusan Gue udah selesai Jamilah, Gue nggak bisa disini lagi, ada tempat indah yang sudah nunggu Gue," ujar Karla lembut sambil membalas pelukan Milah.


Kedua nya berpelukan singkat, lalu Karla juga memeluk Olive.


"Baik-baik disana, jangan ngerepotin Tuhan disana," ucap Olive berusaha untuk tidak menangis, walau ia dan Karla hanya berteman sebentar, baginya perpisahan adalah hal paling menyedihkan.


"Iya, lo juga jangan berulah lagi, jaga Revan baik-baik, dan jaga diri lo juga, jangan lupa jadi istri yang baik, kurangi dosa lo," tutur Karla.


"Lo juga jamilah, kurangi dosa lo, jangan lupa nyusul Gue disana, Gue bakal selalu nunggu lo," ucap Karla di sela isak tangis nya.


Milah menganguk sambil menghapus air mata nya, Karla melangkah pada Cahaya terang yang muncul dari langit, cahaya itu sangat terang, mata Olive dan Milah sampai terasa sakit.


Karla berdiri di bawah Cahaya, Ia tersenyum manis, rupa menyeramkan nya seketika berubah, ia berubah menjadi wanita cantik dengan baju putih bersih.


"Selamat tinggal!"


Karla melambaikan tangan nya, Ia sudah berpamitan dengan kedua sahabat nya, kini sudah waktu nya ia pergi.


Tanpa Olive sadari, Revan melihat Olive yang melambaikan tangan ke arah Karla.

__ADS_1


Iya, Revan bisa melihat Karla yang tersenyum sekilas pada nya, sambil melambaikan tangan padanya.


Karla pun pergi bersama Cahaya terang tersebut.


"Dia sudah pergi, sekarang Gue nggak punya teman ngebangke lagi," gerutu milah sambil menghapus air mata nya.


"Yang penting Karla udah tenang disana, dan lo segera nyusul dia deh, Gue risih liat muka lecek lo tiap hari," Omel Olive.


"Ihh, durjana lo, entar kalau Gue pergi lo nangis lagi," cibir milah.


"Nangis? Kurang kerjaan amat Gue," balas Olive.


"Olive!"


Gadis itu segera berbalik ke sumber suara yang memanggil nya, ia melihat seorang Cowok tampan duduk di kursi roda.


"Revan, ada apa? Seharus nya lo udah tidur, ini udah malam," ujar Olive.


Gadis itu menghampiri Revan, ia masih terkejut. Baru saja ia melihat Karla, sosok anak kepala sekolah yang sudah lama meninggal dunia. Ia semakin yakin, jika semua ucapan Olive bukanlah bualan semata, gadis itu serius, jika ia memang Indigo.


"Heem, apa?"


Revan menarik nafas panjang, "Kalau citra bilang ke semua orang tentang pernikahan kita bagaimana?"


Olive mendengus, "oh jadi itu yang lo pikirin."


"Jika pun semua orang tahu, Gue nggak peduli, lagian kan emang begitu kenyataan nya," jawab Olive santai, ia memang tidak keberatan jika semua orang tahu.


Olive juga muak di ganggu oleh Brayen, cowok itu selalu saja mengusik Olive, bahkan ia sering kali mengatai Olive drama, padahal Olive benar-benar muak dengan sikap sok manis Brayen.


Andai saja Brayen bukan Cowok paling populer di sekolah, sudah pasti Olive tidak sungkan memberikan bogeman mentah ke wajah cowok itu.


Namun Revan, ia tidak mau Olive menanggung malu, dan satu lagi, ia tidak mau Olive jadi bahan gosip para murid.


"Biarin aja mereka semua mau bacot kaya apa, Gue nggak peduli, sekalipun mereka semua hina Gue," ujar Olive santai.

__ADS_1


Olive memang tidak peduli dengan semua perkataan Murid lain, namun tidak dengan Revan, ia tahu Revan sangat lemah dan mudah di tindas, ia juga merasa bersalah telah mengakui hal itu di saat yang tidak tepat, namun semua sudah telanjur, tidak ada yang bisa di ulang lagi.


Kecuali ada pintu ajaib Doraemon.


"Gue jujur lebih menyesal, kalau sampai mereka hina dan bully lo, apalagi sekolah kita terpisah, gue jadi nggak bisa leluasa bantu lo," ucap Olive.


Gadis itu mendengus kesal, mengapa ia tidak pikir panjang dulu tindakkan nya, ia berharap Citra akan tutup mulut. Jika pun sampai Gadis itu buka mulut, Olive harus siap menerima semua konsekuensi dari perbuatan nya.


"Gue emang nggak bisa jaga mulut Gue, Gue jadi buat lo susah," lanjut Olive menyesal.


Revan menggeleng, "Lo nggak perlu khawatir, Gue bisa jaga diri Gue sendiri kok, Gue senang lo mau akui Gue sebagai suami lo," sahut Revan.


Olive merasa semakin menyesal sekarang, Revan adalah orang yang baik, namun mengapa hidup nya menderita sekali, Olive bahkan tak habis pikir mengapa ia bisa berada di kehidupan ini.


'Seharus nya orang baik kayak lo mendapatkan istri yang tepat, bukan kayak Gue yang nggak punya hati sama sekali, dan bukan kayak Gue yang sekarang,' batin Olive.


Olive mendekat, ia menarik Revan kedalam pelukan nya, Dia rasa hanya ini yang bisa ia lakukan untuk permintaan maaf nya.


"Jika mereka bully lo, lo harus telfon gue, sebisa mungkin gue bakal bantu lo," ucap Olive.


Revan menganguk, ia juga memeluk tubuh Olive, tubuh gadis itu sedikit membungkuk agar dapat memeluk nya.


"Ehem!! Lupa ada orang kah?"


Milah yang menyaksikan semua itu dia merasa seperti nyamuk yang terbang ke tempat yang tidak tepat.


"Dah lah, setan jomblo kayak Gue mah, cuma bisa ngiri," celoteh Milah pasrah.


"Selamatt berbucin!!" Milah segera pergi sebelum rasa iri di dalam diri nya merajalela.


"WOYY!! MASUK!! UDAH MALAM!! ENTAR MASUK ANGIN!!!" teriak Emeli lantang dari depan pintu mansion.


"MA!! BERISIK!!"


******

__ADS_1


__ADS_2