
...
Pagi itu Olive terbangun akibat cahaya matahari yang menembus kaca jendela kamar.
Olive terbangun tepat di samping Revan yang masing memeluk nya erat, wajah cowok itu juga bersembunyi di ceruk leher Olive.
Olive merasakan hembusan nafas Revan yang teratur, wajah nyenyak suami nya seketika membuat senyuman singkat terukir di bibir manis nya.
"Ganteng banget ya Allah suami hamba mu ini," guman Olive sambil menyingkirkan helaian poni Revan yang menutup kening cowok itu.
'Gue harus ke rumah lama Gue, tapi Gue nggak mungkin bangunin Revan, nggak tega Gue ganggu tidur dia,' batin Olive.
Olive perlahan melepaskan pelukan Revan, dia perlahan juga bangkit dari kasur agar Revan tidak terbangun. Lagi pula ini juga masih sangat pagi, dan hari minggu.
"Sayang, aku pulang ke rumah lama dulu ya," ucap Olive sambil mengecup singkat kening Revan.
Namun saat bibir nya hendak menyentuh kening Revan, justru malah terkena bibir Revan karna saat itu Revan merubah posisi tidur nya.
Cup!
Kedua bibir mereka saling menempel, Olive segera menjauhkan bibir nya dari bibir Revan.
"Ya Allah, nggak sengaja," gimana Olive kaget.
Olive segara pergi ke kamar mandi atau dia akan semakin malu akibat ulah nya sendiri.
"Dasar si oli bekas, pagi pagi dah nyosor aja," gerutu kesal Milah yang berada di ambang pintu dengan wajah masam.
.......
Disisi lain, terlihat Revan yang tengah berdiri di tanah lampung hijau dengan pepohonan rindang.
Revan tidak tahu ini dimana, namun aneh nya dia bisa berdiri, dia yakin ini hanya mimpi, namun mengapa dia tidak bisa bangun sama sekali.
"Ini dimana? Gue bisa jalan lagi?" bingung Revan.
Seorang gadis kecil berpakaian serba hitam melangkah menghampiri Revan, gadis itu adalah gadis kecil di masalalu nya.
"Lo?!"
"Ini, jaga ini, suatu hari kita akan membutuhkan nya."
"Ki-"
....
Belum sempat bertanya, semua berubah hitam, Revan pun membuka mata nya, dia sadar dia masih di atas kasur di kamar nya.
Benar saja hal tadi hanyalah mimpi semata, namun begitu dia melihat ke telapak tangan nya, dia memegang sebuah kalung berbandul kunci kecil milik gadis itu.
"Bagaimana bisa? Kalung ini ada sama Gue? Nggak mungkin!" bingung Revan.
"Olive!!"
"Olive!!"
Revan terus memanggil Olive namun tidak ada balasan, itu karena gadis itu sudah pergi meninggalkan mansion saat dia masih tertidur nyenyak.
__ADS_1
"Hai Revan!"
Tubuh Revan menegang saat suara itu kembali muncul, iya itu Laila yang datang kembali.
Revan melihat ke arah Laila, dia menarik nafas panjang, dia tidak boleh takut pada sosok Laila, jika di takut, pasti Laila akan terus mengusik kehidupan nya.
"Pergi dari sini, Gue nggak akan ikut sama lo apapun yang terjadi!!" tegas Revan dengan wajah datar nya.
Laila terkekeh kecil, dia merangkak dengan sangat cepat ke arah Revan yang hanya bisa diam menguatkan iman nya.
Namun tiba tiba tubuh Laila terpental saat hendak menyentuh Revan.
"Aaarggh!! Siapa yang berani ganggu Gue??!!!" murka Laila.
"Jangan ganggu kakak ku!" tegas sosok gadis kecil dengan pakaian putih lusuh.
Tubuh Revan menegang seketika, dia tahu siapa gadis kecil itu.
"Aruna!"
Aruna dengan mudah mengusir Laila, itu karena energi Laila belum puluh seutuh nya.
"Aruna!"
Revan berusaha mendekat ke arah Aruna, dia berusaha untuk turun dari kasur, dia berusaha menggerakkan kedua kaki nya, namun hasil nya Revan terjatuh menghantam lantai.
Bugh!
"Argh!"
Aruna segera menghampiri Revan, dia memeluk sang kakak tercinta. Revan pun membalas pelukan sang adik.
"Aruna, maaf ini kakak, kakak nggak bisa jaga kamu, kakak nggak bisa selamatin kamu," ucap Revan sendu.
"Nggak papa kak, Aruna baik baik aja kok, kakak harus tetap semangat jalani hidup kakak, kakak harus sembuh ya," ucap Aruna lembut.
Aruna melepaskan pelukan Revan.
"Kok kak Revan bisa lihat Aruna? Selama ini kan kakak nggak bisa sadar ada Aruna disamping kak Revan?" heran Aruna dengan wajah polos nya.
Revan juga tidak tahu, dia juga tidak pernah melihat wujud asli Laila kecuali di alam bawah sadar nya. Bru kali ini dia benar benar melihat wujud asli Laila.
Revan mengalihkan pandangan pada kalung berbandul kunci yang dia dapatkan itu.
"Apa karena ini?" gimana Revan.
Revan meletakan kalung itu di lantai, seketika dia tidak dapat melihat Aruna yang berdiri di hadapan nya, namun begitu dia memegang kalung itu, dia dapat lihat Aruna yang masih memandang nya kebingungan.
Revan yakin berkat kalung ini, dia bisa melihat lagi mahkluk tak kasat mata semacam Aruna.
"Kakak tahu kok, kenapa kamu masih disini? Inikan bukan tempat Aruna?" tanya Revan lembut.
"Aruna nggak bisa pergi kak, Aruna nggak tenang kalau kakak terus di benci sama bunda dan ayah," ujar Aruna sendu.
Aruna sangat sedih melihat penderitaan yang di alami Revan selama ini.
Revan menghela nafas panjang, dia memegang kedua tangan mungil Aruna.
__ADS_1
"Kakak baik baik aja kok, kamu pergi ya, ini bukan tempat kamu, sebentar lagi masalah kakak bakal selesai, kmu yang tenang di sana," ucap Revan lembut.
Aruna mengangguk kecil sambil tersenyum bahagia dengan air mata yang mengalir perlahan.
"Kakak harus janji, kalau semua masalah kakak akan selesai, Aruna nggak tega lihat kakak di perlakukan kasar sama bunda, Aruna nggak mau kak Revan menderita terus," ujar Aruna.
"Janji masalah kakak sama bunda dan ayah bakal selesai secepat nya, sekarang kamu bisa pergi ya, kakak jadi sedih kalau lihat kamu nggak tenang gini," ucap Revan.
Aruna mengiyakan ucapan Revan, sebuah cahaya terang muncul, Aruna melambaikan tangan kepada Revan, Revan membalas nya dengan senyuman hangat dan lambaian tangan pelan.
Aruna pun melangkah pergi bersama cahaya terang tersebut.
Air mata Revan perlahan menetes, dia tidak menyangka dia akan melepaskan Aruna untuk pergi selama lama nya.
Sesuai janji nya dia harus menyelesai masalah nya dengan keluarga nya demi Aruna.
"Dia adik lo?"
Suara itu mengejutkan Revan, iya itu suara Milah yang muncul tiba tiba seperti biasa.
"Lo siapa?"
Milah tersenyum kecil. Rupanya Olive sam sekali tidak mengenalkan nya pada Revan.
"Milah sahabat nya Olive," ujar Milah.
"Kenapa lo liat Gue kayak maling gitu? Tenang aja Gue bukan setan jahat kok kayak sih Laila itu, Gue masih waras kok!!" cetus Milah.
"Iya, Gue heran aja Olive ternyata punya sahabat setan juga," ujar Revan.
"Oh ya, lo dapat kalung itu darimana?" tanya Milah melirik kalung yang di genggam Revan.
"Dari mimpi," jawab Revan jujur apa adanya.
Milah mengerutkan kening nya, "mimpi? Aneh banget? Tapi energi kalung itu gede banget sampai narik perhatian Gue, mendingan lo simpan kalung itu baik baik, terlalu bahaya kalau sampai banyak mahkluk yang tertarik," tutur milah dengan bijak.
"Memang nya kenapa?"
"Ya entar lo di teror lah sama mereka?"
"Olive dimana?"
"Dia pergi ke rumah lama nya, btw dia bukan Ol-"
Milah langsung menutup mulut nya yang kelewatan ember. Padahal tadi Olive sudah memperingati nya agar tidak memberitahukan rahasia terbesar nya kepada siapapun.
"Siapa dia?"
"Dia Olive kok!"
"Kayaknya yang sejujurnya nya milah!" pintar Revan.
"Dia-"
"Kania!"
................
__ADS_1