welcome indigo wife

welcome indigo wife
memberi


__ADS_3

Setelah jam pulang sekolah, Ilham bergegas menemui Laras yang biasa nya suka nongkrong di taman belakang sekolah.


Benar saja setiba nya disana, dia melihat gadis itu tengah sibuk merokok seperti biasa nya.


"Laras." panggil Ilham.


Gadis itu pun menoleh ke sumber suara yang memanggil nya. Laras menatap penuh kesal ke arah cowok itu.


"Ngapain lo kesini?" tanya Laras dengan nada meninggi.


"Lo butuh uang kan? Gue ada uang sedikit buat bantu lo," Ilham menyerahkan sebuah amplop hitam pada Laras.


"Gue nggak butuh uang dari lo," balas Laras dengan ketus.


"Kenapa? Bukan nya lo butuh uang?" heran Ilham dengan wajah polos nya.


Laras terkekeh kecil. "Sekarang sih Gue nggak lagi butuh uang, Gue bisa cari uang sendiri, ini uang lo mendingan lo pakai untuk pengobatan lo," ujar Laras dengan nada santai.


Jujur Ilham agak kaget, karna biasa nya Laras menerima uang pemberian nya, dia juga nggak perna ngomong dengan nada santai sama Ilham.


"Ok kalau lo nggak mau, tapi aneh banget lo nolak uang dari Gue," guman Ilham bingung.


"Ilham Gue boleh tanya sesuatu nggak?"


Ilham mengangguk kecil.


"Ada hubungan apa antara Revan sama Olive?"


Deg!


"Kenapa lo mau tahu?" tanya Ilham.


"Ya, Gue rasa ada yang mereka sembunyiin, aja apalagi sika Olive sama Devan berubah banget nggak kayak dulu lagi," jawab Laras dengan nada santai.


Tanpa Ilham sadari, sebenar nya ada maksud tersembunyi dari pertanyaan Laras barusan.


Ilham terdiam dia bingung harus jawab apa, jujur Revan dan Olive memang memiliki hubungan pernikahan.


"Lo mau tahu banget?"


"Iya, kepo Gue. "


..........


Disisi lain terlihat seorang wanita paruh baya sedang duduk di samping sebuah makan.


"Nak, mama kangen banget sama kamu," ucap wanita itu sambil mengelus papan nisa berwarna hitam pekat dengan ukuran nama.


Bunga bunga di taburi di atas makan tersebut.

__ADS_1


"Maaf ini mama yang nggak becus jga kamu, seandainya nya waktu itu kamu nggak pergi sama dia, pasti kamu nggak bakal ninggalin mama."


Wanita itu mengusap air mata yang yang mengalir deras, entah mengapa ada rasa bersalah besar yang tumbuh di hati nya. Apa dia kehilangan anak nya adalah akibat ulah seseorang yang dia benci selama ini.


"Gina!"


"Emeli."


"Kamu ziarah ke makam Aruna sendiri ya?"


Gina menganguk kecil.


Aruna aurella putri mavendra. Itulah nama gadis kecil berusia 7 tahun yang meninggal akibat kecelakaan bersama dengan Revan.


Aruna adalah anak bungsu dari Gina dan Hendrawan Mavendra. Seorang pembisnis sukses yang tidak pernah kembali lagi ke Indonesia sejak anak bungsu kesayangan nya meninggal dunia. Dia memilih menetapkan di amerika untuk beberapa tahun.


Sejak kematian Aruna semua berubah, dan sejak itulah Devan di perlakukan sebagai seorang penjahat yang membuat mereka kehilangan sesuatu yang berharga.


Penjelasan pun tak cukup untuk membuat mereka memaafkan Revan. Revan sudah melakukan segala cara, namun hasil nya nihil. Apalagi galang dan tasya selalu mencuci otak Gina yang membuat wanita itu semakin membenci Revan.


"Bagaimana kabar mu?" tanya Emeli yang ikut duduk di samping


"Seperti biasa," balas Gina.


"Yang sabar ya, aku yakin Aruna sudah bahagia di alam sana," ucap Emeli di tutup senyuman hangat.


"Andai saja aku tidak mengijinkan anak itu membawa Aruna, mungkin aku tidak akan kehilangan Aruna selama lama nya." ujar Gina dengan nada kesal.


"Jangan menyalahkan diri mu terus, dan tolong jangan salah Revan, dia tidak bersalah Gina," ucap Emeli.


Gina terkekeh kecil, "Aruna meninggal itu karena ulah dia, dia yang ceroboh, dia nggak bisa nyelamatin Aruna, seharus nya dia yang mati," timpal Gina dengan wajah kesal, dia mengepalkan telapak tangan nya.


Emeli menghela nafas panjang, harus dari mana dia menyadarkan Gina, jika ini adalah takdir bukan sepenuh nya salah Revan, Revan sudah berusaha melindungi Aruna hingga mengorbankan kedua kaki nya. Namun mengapa sulit bagi Gina menghargai pengorbanan Revan.


"Seharus nya kamu bisa bedain, mana yang salah dan mana yang benar, seharus nya seorang ibu bisa memaafkan apapun kesalahan anak nya, belum tentu juga dia yang kamu tuduh adalah pelaku nya," ujar Emeli sambil mengibaskan helaian rambut nya.


Emeli bangkit berdiri. "Pikirkan baik-baik, siapa yang salah, jangan sampai kamu menyesal karena salah menuduh."


"Aku pergi dulu ya, temen ku udah nungguin di depan," ucap Emeli.


"Iya."


Emeli pun melangkah pergi meninggalkan Gina yang masih bergulat dengan pikiran nya. Ucapan emeli barusan seperti membuat Gina terguncang akan kebencian nya pada Revan.


'Enggak! Nggak mungkin aku salah!'


"Mama salah!!"


Deg!!

__ADS_1


Suara seseorang mengejutkan Gina. Suara itu seperti pernah dia dengar, iya suara itu mirip sekali dengan suara Aruna.


"Aruna!!"


"Aruna!! Itu kamu nak?"


Gina terus mencari sumber suara tersebut, namun dia tidak dapat menemukan nya sama sekali. Apa ini hanya efek dari kerinduan nya pada Aruna.


Gina mengusap air mata nya, dia harus segera pergi dari tempat ini, Gina pun melangkah pergi meninggalkan makan Aruna setelah mengecup singkat nisan milik Aruna.


"Mama sayang Aruna."


Tanpa ada yang tahu, sesosok gadis kecil dengan gaun putih polos berdiri di samping makan Aruna.


"Mama!"


"Mama jahat!"


..........


Brak!!!!


Sebuah mobil merah melaju dengan kecepatan tinggi dan berakhir menabrak pohon besar yang berada di sisi kanan jalan.


Sebuah kecelakaan mobil telah terjadi di depan sebuah mobil hitam yang sedang melaju ke arah mobil tersebut, mobil hitam itu segera banting setir agar tidak menabrak badan mobil yang menghalangi jalan.


"Aarrghh!!"


"Revan!"


Olive yang banting setir pun terkejut mendengar suara teriakan Revan.


Olive segera menghentikan mobil nya di tepi jalan, dia segara mengalihkan perhatian nya pada Revan yang gemetaran sambil menutup kedua telinga nya dengan telapak tangan.


"Kenapa?"


Nafas Revan mulai tidak teratur, dia terus berkeringat dingin. Pemandangan di depan nya seolah olah mengingatkan nya akan trauma nya pada suatu kejadian yang membuat nya kehilangan seseorang yang berharga.


"Lo tunggu disini ya, Gue harus cari pertolongan, kasihan tuh orang di dalam mobil takut nya entar mati," ujar Olive.


Revan tidak menjawab apa apa, dia hanya diam. Olive pun segera turun dari mobil dan mencari bantuan untuk menolong korban kecelakaan tersebut.


Banyak orang yang datang bersama olive untuk menolong korban di dalam mobil.


Terdapat seorang pria dengan seorang wanita yang sedang hamil.


Tampak kedua nya terluka sangat parah. Lebih parah nya sangat wanita yang tak henti henti mengeluarkan darah segar.


"Mereka?"

__ADS_1


.............


__ADS_2