
Seorang gadis berdiri tepat di hadapan Revan, gadis itu tampak kebingungan mau berbicara dari mana.
"Ada apa?" tanya Revan.
"Gue nggak punya banyak waktu," tegas Revan sambil mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Ada satu hal yang dari dulu pengen banget gue omongin sama lo, tapi jujur gue bingung mau mulai dari mana," ucap Citra lesuh.
"Memang nya apa?"
"Gue cinta sama lo," jawab Citra.
Citra tidak tahan lagi untuk menyembunyikan perasaan nya, selama ini dia sudah berusaha menahan perasaan nya, namun jujur dia sudah tidak tahan lagi, dia sangat mencinta Revan.
Jujur dia sudah jatuh cinta dengan Revan sejak awal dia bertemu dengan Revan, namun sayang nya Revan justru kini sudah menikah dengan musuh nya sendiri.
Revan terdiam sejenak.
"Gue tahu perasaan gue salah, tapi gue cinta sama lo, gue nggak bisa bohongin perasaan gue lagi," ucap Citra menegaskan suara nya.
"Sorry, gue nggak bisa balas perasaan lo," jawab Revan.
Revan tidak ingin menyakiti hati Olive, lagi lupa dia sudah mencintai istri nya, dan begitupun sebaliknya nya.
Revan hendak pergi, namun Citra tiba tiba menahan nya, dia menahan Revan saat ini.
"Gue mau pergi," pinta Revan.
"Lo nggak akan bisa pergi sebelum lo Terima cinta gue," tekan Citra.
Tangan cinta hendak menyentuh wajah Revan, namun Revan dengan cepat menepis tangan Gadis itu, Citra tidak tinggalin dia, dia hendak memberikan kecupan singkat kepada Revan, namun Revan langsung mendorong tubuh gadis itu.
"Lo gila ya?" kesal Revan.
"Gue gila karna lo," jawab Citra yang justru tersenyum padanya.
Revan pun segera pergi dari sana, begitu Revan pergi, seorang gadis datang menarik kera seragam Citra.
"Ngapain lo barusan?" tanya Olive dengan wajah marah.
"Bukan urusan lo," tegas Citra sambil menghempaskan tangan Olive.
"Berani lo ganggu Revan, gue nggak bakal tinggal diam," tegas Olive.
"Cih, orang kayak lo nggak pantas jadi istri Revan, mendingan lo pergi aja yang jauh," ucap Citra meremehkan Olive.
Olive menatap tajam Citra, ingin sekali dirinya memberikan bogeman ke wajah mulus Citra.
"Bukan urusan lo, dan yang harus pergi, itu lo bukan gue," tegas Olive.
"Olive! Citra!" seseorang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Kalian jangan bertengkar disini," tegas pak guru.
Kedua nya pun segera bubar, jujur Olive masih marah, mengapa Revan harus satu sekolah dengan Citra, andai saja dia bisa pindah.
...... ...
Sepulang sekolah Olive hendak pergi ke Sekolah Revan, namun tiba tiba saja langkah nya terhenti saat dia melihat seorang wanita tua terbang ke arah gudang sekolah.
"Nenek itu,"
Olive segera mengejar nenek itu, dia ingat jelas, nenek itu lah yang membuat nya berpindah ke tubuh Olive.
Dia juga ingin tahu alasan mengapa dia harus menjadi Olive, dia juga ingin tahu tentang semua mimpi yang dia alami selama ini.
Begitu dia sampai di gudang, dia melihat wanita tua itu sudah hilang entah kemana, kepala nya terasa berdenyut kembali, seseorang memanggil nama nya berkali kali.
"Sial! Kalau gini terus gue bisa gila!!" gerutu kesal Olive.
Olive hendak melangkah pergi, namun tiba tiba langkah nya terhenti oleh Milah yang muncul tepat di belakang nya.
"Ada yang mau gue omongin," ucap Milah.
"Ada apa sih? Ganggu gue aja," kesal Olive.
"Gue ingat sesuatu Olive," ucap Milah dengan wajah serius.
Olive tidak pernah melihat milah seserius ini ketika berbicara biasa nya dia sering sekali bercanda.
Olive yang mendengar itupun terdiam, dia tidak mengerti maksud ucapan Milah barusan.
"Jangan bercanda,"
"Gue nggak bohong, gue udah lama denger ini, cuma gue baru ingat sekarang, mereka mau bunuh kalian berdua, sebaik nya lo segera ke sekolah Revan, kalian harus pergi dari sini," pintar Milah dengan wajah panik.
"Memang siapa?"
"Milah!"
"Sahabat lo!"
........
Olive berlari ke sembarang arah sekolah, dia terus mencari keberadaan Revan, namun dia tidak dapat menemukan Revan, Dion dan Gery pun hilang, terlihat Ilham yang juga kebingungan mencari kedua sahabat nya.
"Gawat mereka hilang," panik Ilham.
"Mereka kemana sih?" gerutu kesal Laras yang tidak dapat menemukan mereka bertiga, di sekolah ini sudah kosong tidak ada siapa pun.
Olive berlari ke sebuah ruangan di ikuti laras dan Ilham dari arah belakang, begitu Olive membuka pintu kelas, betapa terkejut nya dia melihat seorang gadis tergantung di atas langit langit kelas dengan berlumuran darah segar.
Laras menegang begitupun dengan Ilham, mereka semua tidak menyangka jika mayat itu adalah seseorang yang mereka kenal.
__ADS_1
"Citra!"
Ilham segara meminta kedua gadis itu mundur dia menutup pintu dengan cepat.
"Kita harus cari mereka cepat, seperti nya mereka dia sudah mulai beraksi," ucap Ilham.
"Gua nggak tahu apa mau mereka, kenapa mereka sampai membunuh Citra?" heran Olive.
Mereka bertiga pun segera pergi ke area belakang sekolah, dan benar saja disana mereka berdua melihat Revan, Dion dan Gery yang sudah berlumuran darah dengan luka tusukan, bahkan dengan jelas mereka bertiga melihat dia orang gadis menusuk jantung Revan dan Dion.
Sementara Gery sudah di tusuk sebelum mereka datang.
Tubuh ketiga nya menegang, mereka tidak menyangka akan melihat hal ini, tubuh Olive terasa lemas, seketika dia terduduk lemas melihat Revan yang sudah tidak bernyawa.
"Hai Olive!" sapa seorang gadis yang tidak lain adalah Viora.
Viora dan Alvera lah yang membunuh Revan dkk, Olive tidak menyangka jika kedua sahabat nya adalah dua orang gila yang ingin membunuh dia dan Revan selama ini.
"Kalian berdua gila!" tegas Olive dengan air mata mengalir deras.
Viora dan Alvera tertawa bergantian.
"Asal lo tahu, kita semua lakuin ini untuk memberi pelajaran kepada kalian yang telah membuat kami kehilangan semua nya," ucap Alvera dengan nada mengerikan.
"Kehilangan apa?" tanya Olive yang tidak mengingat apa apa.
"Seharus nya lo sudah ingat?" guman Alvera.
Ingin sekali Olive bangun dari mimpi ini, namun dia tidak bisa, mengapa kenyataan ini membuat nya ingin pergi, dia ingin memeluk tubuh Revan, menyelamatkan nya, namun Ilham dan Ras berusaha menahan nya.
"Gue harus tolongin Revan," pekik Olive.
"Jangan Olive bahaya," ujar Laras menahan sahabat nya.
"Lo bisa mati!!"
"Revan!!"
"Revan!!"
Olive menangis sejadi jadi nya, Alvera dan Viora justru tertawa bahagia, mereka seakan sedang menonton film lelucon.
"Tenanglah!" pintar Ilham.
Laras dan Ilham berusaha menguatkan Olive, mereka harus bisa selamat dari sini dan meminta bantuan, walau mungkin salah satu dari mereka akan mati di tangan Alvera dan Viora.
"Jangan nangis!" ucap seseorang yang berdiri tepat di belakang Olive.
"Milah!"
.........
__ADS_1