
.....
"Buwahahahahhaha!!!"
Gelak tawa Olive dan Milah menggelegar seketika setelah Olive melihat ke masalalu Laila. Milah sih ngikut mata batin Olive dia jadi bisa melihat apa yang Olive lihat barusan.
"Ngakak anjir, sangking nggak laku nya apa gimana sih, sampai lo suka sama bocil smp?" ucap Olive di sela tawa nya.
Laila yang di tertawakan terlihat kebingungan, memang nya dia sedang membuat lelucon.
"Goblok, masih banyak cowok woy, nggak usah ngejar ngejar masa depan orang juga kali, lagian Revan emang ganteng tapi dia nggak cocok sama setan modelan celemek kayak lu." timpal Milah sambil terbang ke sisi Olive.
"DIAM!!!" teriak Laila lantang hingga membuat dua gadis itu bungkam.
"Asal lo tahu, Revan adalah satu satu nya cowok yang bisa buat Gue cinta mati. Gue nggak akan lepasin Revan sampai dia ikut Gue bersama ke alam lain," ucap Laila di tutup smrik khas nya.
Olive mendengus kesal, kedua telapak tangan nya mengepal.
"Mil, pakai tubuh Gue." milah menganguk patuh, dia paham akan maksud ucapan Olive.
Milah pun segera masuk ke tubuh Olive, dia menggunakan tubuh dan energi Olive untuk menambah kekuatan nya.
Wujud Olive pun berubah mengerikan. Tangan Olive terulur perlahan kemudian dengan cepat Olive mencekik leher Laila.
"Aaarrghh!!"
"Gue nggak akan biarin siapapun sentuh Revan dan Olive," tegas Milah dengan suara nyaring.
Tidak butuh waktu lama Milah berhasil mengalahkan Laila, namun disaat Milah hendak menangkap Laila, Laila segera kabur entah kemana.
"Sial, Gue harus cari dia, Gue yakin dia bakal kembali lagi suatu hari nanti," guman Milah.
Milah keluar dari tubuh Olive, gadis itu terlihat sangat lemas begitu Milah keluar dari tubuh nya.
"Sial, lo pakai semua energi Gue, lemes Gue," decak kesal Olive.
"Sorry, Gue kelepasan tadi, Gue juga lemes tahu, butuh sajen nih," ujar Milah melas.
"Sajen? Beli sendiri sono di pasar banyak."
"Dasar lo oli bekas,"
__ADS_1
"Eh kutu air kemana?" tanya Olive yang tidak melihat keberadaan Laila.
"Kabur dia."
"Kenapa nggak lo tangkap sih, kalau dia balik lagi gimana dugong," ujar Olive kesal pada milah. Padahal niat nya dia ingin mengunci Laila di tempat yang jauh agar tidak mengusik hidup mereka lagi.
"Ya sorry, Gue lengah tadi," balas Milah melas.
Olive menghela nafas panjang dia juga sudah lelah, biarlah Laila pergi, jika dia kembali detik itu juga Olive akan menangkap nya.
Milah pun segera pergi entah kemana, yang pasti dia butuh makan.
Sementara Olive dia berbaring di samping Revan. Tangan nya terulur menepuk pipi Revan.
"Bangun Revan!" bisik Olive di telinga Revan dengan suara lembut.
Seketika Revan membuka mata nya dengan wajah pucat pasih.
"Lupakan aja apa yang lo lihat, anggap saja mimpi, kalau dia ngajak lo lagi, tolak aja jangan mau ya," ucap Olive sambil menyingkirkan poni Revan yang menutup kening cowok itu.
"Dia, nggak sakitin lo kan?" tanya Revan dengan suara pelan sambil melihat ke arah gadis cantik di samping nya.
"Enggak kok," balas Olive di tutup senyuman manis.
Bagaimana bisa dia melupakan seseorang di masalalu yang masih membuat nya trauma sampai saat ini jika mengingat hal itu.
Revan tidak menyangka jika Laila terus menginginkan nyawa nya hingga saat ini, apa yang harus dia lakukan agar Laila berhenti menganggu kehidupan nya lagi.
"Gue nggak mau pergi sama dia, dia jahat," ucap Revan sambil mengepalkan telapak tangan nya. Olive tersenyum tipis. "Dia nggak akan bisa bawa lo kemana mana, selagi lo yakin sama diri lo kalau lo bisa lawan dia, jangan takut, dan asal lo nggak dengerin omongan Laila, lo bisa kok lawan dia sendiri."
Jujur melihat wujud Laila saja Revan sudah tidak bisa apa apa, apalagi dia harus melawan sosok Laila yang sangat mengerikan.
'Jujur Gue juga takut dia bakal habisi lo Revan, sebisa mungkin Gue bakal lindungi lo,' batin Olive.
Flashback....
Di alam bawah sadar Revan, cowok itu terkejut saat mengetahui diri nya berada di sebuah ruangan gelap dan sangat pengap membuat nya kesulitan bernafas.
"Tempat ini?"
Tempat itu adalah gudang kosong di mana Laila dulu pernah membawa nya kesana. Ingatan tentang masalalu itu kembali membuat kepala Revan berdenyut.
__ADS_1
"Arrgh!!"
"Revan!!!"
Suara Laila muncul dati hadapan Revan, wajah Revan berubah panik.
"Pergi!! Jangan ganggu Gue!!" teriak Revan sambil menutup kedua telinga nya dengan telapak tangan.
"Lo udah ingatkan? Ini Gue Laila," ujar gadis berseragam sma yang berdiri di hadapan Revan yang terduduk lemas di lantai.
Revan menggeleng."Jangan ganggu Gue lagi, pergi dari hidup Gue," ucap Revan memberanikan diri nya.
Laila menggeleng manja."Gue cuma mau pergi sama lo, lo itu milik Gue Revan."
Laila mencengkram dagu Revan dengan kasar. Revan menatap wajah Laila dengan tatapan penuh kebencian, dia pikir masalalu nya akan hilang begitu saja setelah sekian lama dia lupakan.
Namun ternyata di balik sosok yang selalu meneror nya adalah Laila.
"Revan Gue sayang sama lo, kenapa lo benci banget sama Gue? ini semua pasti ulah Olive kan? Gara gara dia lo jadi cinta sama dia," kesal Laila.
"Gue benci sama lo bukan karena Olive, Tapi karena lo gila, lo bukan Laila yang Gue kenal dulu, seharus nya lo sadar atas perbuatan lo waktu itu!!" ujar Revan.
Bugh!!
"Aargh!"
Laila menghempaskan tubuh Revan ke dinding. Cowok itu terbaring lemas dengan wajah pucat pasih.
Laila mencekik leher Revan hingga membuat cowok itu kesulitan bernafas.
"Lo harus mati, atau Olive yang bakal mati duluan."
"L-lo nggak akan bi-bisa sentuh dia."
"Gue tahu kok, lo menikah sama dia cuma karena perjodohan, Gue yakin dia pasti nggak cinta sama lo, dan lo juga cacat."
"Mendingan lo ikut Gue, kita bahagia bersama," ujar Laila membujuk Revan.
Revan hanya diam.
'Gue nggak tahu apa Olive cinta sama Gue?'
__ADS_1
'Tapi Gue cinta sama Olive.'
................