
....
Seorang cowok di kursi roda mengepalkan telapak tangan nya dengan sorot mata penuh kebencian. Seorang gadis berjalan menghampiri nya yang berada di taman rumah sakit.
"Revan!" panggil Olive.
Olive dan Revan baru saja menolong dia orang yang kecelakaan tadi, sekalian cek up kondisi Revan juga, karena Penyakit Revan sering kali kambuh dan membuat Olive khawatir dengan keadaan cowok itu.
"Lo kenapa? Dari tadi diam aja." Revan menoleh ke sumber suara dengan menghela nafas panjang.
"Lo tahu siapa yang lo tolong barusan?" tanya Revan.
Olive menggeleng kecil, kenapa Revan malah bertanya hal seperti itu padanya, apakah Revan mengenal kedua pasangan suami istri tersebut.
"Menang nya kemu kenal?" tanya Olive balik dengan nada penasaran.
"Mereka yang buat Gue seperti ini," jawab Revan dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
Olive terdiam, dia tidak menyangka jika barusan yang dia tolong adalah pelaku yang menabrak Revan, hingga membuat Revan mengalami kelumpuhan.
Olive menghela nafas panjang. "Jujur Gue pengen mereka mati," timpal Revan dengan mata berkaca kaca.
"Gue tahu lo benci sama mereka, tapi ada hukum yang bisa memberi mereka pelajaran tanpa harus lo kotorin tangan lo sendiri," tutur Olive sambil menggenggam telapak tangan Revan.
Revan sangat benci dengan mereka karena sudah merenggut nyawa adik nya, kebahagian nya, dan kaki nya. Semua penderitaan Revan adalah ulah mereka.
Ingin sekali Revan membiarkan mereka mati, namun perkataan Olive juga ada benar nya di benak nya, membuat mereka mati tidak akan bisa membuat semua nya kembali seperti sediakala.
"Suatu hari Gue yakin lo pasti bisa jalan lagi," ucap Olive dengan nada lembut.
"Kalau nggak?"
"Ya, jangan bilang enggak lah, lo harus yakin kalau lo bisa," sahut Olive.
Revan menganguk kecil, namun kematian Aruna masih membuat nya berat untuk memaafkan mereka.
"Gara-Gara mereka Gue kehilangan Aruna, semua orang nuduh Gue pembunuh Aruna, semua benci sam Gue," ucap Revan dengan nada berat.
Olive tidak menyangka jika Revan kecelakaan saat itu bersama adik nya yang bernama Aruna, nama itu tidak asing di telinga nya. Seperti nya dia mulai ingat siapa Aruna.
"Aruna, dia adik lo?" kaget Olive.
"Iya, kenapa?"
"Nggak papa, Gue tahu ini berat untuk lo, apalagi Lo kehilangan Aruna, tapi dengan adanya mereka sekarang, lo bisa jelasin ke keluarga lo kalau bukan lo pembunuh Aruna, tapi mereka berdua, Gue janji Gue bakal bantu lo untuk jelasin semua nya," ujar Olive dengan nada lembut dan si tutup senyuman hangat.
Revan menganguk kecil, setidak nya dia bisa menjelaskan kepada keluarga nya dengan bukti yang ada sekarang.
.....
__ADS_1
Kala itu Olive hendak mengantarkan minuman untuk Revan, namun saat dia hendak melangkah ke taman, dia melihat Revan yang sedang duduk di kursi taman sambil membelakangi nya, langkah nya terhenti sebab melihat sosok gadis kecil berbaju putih lusuh berdiri tepat di hadapan Revan dengan air mata yang terus mengalir deras.
"Kak maaf in Aruna."
Suara sosok gadis kecil itu sedikit terngiang di telinga Olive. Saat Olive melangkah ke arah mereka, sosok itu malah menghilang.
"Kemana dia?" guman Olive.
"Dia? Siapa?" tanya Revan kebingungan dengan maksud Olive.
"Nggak ada kok, mungkin Gue salah lihat," balas Olive.
Olive duduk di samping Revan kemudian memberikan segelas air itu kepada Revan, Revan pun meminum nya.
"Revan, Gue mau tanya boleh?"
"Tanya apa?"
"Lo suka ya sama citra?"
Revan menaikkan sebelah alis nya, mengapa Olive bertanya hal semacam itu padanya.
"Nggak," balas Revan.
"Beneran nggak suka?" tanya Olive lagi memastikan.
"Iya nggak Olive," sahut Revan meyakinkan Olive.
Revan tersenyum tipis seketika, seperti nya ada yang sedang cemburu padanya.
"Enggak Olive, istri Gue cuma lo, dan Gue nggak bakal berpaling kesiapapun," ucap Revan meyakinkan sangat istri yang sudah malu.
'Duh bego! Gue yang tanya, kenapa Gue yang malu anjir!!' batin Olive.
Revan menarik nafas panjang, kemudian dia menangkup kedua pipi Olive yang sangat bulat bagaikan tomat.
"Olive Gue cinta sama lo."
Deg!!!.
"Ha?"
Olive terdiam membeku, ucapan Revan barusan membuat nya kehabisan kata kata.
Apa ucapan Revan barusan hanya main main, atau serius padanya, namun dari sorot mata Revan tidak ada kebohongan sama sekali.
"Lo nggak perlu bales kok," ucap Revan di tutup senyuman tipis yang justru tampak menampilkan kekecewaan.
"Kenapa Gue nggak perlu bales perasaan lo?" tanya Olive yang membuat Revan mengerutkan kening nya.
__ADS_1
"Karena Gue tahu lo bakal nolak perasaan Gue," jawab Revan ragu.
Olive terkekeh kecil, sangat manis.
Perlahan tangan Olive melepaskan telapak tangan Revan yang menangkup kedua pipi bulat nya, kedua tangan gadis itu perlahan melingkar di leher Revan.
Tangan Olive perlahan menarik punggung leher Revan, jarak kedua wajah mereka kini sangat dekat, bahkan hidung mereka saling menempel satu sama lain.
"Lo mau tahu, jawaban Gue?" tanya Olive dengan suara lembut, suara gadis itu membuat Revan terdiam kaku, jantung nya terasa berdetak lebih kencang dari biasa nya.
"Ini jawaban Gue."
Cup!
Olive mengecup bibir Revan perlahan, agak lama, tubuh Revan memegang seketika.
"Gue juga cinta sama lo."
"Beneran?"
"Lo mau lagi?"
Revan tersenyum seketika, senyuman yang sangat manis, bahkan gigi gingsul kiri nya terlihat jelas dengan lesung pipi yang terbentuk sempurna.
'Allahhuakbar diabetes Gue!!'
Revan menarik Olive kedalam dekapan nya, dia memeluk gadis itu sangat erat dengan perasaan bahagia.
Akhir nya dia bisa mendapatkan cinta gadis itu.
"Gue sayang sama lo Olive, jangan pernah tinggalin Gue ya," pinta Revan.
"Iya," balas Olive.
Tanpa kedua nya sadari, tepat di atas pohon di samping mereka, ada Milah dan Cio yang tak sengaja melihat adegan itu, Milah masih setia menutup mata Cio dengan telapak tangan nya.
"Anying sih Olive, mesra mesraan di depan rumah Gue lagi," kesal Milah sambil mengerucut bibir nya.
"Eh dugong, tangan lo bau teri!!"
Cio melepaskan paksa tangan Milah.
"Kenapa sih lo tutup mata Gue, kan jadi kelewatan," kesal Cio.
"Bocil nggak boleh lihat begituan, entar dosa loh," ujar Milah.
"Nggak usah bawa bawa dosa, dosa lo jauh lebih banyak di banding Gue," timpal Cio kesal.
"Dasar anak setan lu."
__ADS_1
....