
.....
Revan terdiam lagi, gadis itu tahu namanya, padahal dia sama sekali tidak menyebutkan nama nya.
Revan hendak melangkah pergi, namun gadis itu bangkit berdiri menghadang jalan nya.
Gerak nya sangat cepat, tatapan gadis itu membuat Revan merasa takut. Dia takut jika gadis itu bukan manusia, melainkan sosok yang sedang menyamar untuk mengelabui nya lagi.
"Kamu bukan manusia." tegas Revan.
Gadis itu tertawa kecil. "Tidak ada setan yang bisa injak tanah sekalipun menyerupai manusia," ucap gadis itu benar adanya.
Revan melihat jelas kaki gadis itu menginjak tanah.
"Nggak usah takut, aku bisa tutup mata batin kamu, kamu hanya perlu diam dan tutup mata, dan anggap semua sosok yang ada sekitar mu tidak ada termaksud aku," ucap gadis itu dengan nada rendah.
Revan mengiyakan saja ucapan gadis itu, dia sudah tidak tahan lagi di teror oleh sosok tak kasat mata setiap hari nya.
Perlahan dia menutup matanya, telapak tangan gadis itu terulur menutup kedua mata nya. Sayup sayup Revan merasakan hembusan angin yang cukup kencang dengan suara lembut seseorang yang berbisik di telinga nya.
'Lupakan mereka, jalani kehidupan mu, jangan pernah cari aku, anggaplah semua ini hanya mimpi.'
Revan segera membuka mata nya, dan berapa terkejut nya dia menyadari dirinya berada di bawah pohon seorang diri tanpa gadis itu.
"Hey dimana kamu?" teriak Revan mencari keberadaan gadis itu, dia ingin mengucapkan terimakasih padanya.
Namun gadis itu sudah menghilang entah kemana, padahal baru beberapa detik setelah suara itu berhenti, gadis itu sudah menghilang begitu saja seolah olah gadis itu memang tidak ada.
Namun Revan yakin, gadis itu manusia, hanya saja Revan tidak tahu alasan mengapa gadis itu pergi begitu saja setelah dia mendapatkan apa yang dia inginkan.
Iya, mata batin nya sudah tertutup. Dia tidak melihat lagi sosok mengerikan di sekitar nya, bahkan dia tidak mendengar suara teriakkan para sosok yang meminta tolong padanya lagi.
Sejak hari itu, Revan sudah kembali menjadi normal lagi, dia juga merasa kehidupan nya jauh lebih baik di banding saat dia masih melihat para sosok mengerikan tersebut.
__ADS_1
'Suatu hari nanti, aku janji akan menemukan mu,' batin Revan.
....
Di sisi lain tanpa Revan sadari, seorang gadis kecil melihat ke arah nya dari balik pohon besar.
"Satu tugas sudah selesai lagi, tinggal beberapa tugas lagi, aku bisa lepas dari buku sialan ini."
.....
Itulah yang Revan ingat hingga saat ini.
Dari cerita yang di dengar Olive, Olive merasa tidak asing dengan cerita Revan, ia seperti pernah mengalami hal itu, namun dia tidak ingat sama sekali, dia bahkan tidak mengingat masa kecil nya, yang dia ingat hanyalah di umur 10 tahun dia sudah berada di panti asuhan.
Buku kuno bersampul hitam yang di ceritakan Revan barusan. Mengingatkan Olive pada buku yang dia temukan di rumah milik kedua sahabat nya. Sahabat nya adalah gadis kembar identik, sangat mirip, sifat mereka juga nggak beda jauh.
"Sejak saat itu, Gue nggak bisa lihat sosok lagi, Gue ngerasa hal itu cukup membekas di pikiran Gue sampai sekarang, Gue juga masih ingat wajah anak itu, tapi Gue nggak tahu siapa dia," ucap Revan dengan nada santai.
Perlahan kepala Olive terasa berdenyut, seperti ada sebuah ingatan yang memasak masuk ke otak nya.
Olive memegang kepala nya yang terasa berdenyut.
"Nggak papa kok, pusing aja," balas Olive meyakinkan Revan.
Revan terlihat khawatir dengan keadaan Olive. "Yakin? Kita ke dokter aja yuk, periksa keadaan lo," saran Revan.
Olive menggeleng cepat. "Nggak usah, kita temui mereka dulu, takut nya mereka kabur sebelum mengakui perbuatan meraka," ujar Olive.
Setelah beberapa lama menunggu, akhir nya mereka di ijinkan oleh dokter untuk menjenguk pasangan suami istri tersebut.
Untung saja Olive dan Revan segera menolong mereka, jika tidak pasti salah satu di antara mereka sudah meninggal dunia. Apalagi sangat istri yang sedang mengandung, bisa saja bayi nya keguguran akibat kecelakaan tersebut.
Revan dan Olive menghampiri pria yang terbaring di brankar rumah sakit dengan perban yang terbalut di kepala dan tangan nya.
__ADS_1
"Re-revan!" kaget pria itu melihat Revan.
Revan menatap dingin pria itu.
"Saya nggak mau banyak basa basi, saya cuma mau anda mengakui perbuatan anda yang sudah membuat saya dan adik saya kecelakaan, atau perlu saya telfon polisi sekarang?"
"Jangan Revan, saya janji saya akan mengakui perbuatan saya, tapi tolong jangan penjarakan juga istri saya, dia sedang hamil, saya tidak mau dia dan anak saya kenapa kenapa," pintar pria itu sambil memohon.
"Saya juga tidak berminat memenjarakan wanita hamil, setelah sembuh akui perbuatan anda, jika anda berani kabur, anda akan tahu akibat nya," tegas Revan dengan nada berat.
Olive agak terkejut dengan sikap tegas Revan, tidak biasa nya Revan setegas ini, lebih tepat nya seperti marah. Namun dia berusaha menahan amarah nya, dan tetap berusaha tenang.
"Saya janji akan mengakui perbuatan saya, sebenarnya saya melakukan hal itu karena di perintah oleh seseorang," ucap pria tersebut.
"Siapa yang menyuruh anda?"
"Saya tidak ingat itu sudah lama sekali, tapi yang pasti dia salah satu anggota keluarga mavendra," ucap pria itu meyakinkan.
"Apa anda benar benar tidak ingat, atau sedang menutupi keburukan dia?" tanya Revan dengan nada tegas.
"Saya benar benar tidak ingat, itu sudah lama sekali, dan saat itu juga kami melakukan negosiasi melalui telfon, jadi saya tidak tahu siapa orang tersebut, walau sempat bertemu sekali, saya tidak ingat jelas wajah orang itu, karena keadaan di gedung saat itu sangat gelap," jelas pria itu dengan detail.
Revan mengepalkan telapak tangan nya.
"Olive kita pulang," pintar Revan.
Olive dan Revan pun segera pergi meninggalkan rumah sakit,
Di sepanjang jalan pulang, Olive terus kepikiran tentang buku kuno tersebut, sementara Revan dia terlihat memikirkan siapa orang yang menyuruh orang itu untuk mencelakai nya dan Aruna.
'Buku itu? Kenapa Gue jadi keingat buku itu terus ya? Gue harus periksa buku itu.'
'Gue rasa ada yang belum selesai, tapi apa? Apa mungkin buku itu berkaitan dengan semu kejadian yang Gue alami?'
__ADS_1
.................
....