
....
"Aarrghh!"
Revan meremas dada nya yang terasa sesak tiba-tiba. Ia lupa beberapa hari ini belum minum obat karna semua obat nya sudah habis. Sekarang ia baru merasakan efek karna tidak meminum obat lagi.
Revan melihat seorang gadis yang dia tunggu berjalan ke arah nya.
"O-olive!"
"Lo pulang duluan ya sama pak supir aja, Gue ada urusan di sekolah." baru saja Revan mau meminta Olive menemani nya beli obat, namun gadis itu tidak bisa.
"Iya nggak papa," balas Revan dengan nada lesuh.
Olive melangkah pergi setelah mengatakan hal itu, ia kembali ke sekolah tampa mengetahui keadaan Revan yang butuh bantuan nya.
Dada Revan semakin terasa sesak, ia mulai kesulitan bernafas.
"Olive!" panggil Revan pada sang empu yang sudah pergi menjauh.
"Ini!"
Di sela itu, ada seseorang yang menyodorkan obat milik Revan. Revan terkejut begitu melihat siapa yang berada di hadapan nya.
"Olive!" ucap Revan dengan wajah kaget.
"Lo kebiasaan banget ya lupa minum obat, kalau habis tuh bilang sama Gue, jangan diam aja, untung Gue ingat kalau nggak mati dah lu!" omel Olive bertubi-tubi.
Revan masih terdiam, baru saja Olive pergi, dan kini Gadis itu datang dengan mengomeli nya. Dia yakin yang ini Olive, tapi yang tadi siapa?
"Kenapa diam aja?" tanya Olive.
"Bukanya tadi lo bilang lo ada urusan di sekolah?Kenapa lo balik lagi?" tanya Revan dengan wajah bingung.
Olive mengerutkan kening nya. "Sejak kapan Gue bilang begitu?Gue aja baru kesini, tadi Gue beli obat lo dulu, makannya agak lama," sahut Olive santai.
Olive heran mengapa Revan masih kebingungan, padahal dia berbicara jujur apa adanya. Kenyataan nya dia memang terlambat jemput Revan karna mampir dulu beli obat Revan. Ia takut penyakit Revan kambuh tiba-tiba.
"Gue ingat banget lo, bilang lo ada urusan di sekolah jadi nggak bisa pulang bareng." ujar Revan.
"Urusan?Urusan apa?Gue baru kesini Revan, tadi gue mampir beli obat dulu ke apotek," Timpal Olive dengan wajah bingung. Begitupun Revan yang kini terlihat bingung.
"Sudahlah lupakan saja, Gue mau pulang."
Olive mengangguk, mereka berdua pun segera pergi meninggalkan sekolah, tanpa kedua nya sadari ada seorang berdiri di bawah pohon besar yang sangat menyeramkan. Pohon itu terletak di taman sekolah yang berada tidak jauh dari halaman depan sekolah.
"Sudah di mulai, Gue akan balas lo, hingga lo mati!!!"
__ADS_1
"bersama Gue!"
........
Suara derap langkah seorang terdengar jelas di sepanjang koridor, Seorang wanita dengan dress putih berlumuran darah kini berdiri tepat di depan mata nya.
"Hai Revan!" sapa dia dengan senyuman pucat yang sangat mengerikan karna wajah nya yang setengah hancur.
Tubuh Revan membeku, cowok itu tak bisa Menggerakkan tubuh nya, Revan juga kaget ketika menyadari diri nya sekarang berdiri, berhadapan dengan sosok tersebut.
Jika ini mimpi Revan pasti bisa bangun, namun kali ini dia benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali, dia juga menyadari posisi nya sekarang.
'Siapa dia?'
Sosok wanita itu tersenyum kembali tepat di depan wajah Revan, seakan dia tahu isi pikiran Revan saat ini. Revan berusaha untuk bersuara namun tak bisa, menutup matanya saja sulit.
"Kenapa? Kenapa lo lupain Gue?" tanya sosok itu dengan suara nyaring yang terus bergema di telinga Revan.
Sakit, itu lah yang Revan rasakan saat ini, seperti kedua gendang telinga nya akan pecah.
Tangan sosok wanita itu mulai terangkat menyentuh pipi kanan Revan, ia terus memandang Revan dengan perasaan aneh, itulah yang Revan sadari.
"Lo ingatkan sama Gue?" tanya dia dengan suara lirih, namun dia malah tersenyum, salah satu bola matanya mulai mengeluarkan bau darah busuk. Sangat busuk dan menusuk penciuman Revan. Ingin muntah rasa nya Revan saat itu juga.
Dada Revan mulai terasa sesak, sangat sesak hingga dia kesulitan bernafas, tangan sosok itu kini beralih mengarah ke leher Revan, ia mulai mencengkram leher cowok itu.
Darah segar keluar dari mulut Revan, ingin rasa nya Revan melangkah pergi dari sana, namun tak bisa sama sekali, sosok itu terlihat puas melihat Revan yang kesakitan akibat ulah nya.
"Olive!!" batin Revan.
"Revan bangun!!!"
Deg!!
Pandangan Revan berubah gelap, tidak butuh waktu lama dia kembali membuka mata nya. Ia melihat diri nya berada di kamar nya dengan Olive yang kini duduk tepat di samping nya dengan wajah khawatir.
"Revan! Revan! Bangun!!" ujar Olive dengan nada agak keras. Gadis itu menepuk nepuk pipi Revan, ia harap cowok itu segera bangun.
Revan pun terbangun dengan nafas memburu, ia langsung memeluk tubuh gadis itu, sang empu tampak terkejut begitu Revan memeluk nya erat.
"Lo kenapa? Mimpi buruk?" tanya Olive khawatir. Ia heran mengapa cowok ini sedari tadi terus memanggil namanya dalam keadaan tidur.
Tidak ada suara dari Revan, ia masih memeluk gadis itu erat. Entah kenapa memeluk Olive adalah obat untuk menghilangkan rasa ketakutan nya.
"Hey! Lo baik-baik aja kan?Penyakit lo kambuh lagi?" olive terus bertanya.
"Enggak! Gue baik-baik aja."
__ADS_1
Jawaban Revan barusan tampak tidak seperti keadaan yang ia alami. "Beneran?" tanya Olive memastikan lagi.
"Dia datang, dia marah sama Gue," ucap Revan tiba-tiba mengejutkan Olive. Olive tidak mengerti apa maksud ucapan Revan barusan. Tapi sepertinya itu hal buruk bagi Revan.
"Siapa yang marah?" tanya Olive sambil menepuk pelan punggung Revan, ia harap ini dapat menenangkan Revan.
"Gue nggak tahu, Gue nggak ingat, tapi dia marah sama Gue," jawab Revan dengan nafas tidak teratur, seperti habis di kejar ribuan setan.
"Tenangin dulu diri lo, mungkin itu hanya mimpi buruk saja," sahut Olive lembut.
Revan menganguk, ia yakin itu bukan hanya sekedar mimpi buruk, hal itu terlalu nyata untuk di sebut mimpi bagi nya.
Olive mengusap kening Revan, jari-jemari nya menyingkirkan helaian rambut Revan yang menutupi kening cowok itu. "Atur nafas lo, Gue ambilin minum dulu."
Baru saja Olive hendak beranjak bangkit, tubuh nya sudah kembali di tarik oleh Revan
"Jangan pergi!" pinta Revan dengan wajah pucat pasih, keringat terus bercucuran.
"Gue cuma mau ambil minum buat lo Revan, Gue nggak niat pergi jauh," ucap Olive kemudian menghela nafas.
"Mati!"
"Mati!"
"Mati!!"
"Lo harus mati Revan!!!"
"Aargh!!"
Revan tiba-tiba menjerit kesakitan sambil menutup kedua telinga nya dengan telapak tangan. Olive spontan langsung terkejut.
"Lo kenapa Revan? Revan?" Olive mulai panik.
"Sakit Olive!" ucap Revan sambil terusĀ menutup kedua telinga nya.
Olive terdiam dia bingung harus melakukan apa.
Revan perlahan diam, Ia tidak merasakan suara aneh itu lagi, ia perlahan menurunkan telapak tangan nya yang sedari tadi menutup rapat telinga nya.
Darah segar terlihat jelas di kedua telapak tangan Revan, Olive terkejut, Telinga Revan berdarah.
"Gue-"
"Nggak mau-"
"Mati!"
__ADS_1
..........