welcome indigo wife

welcome indigo wife
cinta perlahan


__ADS_3

Disisi lain, terlihat seorang gadis tengah di kerumuni oleh beberapa preman hidung belang.


"Neng mau kemana?" tanya preman itu.


"Ke ancol!" jawab ngasal Laras.


"Mending ikut abang ke gang sana," ajak salah satu preman.


"Ogah, ngajak kok ke gang, nggak modal lo! Minggu!!" bentak Laras.


"Duh jangan galak galak dong, kita udah beli neng lo dari ayah neng, kalau neng nya nolak, kita bakal maksa," ucap salah satu preman.


Laras terkejut, dia tidak menyangka jika ayah nya sudah menjual nya kepada para preman.


"Pergi! Jangan ganggu Gue!!" tegas Laras.


"Nggak bisa dong, kamu harus main dulu sama kita," ujar salah satu preman.


Para preman itu pun menarik paksa Laras, Laras yang tidak bisa melawan hanya bisa berontak saja, namun usaha berontak nya gagal karna jumlah preman yang cukup banyak, ada 10 orang lebih.


Mereka semua memasak Laras agar ikut dengan mereka.


"Lepasin dia!"


Suara itu mengejutkan mereka semua, orang itu adalah Ilham.


Ilham datang menghentikan para preman untuk untuk menyakiti Laras, namun seperti nya dia akan dalam masalah besar.


"Siapa kamu berani kesini?"


"Mau mati?"


"Mendingan kamu pergi, selagi kami masih baik hati,"


Ilham menggeleng dia tidak akan pergi sebelum dia menyelamatkan Laras.


"Serang!"


Mereka semua pun menyerang Ilham secara bersamaan, Ilham dengan mudah melawan para preman itu.


Bagh!


Bugh!


Brak!


Krek!!


Bugh!


Satu persatu di tumbangkan oleh Ilham dengan mudah, namun karna sempat lengah tadi, satu pukulan dari salah satu preman mengenai alat pendengaran nya, akibat nya alat pendengaran nya rusak.


Dia tidak dapat mendengar apa apa, alat pendengaran nya mati total.


"Sial!" umpat Ilham.


Ilham melirik Laras sekilas. "Pergilah sebelum mereka sadar," ucap Ilham yang hendak melangkah pergi.


Namun langkah nya di hentikan oleh Laras.


"Makasih!" ucap Laras.

__ADS_1


"Sorry Gue nggak bisa dengar, alat pendengaran Gue rusak," ucap Ilham dengan santai nya, walau sejujur nya dia bingung harus membeli alat baru lagi.


Ilham pun melegang pergi, Laras tidak menyangka jika Ilham masih saja bersikap baik padanya.


Padahal dia sering menghina Ilham, namun cowok itu sama sekali tidak dendam padanya.


Justru kini dia lah yang merasa malu, malu atas perbuatan nya sendiri.


...... ...


Kedua gadis kini tengah berbincang di kelas kosong seperti bisa nya.


Kelas kosong itu menjadi markas mereka sejak dulu.


"Ohw, jadi gitu!" seru Olive.


"Jadi sekarang mau lo apa?" tanya Olive dengan menaikan kedua alis nya.


"Gue pinjam uang lagi boleh?" tanya Laras melas.


Olive menarik nafas panjang, "Nanti Gue transfer," balas Olive.


"Makasih Olive lo sahabat terbaik Gue," ujar Laras dengan mata berbinar binar.


Olive menghela nafas panjang, ada ada saja ulah Laras, namun dia cukup senang sih, ada nya hal ini bisa perlahan membuat Laras dan Ilham dekat.


"Olive lo bisa bahasa isyarat kan?" tanya Laras.


Olive membalas dengan anggukan kecil, sambil mengejutkan permen lolipop di dalam mulut nya, kebetulan permen itu dia rampas dari suami nya.


"Kenapa?"


"Ajarin Gue dong," pintar Laras.


"Tumben, ke sambet apa lo?"


"Ajarin ajalah," tekan Laras.


"Gampang," balas Olive.


...........


Malam sudah larut, seorang cowok tengah terduduk di tepi tempat tidur, dia melepaskan kacamata yang dia kenalan barusan, jari jemari nya hendak membuka kancing baju, namun tiba tiba tertahan oleh jari jemari seorang gadis yang kini berdiri di hadapan nya.


"Biar Gue yang buka," ucap Olive dengan senyuman singkat.


Revan mengerutkan kening nya. "Gue bisa sendiri," jawab Revan gugup.


"Udah Gue aja," ucap Olive.


Perlahan dia membuka kancing kemeja Revan, setelah itu membantu suami nya memakai baju tidur.


Setelah berganti baju, kedua nya pun hendak berbaring dia atas kasur, namun tiba tiba Revan menarik tubuh Olive kedekapan nya.


"Olive!"


"Apa?"


"Cium," pinta Revan.


Cup!

__ADS_1


Satu kecupan singkat di berikan Olive untuk Revan, namun saat dia hendak mengakhiri kecupan nya, Revan justru menahan nya.


Hingga akhir nya selama 10 menit lebih kedua nya tenggelam bersama.


"Ck, lo mau buat Gue mati kehabisan nafas?" kesal Olive.


"Maaf, Gue suka bibir lo," jawab Revan dengan senyuman manis.


Olive terkekeh kecil, kemudian dia memeluk erat tubuh suami nya, kedua nya pun perlahan mulai memejamkan mata.


"O-"


Baru saja Milah hendak memanggil Olive, namun gadis itu sudah tertidur pulas dalam dekapan Revan.


"Anjir! Enak banget dah molor mereka, padahal Gue mau kasih info penting," gerutu Milah kesal.


"Info apaan sih?" tanya Cio yang muncul dari belakang Milah.


"Dasar setan ngagetin aja," decih kesal Milah.


"Lu juga setan!" timpa Cio.


"Gue? Ya Gue emang setan, tapi masih punya sopan santun, nggak kayak lo anak pungut!" ujar milah sambil berkacak pinggang.


"Udahlah jangan di ganggu, mendingan pergi aja deh lu," ujar Cio lalu menghilang.


"Cih, sok ngatur!"


Milah pun menghilang, dia harap hal yang dia pikirkan tidak akan terjadi kepada kedua pasangan yang sedang berbucin ini.


...****************...


Milah kembali ke atas pohon di tengah memikirkan hal yang sedang mengusik kepala nya beberapa hari ini, apa semua akan baik baik saja, atau dia harus memberitahu Olive dan Revan agar lebih berhati hati.


"Sial, Gue jadi bingung mau bilang gimana? Takut nya tuh oli bekas kagak percaya Sam Gue," gerutu Milah sambil mengacak ngacak rambut nya yang sudah berantakan.


Namun di sela itu tiba tiba saja milah merasakan kedatangan sosok mahkluk yang mengusik tempat nya, dia mencari sumber energi tersebut, dan dia melihat seorang pria yang berjalan ke arah pohon nya, dengan pakaian bak pangeran, wajah tampan namun pucat pasih.


"Siapa lo?" tanya Milah yang loncat dari atas pohon langsung menghadang jalan mahkluk tersebut.


Sosok pria seumuran nya itu, tiba tiba saja tersenyum padanya.


"Nggak waras lo, ganteng ganteng gila!" ejek Milah yang merasa aneh.


"Lo lupa sama gue?"


"Emang nya lo siapa?"


Milah terdiam, dia mencoba mengingat siapa pria yang kini berdiri dihadapan nya, namun jujur otak nya sama sekali tidak mau bekerja, dia tidak bisa mengingat apa apa di masa lalu nya, mungkin efek karna dia sudah mati lama.


"Jelasin ajalah, Gue lupa!" seru Milah.


Pria itu masih terdiam menatap nya, namun tiba tiba dia memeluk tubuh Milah, milah menegang seketika, dia tidak tahu mengapa sosok itu malah memeluk nya.


"Eh, maksud lo apa?"


"Milah!"


"Ini Gue!"


"Calon suami lo"

__ADS_1


"Ha?"


..........


__ADS_2