
.....
Kini situasi berubah menegangkan, Milah muncul dan menampakan diri nya kehadapan semua nya, jujur Olive tidak mengerti dengan semua hal ini, semua terasa janggal dan tidak masuk akal, mengapa tiba tiba sahabat nya membunuh Revan dan sahabat nya.
"Tenang saja, ini hanya dunia ilusi," ucap Milah yang membuat mereka kebingungan.
"Maksud nya?" tanya Ilham tak paham.
Flashback...
Sekelompok wanita dan pria berjalan bersama menuju sebuah bangunan sekolah tua, disana mereka melihat sebuah bangunan sekolah yang sudah hancur setengah dan di tumbuhi banyak rerumputan dan tumbuhan liar.
Sekolah itu tampak suram, sekelompok wanita dan pria yang beranggotakan empat orang wanita dengan empat orang pria.
Mereka semua melihat gedung sekolah hancur itu, dan seketika sebuah ingatan muncul di kepala mereka, itu adalah gedung sekolah mereka yang hancur karna kebakaran, selain kebakaran disana juga terjadi pembantaian masal oleh pera penjahat yang membunuh murid dan bahkan membakar mereka hidup hidup.
"Sudah lama sejak kejadian itu kita tidak kesini lagi," ucap seorang pria yang berdiri tepat di tengah dan bersebelahan dengan seorang wanita cantik yang tidak lain adalah istri nya.
"Masalalu kelam itu masih saja terasa," guman sang istri pelan.
"Aku menyesal nggak bisa selamatin mereka," ucap salah satu dari mereka dan dia adalah Ilham.
Mereka semua adalah Revan dkk dan Olive dkk yang datang ke sekolah lama mereka yang sudah hancur sejak kejadian kelam itu menimpa mereka, untung saja mereka bisa selamat namun sayang nya ada sahabat mereka yang tertinggal disana, mereka semua di bunuh.
"Aku juga, Aku nggak bisa selamatin sahabat Ku," ucap Olive dengan nada sendu.
Alvera, Viora, Pangeran, mereka adalah sahabat sekaligus beberapa korban dari kejadian tersebut.
"Kita balik yuk ke Villa,"
"Selamat tinggal!"
Revan dkk dan Olive dkk hendak melangkah pergi, namun tiba tiba mereka mencium bau aroma terbakar sangat kuat, dan akhir nya mereka semua jatuh pingsan satu persatu, sebelum kehilangan kesadaran nya, Olive sempat melihat dua orang gadis berlumuran darah tertawa nyaring di hadapan nya.
"Akhir nya kalian datang lagi!"
"Kita main bentar yuk!"
...****************...
"Ini semua bukan dunia nyata, kita bisa kembali, asal mereka berdua berhasil mati di tempat ini," bisik Milah.
Olive pun mengingat semua nya, hal yang mereka alami selama ini dan dia yang alami selama ini hanyalah sebuah cerita ilusia yang di buat oleh kedua saudara kembar tersebut, mereka lah yang membuat nya dan semua sahabat nya terjebak di dunia ilusi ini, mereka yang di buat menjadi tokoh pemeran.
__ADS_1
Selama ini nama nya memanglah Olive, dia memang lah seorang wanita yang bernama Olive, gadis bernama kania sebelum nya dan semua masalalu nya, transmigrasi, dan perjodohan itu, hanyalah sebuah cerita palsu yang di manipulasi oleh Alvera dan Viora.
"Sekarang kita bakal bunuh kalian semua disini," tekan Viora.
"Kita mati bersama sama." timpal Alvera.
Kedua gadis kembar itu mulai mengeluarkan pisau tajam, Ilham dan Laras mulai berjalan mundur.
Olive yang sudah kesal dengan ini semua pun memutuskan untuk menyerang Alvera dan Viora dengan tangan Kosong.
Olive pun berusaha merampas pisau itu, dia ingin mengakhiri semua ini, di ingin menyelamatkan jiwa Revan dan sahabat nya sebelum mereka semua berakhir mati di tempat ini.
"Gue nggak bakal biarin hal ini," tegas Olive.
Olive terus menyerang, dia hampir beberapa kali tertusuk, Ilham dan Laras pun segera membantu Olive mereka tidak bisa diam saja, namun saat itu Laras lengah, alhasil Alvera berhasil menusuk jantung nya.
"Aaarghh!!"
"LARAS!!"
Ilham yang lengah pun langsung di tusuk oleh Viora.
Jep!
Darah deras mengalir membasahi rerumputan, Viora ikut tumbang, Ilham menatap Laras sekilas, kedua nya pun memejamkan mata bersamaan, tubuh Ilham pun tumbang, mereka harap Olive dapat menolong mereka.
"Laras!! Ilham!"
"Sial!"
"Jangan lengah olive!" tegas Milah.
"Berani sekali kalian membunuh saudara Gue!!" murka Alvera.
"Bunuh mereka!" pinta Viora kemudian dia pun tumbang.
Alvera berdiri segara menyerang Olive, Olive pun segera menghindar sebisa mungkin, di saat posisi nya dekat dengan tubuh Viora dia segara menarik pisau yang menancap tepat di jantung Viora.
"Gue nggak tahu kenapa kalian jadi jahat gini? Tolong lepasin jiwa kami semua, keluarkan kami semua dari tempat ini," pinta Olive.
"Lo pikir gue bakal semudah itu keluar dari sini? Nggak!!"
"Begitu lo mati, jiwa kalian akan berada di tempat ini selamanya bersama kita berdua," timpal Alvera di akhiri tawa jahat nya.
__ADS_1
"Kalian juga harus mati menderita seperti apa yang kami rasakan, kita harus mati bersama," pekik Alvera dengan nada murka.
Alvera dan Viora sudah berubah jadi sosok yang mengerikan, mereka sudah tidak memiliki belas kasih, hanya rasa dendam yang mereka rasakan selama ini, Olive merasa bersalah, karena waktu itu dia tidak sempat menolong kedua sahabat nya, kini arwah kedua sahabat nya menuntut nya.
"Gue minta maaf!" ucap Olive lirih.
Kedua nya pun saling menodongkan pisau, beberapa kali Olive kena goresan hingga membuat darah segar mengalir dari luka nya, Milah terlihat panik, dia bersembunyi di balik pohon, saat itu terlihat Alvera terus mengincar Olive dan tidak memperhatikan nya.
Langit berubah gelap, tumpukan mayat terlihat jelas, darah segar terus mengalir, bau anyir terus tercium, Olive tidak sanggup melihat Revan dan sahabat nya yang mati mengenaskan.
"Gue harus akhiri semua ini, ini semua nggak masuk akal!" tegas Olive.
"Gue nggak mau mati!!" teriak Olive.
Olive berlari cepat ke arah Alvera, begitupun sebaliknya nya, dan dengan cepat kedua pisau itu segera saling menusuk tepat di jantung mereka.
Jep!
Darah segar mengalir deras, wajah kedua nya sangat dekat.
Olive dapat melihat tatapan kebencian di mata Alvera.
"Maaf gue nggak bisa selamatin lo waktu itu, gue pengen banget bantu lo, tapi waktu bergerak cepat, gue nggak bisa bantu kalian, maaf!" ucap Olive di tutup dengan senyuman.
Alvera terdiam sejenak, kemudian dia menatap mata Olive yang terlihat tidak tidak berbohong.
"Lo jahat! Lo nggak nolongin gue sama Viora, kita kesepian disini, kita menderita," ucap Alvera kesal.
"Gue tahu, seharus nya gue bantu kalian pergi dengan tenang, setalah ini semua selesai, gue harap kalian nggak bawa jiwa kami pergi bersama kalian semua," ucap Olive lalu terjatuh kehilangan kesadaran.
Olive tidak menyangka sekarang dia lah yang kalah duluan, dan dia juga tidak menyangka semua kehidupan nya selama ini hanyalah ilusi buatan.
Alvera ikut terjatuh, namun dia masih sadar, dia menghapus air mata nya, perlahan hujan turun membasahi tubuh mereka.
Alvera mengepalkan telapak tangan nya.
"Akhir nya kita punya teman Viora," ucap Alvera kemudian berbaring di samping Viora.
Disaat itu Milah muncul dia berdiri di depan tubuh Olive yang sudah basah di guyur hujan dan darah segar yang terus mengalir deras.
"Nggak mungkin!!"
...........
__ADS_1
...----------------...