welcome indigo wife

welcome indigo wife
kekerasan


__ADS_3

Bugh!


Bugh!


Bugh!


Argh!


Terlihat wajah seorang Gadis di pukul dengan keras, tubuh nya di hantam ke tembok oleh seorang pria paruh baya dengan wajah marah.


"Dasar anak tidak berguna!!" bentak nya sambil menatap kesal ke arah Gadis yang sudah terkapar di lantai dengan darah yang menetes dari sudut bibir nya yang sobek.


"Apa kamu pikir uang segini cukup untuk membayar semua hutang ku?" pria itu berjalan mendekati tubuh Gadis itu yang tidak lain adalah Laras.


"He bodoh! Apa lo pikir cari uang sebanyak itu gampang ha? Kerjaan lo aja cuma nambah dosa!!" sahut Laras sambil berusaha bangkit berdiri.


"Berani kamu berbicara kasar sama ayah mu?" ucap Pria paruh bayah tersebut, dia adalah Pak Deni, ayah kandung Laras dan sang adik yang bernama Alina.


Alina, Gadis kecil berumur 8 tahun yang tengah berjongkok di sudut kamar sambil menutup kedua telinga, derap nafas yang tidak teratur dengan isak tangis yang selalu terdengar dari dia.


Gadis itu ketakutan, kedua telapak tangan mungil nya menutup rapat kedua telinga nya, dia sama sekali tidak berani mengangkat kepala nya untuk melihat apa yang terjadi di luar kamar.


Laras berusaha bangkit sekuat tenaga yang tersisa. Ia pikir uang yang dia dapatkan mampu merubah sikap ayah, namun dia salah, orang itu tidak memiliki kepuasan sama sekali jika pun ia melunasi semua hutang nya.


"Jika kamu masih mau hidup di rumah ini dengan anak sialan itu, cepat carikan aku uang lebih banyak lagi!" tegas pak Deni sambil menatap tajam Laras.


"Cih! Uang! uang! Saja yang ada di otak lo!" decih Laras sambil menatap sinis sang ayah.


"Jangan membantah atau ku jual anak sialan itu sekarang juga?" ancam pak Deni.


Laras mengepalkan kuat telapak tangan nya, memang nya Alina itu barang bisa di jual.


"Brengsek! Dia anak lo juga! Lo pikir dia sampah ha? Apa nggak cukup ibu mati karna ulah lo?" bentak Laras, ia sangat murka.


Akibat ulah Pak Deni, Laras dan Alina kehilangan sosok ibu yang selalu melindungi mereka setiap kali Pak Deni berbuat kasar. Kini sosok pelindung itu sudah pergi selama-lamanya dan tidak akan kembali lagi untuk melindungi mereka berdua.

__ADS_1


Ingin rasanya Laras mengakhiri semua penderitaan nya dan Alina, namun permintaan sang ibulah yang membuat nya bertahan hingga saat ini. Tidak ada gunanya jika dia mati bersama Alina demi menyusul sang ibu.


'Andai aku bisa melindungi ibu juga, mungkin aku tidak akan kehilangan ibu secepat ini!' batin Laras.


Pak Deni terdiam, ia mengepalkan telapak tangan nya. "Wanita itu saja yang selalu kamu ungkit, apa kamu pikir ibu mu bisa membantu keluarga ini? Nggak dia sama tidak berguna nya seperti kalian!" ucap pak Deni lantang.


"Ibu udah bekerja keras demi lo! Harus nya lo yang sebagai kepala kelurga yang bekerja, bukan tidak berguna seperti ini!" sela Laras dengan air mata tak terbendung lagi.


Pak Deni mencengkram kuat leher laras, membuat gadis itu kesulitan bernafas. Laras tampak kesulitan melepaskan cengkraman tangan pak Deni.


"Berani lagi kamu berbicara! Detik itu juga kamu dan Alina menyusul Ibu mu," tegas pak Deni.


Pria paruh baya itu melepaskan cengkraman nya dengan kasar, lalu kemudian dia mengambil amplop coklat dari tas Laras.


"Jangan ambil uang itu!" pekik Laras sambil menatap tajam Pak Deni.


"Uang ini milik ku, ingat uang ini bahkan tidak cukup untuk melunasi semua hutang ku!" tegas pak Deni lalu melegang pergi keluar rumah.


Laras mengepalkan telapak tangan nya. "Sial!! Kenapa Gue nggak bisa lawan bajingan ini!! Gue udah nggak punya uang lagi," ujar Laras kesal.


Suara derap langkah kecil terdengar ke arah Laras.


"Kak! Kakak nggak papa ?" tanya Alina dengan isak tangis nya, wajah pucat Gadis kecil itu terlihat jelas.


Laras mengusap darah segar di sudut bibir nya, ia tidak mau membuat Alina khawatir.


"Nggak papa kok, yang tadi lupain aja, anggap aja setan lewat," ucap Laras lembut, ia rasa ini bisa membantu mengurangi rasa ketakutan Alina.


"Kakak luka-luka gini harus di obatin kak, biar alin-"


"Nggak usah, kamu udah makan?" tanya Laras memotong ucapan Alina. Ia bisa mengobati luka nya sendiri.


"U-udah kok kak," jawab Alina sambil menghapus air mata nya.


Laras bisa mendengar suara perut Alina yang sangat keras, tentu saja Adik nya ini berbohong agar dia tidak khawatir.

__ADS_1


"Alina ikut kakak yuk ke warung makan depan gang?" ajak Laras.


"Tapi kan kakak nggak ada ua-"


"Udah nggak usah di pikirin, masih ada kok, ayok!"


Kedua gadis itu segera pergi meninggalkan rumah yang di nilai neraka bagi mereka. Mau pergi dari rumah pun mereka tak berani.


'Jujur Gue nggak punya uang lagi, tapi semoga Gue boleh ngutang dulu deh,' Batin Laras.


Tampa kedua gadis itu sadari, ada sesosok wanita dengan rambut panjang berantakan berdiri di ambang pintu dengan air mata mengalir deras.


"Maaf!"


"Laras!"


"Alina!"


.....


Laras dan Alina tampak menikmati memakan bakso, Alina tampak sangat kelaparan, sedangkan Laras dia berusaha menyembunyikan rasa kebingungan nya, ia tidak tahu harus membayar makanan dengan apa ? Dia tidak punya uang sepeser pun.


"Kak! Bakso nya enak, Alina pengen makan ini tiap hari," ucap Alina senang.


Laras membalas dengan senyuman, namun disisi lian dia merasa kesal kepada dirinya yang tidak bisa membahagiakan Alina.


'Ibu! Laras bingung, Laras nggak sanggup hidup seperti ini terus, Laras nggak tega sama keadaan Alina, Tapi Laras harus bagaimana bu ? Laras nggak tahu harus pergi kemana ? Laras nggak punya apa apa lagi.'


Di tengah kebingungan itu, ada seseorang yang memanggil nama nya.


"Laras."


"Revan."


........

__ADS_1


__ADS_2