
.....
Air mata Olive mengalir deras, ingatan itu seketika membuat nya lemas tak berdaya, kenapa bisa dia melupakan hal sepenting itu selama ini.
Kedua orang tua nya meninggal, meninggal akibat menolong diri ya dari benda yang dia pegang saat ini.
Olive segera melemparkan buku itu ke lantai, dia benci buku itu.
"Dasar buku sialan, gara gara lo, hidup Gue Hancur!!!!" marah Olive, dia tak dapat lagi menahan isak tangis nya.
Viora dan Alvera berusaha menanamkan Olive.
"Tenang ya, semua masalah lo pasti ada jalan keluar nya, yang sabar, Gue yakin kedua orang tua lo udah bahagia disana," ucap Viora menangkan Olive.
"Lo nggak bisa salahin siapapun, termaksud diri lo, ini semua takdir, tidak akan ada yang menduga jika hal semacam itu akan menimpa kita," ucap Alvera.
Olive masih sedih, bingung, dan marah.
Mengapa kehidupan nya menderita begini, dia kehilangan kedua orang tua nya, dia bahkan melupakan identitas nya.
"Rumah lama kita itu, sebenar nya adalah rumah lama milik keluarga lo, itu sebab nya Gue dan Alvera nemuin buku aneh yang selalu ganggu kita tiap malam," ucap Viora.
Dia juga ingin menjelaskan ini pada Kania secepat nya, sayang nya Kania malah meninggal dan membuat mereka kesulitan mencari keberadaan Kania, dan masalah keluarga mereka juga sangat banyak, jadi sulit bagi mereka memberi tahu Kania secepat nya.
Entah mengapa kedua nya merasa, buku itu sengaja ingin membuat mereka memberitahu Kania di saat yang tepat, dan mereka juga mendapatkan mimpi melihat Kania yang berada di tubuh seorang gadis bernama Olive.
Petunjuk itulah yang menuntun kedua nya hingga bisa bertemu dengan Olive saat ini.
"Gue benci buku itu, kedua orang tua Gue meninggal karena Gue menolak untuk membantu dia, dan sekarang Gue tahu siapa dia yang yang sudah membuat Gue kehilangan kedua orang tua Gue," ucap Olive dengan nada marah.
"Nggak Olive, ini bukan salah dia, lo jangan asal nyalahin dia dong," ucap Milah yang muncul tepat di belakang Olive, Milah sudah mendengar semua nya.
Dia tahu siapa yang di maksud oleh Olive.
"Dan maaf, Gue keceplosan kasih tahu siapa lo sama dia," timpal Milah dengan wajah melas.
"Dia siapa? " tanya Viora.
..........
Malam sudah tiba, Olive tak kunjung pulang, terlihat Revan yang menunggu di ruang tamu dengan wajah Khawatir.
Namun begitu seorang gadis melangkah masuk, Revan langsung tersenyum, akhir nya gadis itu datang juga.
Sulit di mengerti penjelasan milah barusan, namun setelah di jelaskan Oleh Milah panjang dia pun paham.
Jika gadis itu bukanlah Olive melainkan Kania.
__ADS_1
"Olive."
Revan memanggil Olive, namun tidak ada balasan dari Olive sama sekali, Olive melangkah melewati Revan begitu saja.
"Olive!!" panggil Revan dengan nada agak keras.
Revan segera menyusul ke kamar Olive.
Gadis itu duduk di ujung kasur dengan raut wajah marah, Revan tidak tahu mengapa Olive marah, apa karena dia tahu identitas nya.
"Olive, lo kenapa? Gue janji bakal rahasiain identitas lo," ucap Revan.
"Bisa diam nggak!" bentak Olive dengan suara tinggi.
Revan terdiam, mengapa Olive membentak nya barusan, tidak biasa nya Olive membentak nya.
"Lo kenapa? Lo ada masalah?" tanya Revan khawatir.
"Lo bisa diam nggak sih, berisik tahu!!" tegas Olive.
"Mendingan sekarang lo pergi!!!"
"Jangan ganggu Gue!"
Olive mengusir Revan dengan suara tinggi, gadis itu benar benar marah padanya, Revan terdiam kebingungan dia tidak tahu mengapa sikap Olive berubah seperti ini, memang nya apa yang barusan terjadi.
"Lo kenapa? Ngomong ke Gue, jangan kayak gini," ujar Revan dengan nada khawatir.
Revan menggeleng, dia tidak akan pergi sebelum Olive mengatakan mengapa dia seperti ini.
"Lo kenapa?"
Olive menarik nafas panjang, dia segera mengantarkan Revan ke kamar Revan, dia mendorong dengan kasar kursi roda Revan hingga membuat cowok itu terjatuh dari kursi roda.
Bugh!
"Aaarghh!!"
Revan tersungkur jatuh ke lantai, Olive hanya diam melihat nya kesakitan tanpa mau menolong nya sama sekali seperti biasa nya ketika ia jatuh.
"Lo kenapa? Gue minta maaf kalau Gue ada salah," ucap Revan dengan menahan rasa sakit.
Olive hanya diam, dia menatap wajah Revan penuh kebencian.
"Kania!" panggil Revan.
Olive terdiam, dia menghela nafas panjang, kenapa sulit sekali baginya memaafkan semua masalah ini, dia tidak bisa memaafkan Revan yang sudah membuat nya kehilangan kedua orang tua nya.
__ADS_1
"Jangan panggil Gue Kania," tegas Olive.
Olive melangkah pergi, dia menutup pintu kamar Revan dengan kasar, bahkan Olive mengunci pintu kamar Revan dari luar.
"Olive!! Jangan di kunci!!" ujar Revan memohon.
Namun sudah tak ada suara lagi dari balik pintu, Olive sudah melangkah pergi setalah mengunci diri nya di kamar.
Sejak kecelakaan itu, Olive yang sebenarnya nya Kania sama sekali tidak pernah berlaku kasar padanya namun kini gadis itu, seperti Olive yang dulu.
"Lo kenapa? Kenapa lo seperti dulu, lo Kania kan? Lo bukan Olive yang dulu," guman Revan.
Revan berusaha payah menyeret kedua kaki nya menuju pintu, dia mencoba membuka pintu namun sama sekali tidak bisa, Olive benar-benar mengunci diri nya di kamar.
"Olive!! Bukain!!! Jangan di kunci!!" pekik Revan sambil memukul-mukul pintu beberapa kali hingga akhir nya dia berhenti.
Revan bingung, mengapa Olive seperti ini, apa dia berbuat kesalahan fatal, ya tanpa Revan sadari jika Kania adalah gadis kecil yang menolong nya.
Tugas menutup mata batin nya sudah selesai, namun beberapa hari kemudian banyak tugas yang bermunculan tiba-tiba, dan itu semua tentang Revan.
Revan yang harus dia bantu.
Milah muncul di hadapan Revan, Revan saat itu masih memakai kalung berbandul kunci tersebut. Dia jadi bisa melihat Milah tanpa harus milah menampakan diri nya.
"Milah, Olive kenapa?" tanya Revan.
Milah terdiam, dia bingung harus mulai dari mana.
"Maaf Revan, sebaik nya lo minta penjelasan langsung ke Olive aja, Gue nggak bisa jelasin nya," ujar Milah dengan suara sendu.
"Gue nggak bisa," jawab Revan.
"Kenapa?" tanya milah heran, dia juga kaget setelah menyadari Revan terduduk di lantai bukan di kursi roda.
"Lo jatuh lagi?" kata milah.
"Iya, Gue jatuh lagi tadi, Gue nggak bisa berdiri sendiri, Olive juga udah capek, jadi besok aja Gue tanya dia." semua ucapan Revan adalah kebohongan yang dia tutupi.
Milah mengerutkan kening nya, dia mencoba membuka pintu dengan seluruh kekuatan nya.
"Pintu nya di kunci dari luar, siapa yang kunciin lo?" tanya milah dengan nada tegas.
"Nggak, pintu nya emang lagi rusak," ujar Revan berbohong, Revan tidak ingin Milah malah bertengkar dengan Olive.
'Gue harus apa? minta maaf lagi? Tapi Olive sama sekali nggak dengerin Gue?'
'Lo kenapa? Kalau Gue ada salah, Gue minta maaf Olive!!'
__ADS_1
.......
...