
....
Beberapa hari ini semenjak kejadian itu, Olive sangat dingin terhadap Revan.
Beberapa kali Revan memanggil nya Olive selalu menjauh dan enggan melihat nya, Revan tidak tahu mengapa Olive bersikap dingin padanya, mungkin jika dia tahu, semua ini tidak akan terjadi.
Kini memperlihatkan Revan yang berada di taman, dia sedang memikirkan apa kesalahan nya yang membuat Olive seperti benci padanya.
'Gue nggak tahu apa salah Gue? Tapi kenapa Olive sama sekali nggak mau bilang sama Gue apa yang terjadi, Gue nggak ngerti lagi.'
Saat Revan sedang terdiam, ia merasakan tangan yang memegang pundak nya, spontan dia berbalik badan.
"Citra"
"Kenapa lo ngelamun aja? Lagi mikirin masalah rumah tangga?" tanya Citra dengan nada menggoda.
Revan mengalihkan pandangan nya ke arah lain, dia malas sekali di ganggu di saat yang tidak tepat.
Revan hendak pergi, namun Citra langsung menahan kursi roda nya.
Kedua nya saling bertatapan sekilas hingga Revan memalingkan wajah nya ke sembarang arah.
"Jangan ganggu Gue," tegas Revan.
"Ganggu? Gue tuh mau nemenin lo buka ganggu ini lo," jawab Citra santai.
Tangan Citra perlahan menyentuh pipi Revan, Revan segera menepis tangan Citra.
"Pergi! Gue mau sendiri!" tekan Revan.
Citra menggeleng.
"Gue tahu lo pasti ada masalah kan sama Olive? Lagian ngapain sih lo pertahanin pernikahan tanpa di dasari rasa cinta? Mendingan lo cerain dia," ujar Citra dengan nada ketus.
Revan menghela nafas panjang, andai Citra tahu jika kedua nya sudah saling mengutarakan perasaan dengan cara yang cukup membuat gadis itu pingsan.
"Bukan urusan lo."
Revan hendak pergi, namun Cita kembali menahan nya, Revan semakin merasa kesal jika Citra terus menahan nya seperti ini.
"Mau lo apa sih?" kesal Revan.
"Lo!"
Citra menatap bibir Revan dengan perlahan tangan nya menyentuh dagu Revan. Revan mengalihkan pandangan nya segera.
"Ehem! Permisi!" seru ilham.
Ilham segera membawa Revan pergi, dia kebetulan lewat, ketika melihat sahabat nya sedang terjepit dia pun mulai beraksi.
Citra mendengus kesal, ilham selalu saja menganggu rencana nya.
'Suatu hari lo pasti milih Gue!'
__ADS_1
...........
"OLIVE!!"
Milah menarik paksa lengan Olive. Olive terus menghindari nya membuat nya semakin kesal saja.
"Lo nggak kayak gini, lo harus b
Jelasin sama Revan, di nggak tahu apa apa, lo nggak bisa seenak nya nuduh dia karena buku sialan itu," ujar Milah menegur.
Olive menepis tangan milah.
"Bukan urusan lo, lo nggak perlu ikut campur."
Setalah mengatakan hal itu, Olive melangkah pergi meninggalkan milah yang masih kesal padanya, milah tahu Revan tidak salah, semua itu takdir, kenapa Olive tidak bisa sadar jika dia menyalahkan seseorang yang bahkan sudah sangat menderita.
"Gue nggak tahu harus bagaimana lagi, lo salah nuduh Revan, seharus nya lo bisa selesaikan masalah ini baik baik sama Revan, lo nggak bisa seenak nya nuduh dia kayak gini," gimana Milah.
"Gue tahu rasa nya kehilangan kedua orang tua, tapi nggak gini cara nya lo lampiaskan ke Revan,"ucap Milah sambil dengan aura dingin.
Milah hendak menghilang , namun tiba tiba pendengaran nya teralihkan oleh salah satu kelas yang terlihat sedang membicarakan sesuatu yang menarik perhatian nya.
Milah pun menghampiri kelas itu, dia melihat beberapa orang sedang berkumpul, hampir semua memakai masker membuat Milah tidak bisa melihat identitas mereka.
"Kita habisi dia," ucap salah satu di antara enam orang yang sedang berkumpul di kelas tersebut.
"Jangan sampai ada yang tahu kalau kita yang habisi dia, lo semua sampai ada yang ketahuan, Gue habisi kalian semua," tegas orang itu.
Mereka semua menganguk setuju, kemudian salah satu di antara mereka menyodorkan sebuah foto ke atas meja.
Seketika milah melebarkan bola mata nya, apa yang barusan dia lihat adalah hal yang akan membahayakan seseorang yang dia kenal.
"Nggak, nggak mungkin mereka mau bunuh.."
"Revan!"
.............
Seorang cowok muncul dari balik pintu kelas, dia melangkah masuk menghampiri seorang gadis yang tengah duduk santai dengan permen karet di dalam mulut nya.
"Ngapain lo disini?" tanya Brayen.
"Maling, dah tau sekolah banyak tanya lo," ujar Olive kesal.
Brayen terkekeh kecil kemudian dia duduk di samping Olive membuat Olive agak kurang nyaman.
"Lo ada waktu luang nggak?" tanya Brayen.
"Nggak!" tegas Olive.
"Lo ada hubungan apa sama si cacat?"
Olive mengarahkan pandangan nya seketika ke arah Brayen yang tersenyum padanya tanpa beban.
__ADS_1
"Lo ngomong apa barusa?"
"Lo ada hubungan apa sama si cacat?" ucap Brayen sekali lagi.
"Cacat? Yang cacat tu otak lo," sela Olive kesal.
"Gue nanya baik baik kenapa lo marah?" ucap Brayen.
"Bukan urusan lo Gue ada hubungan atau nggak sama dia," tegas Olive.
Saat Olive hendak melangkah pergi, Brayen menahan tangan nya, Olive pun mengalihkan pandangan nya ke arah Brayen yang menatap nya penuh tanda tanya.
"Kalian berdua sudah menikah kan?" Tanya Brayen.
Olive terdiam sesaat, bagaimana bisa Brayen tahu tentang hal ini, mungkin memang sudah tidak bisa di sembunyikan lagi, kedekatan nya dengan Revan saja sudah membuat banyak orang bertanya tanya.
"Lepas!"
Olive melangkah pergi setelah menepis tangan Brayen, Brayen tersenyum tipis.
"Nggak mungkin sih, Olive mau nikah sama dia, mendingan juga sama Gue, pasti gosip itu hoax!" guman Brayen.
.......
Di sisilain terlihat Olive yang sedang kebingungan sendiri dengan diri nya. Gadis itu melangkah meja belajar nya, dia mengambil buku hitam tersebut yang terdapat nama nya di sampul buku usam tersebut.
"Kenapa lo buat Gue lupa sama semua kehidupan lama Gue?" ucap Olive sambil menatap tajam buku tersebut.
Buku itu tiba tiba bergetar kemudian gembok yang mengunci nya hancur berkeping-keping hingga membuat Olive terlonjak kaget.
"Sial," umpat Olive kaget.
Buku itu tiba tiba mengeluarkan cahaya terang sekilas, Olive pun membuka buku itu perlahan, dan hanya kertas kosong yang dia dapatkan tidak ada tulisan tinta di atas kertas tersebut.
"Kenapa kosong?" gimana Olive.
Saat Olive hendak menutup buku itu, sebuah tulisan perlahan muncul dan berapa terkejut nya dia melihat hal itu.
Selamat datang kembali... Kania...
Olive mengerutkan kening nya, dia ingat sekali buku ini memang bisa berkomunikasi dengan nya dengan tulisan.
"Kenapa lo hancurin kehidupan Gue?" tanya Olive dengan suara kesal.
Aku tidak menghancurkan kehidupan mu, semua ini adalah takdir... Akulah yang menyelamatkan mu dari kecelakaan itu, maaf jika akau tidak dapat melindungi kedua orang tua mu, buku ini memang memiliki konsekuensi berat jika pemilik nya kabur dari tugas nya...
Namun aku sebagai penjaga buku ini, sama sekali tidak membuat kecelakaan itu terjadi...
Dia... Dia juga tidak salah... Sekarang kamu dan dia akan bersama selama nya... Selesaikan masalah kalian dan berbahagialah...karena aku akan pergi dari kehidupan mu setelah semua nya selesai.
Olive membaca semua tulisan itu, memang masih marah dengan buku ini, namun apakah benar kematian kedua orang tua nya adalah takdir bukan karena buku ini.
"Revan? Gue nggak seharusnya nya marah sama dia, tapi kenapa Gue nggak bisa nahan emosi Gue kalau lihat dia? Gue selalu salahin dia sebagai penyebab kematian kedua orang tua Gue."
__ADS_1
...........
...............