
Seorang gadis cantik berjalan di sepanjang koridor sekolah, ia menjadi pusat perhatian Para murid yang mengagumi kecantikan nya bak seorang bidadari.
Gadis cantik itu berjalan menuju taman sekolah. Ia menghampiri seorang cowok tampan di kursi roda.
"Revan." sapa Citra.
"Citra."
"Ada apa lo minta Gue kesini?" tanya Revan.
Sebab ia datang ke taman itu karena pesan yang di kirim oleh Citra kepada nya. Ia juga agak kaget saat Citra mengetahui nomor ponsel nya. Padahal ia ingat dengan jelas, Sama sekali Revan tidak perna memberikan nomor Ponsel nya kepada Citra.
"Gue cuma mau mastin keadaan lo baik-baik aja," jawab Citra dengan nada lembut.
"Gue baik-baik aja," balas Revan.
"Setalah kejadian itu, lo nggak masuk sekolah lagi, Gue jadi khawatir aja sama keadaan lo, Olive nggak kasar kan sama lo?" ujar Citra panjang kali lebar.
Revan menggeleng, "Lo nggak perlu khawatirin Gue, dan Gue mau tanya satu hal."
"Tanya apa?"
"Lo nggak kasih tahu siapa-siapa kan tentang status Gue sama Olive?" tanya Revan serius.
Revan ingin status nya dan Olive aman, ia tidak ingin siapapun tahu, apalagi sampai satu sekolah tahu. Itu bisa gawat.
Citra tidak menjawab, ia justru tersenyum. Revan hanya diam, ia tidak kaget dengan sikap aneh Citra, sejak awal ia bertemu citra, sikap Citra memang berbeda padanya.
Citra di kenal sebagai Siswi galak, dan tegas. Ia cukup di segani dan di takuti. Namun sikap nya itu hilang ketika bertemu Revan. Ia justru baik dan perhatian pada Revan.
Ia juga selalu melindungi Revan dari para pembully dan Olive yang dulu.
Citra kini menatap lekat wajah tampan Revan, ia berjalan perlahan mendongakkan wajah nya menatap ke depan mata Revan.
Revan hanya diam ketika wajah Citra kini berada tepat di depan wajah nya, sangat dekat, kurang sedikit lagi hidung mereka saling menempel.
"Mungkin untuk saat ini Gue masih jaga Rahasia kalian, tapi entah suatu hari nanti, bisa aja sih Gue kasih tahu siapa aja tentang Status pernikahan kalian," ucap Citra di tutup senyuman singkat.
Revan masih diam, kemudian ia mengalihkan wajah nya, ia tidak nyaman dengan sikap Citra saat ini.
"Ada satu syarat sih kalau lo mau rahasia lo aman," timpal Citra.
"Apa?" tanya Revan.
"Jangan larang Gue, untuk jadi sahabat lo," sahut Citra dengan nada santai.
"Hanya itu?"
"Tentu saja," jawab Citra.
Revan yakin pasti ada hal lain yang di inginkan gadis itu, namun mungkin gadis itu tidak akan mengatakan nya sekarang.
__ADS_1
"Baiklah," balas Revan setuju.
"Lo udah makan?Mau ke kantin bareng?" tanya Citra antusias, kebetulan perut nya masih kelaparan.
Revan menggeleng, "Lo aja sendiri, Gue udah makan tadi," sahut Revan.
Citra mendengus kesal, "Ayolah kali ini aja, lo tuh selalu aja nolak ajakan Gue, tenang aja Olive nggak bakal Marah kok," mohon Citra.
Revan menghela nafas panjang, ia menganguk kecil.
"Yes, gitu dong!"
Citra dan Revan pun segera pergi ke kantin bersama.
****
Disisi lain terlihat Olive dan Laras yang di tarik paksa ke ruang Osis, kedua gadis itu terus berontak, namun mereka sudah kepergok merokok di sekolah.
Padahal menurut nya di sekolah ini merokok adalah hal bebas, namun entah mengapa Rey justru menyeret nya dan Laras ke Ruang Osis.
"Loh Olive?ngapain disini?" tanya salah satu Osis di ruangan Itu, ia bernama Bima, murid kelas XII IPA 1.
"Ngantri sembako," jawab ngasal Olive.
"Ngapain sih?pakai seret-seret segala ke sini?" kesal Laras.
"Kalian berdua harus di hukum," tegas Rey.
Olive mendekati Rey, ia menarik kera baju Rey hingga membuat sang empu sedikit terlonjak kaget.
"Di sekolah ini nggak ada peraturan di larang merokok, jadi nggak ada urusan nya lo ngehukum kita," tegas Olive dengan sorot mata marah.
"Benar apa kata Olive," timpal Laras.
"Buset! Kalian berdua ngerokok?" heboh Bima.
"Nggak baik cewek ngerokok."
"Eh! Centong dapur! Diam Lo," sela Laras menatap tajam Bima. Cowok itu pun bungkam seketika, dari pada di sembur lagi.
Rey melepaskan cengkraman tangan Olive pada Kera nya, tenaga gadis itu kuat juga hingga membuat nya sedikit kesulitan.
"Peraturan itu hanya berlaku untuk anak Cowok," jawab Rey.
Olive mengepalkan telapak tangan nya, sejak kapan dia mendengar peraturan hanya Cowok yang boleh merokok di sekolah ini, apa dia lupa.
Sial nya dia sekarang sudah ketangkap basah Oleh Rey, mau tidak mau dia mengalah saja.
"Jadi apa mau lo?" tanya Olive.
"Sial! Kenapa lo pasrah aja sih?" kesal Laras.
__ADS_1
"Kita udah ketangkap basah bego!mau ngeles nggak ada gunanya," sahut Olive melirik sekilas ke arah laras.
Kedua gadis itu sedikit menyesal karna merokok di tempat yang tidak tepat.
Rey tersenyum singkat, "Mulai besok Lo Laras jadi Salah satu anggota Tim cheerleaders sekolah," ucap Rey.
Laras terkejut hingga menganga lebar, "Banyak Cicik didinding," ucap Olive sembari menutup mulut Laras dengan telapak tangan nya.
"Tangan lo bau asap Rokok Olive," ujar Laras menepis tangan Olive.
"Wah Rey, lo nggak salah kasih posisi itu ke Laras?Dia lompat tinggi aja nggak nyampek loh!" heboh Bima.
"Diam Lo siput sawah! Lagian siapa sih yang mau jadi anggota cheerleaders, Gue ogah!" sahut Laras kesal.
"Nggak ada bantahan, mau nggak mau lo ikut, atau Gue aduin kalian berdua ke kapsek?" ancam Rey dengan menaikan sebelah alis nya.
"Ngancam muluk bisa loh, dasar babu sekolah!" ledek Olive kesal.
Deg!!
Apa yang barusan di katakan Olive mengejutkan seisi Ruangan, termasuk Laras yang terperangah kaget, apa Gadis itu ingin hukuman yang lebih parah dari apa yang dia terima.
"Ehem! Ngomong apa barusan?" ujar seorang gadis berjalan menghampiri Olive.
Ia adalah Sandra salah satu anggota Osis, ia di kenal cukup galak, dan di takuti para pembuat Onar.
"Olive! Mulut lo ember banget!" decih Laras kesal.
Olive hanya diam santai sih, jujur dia keceplosan mengatakan hal itu. tampak Para Osis mulai hadir satu persatu, kini dia bahkan di tatap tajam Oleh Rey.
"Babu sekolah?Lo pikir kita mau jadi Babu sekolah?" Kata Sandra sinis.
"Bukti nya lo pakai jas Osis, itu tanda nya lo mau," jawab Olive santai.
"Olive lo diam aja ya," pinta Laras, ia tidak ingin Olive semakin memperkeruh suasana.
"Udahlah kasih hukuman pantas aja, mulut kok pedes amat, kagak perna di sekolahin," gerutu Bima.
"Eh gayung plastik! Diam lo!" tegas Olive.
"Bisa nggak sih kalian berdua berhenti muji Gue?" dumel Bima.
"Hina bego!" sela Laras membenarkan ucapan Bima.
Bima mendengus kesal, sejak tadi kedua gadis itu terus mengatainya, apa dia seburuk itu.
"Lo jadi anggota baru tim basket sekolah," tegas Rey tiba-tiba.
Seisi Ruangan senyap, mereka melebarkan bola mata serempak, kecuali Sandra yang hanya diam, ia kaget dalam hati.
"Gue cewek, mana bisa masuk Tim basket, yang isi nya Cowok semua?"
__ADS_1
*****