welcome indigo wife

welcome indigo wife
ilham


__ADS_3

Membongkar isi lemari baju dan meja belajar nya. Entah apa yang dia cari, namun semua isi lemari dia keluarkan dan kini berserakan di lantai.


"Allhamdhulilah! akhir nya ketemu juga," ujar Ilham senang sambil mengangkat celengan bebek pink yang dia simpan.


"Dengan begini, Gue bisa bantu Karla buat dapat uang," guman Ilham.


"ILHAM!"


Suara teriak seorang Wanita yang datang memasuki Kamar Ilham, terdengar sangat jelas melengking di seluruh ruangan.


"Ma! jangan teriak-teriak, entar di datengin pak Rt lagi loh," tegur Ilham.


"Gimana Mama nggak teriak nak, kenapa kamar kamu kayak kapal pecah?" kata Intan tak habis pikir dengan sikap Ilham.


Ilham melihat situasi kamar nya yang tepat seperti yang di ucapkan Intan. Ia tidak sadar jika ia sudah memberantakkan kamar nya hanya untuk mencari celengan Nya.


"Maaf Ma, tadi Ilham cari ini," mohon Ilham dengan Mata melas.


"Memang nya kamu mau apain celengan itu?" tanya Intan.


Ilham terdiam, ia tidak mungkin mengatakan niat jujur nya. "Mau Ilham pakai ma," jawab Ilham gelagapan.


Intan mengerutkan kening nya, "Untuk apa nak?"


Ilham kebingungan mencari alasan yang tepat agar Intan berhenti bertanya lagi.


"Bu-buat beli obat ma," jawab Ilham ngasal.


"Obat kamu habis ya?" Ilham menganguk sebagai jawaban nya.


Wajah Intan berubah lesuh, ia ingat sudah hampir satu bulan ini ia belum beli obat Ilham, cek up juga belum.


"Ma, Mama kenapa diam?" tanya Ilham.


"Maaf In mama, mama nggak bisa beli obat buat kamu, kamu juga belum Cek up, terus belum beli alat pendengaran baru," ujar Intan dengan nada sendu.


Alat pendengaran Ilham memang sudah waktu nya di ganti, alat itu sudah di pakai sangat lama. Namun sampai sekarang belum ada uang yang cukup untuk beli yang baru.


"Nggak papa ma, Ilham ngerti kok, nanti untuk obat Ilham sama Dion, biar Ilham beli sendiri aja pakai uang ini," ucap Ilham Lembut.

__ADS_1


"Iya nak, Mama janji akan cari banyak uang buat kalian berdua, nanti Mama bakal beliin kamu alat pendengaran baru yang jauh lebih bagus, terus Mama juga pengen banget Dion mendapatkan pengobatan yang bagus agar bisa bicara lagi, dan kamu juga bisa mendengar lagi," ujar Intan, ia mengeluarkan semua harapan nya.


Itulah yang ia impikan sampai saat ini, dia ingin kedua anak nya itu mendapatkan perawatan yang baik, namun karna terhalang biaya, ia harus menunda semua itu.


"Ilham yakin Mama bisa kok, tapi Mama jangan paksakan diri untuk bekerja terus, Mama juga harus jaga kesehatan," tutur Ilham.


Intan menganguk, "Mama keluar dulu ya, ada urusan sama duda depan rumah," ujar Intan santai.


Ilham mengerutkan kening nya, "Duda? Ada urusan apa Mama sama Duda sok ganteng itu?"


"Emm! Kasih tahu nggak ya?" seru Intan menggoda Ilham.


"Ma! Kasih tahu dong! Mama nggak mau nikah kan sama dia?" tanya Ilham heboh, ia tidak mau punya papa baru.


"Ya kali Mama nikah lagi, cerai aja belum nak," ujar Intan di sela tawa nya. Intan melegang pergi keluar kamar Ilham.


Ilham menghela nafas panjang, benar sekali ucapan Intan. Mama nya itu memang belum cerai hingga saat ini dengan Papa Kandung nya.


Flashback...


Dulu setelah Ilham lahir, Pihak keluarga tidak menerima Ilham mengidap gangguan pendengaran, mereka semua ingin memisahkan Intan dengan sang anak.


Intan berjalan luntang-lantung tak tahu arah, dia terus berjalan dengan Ilham yang masih bayi di gendongan nya.


"Nak, jangan nangis ya, Mama bakal lindungi kamu dari orang-orang jahat itu," ucap Intan sembari mengusap pucuk kepala sang putra.


Intan sadar ia sudah berjalan terlalu jauh hingga kaki nya sampai lecet, wanita itu juga tidak memakai alas kaki, ia ingat saat kabur tidak memakai sandal. Dia bahkan masih memakai baju pasien rumah sakit.


"Aduh! kaki ku sakit banget," seru Intan meringis.


Intan istirahat sejenak di tepi jalan, ia mengelus perut nya yang mulai bergemuruh kelaparan. Namun ia tidak Punya uang sepeserpun.


"Ya allah, kenapa bisa aku kabur tanpa bawa uang sekoper dulu," ujar Intan sambil menepuk jidat nya. Ia merasa sedikit menyesal kabur tanpa persiapan dulu.


Intan menatap sendu sang bayi di gendongan nya, Karna terlalu sibuk memikirkan cara membawa pergi bayi nya ia sampai lupa membawa uang sedikit pun. Jika begini bagaimana dia bisa cari tempat tinggal.


"Ah, aku harus cari batuan siapa? Aku bahkan nggak bawah ponsel." Intan kebingungan.


Seorang pria gagah berjalan menghampiri nya, Intan melihat ke arah Pria tersebut. Wanita itu segera bangkit.

__ADS_1


"Siapa kamu? Orang jahatkan?" tanya Intan waspada.


"Saya orang baik, kamu butuh tempat tinggalkan, kebetulan saya punya rumah yang tidak terpakai lagi, apa kamu mau?" tanya Pria itu menawarkan.


Intan mengerutkan kening nya. Apa orang ini bisa di percaya, dari penampilan dan gelagat nya tidak mencurigakan sih, wajah nya juga tampak tenang, dan tampan.


"Tapi saya nggak punya uang, nanti saya bayar nya pakai apa?"


Pria itu menggeleng kecil, "kalau kamu mau bayar, nanti saja jika punya uang."


Mendengar jawaban Pria itu dia merasa inilah kesempatan emas untuk nya mendapatkan tempat tinggal. Ini juga demi anak nya.


"Baiklah, saya mau," ucap Intan setuju.


"Sekarang ikut saya, tenang saja saya tidak akan macam-macam kok," ucap Pria itu dengan nada santai. Intan menganguk patuh, ia pun ikut pergi dengan pria tersebut.


Tidak butuh waktu lama, kedua nya sampai di depan sebuah Rumah sederhana yang tampak sedikit tua, namun sangat bersih dan masih kokoh.


"Ini adalah Rumah lama saya, kamu bisa tinggal disini, tempat nya tidak terlalu buruk juga," ucap Pria itu.


Intan melihat sekeliling Rumah, cukup bagus.


"Terimakasih atas bantuan nya, secepat nya saya akan cari pekerjaan untuk membayar Rumah Kamu," ucap Intan antusias.


Pria itu tersenyum singkat. "Untuk pekerjaan nanti saya bantu cari, yang penting kamu sama anak mu istirahat saja dulu," ucap Pria Itu Ramah.


Jujur Intan merasa beruntung bertemu dengan Pria yang lebih muda dari nya, sekitar beda 5 tahun.


Saat ini usia Intan baru 25 tahun.


"Saya Intan." Intan mengelap telapak tangan nya sekilas di baju nya, lalu ia mengulurkan tangan nya ke pada Pria tersebut.


"Wili." Wili membalas uluran tangan Intan.


Kedua nya saling berkenalan dekat, Intan sangat berterimakasih atas kehadiran Wili yang membantunya disaat Waktu tersulit baginya.


'Mulai hari Ini Aku akan membangun kehidupan baru ku bersama putra ku yang sangat sempurna.'


******

__ADS_1


__ADS_2