
...
Hujan turun semakin deras, tidak disangka cerita yang di bangun selama ini sudah selesai disini, Milah terdiam kebingungan, dan tidak tahu harus berbuat apa, dia hanya duduk menangis di samping Olive yang sudah pucat pasih.
"Kenapa semua nya jadi gini sih? Gue nggak ngerti dengan dunia ini," gerutu kesal Milah.
"Apa kita semua akan terjebak selama nya disini?" guman Milah di sela isak tangisnya.
Suara langkah seorang terdengar jelas, Milah melirik ke sumber suara tersebut.
"Pangeran!"
"Milah!"
"Lo bisa bantu gue kan?" tanya Milah yang langsung menghampiri Pangeran.
"Bisa, mereka semua bisa selamat asal, lo bisa bantu mereka semua keluar dari sini," ucap Pangeran dengan nada lembut.
"Gue? Kan gue juga udah mati, mana bisa?" ujar Milah bingung.
"Lo bisa," Pangeran meletakan jari telunjuk nya tepat di kening milah, sebuah ingatan muncul, diamana dia melihat seorang wanita berdiri tepat di samping seorang Pria yang tidak lain adalah Dion, kedua nya saling bergandengan tangan, wanita itu mengelus perut nya yang terlihat besar, ya wanita itu sedang mengandung, kedua nya juga memakai cincin yang sama.
Dan wanita itu adalah Dia.
"Nggak mungkin," ucap Milah dengan wajah panik.
"Maaf, itulah kenyataan nya, maaf ini gue, gue yang manipulasi ingatan lo," ucap Pangeran dengan nada penyesalan.
Milah tidak menyangka jika dia sebenarnya nya adalah istri Dion, dia lah wanita yang sedang mengandung anak dari Dion, selama ini ingatan nya di manipulasi oleh Pangeran.
"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Milah dengan nada kesal.
"Maaf ini gue, gue lakuin ini karena sejak dulu gue suka sama lo," ucap Pangeran menyesal.
Dia sangat mencintai Milah dulu, namun sayang nya dia justru tidak bisa mendapatkan hati milah karena dia tewas dalam kejadian itu.
"Ternyata lo nggak ada beda nya sama mereka, sekarang gue minta lo kembalikan kita semua, keluarkan kita dari sini," pinta Milah sambil mencengkram kera baju Pangeran.
Pangeran menunduk lesuh, kemudian dia menatap milah yang terlihat sangat marah.
Pangeran menganguk, sebuah cahaya terang muncul menyinari mereka semua hingga akhir nya.
...****************...
__ADS_1
Begitu Milah membuka matanya di melihat Dion yang sedang membangunkan nya.
"Sayang bangun!" ucap Dion dengan nada panik sambil membangunkan milah.
"Dion"
"Akhir nya kamu bangun juga," ucap Dion sambil menarik tubuh Milah dalam pelukan nya.
Semua mulai terbangun satu persatu, begitupun dengan Olive, dia membuka mata nya dan melihat diri nya dan semua sahabat nya masih berada di depan gedung sekolah lama mereka, langit sudah berubah gelap.
"Revan!" Olive segara memeluk tubuh Revan, dia sangat takut kehilangan Revan seperti apa yang dia ingat.
"Lo kenapa?" tanya Revan dengan nada bingung.
"Lo nggak ingat dengan apa yang terjadi?" tanya Olive dengan nada sendu.
Revan menggeleng, yang dia ingat dia terbangun dan sudah berada di depan sekolah lama nya, dia tidak ingat apa yang sudah terjadi, dia segara membangunkan Olive yang terbaring tepat di samping nya dengan wajah pucat.
"Lo nggak papa kan, gue khawatir," ucap Revan sambil membalas pelukan sang istri.
Olive menghela nafas panjang, lebih baik dia lupakan juga tentang hal itu, terlalu buruk untuk dia ingat lagi.
"Nggak papa," balas Olive dengan nada lembut.
Disebelah sana ada Ilham yang sedang membangunkan Laras, wanita itu segara bangun, tidak disangka di dunia nyata mereka semua sudah dewasa, dan masing masing sudah menikah.
Laras membuka matanya perlahan, di sangat terkejut melihat wajah Ilham, wanita itu segera menjauh dari Ilham, Ilham yang melihat nya pun bingung.
"Kamu kenapa?" tanya Ilham bingung.
"Bukan kamu udah mati?" ucap Laras.
"Mati? Mimpi kamu, aku nggak akan mati kalau kamu nggak mati duluan," ucap Ilham dengan santai.
Laras mendengus kesal, kemudian dia teringat dengan semua ingatan saat dia masih berada di dunia buatan Viora dan Alvera, tak disangka semua itu hanyalah sebuah mimpi, dan kini kenyataan nya Ilham adalah suami nya.
"Pergi yuk, udah mau malam juga," ucap Ilham membantu Laras berdiri.
"Kamu nggak ingat?" tanya Laras sambil melirik Ilham yang terlihat santai.
"Ingat apa?"
"Tentang pembunuh gitu?"
__ADS_1
"Nggak, yang aku ingat kita semua tidur di tempat ini, aneh banget kan?" ujar Ilham santai.
Laras mengiyakan saja dia tidak mau juga mengingatkan hal pahit itu lagi, walau semua nya hanya mimpi buatan, namun sangat membekas di dirinya, dia jadi teringat dengan masalalu nya yang kelam, namun semua itu hanyalah mimpi, karena masalalu nya di dunia nyata tidak lah seburuk itu.
Terlihat juga Karla dia terbangun tepat di pangkuan Gery, Karla terkejut begitu melihat wajah Gery, entah mengapa dia merasa ini semua mimpi, walau sebenar nya inilah kenyataan nya, semua yang dia alami barusan adalah mimpi buatan saja, kenyataan nya dia masih hidup dan berbahagia bersama keluarga dan suami nya yang tidak lain adalah Gery.
"Gery!"
"Bangun sayang," pinta Gery.
Karla segara bangun dia merasakan pelukan hangat yang diberikan oleh Gery, Gery mengelus pucuk istri nya yaitu Karla.
Olive dan lain nya menyadari jika suami mereka sama sekali tidak mengingat kejadian yang baru saja menimpa mereka, namun akhir nya mereka lega, terutama Olive dia senang Revan tidak semenderita yang dia lihat selama itu.
"Kenapa sayang?" tanya Revan sambil menatap bingung ke arah Olive.
Olive tersenyum tipis, dia melingkarkan lengan nya di leher jenjang Revan, Revan segara mengangkat tubuh Olive, dia menggendong wanita itu apa koala nemplok.
Sementara itu milah asik di gendong oleh Dion, terlihat Dion keberatan menggendong milah yang sedang hamil besar, sementara itu Milah justru malah bucin dengan Dion.
Mereka semua pun bergegas pergi dari sana, tanpa mereka sadari Alvera dan Viora terlihat sangat marah, mereka sangat marah karena rencana mereka gagal.
"Ini semua salah lo!" tegas Alvera sambil menunjuk ke arah Pangeran.
"Terserah kalian berdua mau salahin gue, yang penting gue akan pergi dari sini, dan kalian tetap terikat di tempat ini selamat nya sebagai hukuman atas perbuatan jahat kalian," ucap Pangeran di tutup dengan senyuman.
Pangeran pun pergi bersama Cahaya, sat kedua gadis kembar itu hendak mengikuti Pangeran kedua nya terhempas jauh menghantam dinding.
Pangeran tersenyum tipis, walau dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan setidak nya dia bisa pergi dengan tenang.
"Selama tinggal!" ucap Pangeran dengan senyuman bangga nya.
"TIDAK!!!!"
Alvera dan Viora yang berubah kewujud mengerikan mereka terduduk lemas di lantai, kedua nya menjerit kesal karena masih terikat di tempat ini.
Tempat yang mereka benci.
"ini semua salah lo!" ucap Viora menyalahkan Alvera.
"Kita salah!" timpal Alvera dengan nada tegas.
"Gue mau pergi!"
__ADS_1
"Gue juga!"
........