welcome indigo wife

welcome indigo wife
pengakuan


__ADS_3

...


Kala itu Revan sedang berada di kantor polisi bersama keluarga nya dia ingin meluruskan semua masalah yang terjadi di masalalu.


Si pelaku pun sudah mengakui kesalahan nya, di depan keluarga nya, bahkan ada Gina di sana yang menyaksikan semua nya.


Revan cukup puas dengan hal ini, akhir nya semua masalah nya selesai setelah sekian lama keluarga nya selalu menuduh nya sebagai pembunuh Aruna.


Walau masalah keluarga nya telah selesai, namun masalah nya dengan Olive belum selesai.


Revan tampak terdiam di sofa panjang, dia tengah memikirkan masalah nya dengan Olive. Setelah masalah salah paham ini selesai, semua pihak pun bubar, kecuali Revan yang masih di kantor polisi ada satu hal mengganjal di benak nya.


'Disini semua hadir, seharus nya dia mengenali wajah orang yang menyuruh nya, tapi kenapa dia tidak mengaku?'


"Revan!"


Revan mengalihkan pandangan nya ke arah seorang wanita yang menatap nya sinis.


"Jangan senang dulu, masalah ini belum berakhir, walaupun bukan lo pelaku nya, tetap saja orang cacat kayak lo nggak pantas jadi penerus keluarga mavendra," ucap Tasya di tutup senyuman sinis nya.


Revan memasang wajah dingin nya, dia tersenyum sekilas.


"Gue nggak butuh, lo bisa ambil semua nya," sahut Revan.


"Cih, jika semua harta waris jatuh ke tangan kami, lo bakal jatuh miskin," hina Tasya.


Revan tersenyum tipis, memang nya selama ini Revan hanya diam saja selama mereka terus memperlakukan nya dengan buruk.


Tanpa mereka ketahui jika selama ini Revan tidak hanya diam, dia telah menyiapkan semua nya sejak awal, di sudah memiliki segala nya tanpa ada yang tahu.


'Hanya harta kecil, Gue nggak butuh sampah sisa,'


Tasya terlihat heran mengapa Revan sama sekali tidak peduli dengan semu harta warisan yang akan jatuh ke suami nya.


Gina berjalan menghampiri Revan, Gina meminta Tasya dan Galang untuk pergi, Revan hanya diam di posisi itu apa ibu nya akan berubah lagi atau akan tetap menyalahkan nya hingga dia mati sekalipun.


"Revan-"


"Mama minta maaf," ucap Gina dengan nada menyesal.


Revan menatap dingin Gina, meminta maaf memang lah mudah, namun apakah Gina menyesali perbuatan nya selama ini yang sangat kasar pada  nya.


Sulit bagi Revan untuk melupakan semua nya, dia justru ingin pergi dari dunia ini, dia tidak ingin melihat siapapun yang hanya terus menyalahkan nya saja.


"Tidak ada gunanya minta maaf, sema sudah selesai, maaf tidak akan dapat mengembalikan semua nya seperti dulu," ucap Revan yang langsung membuat Gina terdiam.


Itulah yang dia katakan ketika Revan terus memohon maaf padanya. Memang maaf tidak akan bisa mengembalikan semua nya seperti sedia kala.


"Maaf in mama, mama menyesal sudah menyalahkan kamu atas kepergian Aruna, semua ini kecelakaan bukan kesalahan mu, maaf in mama," ucap Gina menahan air mata nya.

__ADS_1


Revan menarik nafas panjang. "Revan sudah maafkan mama dari dulu," balas Revan.


Gina yang senang pun hendak memeluk Revan, namun Revan segera menghindar, dia masih trauma dengan Gina.


"Kamu kenapa?" tanya Gina.


"Saya ada urusan, saya harus pergi,"


Hujan turun deras, langit malam tampak semakin gelap, suara gemuruh petir menyambar ke sembarang arah.


Seorang tengah terduduk di sofa panjang dengan wajah khawatir.


"Kenapa muka lo?" tanya Milah yang muncul entah dari mana dengan rambut yang sangat berantakan.


"Berisik lo, lo sendiri kenapa? Kayak kena petir aja," ujar Olive.


"Biasa habis berantem sama kunti cabe kompleks sebelah," jawab milah santai sambil mengupil.


Sejujur nya Olive sedang menunggu seseorang yang sedari tadi pagi menghilang tanpa jejak sama sekali.


"Hayo jujur aja, lo lagi nunggu in suami lo kan?" tanya Milah sambil menatap sinis ke arah Olive.


"Emang lo tahu dia dimana?" tanya Olive.


"Bukan nya lo nggak peduli ya dia mati sekalipun?" ejek Milah.


Milah membalas dengan anggukkan beberapa kali sambil memasang wajah masam.


"Akhir nya lo sadar juga oli bekas, kasihan tahu suami lo tiap hari lo cuekin, Gue aja nggak tega sama Revan, lo malah tega tega nya perlakuin dia kayak gitu, lo nggak ada beda nya sama Olive yang dulu," ujar Milah menatap kesal ke arah Olive.


Olive mendengus pelan, dia menyesal sudah melakukan hal itu, dia terlalu terbawa emosi sampai tidak bisa memikirkan mana yang salah dan mana yang benar.


"Lagian buku itu juga ngarahin lo, ke suami lo, bukan sebalik nya, tugas lo sebagai istri tuh bantu suami, bukan marah marah nggak jelas karena masalalu yang bahkan dia sendiri nggak tahu," timpal Milah mengomeli Olive yang terlihat pasrah.


Disela itu Revan datang, dia melihat sangat istri yang tengah di omelin oleh Milah yang tampak sangat marah.


"Olive!" panggil Revan.


"Nah, tuh orang nya minta maaf gih, Gue mau ke salon bentar sisir rambut," ujar Milah lalu menghilang dengan senyuman manis.


"Revan"


"Milah marahin lo ya?"


"Udah nggak usah di dengerin, lo nggak papa kan?" tanya Revan lembut.


Seketika Olive tidak dapat menahan air mata nya lagi, Revan yang melihat Olive menangis justru panik.


"Kenapa menangis?" tanya Revan bingung.

__ADS_1


"Hiks... Maaf... Gue bego!!.. Gue jahat sama lo," ujar Olive di sela isak tangis nya.


Revan mendekat ke sangat istri, dia menghapus air mata Olive perlahan.


"Nggak papa," balas Revan lembut.


Sungguh Olive merasa menyesal sekali sudah berlaku jahat pada Revan, bukan nya Revan marah padanya kini dia malah justru menangkan diri nya yang cengeng.


"Gue salah... Gue jahat..."


"Udah nggak papa, lupain aja, jangan nangis lagi," bujuk Revan.


Olive menghapus air mata nya, dia mulai menjelaskan semua hal nggak masuk akal yang terjadi pada nya hingga saat ini. Kenapa dia bisa transmigrasi hingga masalalu nya yang dia lupakan selam ini.


"Jadi lo anak perempuan itu?" kaget Revan.


"Iya, itu Gue, Gue yang tutup mata batin lo, Gue pikir setalah itu tugas Gue selesai, tapi nyata nya itu masih berlangsung sampai sekarang," ucap Olive dengan nada berat.


Revan tersenyum tipis, dia tidak sangka jika Gadis itu adalah istri nya sekarang, walau banyak hal nggak masuk akal sehat yang terjadi pada Olive dan diri nya juga, dia berusaha untuk percaya itu semua.


"Udah lupain aja ya, buku itu masih ada sama kamu?" tanya Revan.


"Iya,"


"Oh ya, ini kunci nya." Revan memberikan kalung kunci nya pada Olive.


Olive teringat terakhir kali gembok di buku itu sudah hancur, tapi mengapa Revan memiliki kunci nya.


"Dari mana lo dapat kunci nya?" tanya Olive.


"Dari mimpi, lo yang sama Gue," jawab Revan jujur apa adanya.


Olive tahu itu pasti bukan dia, melainkan sosok penjaga buku itu lah yang menyamar sebagai diri nya.


"Makasih, jangan di pakai kalung ini, nanti mata batin lo kebuka lagi," ujar Olive.


"Udah kebuka sih, tapi nggak papa Gue nggak takut lagi kok," jawab Revan.


"Mau tidur? Gue ngantuk banget," ujar Olive menggoda.


Revan mengerutkan kening nya sekilas.


"Kita tidur bareng lagi?"


"Kenapa? Nggak mau?"


"Mau"


...........

__ADS_1


__ADS_2