Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Raja Sekolahan Benar-Benar Nyata


__ADS_3

Setelah berjuang dengan upaya luar biasa Eza, yang telah mengerahkan tenaga, hati, dan jiwanya ke dalam pekerjaannya, mereka bertiga telah menyelesaikan pekerjaan mereka jauh lebih awal dari yang seharusnya.


Saat ini, Eza dan Yuuki berjalan bersama untuk mengambil tas mereka yang masih berada di dalam kelas.


Tidak ada percakapan di antara mereka berdua selama mereka berjalan berduaan menuju kelas. Yang hanya bisa dilihat dari mata Eza dari curi-curi pandangnya, hanya melihat wajah jutek Yuuki yang biasa.


Apa sebegitu bencinya kamu sama aku?


Suasana canggung tanpa percakapan di antara mereka terus berlanjut sampai mereka bertemu dengan Rena di depan kelasnya.


“Apakah kalian sudah siap?”


“Ya. Kita tidak akan ke Bali sekarang, kan?”


“Apa yang kau katakan tiba-tiba? Jawabanmu sangat tidak masuk akal.” Ucap Yuuki dengan menunjukkan wajah bingung.


“Yah ... Aku hanya menjawab pertanyaan Rena saja.”


Rena tertawa kecil, “sepertinya kalian sudah siap. Kalau begitu, ayo pergi."


Berjalan bersama, mereka menyusuri area sekolah dan berhenti di depan pintu dengan papan nama “Ruang OSIS” yang di pajang di atas.


“Pintu yang cukup sederhana untuk ruangan yang dipegang oleh OSIS.”


Eza secara spontan mengomentari pintu kayu yang digunakan untuk ruangan OSIS. Pikirannya pintu yang digunakan terlalu polos dan tidak terlalu banyak pahatan yang biasanya menghiasi pintu.


“Aku pikir OSIS tidak berkaitan dengan desain pintu mana pun. Tapi, bukankah kecantikan di dalam lebih bagus daripada hanya di luarnya saja?”


“... Masuk akal.”


Setelah percakapan kecil itu, Rena yang menopang tas di bahunya, mengetuk pintu yang ada di depannya dan bertanya kepada seseorang yang ada di dalam.


“Ketua, apakah kami boleh masuk sekarang?”


Segera setelah Rena mengatakan itu, jawaban dari seorang gadis langsung terdengar dari dalam, “ya, tentu.”


Mendapatkan persetujuan dari ketuanya, Rena lalu memutar daun pintu dan membukanya sambil memberi sopan santunnya, “Permisi ... Ketua, aku dan Iroha sudah datang."


Setelah pintu terbuka lebar, mereka dapat dengan jelas melihat ruangan OSIS dan juga seorang gadis dengan rambut hitam panjangnya yang sedikit bergelombang di bawah, sedang berdiri di depan meja sambil memegang beberapa kertas di tangannya.


Gadis itu langsung berbalik setelah pintunya terbuka dan menatap Rena juga Yuuki . Wajahnya yang menunjukkan aura kedewasaan tersenyum lebar dan menyambut kedatangan Rena dan Yuuki yang masuk ke dalam ruangan OSIS.


“Selamat datang kembali, Rena, Yuuki. Terima kasih atas kerja keras kalian. Duduklah terlebih dahulu dan istirahatkan pikiran serta tubuh kalian di sini sebentar."

__ADS_1


“Terima kasih atas kerja kerasmu juga, Kak.” Rena dan Yuuki bersama-sama membalas ucapan ketua OSIS mereka sambil meletakkan tas mereka.


“Kami juga telah membawa Eza bersama kami. Berkat dirinya, kita berdua bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat.” Lanjut Rena.


Eza yang merupakan pendatang baru, memutuskan untuk berdiri diam, beberapa meter di depan pintu masuk dan memperkenalkan dirinya sebagai tamu dengan sopan.


“Namaku Eza Kelvin Putra, dari kelas 1-B. Senang bertemu denganmu, Kak.”


“Aah~ Jadi kamu yang namanya, Eza” ketua OSIS tersenyum,” Namaku Sylvia, murid kelas 2, ketua OSIS untuk periode saat ini. Aku sudah banyak mendengarmu dari Rena. Senang bertemu denganmu juga.”


“Uh ... Terima kasih banyak?”


Eza sedikit membungkukkan sedikit badannya untuk menunjukkan kesopanan. Walaupun sebenarnya Eza sendiri sudah mengetahui siapa sebenarnya ketua OSIS sekolah.


Dilihat dari manapun, dia adalah gadis yang cantik. Karena faktanya, ketua OSIS di depannya itu juga menempati peringkat tertinggi dari papan peringkat “gadis tercantik di Akademi Rania” dan sangat populer di kalangan siswa, mulai dari kelas 1 hingga 3. Jadi, sangat wajar bila daya tariknya bagi seorang gadis juga tidak kalah dengan Rena dan Yuuki yang memiliki aura imut.


Sebaliknya, sosok ketua OSIS yang terlihat dewasa, membuatnya seperti seorang mahasiswa yang menjalani studi sarjana semester 4.


Setelah melihatnya langsung dari dekat, aku mengerti betapa berkharismanya ketua OSIS di sekolah ini.


Hanya dengan sekali lihat, ia akan membuatmu merasa aman karena bersama dengan orang yang dapat diandalkan. Dan secara alami, otakmu akan berpikiran lebay dan menganggapnya sebagai penguasa.


Pantas saja OSIS tahun ini sangat sedikit. Siapapun Laki-laki yang bisa mendapatkan tempat di OSIS, maka secara tidak langsung mereka akan mendapatkan titel raja harem. Tapi sepertinya tidak ada laki-laki dengan spek tinggi manapun yang bisa menandingi aura penguasa ketua OSIS Sylvia, dasar cowok lemah. Sedangkan untuk para gadis ... Mending berhenti, deh. Aku tahu, kok, kalau kenyataan itu pahit.


Tapi setelah Eza menegakkan kembali badannya, ia justru ditatap dengan serius oleh ketua OSIS.


“Hmmm~ Jadi begitu, ya ... Ah, jadi begitu ... Begitu, begitu, aku mengerti ....”


Tatapan dari ketua OSIS Sylvia yang langsung masuk ke dalam pikiran melalui mata yang tajam, dan seakan ingin mencabut hati dan pikirannya secara sadis, membuat Eza berada dalam posisi yang sangat berat dan merasa tidak nyaman. Ditatap begitu serius, entah mengapa Eza dapat keluar dari situasi seperti itu, karena biasanya dia hanya diam sambil menelan ludahnya.


“U-uh ... Apakah ada sesuatu yang bisa aku bantu di sini? Jika tidak, aku lebih memilih untuk pulang.”


Setelah Eza mengatakan itu, ketua OSIS kembali tersadar dan terkejut dengan tingkahnya sendiri.


“Ah?! Oh ... Maaf telah membuatmu tidak nyaman.”


“Tidak apa ... Kalau begitu, aku permisi.”


Saat Eza ingin berbalik dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan OSIS, ketua OSIS Sylvia menahannya. “Tunggu sebentar Eza. Tidak perlu terburu-buru seperti itu. Kamu telah membantu Rena dan Iroha untuk menyelesaikan tugas mereka. Jika tidak keberatan, sebagai ucapan terima kasih, aku ingin membayar apa yang telah kamu lakukan.”


“... Apakah yang kakak maksud adalah hadiah yang kakak beritahu kepada Rena?”


“Ah, Rena sudah memberitahumu?”

__ADS_1


“Tidak, dia bilang hanya akan ada hadiah saja. Jika itu untuk OSIS, maka kakak tidak perlu repot-repot untuk mengajakku. Lagipula, mereka berdua yang lebih pantas mendapatkannya.”


“Kalau masalah itu tenang saja, karena memang dari awal niatku memberikannya kepada mereka. Menambah satu dua orang untuk dibawa tidak akan masalah.”


Eza merasa kesusahan dengan tawaran dari Sylvia, karena dia rasa bagian untuk dirinya tidak diperlukan.


“Ngomong-ngomong, hadiah apa yang akan diterima oleh mereka berdua?”


“Aku mentraktir makanan untuk mereka.”


Tekanannya sangat berat ... Berpikir untuk makan bersama mereka bertiga dan ditatap dari segala arah ...


Selain merasa enggan menerima karena merasa sungkan dan tidak pantas untuk ditraktir oleh seniornya, ia juga merasa tidak sanggup dengan apa yang terjadi nanti. Kemudian, ada hal yang lain yang membuat ia punya firasat buruk tentang tawaran yang ia terima.


Lebih jelasnya, Eza merasakan kalau semua kejadian hari ini dan berakhir dengan tawaran dari seniornya adalah rencana yang Rena buat. Hal itu dikonfirmasi setelah Eza melihat Rena tersenyum sambil memiringkan kepalanya kepadanya.


“Bukankah ini adalah hal yang bagus? Setidaknya kamu bisa berkonsultasi dengan ketua dan menjalani hidup dengan baik.”


“Rena ....”


“Apa ada sesuatu yang kamu butuhkan dariku, Eza?”


“Ah, tidak ....”


Ini anak ngomong sembarangan aja. Awas kamu, Rena.


Rena hanya tersenyum ketika mendapatkan tatapan protes dari Eza.


“Bagaimana? Apakah kau bisa menerimanya? Ini adalah satu-satunya cara yang bisa aku ambil untuk berterimakasih kepada kalian. Anggap saja kalau kalian mendapatkan sebuah keberuntungan.”


“ ... Kalau begitu, maka aku akan menerimanya.”


“Terima kasih.”


Sejujurnya, Eza benar-benar tidak ingin ikut dalam acara mereka. Tapi ia juga tidak dapat terus-terusan menolak tawaran dari Sylvia.


Ketua OSIS ... Benar-benar mengerikan. Kekuatan tersembunyi dari Akademi Rania akan terungkap?!


Disaat Eza memikirkan hal itu di dalam pikirannya, Rena melihat ke belakang dan tersenyum puas.


Kekuatan pendukungnya juga tidak kalah hebat ....


Eza membuang napas berat di dalam hatinya dan pasrah mengikuti alur yang ada.

__ADS_1


__ADS_2