Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Maaf Mengganggu Kalian, Oke?


__ADS_3

Jam pelajaran terakhir sudah selesai, guru mata pelajaran terakhir sudah melakukan tugasnya dengan baik. Para siswa di kelas mengucapkan salam kepada guru, dan guru membalasnya. Itulah rutinitas kelas ketika sekolah sudah berakhir.


Biasanya guru akan langsung keluar, ketika sudah keluar, barulah para siswa yang keluar, Itu norma biasa yang harus dilakukan dalam tata krama masyarakat dan umum. Kemudian, barulah para siswa sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Bisa itu mengikuti kegiatan klub, nongkrong di sekolah bersama teman, atau langsung pulang ke rumah.


Dan bisa ditebak, tiga orang yang memilih pilihan terakhir, atau langsung pulang ke rumah adalah kelompok otaku.


“Hnnngh! Akhirnya selesai! Yuk, pulang!"


“Yuk, klub aku libur sekarang. Tapi tunggu, bukannya kamu ada kegiatan klub hari ini? Jangan bilang kamu keluar?”


“Keluar? Mana adalah! Demi mewujudkan mimpi jadi laki-laki paling populer, klub tenis meja dan seni aku ikuti dengan sepenuh hati! Kegiatannya lagi enggak nentu karena berbagai hal.”


“Apa ada hubungannya gabung dua klub bisa jadi populer?”


“Tentu saja ada brather! Bisa nguasain dua klub, olahraga dan juga seni, bukannya para cewek bakal klepek-klepek nantinya?”


“Ide yang bagus, tapi sayang kamu itu otaku. Lagian, biasanya yang cewek lirik itu kan klub olahraga kayak basket atau sepak bola, kenapa malah tenis meja? Yang kamu maksud populer sama bapak-bapak di komplek aku setuju.”


Meski alasan mereka pulang ke rumah karena kegiatannya klubnya sedang tidak ada hari ini, alasan mereka untuk masuk klub juga dipenuhi dengan motif tersembunyi. Jika harus diperlihatkan aib mereka, cewek adalah tujuan nomor satu, tapi ada motif lain yang tidak kalah penting bagi mereka, yaitu supaya tidak terlihat terlalu otaku. Kadang, cewek-cewek menjauh dari mereka karena alasan itu. Meski begitu, masih ada satu orang yang juga bagian dari kegiatan pulang ke rumah.


“Eza, kamu enggak ada kegiatan, kan? Seperti biasa, ayo pulang bareng.”


“Enggak usah bilang enggak ada kegiatan juga kali, rasanya sakit.”


“Tapi kenyataannya memang begitu, kan? Apa kamu mau aku berbohong dan mengatakan, ‘kegiatan klub kamu lancar? Bagaimana dengan *** dari klub basket? Kamu berhasil mengalahkannya, bukan?’ sesuatu seperti itu?”


“Yang kamu bicarakan itu klub basket atau klub hajar-hajaran? Kok kayaknya ada nada ngajak berantem gitu?”


“Salahmu sendiri. Memangnya kamu tidak ada niatan buat masuk klub?”


“Malesin banget. Bikin capek terus nanti bau keringat.”


“Kamu itu pemalas, bukan cewek.”

__ADS_1


Adit menggelengkan kepalanya dan membuang napasnya dengan berat, melihat kelakuan temannya yang sangat malas dan tidak punya motivasi di matanya itu.


“Lagian, bau keringat itu menandakan persahabatan!”


“Kalau persahabatan bisa runtuh karena iri dan dengki mending enggak, deh~”


“Aaaaah! Jangan membongkar sesuatu yang nyata secara terus terang dong! Aku jadinya mau berhenti dari kegiatan klub!”


“Tahan dirimu Adit! Jangan biarkan usahamu sia-sia dan berakhir di sini!”


Eza yang membuat Adit menuju sisi gelap dari realitas mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Saat melihat ke luar, matanya dapat melihat siswa lalu-lalang dengan berbagai aktivitasnya.


“Aktivitas ya ... Apa aku bisa?" Eza bergumam pelan secara acuh tak acuh pada dirinya ketika dapat melihat ekspresi dari para murid di bawah gedung sekolah.


Eza sendiri bukannya sama sekali tidak menaruh minat pada kegiatan sekolah seperti mengikuti klub. Dirinya hanya tidak bisa menemukan motivasi atau sesuatu yang dapat menggetarkan hatinya, membuat ia bergerak untuk melakukan sesuatu secara sepenuh hati.


Baginya, butuh banyak waktu dan usaha untuk melakukan itu semua.


“Yah, aku memilih jalan yang seperti ini. Aku kira ini yang aku dapatkan?” Ia bergumam pada dirinya sendiri dengan perasaan menyalahkan diri sendiri, hingga kemudian ponselnya bergetar dan Eza melihat pesan yang muncul ketika ia melihat layar ponselnya.


Eza pergi ke salah satu ruangan di ujung lorong gedung sekolah dekat dengan gedung olahraga, yang biasanya dipakai untuk bermain basket ataupun upacara diadakan. Jadi secara samar-samar, ia bisa mendengar suara khas dari dalam gedung olahraga.


Ia lalu mengetuk pintu dan membukanya setelah yakin ruangan yang ia tuju benar berdasarkan pesan yang baru ia terima.


Setelah berhasil membuka pintu, Eza langsung dapat melihat sang pengirim pesan, Rena, sedang membawa sebuah kotak di tangannya, menoleh ke arah dirinya dan tersenyum layaknya bunga yang pertama kali mekar.


Setelah meletakkan kotak yang di bawanya, Rena segera bergegas berlalu ke arah Eza dengan nada yang centil.


“Akhirnya kamu datang~ Ayo~ sini~ sini~”


Jika ada siswa lain yang melihat sikap Rena yang berbeda 180°, mereka akan terkejut setengah mati dan lebih percaya kalau mereka sedang mimpi.


Tapi Eza yang melihat kelakuannya sudah tidak merasa asing. Jika mau, ia akan meladeni sikap centilnya Rena. Tapi ketika ia mengingat tampang yang ia miliki, dengan mata matinya, ia akan mengakhiri hidupnya sendiri melihat adegan yang sangat aneh itu. Jadi, sebagai gantinya, Eza meladeni sikap centil Rena dengan bergaya ala ikemen yang biasanya ada di manga shoujou.

__ADS_1


“Maaf, Rena. Apakah kamu sudah menunggu lama?”


Dengan suara yang maskulin dan macho yang ia coba buat, Eza juga mencoba bergaya seperti cowok tampan yang menghampiri pacarnya.


Mengesampingkan sikap Rena yang sangat biasa untuk bersikap centil karena ia seorang gadis, terlebih gadis cantik, sikap Eza akan menimbulkan pertanyaan besar “eh? Bagaimana bisa!” dan mulai menyebar gosip.


Tapi sebagai dalangnya, Rena merasa puas dan tersenyum lebar dan kembali melanjutkan aktingnya.


“Ah, tidak apa-apa, kok. Selama itu kamu, aku tidak keberatan.”


“Ah, Rena ...”


“Maaf mengganggu kalian berdua. Tapi jika keadaanya mulai panas, haruskah aku pergi?”


Saat suara lain mulai terdengar di sisi lain ruangan, seketika itu juga Eza langsung menghentikan sikap ikemennya itu dengan ekspresi membeku, membuat suara deritan ketika berbalik mengalihkan pandangannya ke arah suara.


Di sana, ia bisa melihat mata biru yang langsung bisa diidentifikasi hanya dalam sekali bertemu.


“Kamu di sini ya, Iroha.”


“Maaf kalau aku mengganggu kalian, oke?”


“Kayaknya itu tidak mungkin.”


Mata mati milik Eza menyelamatkannya untuk bersikap sedikit tenang, namun masih tetap tidak bisa menyembunyikan pipinya yang berkedut. Dia memandang tajam Rena untuk protes.


Namun, pelaku utama sudah berbalik dan mengerjakan tugasnya, kembali ke mode pabrik, bertingkah elegan.


Kamu akan mendapatkan balasannya nanti. Aku harap kamu bersiap-siap.


Seakan bisa mendengar apa yang dikatakan Eza di dalam pikirannya, Rena sedikit melirik dan dari ujung matanya, ia seakan memberikan pesan kepada Eza.


Fufufu~

__ADS_1


Eza yang geram dengan kelakuannya, mempunyai tekanan untuk melakukan sesuatu terhadap Rena. Tapi ia harus menahannya sekarang, karena ada Yuuki bersama mereka di ruangan ini.


__ADS_2