Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Ini Tempat Yang Mengerikan


__ADS_3

Setelah itu, Yuuki, yang benar-benar sudah menjadi pendiam setelah ia membeli dua pakaian yang sudah ia coba sebelumnya di dalam kamar ganti, dan masih berjalan bersama Eza dan Rena.


Suasana hatinya belum sepenuhnya pulih bahkan setelah Eza dan Rena membeli beberapa aksesoris lain. Suasana canggung itu membuat Rena sedikit merasa bersalah dan mencoba sedikit menghiburnya.


“Iroha … Apakah kau ingin makan siang bersama?”


Yuuki yang masih tertunduk menjawab perkataan Rena dengan nada lemas dan lesu seakan setengah jiwanya sudah pergi.


“Hmmm? … Baiklah?”


Tidak menghiraukan balasan Yuuki yang tidak sepenuhnya yakin diucapkan oleh 100% kesadarannya, Rena langsung menyetujui dan mengajak Yuuki.


“Kalau begitu, karena mumpung di sini, apa kamu ingin pergi ke tempat makan favorit kita? Kami juga—”


“Tunggu sebentar.”


Karena tidak mau membiarkan Rena kembali bertingkah seenaknya dan Eza merasakan ada sesuatu kembali, Eza menyela perkataan Rena. Ia kemudian mengerutkan keningnya ke arah Rena yang memasang wajah tegang.


“Kamu, kamu tidak akan membawa Iroha ke tempat itu, kan?”


“Apa itu … Tidak bagus? Bukannya kamu juga sangat menantikannya?”


“Apa? Apa masalahnya?”


Yuuki yang entah sejak kapan kesadarannya telah kembali, menyela keduanya, yang tiba-tiba berdebat dan melakukan percakapan yang tidak ia mengerti.


“Iroha, apakah kamu suka makanan pedas?”


“Makanan pedas? Dibilang suka atau tidak sih aku ….”


Rena yang melihat Yuuki terlalu khawatir tersenyum tipis dan memikirkan sesuatu untuk membuatnya kembali semangat.


“Tempat yang aku maksud dan ingin dikunjungi adalah tempat yang menyajikan makanan pedas. Jika Iroha suka makanan pedas maka—”


Mendengar desakan Rena yang sudah bertingkah jauh dan seenaknya, Eza kembali mencela perkataannya agar Yuuki tidak termakan dalam rayuan ajaib adiknya itu.


“Jangan anggap enteng seperti itu. Iroha, biar aku beritahu. Tidak hanya pedas, tempat itu adalah tempat yang menyajikan makanan super duper sangat pedas. Sejujurnya aku sendiri belum pernah ke sana, hanya Rena saja. Tapi mungkin ini adalah tempat yang tidak bisa kamu nikmati jika kamu bukan penggemar makanan pedas. Itulah sebabnya—”


“Aku ikut bersama kalian.”

__ADS_1


Yuuki dengan tegas mengatakan itu, menyela ucapan Eza yang sedang membujuknya dan memberikan peringatan kepadanya.


Usai melihat ekspresi tidak gentarnya itu, di dalam hatinya ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata “Enggak ada obat, ini orang sudah tidak bisa aku bujuk lagi”. Meski mengatakan itu, Eza tetap mencoba membujuk Yuuki agar tidak kembali termakan rencana Rena.


“Sejujurnya, aku pikir lebih baik kamu tidak perlu pergi ke sana, oke? Ada tempat lain yang bisa kita kunjungi sebagai gantinya ….”


“Apa masalahnya? Bukannya kamu juga sangat menantikan untuk datang ke tempat itu? Kalau begitu aku juga akan ikut. Aku merasa tidak enakan bila hanya karenaku, kamu tidak bisa menyicipi makanan yang selama ini kamu inginkan.”


“Tidak, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk datang …”


“Kenapa? Aku bilang aku akan baik-baik saja, bukan?”


“Benarkah? Kalau begitu … Apakah kamu penyuka makanan pedas?”


“Bukannya aku membenci mereka sebagai makanan.”


Eza berpikir dalam hati, “Benarkah? Tapi alasanmu pertama menyebutkan kalau kamu tidak enakan. Memangnya kamu tidak sadar sifatmu yang seperti itu sudah dimanfaatkan Rena tadi?”, tapi tetap Eza tidak dapat mengatakan kalau Yuuki mengatakan yang sejujurnya atau tidak.


Menurut apa yang ia lihat, Yuuki adalah tipe orang yang menyukai makanan manis. Memang ia tidak pernah mendengar itu dari orang yang bersangkutan, tapi ia bisa merasakan dan melihatnya sekilas dari setiap tindakan yang Yuuki lakukan.


Yah, orangnya sendiri sudah mengatakan itu baik-baik saja dengan itu, dan juga mungkin ada makanan untuk anak-anak di menu yang level pedasnya bersahabat untuk lidah.


Setelah meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja, Eza berjalan menuju ke tempat mereka makan siang sambil menatap protes ke arah Rena, “kamu ini sudah kehilangan sisi manusiawi kamu, apa?”


***


“ … Tempatnya di sini?”


“Iya.”


Wajah Yuuki berkedut saat melihat ke tempat warung bakso yang berjejer di banyaknya tempat makan lain di sebelahnya.


Saat melihat itu, Eza berpikir, “aku bisa memahaminya” dan menganggukkan kepalanya. Di sisi lain, Rena memasang senyum lebar yang sangat puas.


“Nama tempat ini adalah ‘Bakso Do’a Ibu … Ini … benar-benar warung bakso, kan?”


“Ya, memangnya kenapa?”


“Meski tempatnya bernama seperti itu, mengapa latar belakangnya justru ada lava dan api?”

__ADS_1


“Tenang saja, menunya juga penuh lava, kok.”


“… Begitu, ya?”


Mungkin karena terlalu kaget atau kelelahan, Yuuki tidak menanyakan itu lebih jauh.


“… Mungkin kamu ingin berhenti masuk?”


Namun, ketika Eza menunjukkan keprihatinannya, ekspresi Yuuki menjadi lebih tegas dan menatap tajam Eza.


Yuuki benar-benar menunjukkan sifatnya yang tidak mau kalah. Eza hanya bisa berkata di dalam hatinya, “Tidak peduli apa yang aku katakan, dia tidak ingin mendengarkannya juga” dan mengikuti mereka berdua memasuki warung bakso.


“Selamat datang~”


Bersamaan dengan sambutan hangat dari pelayan di sana, panas dan aroma pedas yang menyengat langsung menghantam wajah mereka bertiga. Eza juga bisa mendengar Yuuki yang langsung keceplosan dengan nada merintihnya.


“Untuk berapa orang?”


“Tiga orang.”


“Baiklah, silakan duduk di sebelah sini~”


Karyawan tersebut memandu mereka bertiga lalu duduk sesuai urutan yang sama saat mereka datang.


Eza lalu melihat ke arah Yuuki yang ada di sebelah kanannya sedang menahan aura hebat warung bakso, dengan mata berkaca-kaca dan menahan hidungnya.


Rena dan Eza yang sudah terbiasa mengunjungi tempat makanan pedas sudah terbiasa dengan aura menekan itu. Tapi bagi Yuuki, langsung menuju ruangan bos terakhir, auranya sangat tidak membuat nyaman dirinya.


“… Apa kamu baik-baik saja?”


“Apanya?”


Yuuki menanggapi pertanyaan Eza dengan suara yang hampir hancur, dia jelas-jelas sudah sok kuat. Dia kemudian meraih menu dengan tangannya dan berpura-pura tenang … dan tercengang saat membukanya.


“Bukannya menu di sini sangat mengerikan?”


“Memang.” Eza mengangguk lembut ke arah Yuuki yang membeku.


Sambil mengernyitkan wajahnya setelah melihat nama-nama menu di tangannya, Yuuki menelan ludahnya dengan tubuh yang sedikit gemetar.

__ADS_1


Duduk di sebelah Yuuki yang sedang menunjukkan ketidaksabaran di wajahnya, yang sudah memahami bahwa warung yang ia kunjungi sekarang sangat buruk, Eza sekali lagi memeriksa dan memejamkan matanya, menyadari bahwa tidak ada menu yang aman dan kurang pedas yang biasanya diperuntukkan untuk anak kecil.


“… Kalau begitu, kurasa aku akan memesan ‘Bakso Air Mata Ibu’. Ketika kamu baru pertama kali berkunjung ke tempat makan, yang harus dilakukan adalah memesan menu yang standar dipesan oleh banyak orang.”


__ADS_2