
Keesokan paginya saat Yuuki sudah datang dan duduk di bangkunya, Eza yang terbaring di atas mejanya dibangunkan secara paksa oleh Adit dan juga Rizki untuk langsung memulai hukumannya.
“Hei, cepat bangun! Kamu buka orang yang ingkar janji, bukan?”
“Nasib kamu sial banget, sob! Semangat jadi anjing selama satu hari, ya!”
“Iya, iya, berisik banget.”
Eza hanya bisa memberikan tatapan protes kepada kedua temannya karena telah bertindak menyebalkan. Juga karena ia sudah diganggu, mau tidak mau harus melaksanakan hukumannya.
Ia kemudian menatap ke tetangga sebelahnya, Yuuki sedang santai duduk sambil membuka buku pelajarannya. Matanya terpaku pada buku yang ia baca, namun wajah juteknya langsung ia tampilkan saat menyadari dirinya ditatap oleh Eza
.
“ ... Apa?”
Tatapan hangatnya ke arah buku langsung berbalik drastis menjadi tatapan dingin dan beku saat menatap ke arah Eza.
Yuuki sendiri bukannya tidak suka ia ditatap, karena ia sendiri menyadari kalau dirinya adalah pusat perhatian. Bahkan tanpa sentuhan riasan, Yuuki menyadari kalau dirinya memiliki kecantikan yang alami. Bukannya untuk bermaksud sombong kalau dia adalah cewek cantik, tapi dia memang seperti itu. Dia tidak dapat mengubahnya, bahkan para cowok di sekolah memberinya posisi cewek tercantik.
Tapi ia tidak menyukai bagaimana dirinya ditatap oleh Eza, orang di sebelahnya dengan banyak maksud tersembunyi, maka dari itu ia memasang wajah juteknya.
“Iroha, bisakah kita berbicara sebentar?”
“... Apa yang kamu ingin bicarakan? Langsung saja katakan. Tapi itu bukan sesuatu yang aneh, bukan?”
“Yah, kalau itu ... Sebenarnya apa yang ingin aku bicarakan sedikit merepotkan.”
Yuuki semakin menurunkan alisnya dan memegangi pelipis dengan tangan kanannya, mencoba menahan keanehan apa yang akan dibuat oleh Eza. Setelah beberapa detik, ia lalu menarik napasnya lalu membuangnya kembali.
“... Baiklah. Apa yang ingin kamu bicarakan?”
Eza lalu secara perlahan mulai berbicara, menceritakan semuanya dari awal. Eza mengatakan kalau ia kalah bermain kertas, gunting, batu dan hukumannya adalah menuruti apa saja yang Yuuki katakan atau inginkan. Eza berharap-harap cemas ketika menjelaskan semuanya. Ia berharap untuk ditolak dan dapat kembali menjalani hari tidur yang normal, dan cemas saat Yuuki menerima tawaran tersebut.
Bagaiamnapun, meski hukuman, jika yang bersangkutan tidak menerimanya, maka hukumannya akan gugur.
Tapi seperti biasanya, realita akan selalu mengambil jalan tercuram untuk manusia hidup.
“... Apapun kamu bilang?”
Dahi Eza mulai berkeringat ketika Yuuki menaikkan satu alisnya dengan wajah yang penuh arti. Ia tahu semua hal itu merupakan jalan untuk menggugurkan harapannya.
“Ya.”
Wajah tenang dan santai mulai memudarkan ekspresi jutek Yuuki, yang semakin membuat Eza sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan, membuang harapannya jauh-jauh dan mulai bersiap menghadapi kenyataan yang keji.
“... Untuk satu hari ini kamu bilang?”
“Ya ....”
__ADS_1
Wajah menyeringai terlihat sangat jelas di mulut Yuuki. Dia terlihat memikirkan banyak hal dan juga sesuatu yang akan ia lakukan kepada Eza. Hal itu juga diperkuat dengan gumaman “hmmm~” dengan nada naik penuh kegembiraan, dan seakan punya kendali penuh terhadap hewan peliharaan.
Sudah sangat jelas Eza harus merelakan harapannya untuk bisa tidur dengan tenang dan mengikuti rute yang dibuat oleh kenyataan.
“Apa kamu yakin, Eza?”
“Tidak ... Sebenarnya tidak ada pilihan lain.”
“Begitu? ... Baiklah. Aku menerimanya.”
Setelah mengatakan itu, Yuuki kembali membaca bukunya, meninggalkan Eza yang tidak sempat bereaksi, karena Eza pikir kalau dirinya mungkin akan langsung mendapatkan perintah perdananya.
“Yah ... Kamu tidak ingin meminta apapun kepadaku?”
Yuuki yang mendengar itu kembali menatap Eza kembali dengan heran, “Apa? Jadi kamu ingin sekali aku perintah?”
“Ah tid—“ menyadari ada yang salah, Eza segera ingin memperbaiki apa yang ia ucapkan sebelumnya. Namun, semua itu sudah terlambat.
“Heee~ jadi begitu, ya~ kamu itu pengen banget aku perintah, ya~ Apa boleh buat, deh~”
Sudah terlambat bagi Eza untuk kembali karena ia sudah menginjak ranjau darat yang ia pasang sendiri. Ia juga menyadari kalau Yuuki menikmati untuk mengejek Eza. Hal itu terlihat jelas dari mimik wajah Yuuki dan dari cara berbicara Yuuki yang lebih feminim dan ceria, dibandingkan dengan cara berbicara Yuuki yang terdengar marah, sudah sangat jelas Yuuki tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mungkin satu dari seumur hidup.
“Baiklah~ kira-kira apa yang aku minta pertama, ya?”
Sementara Yuuki mengatakan itu sambil mengetuk-ngetuk bibirnya menggunakan jari telunjuk, Eza terus berharap di dalam hatinya agar tidak diberikan sesuatu yang membuatnya merana.
Eza terus mengulang permintaannya itu. Dan tentu saja, jalan curam tidak akan mudah untuk dilewati.
“Kalau begitu, selama jam pelajaran nanti, kamu tidak boleh tidur, mengerti?”
Dengan pasrah, Eza hanya bisa menjawab, “Ya, baiklah.”
Begitulah caranya ia bisa tetap terjaga selama jam pelajaran tadi. Untungnya saja dia dapat menahannya dan memerhatikan pelajaran secara penuh.
“Aku benci yang namanya kenyataan.”
Eza hanya bisa pasrah mengeluh menerima semua kenyataan itu semua. Lalu, setelah itu ia melihat ke arah sampingnya, di sana ada Yuuki yang terlihat sedang mengumpulkan buku-bukunya untuk dirapikan.
Kemudian, Yuuki menyadari kalau Eza sedang menatap dirinya dan menatap ke arah Eza. Keduanya saling bertatap-tatapan untuk beberapa saat, dan setelah itu, Yuuki menunjukkan senyum hangatnya ke arah Eza dan kembali merapikan buku-bukunya.
Sialan! Kamu menikmati ini, kan? Enggak usah bikin senyum-senyum yang kayak gitu, kamu cuman mau mengejek doang, kan?!
Meski merasa kesal, Eza hanya bisa diam dan pasrah untuk melanjutkan hukumannya. Tak berapa lama, guru untuk pelajaran fisika masuk dan pelajaran dimulai. Namun ....
“... Hah?”
Setelah mencari-cari ke dalam tasnya, di dalam kolong mejanya, dan kembali merogoh tasnya, Eza menjadi tidak sabaran.
Ia tidak bisa menemukan buku paket untuk pelajaran yang baru dimulai dan ia terlihat sangat panik. Ia tidak bisa meminjam ke luar kelas saat pelajaran sudah dimulai. Karena sudah terdesak, Eza mendekatkan dirinya ke arah Yuuki dan berbisik pelan dengan wajah kesusahan.
__ADS_1
“Maaf, Iroha. Tapi, bolehkah lihat buku paket dan belajar bersamamu?”
Mendengar permintaannya, Yuuki berbalik dengan ekspresi setengah bermasalah dan terkejut.
“Apa kamu melupakan bukumu?”
“Ya ... Aku tidak bisa mencarinya di manapun.”
“Haaah ... Ya, tidak masalah.”
“Makasih!!”
Setelah Yuuki memberikan persetujuannya sambil menghela napas, Eza dengan segera buru-buru menggeser meja dan kursinya untuk bisa berdampingan dengan Yuuki.
“Eza, kamu ... Sebagai pelajar SMA, kenapa kamu bisa melupakan bukumu? Aku tahu kamu malas, tapi bukan berarti kamu boleh meninggalkan kewajibanmu.”
“Aku tahu itu, maaf. Sepertinya aku salah mengira kalau buku paketnya sudah terbawa.”
“Itulah akibatnya jika kamu selalu bermalas-malasan dan tidak menyadari apa yang penting dan buruk. Kamu sudah merasakannya sekarang.”
“Aku tidak bisa membantah itu.”
“Kamu harus terus mengingatnya. Kamu itu tidak ada kapok-kapoknya.”
Yuuki hanya bisa mengangkat bahunya melihat betapa cerobohnya orang di sebelahnya itu.
Mereka kembali fokus dalam pelajaran dan Eza terselamatkan dengan adanya buku paket dari Yuuki ... Tapi, di sanalah semuanya menjadi masalah.
Gawat ... Aku ngantuk banget.
Selain karena kurang tidur, Eza juga tidak dapat tidur selama pagi tadi. Meski begitu, ia harus tetap melawan rasa kantuknya dan mencoba fokus seraya guru menjelaskan sesuatu di papan tulis. Hal itu juga menjadi bagian untuk dirinya fokus terhadap semua jam pelajaran hari ini.
Namun, semua penjelasan dari guru fisika yang menerangkan materi membuatnya semakin mengantuk. Suasana kelas berubah menjadi sangat nyaman, dan materi-materi ilmiah dari pelajaran fisika entah bagaimana terdengar seperti lagu tidur di telinganya.
Kemudian setelah terus mencoba untuk dirinya agar tidak tertidur, matanya justru perlahan menutup dan saat Eza seluruhnya akan tertidur ....
“Aaaah!”
... Saat sudah melihat pintu mimpi, ada ujung pensil yang ditusuk ke badan Eza.
Kali ini tulang rusuk ... Tulang rusukku sakit sekali, sakit ...!
Eza mengerang kesakitan dan mencoba untuk melakukan protes kepada yang bersangkutan. Tapi ... Yang ia lihat adalah tatapan horor dari mata biru di sebelahnya. Mata biru itu menyipit dan mengirim pesan kepada Eza, “kamu berani tidur setelah aku meminjamkan buku paket dan memberimu perintah untuk fokus!?”
“Maafkan aku.”
Eza yang sudah kembali bersemangat dan segar meminta maaf sambil berbisik. Permintaan maafnya dibalas dengan dengusan dari Yuuki.
“Hmmph!”
__ADS_1