
Aduhhh ....
Setelah berjalan ke sana ke mari, lalu masuk ke berbagai ruangan, dan akhirnya menyusun semuanya menjadi tumpukan, Eza meringis kesakitan.
Tubuhnya baru merasa sakit saat beberapa hari setelah Eza membantu membereskan barang-barang OSIS bersama Yuuki dan Rena. Eza merasa heran sampai beberapa waktu karena tubuhnya tidak menunjukkan adanya gejala hingga ia melupakannya. Tapi sekarang ia tidak menyangka, bagian-bagian tubuh yang ia gunakan untuk bekerja keras akan terasa sakit sekarang.
Ahh ... Harusnya aku tidak menerima tawaran itu ....
Sambil membawa tumpukan kertas yang merupakan berkas OSIS milik Yuuki yang harus dikerjakan olehnya. Tapi karena Eza telah mengatakan bahwa dirinya tidak akan mundur dari hukuman, setelah jam sekolah selesai, Yuuki memintanya untuk menjadi bawahannya dan berkeliling sekolah untuk membawa berkas-berkas yang dibutuhkan oleh Yuuki.
Seakan dapat mendengar keluhan Eza di dalam hatinya, Yuuki yang berjalan di depan Eza yang juga membawa beberapa berkas lebih sedikit dari milik Eza, membuka suaranya dan menegaskan Eza.
“Kamu sendiri yang meminta untuk terus melanjutkan hukumannya, jadi jangan mengeluh.”
“Aku tahu ... Yang aku keluhkan bukan tentang hukumanku hari ini, tetapi tentang hal yang lain.”
“Hmm~ jadi kamu juga punya masalah dalam hidupmu, ya.”
“Memangnya kamu pikir aku ini makhluk apa sampai-sampai masalah saja tidak punya?”
Eza menggerutu mendengar ucapan Yuuki yang mencoba untuk sedikit menggodanya dengan mata birunya yang menatap Eza dengan tatapan ejekan dan cemoohan. Yuuki yang mendapatkan jawaban terkesan bercanda, kembali meluncurkan pertanyaan yang membuat hati seorang otaku di dunia manapun menjadi rapuh dan kesakitan.
“Bukaannya itu benar? Kegiatan kamu sehari-hari dihabiskan dengan tidur dan menonton anime saja, kan? Memangnya kamu bisa mendapatkan masalah dari semua kegiatan itu?”
“Kalau kamu minta penjelasan banyak, kok.”
Yuuki menaikkan satu alisnya sambil memasang ekspresi bertanya-tanya dengan sombong, “oh? Kalau begitu, beritahu aku.”
“Contohnya saja, saat kamu ingin pergi ke toilet tapi kamu berada di bagian paling seru dari anime, atau pengantar makanan dari abang ojek online yang tiba-tiba datang, juga telat bangun karena terlalu banyak begadang.”
Eza mengatakan itu semua dengan nada yang tidak mau kalah seakan mengatakan, “lihat, banyak sekali, bukan?”
“Dua alasan pertama yang kamu sebutkan itu tidak masuk akal. Terlebih, kalau kamu tahu kamu bakal telat untuk bangun karena begadang, kenapa kamu tidak berhenti untuk menonton anime dan tidur lebih cepat?”
“Kalau itu sih enggak bisa. Aku enggak mau ketinggalan untuk nonton episode terbaru. Rasanya itu kayak kamu kehabisan bagian untuk bisa makan roti terenak di sekolah.”
“Tapi sekolah kita tidak mempunyai menu itu?”
“Ya, memang. Aku mengambilnya dari salah satu adegan yang pernah aku tonton.”
Walau mendapatkan komentar yang menyakitkan hati, Eza hanya menanggapinya dengan tidak serius dan memberikan jawaban yang bercanda dan terkesan bermain-main. Sedangkan Yuuki mengangkat bahunya sambil menghela napasnya dengan berat. Semua komentar yang keluar dari Eza hanya akan membuat penilaian terhadap Eza semakin menurun.
Setelah beberapa menit berjalan menyusuri lorong, mereka berdua akhirnya tiba di tempat tujuan mereka, yaitu ruangan OSIS. Eza sudah pernah datang ke sini sebelumnya saat ia membantu Yuuki dan Rena membereskan barang-barang OSIS. Di hari itu juga, Eza pertama kali bertemu secara langsung dengan ketua OSIS Sylvia. Dia juga mendapatkan traktiran makanan dari Sylvia sebagai hadiahnya karena telah membantu menyelesaikan tugas OSIS dengan cepat, sehingga OSIS memiliki banyak waktu lain yang bisa dikerjakan.
Bisa dibilang, kenangan dirinya pertama kali berdiri di depan pintu OSIS membawanya ke hal yang baik. Meskipun akhirnya Eza harus berurusan dengan anggota geng dari sekolah lain, secara keseluruhan pengalaman yang ia rasakan adalah kebahagiaan. Tentunya, Eza tidak mengharapkan kejadian baik tersebut datang kembali, karena semua itu hanyalah kebetulan belaka.
“Ketua, aku masuk.”
Setelah mengetuk pintu, Yuuki memberitahu kalau dirinya datang dan membuka pintunya. Tidak ada yang berubah dari ruangan OSIS. Eza juga dapat mengingat dengan jelas bagaimana suasananya saat pertama kali ia lihat.
“Oh, Iroha, kamu sudah datang ... Apakah itu berkas-berkas yang kamu perlukan?”
“Ya, ketua. Aku telah mengumpulkan berkas-berkas dari arsip terdahulu sebagai referensi supaya aku bisa lebih mudah mengerjakannya.”
“Ya. Kerja bagus, Iroha. Terima kasih atas kerja kerasmu.”
__ADS_1
Seperti yang sudah diduga oleh Eza. Di dalam ruang OSIS, terdapat Sylvia yang mengisi dan sibuk dengan urusannya sebagai ketua. Eza pikir kalau ketua OSIS Sylvia adalah orang yang luar biasa, karena berapapun sibuknya dia, Sylvia selalu memberikan rasa terima kasihnya kepada anggotanya yang susah bekerja dengan keras. Ditambah senyuman hangat saat menyapa, Sylvia adalah tipe orang yang mempunyai sedikit musuh.
“Eza, taruh saja berkas-berkasnya di meja sebelah sana.”
“Siap~”
“Oh, jadi Eza datang hari ini. Apakah kamu sudah memutuskan untuk bergabung dengan OSIS?”
Eza menjawab pertanyaan Sylvia setelah meletakkan semua berkas yang menumpuk di tangannya, yang sudah menahan beban dan rasa sakit yang Eza rasakan dari tadi.
“Tidak. Aku ke sini hanya untuk membantu Iroha.”
“Hmmm? Ada apa ini? Apakah ada sesuatu di antara kalian berdua yang mungkin aku tidak tahu ... Secara romantis, seperti itu?”
“Eza hanya menjadi pembantuku untuk hari ini karena dia kalah bermain dengan temannya, tidak lada yang khusus.”
Saat Sylvia menduga sesuatu mengenai apa yang terjadi di antara Yuuki dan Eza, Yuuki langsung membantahnya dengan tajam tanpa memberi ruang.
“Jadi pembantu selama sehari penuh? Permainan apa yang kamu mainkan, Eza?”
“Hanya kertas, gunting, batu dengan sistem hukuman. Sialnya aku yang kalah.”
“Hukuman yang diberikan kepadanya adalah untuk menuruti semua perkataanku. Selama masih berlaku, aku akan menggunakannya untuk meringankan bebanku.”
Saat mendengar ucapan Yuuki, Sylvia tersenyum licik. Eza yang melihat itu sedikit bergetar ketakutan.
“Kalau begitu, Iroha. Bagaimana kalau kamu menyuruhnya untuk bergabung dengan OSIS? Dia tidak bisa menolak, bukan?”
“Bukannya itu penyalahgunaan kekuasaan!”
“Semuanya! Semuanya salah, Kak!”
Mengabaikan protes Eza, Sylvia melirik ke arah Yuuki, “Bagaimana, Iroha. Kamu bisa?”
“Tapi aku berada di posisi yang menolak?”
“Ah, jadi kamu masih belum setuju untuk menerima Eza sebagai anggota OSIS?”
“Ya, seperti itulah, ketua. Aku masih tidak mempercayai kelakuan dari Eza.”
“Meski dia sudah membantumu banyak hari ini?”
“Itu karena dia hanya melakukan hukuman.”
“Begitu? Sayang sekali.”
Nada Sylvia terdengar sedih dan kecewa, tapi ekspresi wajahnya menunjukkan ekspresi biasa. Sedangkan Yuuki dengan keras menolak keberadaan Eza di OSIS dengan wajah cemberutnya.
“Kalau begitu, Eza. Kamu boleh pulang sekarang karena aku harus mengerjakan bagianku.”
“Kalau begitu, aku akan pulang sekarang.”
“Sampai jumpa, Eza. Pikirkan baik-baik tawaranku.”
Eza tidak membalas perkataan Sylvia dan langsung pergi meninggalkan ruangan OSIS setelah berpamitan. Eza tidak mengerti apa yang ketua OSIS harapkan kepada dirinya yang seperti ini.
__ADS_1
🔶🔶🔶🔶🔶
“Aku pulang ~ ...”
Ketika Eza kembali ke apartemennya, ia mengerutkan kening karena melihat sepasang sepatu di pintu masuk.
Satu-satunya yang tinggal di apartemen hannyalah Eza sendiri. Namun, ada sepasang sepatu yang bukan miliknya di lantai.
Bukannya kamu tidak mengabariku hari ini?
Saat Eza mengerutkan alisnya sambil berjalan menuju ruang tamu, ia bisa mencium aroma harum masakan dari dalam rumahnya.
Saat sudah sampai, di sana ia bisa melihat Rena sedang berada di dapur yang letaknya berada di belakang ruang tamu, sedang memasang menggunakan baju santai dibalut dengan celemek.
“Selamat datang~”
“Kamu ... Kenapa kamu ada di sini?”
“Eh? Itu karena aku akan mulai tinggal di sini sekarang.”
“Aku tidak pernah mendengarnya.”
“Karena aku tidak pernah mengatakannya. SUPRISE!”
“Tidak. Apa-apaan dengan kejutan itu?”
Rena tiba-tiba melakukan pose bahagia dengan centong yang masih ia pegang.
Penampilan dan sikapnya yang ia tunjukkan di sekolah berbeda 180 derajat dari apa yang Rena perlihatkan sekarang.
Kemudian, dia mencicipi masakan yang ia buat dan memandu Eza untuk duduk di meja, dan menyiapkan makanan untuknya.
“Kamu mau makan dulu, mandi dulu, atau ... a, ku?
“Tidak. Apa-apaan dengan adegan recehan pasangan baru ini?”
“Kamu tahu, Kak. Kadang-kadang ada kalanya ketika hal mengejutkan tiba-tiba terjadi, seperti sebenarnya aku dan kakak tidak punya hubungan sedarah.”
“Oh, kata-kata seperti itu memang memberikan kesan kuat.”
“Tapi nyatanya, semua itu adalah tipu daya yang dibuat-buat agar dirinya bisa menikahi seseorang yang dicintainya.”
“Oh, jadi alurnya balik lagi? Plot twist yang tadi sebenarnya bukan plot twist?”
“Tentu saja ... Tapi kamu memangnya tidak mengerti?”
“Mengerti apa?”
Ketika Eza memiringkan kepalanya karena bingung, Rena tiba-tiba menyendokkan satu nasi putih penuh, membuka lebar-lebar matanya, menarik kerah seragam Eza, dan mencoba menyodorkan nasi yang sudah diambilnya ke mulut Eza dengan paksa.
“Dasar bodoh!! Itu semua tidak masalah mereka menikah karena punya hubungan darah!”
“Tidak masalah bapakmu!”
Rena, dia adalah teman masa kecil Eza di sekolah. Tapi nyatanya, dia adalah ... Adik kandung Eza.
__ADS_1