Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Tawaran Ini Lagi? Aku Tidak Berminat


__ADS_3

Eza mengganti sepatunya di pintu masuk lalu keluar dari gedung sekolah.


Masih dengan tatapan ke arah jauh, Eza mengikuti tiga bidadari di depannya. Ia bisa merasakan betapa hebatnya pancaran aura dari ketiga gadis yang seluruhnya menempati peringkat tertinggi dari gadis tercantik di seluruh Akademi Rania (yang dibuat oleh siswa laki-laki).


Setelah beberapa saat, Eza dapat melihat banyak beberapa klub olahraga. Mereka sepertinya telah menyelesaikan latihan dan mencari angin segar.


Disaat itulah cobaan menghampiri Eza, karena kelompok Eza secara praktis terdiri dari tiga gadis tercantik, mereka secara alami mengalihkan pandangannya ke kelompok Eza dan menyingkir ke samping saat berada di jalannya.


Yah ... Tentu saja yang seperti ini akan terjadi, kan?


Bahkan saat mereka sudah saling berpapasan, tatapan yang diberikan semakin membuat Eza gugup.


Tatapan mereka ... Sangat kuat. Kekuatan tiga gadis ini, tidak bisa diremehkan ....


Yuuki adalah yang paling banyak menarik perhatian, kemudian Rena, setelah itu Sylvia, dan terakhir adalah Eza.


Perhatian yang terkumpul kepada para gadis merupakan kekaguman, sedangkan saat melihat Eza, mereka pikir dia hanya lalat yang mencoba menghampiri makanan mewah.


Aku tahu kalian iri, kan? Iya, kan? Kalian iri karena tidak bisa pulang bareng bersama mereka bertiga sekaligus, kan?


Meskipun Eza berkata demikian di dalam hatinya, itu hanya caranya untuk mengalihkan pikiran negatifnya. Karena Eza sendiri sadar diri bahwa keberadaannya berada di tempat yang salah, dan ia merasa tidak nyaman dengan tatapan yang diberikan.


Sebaliknya, ketiga gadis bersamanya terlihat biasa saja. Mereka berjalan seakan tanpa ada beban yang secara praktis, merekalah yang paling mendapatkan banyak perhatian. Bisa dibilang, mereka terlihat tidak peduli dengan tatapan yang mereka terima.


Pemandangan tersebut bahkan tidak berubah setelah mereka meninggalkan sekolah. Ketiga gadis itu mengumpulkan lebih banyak masa dan perhatian dari orang-orang yang ada di sana. Jika satu orang ada yang mengetahui kalau mereka bertiga adalah anggota dari OSIS, ketiga gadis itu akan menjadi topik yang hangat di media sosial dan mungkin saja akan diundang oleh televisi karena terlalu cantik bagi anggota OSIS.


Kalau seperti itu jadinya, bukankah tahun depan akan banyak sekali orang yang mendaftar ke sekolah ini? Terutama para monyet ....


Mereka bertiga berjalan memasuki salah satu restoran keluarga bergaya barat dengan santai setelah lima belas menit berjalan kaki dari sekolah. Eza sendiri masih merasakan suasana tidak nyaman meski sudah masuk ke dalam restoran.


Setelah masuk seorang pelayan datang untuk menghampiri mereka bereempat, yang sedang mereka mencari meja yang kosong untuk mereka tempati. Sylvia duduk terlebih dahulu di tempat paling ujung diikuti oleh Yuuki yang duduk di sebelahnya. Rena kemudian mengikuti hingga akhirnya Eza harus berakhir duduk bertatapan dengan Yuuki di depannya.


Kamu ini sengaja, kan?


Sejujurnya, meski masih tetap merasa tidak nyaman, Eza lebih memilih duduk di berhadapan dengan Sylvia daripada dengan Rena bahkan Yuuki. Karena entah bagaimana, Sylvia membuatnya merasa nyaman. Dibuat untuk duduk berhadapan dengan Yuuki, perasaan tidak nyaman langsung mengalir di seluruh tubuhnya. Ada beberapa keheningan selama beberapa detik karenanya. Dan yang memecahkan itu adalah Sylvia.


“Ada apa, Eza? Kau tidak ingin duduk?”

__ADS_1


“Ah ....”


Belum sempat menyelesaikan, Sylvia kembali berbicara memotong ucapan Eza, “Duduk di mana saja, Eza. Kamu merepotkan pelayan dan juga pelanggan di sini.”


Saat diberitahu seperti itu oleh Sylvia, Eza lalu melihat ke sekelilingnya. Memang ada seorang pelayan wanita yang sedang menunggu berdiri diam. Eza mau tidak mau menyerah dan duduk di kursi kosong yang tersisa.


Setelah duduk, Eza secara tidak sadar menatap ke arah Rena yang di sebelahnya. Dia sedang tersenyum seperti biasa layaknya gadis elegan.


Jadi begini rasanya dipermainkan, ya ....


Saat memikirkan itu dengan pasrah, ia mengalihkan pandangannya ke arah Sylvia yang sedang tersenyum sambil membuat pose seorang bos yang duduk di meja kerjanya.


Jadi ini kekuatan ketua OSIS sebenarnya, ya ....


Mengikuti arus, ia kembali melirik ke orang sebelah Sylvia. Di sana ia dapat melihat mata biru dengan alis yang mengkerut.


“... Apa?!”


....


“Bukan apa-apa. Maaf.”


Yah, menatap seorang gadis tanpa alasan memang tidak sopan.


Memikirkan hal bodoh di pikirannya Itu, Eza lalu membuka mulutnya.


“Apakah tidak apa-apa untuk mampir ke sebuah tempat setelah pulang sekolah?”


“Ooh ... Peraturan tentang tidak boleh keluar menggunakan seragam dan segera pulang setelah sekolah selesai, ya? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Semua itu peraturan lama yang tidak


disukai para siswa. Selama tidak membuat masalah, pihak sekolah akan mengizinkannya. Nah, daripada membahas yang tidak penting, pesanlah apapun yang kalian suka. Jangan sungkan untuk memilih.”


“Melihat ketua seperti itu, aku merasa kejantananku berkurang drastis?”


“Hmmm? Kejantanan seorang pria tidak diukur dari jumlah uang yang ada di dompet. Meskipun aku setuju uang adalah salah aspek penting.”


Kalimat terus terang dari Eza membuat ia kagum. Tapi meski begitu, ketika mereka semua sudah menyelesaikan perkataan mereka, Eza kembali menjadi topik pembicaraan mereka.

__ADS_1


“Meski begitu, aku tidak menyangka akan ada orang yang bisa membantu pekerjaan OSIS. Karena dirimu, aku masih bisa membayangkan berapa banyak pekerjaan OSIS besok jika tidak ada kamu.”


Tepat setelah Sylvia mengatakan itu, Rena langsung menimpali.


“Seperti yang diharapkan dari tenaga seorang cowok, bukan? Eza juga telah melakukan yang terbaik untuk membantu. Seandainya ada cowok di OSIS, bukankah itu akan mendapatkan perbedaan yang besar? Apalagi ketika orang tersebut sudah terbiasa.”


“Kamu benar, Rena. Aku sangat menginginkan anggota laki-laki di pihak OSIS yang terbiasa dengan pekerjaan seperti ini aku kira.”


“Betul, bukan? Selama aku bersama Eza, dia itu melakukan banyak hal yang luar biasa, lho. Fisik yang ia miliki bagus dan pekerjaannya selalu rapi. Selain itu, dia juga pandai di berbagai bidang dan sangat bagus dalam berkomunikasi. Terutama kalau menyangkut yang namanya negoisasi atau menjalin relasi.”


“Kamu terlalu melebih-lebihkan. Aku tidak ingin orang salah sangka dengan pujianmu yang seperti itu, tahu?”


“Apakah Eza adalah orang seperti itu, Rena? Meski kamu mengatakan semua itu sebelumnya karena kalian adalah teman masa kecil, aku sendiri masih tidak merasakan sesuatu yang hebat darinya.”


Yuuki yang tiba-tiba mengikuti pembicaraan menyatakan keberatan dan mencoba merendahkan Eza. Rena yang melihat ada bendera perang sedang dikibarkan, tidak ingin kalah dan menekan auranya. Jika dilihat menggunakan indra keenam, akan ada kobaran api di belakang punggung mereka yang secara tidak langsung memanaskan suasana.


Ketika ketegangan sedang berlangsung di antara Yuuki dan Rena, Eza yang sebagai objek cemoohan Yuuki justru...


“bagus Iroha! Lanjutkan seperti itu terus! Meski kamu kasar, aku mendukungmu kali ini!”. Di dalam hatinya, ia mendukung salah satu orang yang sedang berdebat itu.


“Kamu memang belum menyadarinya, Iroha. Tapi aku sebagai teman masa kecilnya yang sudah lama mengenal Eza sejak kecil, tentunya mengetahui banyak sisi yang tidak ia perlihatkan kepada orang lain.”


“Memang benar kamu adalah teman masa kecilnya dan mungkin melihat banyak sisi lain dari Eza. Tapi mau dilihat dari sisi manapun, Eza yang sekarang adalah orang yang pemalas dan tidak mempunyai alasan untuk hidup. Beberapa tugas yang seharusnya kita kerjakan bersama, kebanyakan akulah yang mengerjakannya.”


“Itu karena kamu belum mengenalnya dengan baik. Percayalah kepadaku, Eza itu mempunyai banyak kelebihan dari kelihatannya.”


“Aku tidak dapat mempercayai itu sama sekali.”


Diperlihatkan ketegangan yang begitu panas, Eza menurunkan suhu tubuhnya dengan meminum air putih yang disediakan gratis untuk pelanggan. Tapi untungnya, perdebatan tidak menjadi sesuatu yang besar karena Sylvia ada sebagai penengah di sana.


“Hahaha ... Aku tidak pernah melihat Rena memuji orang sampai berlebihan seperti ini. Nah, bagaimana menurutmu, Eza? Apakah kamu tertarik untuk menjadi bagian dari OSIS? Kebetulan, masih banyak posisi yang bisa kau ambil di sini.”


Itu namanya bukan kebetulan! Memang OSIS nya saja yang terlalu overpower!


Dikala Eza menjawab tawaran Sylvia dengan candaan di dalam hatinya itu, ia juga menahan keringatnya.


Akhirnya seperti ini lagi ....

__ADS_1


Eza menatap ke arah Rena di sebelahnya, tapi orangnya sama sekali tidak bergeming.


__ADS_2