
Sudah berapa banyak Eza mendapatkan tawaran untuk masuk ke OSIS dari Rena. Dan setiap kali mendapatkannya, Eza selalu menolak.
Bukan tanpa alasan, Eza sendiri melihat dirinya tidak mampu untuk mengerjakan kewajibannya sebagai OSIS. Berapa kali ia mencoba untuk meyakinkan dirinya, dia selalu saja tidak dapat menemukan alasan yang tepat, hingga akhirnya ia selalu menolak tawaran dari Rena. Begitu juga dengan hari ini, ia akan menolak tawaran langsung dari ketua OSIS.
“Maaf, tapi aku sama sekali tidak menginginkan untuk menjadi bagian dari OSIS.”
“Begitu, ya ... Memang pekerjaan di OSIS akan menjadi hal yang berat. Tapi semua itu akan terbayarkan nantinya. Kamu tahu, sekolah kita memberikan banyak keluasan terhadap OSIS dibandingkan sekolah lainnya. Itu akan memberikanmu banyak keuntungan.”
Eza mengetahui menjadi bagian OSIS akan mendapatkan banyak keuntungan. Bukan untuk dirinya sendiri saja, siapapun yang masuk bagian dari OSIS akan mendapatkan status yang tinggi, termasuk salah satunya adalah di masyarakat umum.
Alasan yang sederhana, secara khusus, Akademi Rania membuat OSIS sebagai kumpulan orang-orang yang serius dengan masa depan mereka. Bahkan, gelar sebagai OSIS di Akademi Rania adalah gelar yang elit dan bukan hanya klaim saja, gelar elit tersebut diakui oleh banyak instansi pendidikan bahkan pemerintahan.
Hal-hal spesial seperti rekomendasi universitas, penawaran kerja secara langsung, atau nilai-nilai kecil tambahan yang menyangkut individu, akan menjadi nilai tambah yang bagus dilihat banyak orang. Terutama jika memiliki gelar ketua dan juga sebagai wakil di OSIS, keuntungan yang mereka dapat akan sangat memudahkan mereka saat terjun ke masyarakat. Itu karena mereka mendapatkan gelar khusus yang bahkan melampaui kasta sekolah manapun.
Tentunya hal-hal istimewa tersebut bisa didapatkan jika menjalankan tugas mereka sebagai OSIS dengan baik. Sebaliknya, akan ada sisi gelap yang akan membuat penilaian seseorang menjadi buruk. Mereka akan dianggap tidak kompeten dan gagal di masyarakat umum.
Yang dibicarakan adalah Akademi Rania, yang dimana sejumlah besar lulusannya adalah tokoh penting yang menduduki banyak tempat di lingkungan politik dan bisnis. Semua keuntungan dan hubungan relasi tersebut bisa didapatkan jika pencapaian bagus tercatat dalam OSIS.
“Sayangnya aku tidak tertarik dengan itu semua. Bagaimana mengatakannya, bukannya aku meremehkan atau melihat sesuatu yang jelek tentang OSIS. Aku hanya tidak dapat menemukan alasanku untukku berada di OSIS.”
“Kamu hanya tidak percaya diri, Eza. Sebagai teman masa kecilmu, aku sangat mengetahui kamu menginginkannya, kan?”
“Sayangnya kamu salah besar. Aku itu hanya ingin berjalan seperti biasa saja, tahu.”
“Kamu bilang seperti itu, tapi nanti kamu akan menyesal ketika aku menjadi ketua OSIS, lho?”
“Woow, selamat! Kamu telah memenangkan pemilihan! Nah, sekarang tolong cari saja orang lain untuk membantumu di dalam OSIS nanti.”
Meski terlihat bercanda, jawaban Eza yang memberi selamat kepada Rena menjadi ketua OSIS selanjutnya kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Di dalam kepalanya, mungkin akan ada sekitar 80% suara yang akan dipegang oleh Rena dibanding calon selanjutnya.
“Kamu sangat percaya diri untuk memenangkan Rena rupanya. Apakah kamu tidak tahu kalau ada calon lain?”
“Yah, di atas kertas. Aku mengetahui seberapa kekuatan yang dimiliki oleh Rena.”
“Hubunganmu dengan Rena benar-benar dekat, yah. Aku ingin tahu apakah perasaan acuh tak acuhmu itu bisa memengaruhi orang di dekatmu?”
__ADS_1
Eza mencoba mengulik lebih jauh untuk mengetahui maksud dari perkataan Sylvia. Hingga beberapa detik akhirnya ia tersadar dan melirik ke arah Yuuki.
“Apakah itu mungkin ...?”
“Ya. Apa ada masalah dengan itu?”
Yuuki menatap dengan jutek saat Eza baru menyadari perkataan Sylvia yang sebenarnya, kalau teman sekelasnya itu juga akan bertarung dengan Rena di pemilihan nanti. Bisa dikatakan, secara tidak langsung Eza mungkin telah mengkhianati perasaan berjuang yang dimiliki oleh Yuuki.
“Bagaimana menurutmu pertarungan mereka berdua? Apa ada yang kamu pikirkan?”
“Jika kandidatnya hanya mereka berdua dan mereka harus bertarung satu lawan satu, maka ... Sudah dipastikan Rena yang akan memenangkannya.”
Di saat Eza mengatakan itu, tatapan dingin langsung diarahkan oleh Yuuki kepadanya. Tapi apapun yang dilakukan Yuuki, Eza hanya bisa mengangkat bahunya dan melihat kenyataan yang jelas.
Sementara itu, Syilvia yang memantik api tersenyum tertarik dengan jawaban Eza.
“Sangat menarik. Apakah kamu bisa menjelaskan alasannya?”
“Sudah sangat jelas. Semua kemampuan yang Rena punya, aku sudah sangat mengetahuinya dengan melihatnya secara langsung dengan pengelihatanku sendiri. Bukan hanya terampil, dia juga menggunakan semua kemampuan yang ia punya secara maksimal dan efisien. Selain itu, akan ada banyak penjelasan yang tidak mungkin aku sebutkan satu persatu.”
Kemampuan Rena bukan hanya isapan jempol semata. Semua kemampuan Rena telah disaksikan oleh Eza secara langsung. Dari apa yang dilihatnya, Rena adalah seseorang yang sangat harus dihindarkan jika harus bersaing.
“ ... Bagaimanapun aku selalu melihatnya sebagai orang yang duduk di sebelahku, dia sama sekali tidak punya motivasi sama sekali. Aku sendiri akan sangat tidak menyangka kalau Rena mengatakan Eza sangat terampil. Bukannya aku tidak suka, akan sangat bagus jika semua yang aku lihat sebelumnya dan sekarang adalah kesalahan.”
“Lihat. Kamu sendiri mengakui kalau Eza itu tidak seburuk yang dilihat, bukan?”
Rena yang melakukan koreksi evaluasi Eza terus menekan dengan komentar positifnya. Yuuki yang juga tidak ingin kalah terus mengeluarkan komentar negatifnya.
“Memang. Tapi jika dia hanya ingin berusaha lebih. Dari yang aku lihat selama beberapa bulan ke belakang, kata berusaha itu tidak ada di dalam kamusnya.”
“Kamu hanya belum melihatnya saja. Apakah kamu pernah melihat Eza bermasalah dengan nilai? Selain itu dia juga atletis.”
“Aku mengakui dia selalu baik-baik saja dengan nilai dan atletiknya. Tapi semua itu akan percuma jika dia tidak berusaha.”
“Kalau begitu, mungkin kamu harus melihatnya saat dia bermain sepak bola.”
__ADS_1
Setelah Rena mengatakan itu, Eza segera mengintervensinya.
“Lagi, jangan sembarangan membuat pernyataan yang bisa membuat keliru.”
Meski sudah mencoba mengatakan kalau yang dikatakan Rena tidak benar, Yuuki tidak memedulikan apa yang dikatakan Eza.
“Kalau begitu aku akan menantikannya.”
Yuuki membuat ekspresi tidak puas, sedangkan Rena menghadapinya dengan ekspresi yang tenang dan dingin.
“Hahaha ... Sangat menarik mendengar komentar kalian tentang Eza. Kalau begitu Eza, bagaimana menurutmu tentang Iroha yang mencalonkan diri?”
Apa kamu serius ingin aku berkomentar sekarang, Kak?
Eza merasa kesusahan harus berbuat seperti apa. Dia tidak ingin menyinggung perasaan teman sekelasnya, dipaksa untuk memberi pandangannya, berbohong atau tidak semua pilihannya tidak bagus.
Meski begitu, ekspresi dari Yuuki menunjukkan rasa penasaran, dan bagai Eza yang melihatnya membuat ia terpaksa untuk memberitahukan pendapatnya.
“Aku hanya bisa bilang, berusahalah sekuat tenaga yang kamu bisa.”
Terlihat kalau wajah Yuuki menjadi sedikit murung dengan komentar dari Eza. Meski keduanya selalu berkonflik, dari dalam lubuk hati Yuuki, dia juga ingin setidaknya mendapatkan kabar baik yang bisa ia percayai.
Eza juga yang melihat wajah murung Yuuki hanya bisa mengatakan maaf di dalam hatinya berkali-kali, bagaimanapun, ia tidak dapat berbuat banyak tentang fakta nyata di depan matanya.
Untungnya saja, Yuuki segera memasang wajah tegarnya dan seakan memberitahu kalau ia baik-baik saja, dan Sylvia segera mencairkan suasananya agar tidak membuat keributan yang tidak diperlukan.
“Jadi seperti itu. Aku tidak akan berkomentar banyak tentang persaingan mereka. Tentunya akan menarik jika dilihat, aku akan menantikan apa yang akan mereka berikan saat masa-masa pencalonan dimulai ... Lalu, memang sangat disayangkan kamu tidak bisa masuk ke dalam OSIS. Tapi aku juga tidak bisa memaksamu untuk masuk. Tapi meski begitu, aku selalu membuka pintu jika sewaktu-waktu kamu berubah pikiran.”
“ ... Terima kasih.”
“Tolong pikirkan baik-baik, ok? Aku akan sangat menghargainya jika kamu melakukan itu.”
Eza memasang senyumnya mendengar perkataan dari Sylvia.
Kemudian, tak berapa lama berselang, pelayan yang melayani mereka berempat kembali datang membawa pesanan mereka dam meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
“Oh, makanannya sudah sampai. Nah, makanlah sepuasnya. Jangan sungkan untuk menambah jika kalian mau.”
Sambil memasang senyumnya, Sylvia mengatur kembali suasana menjadi nyaman. Rasa hormat Eza terhadap Sylvia meningkat, auranya sebagai pemimpin benar-benar tidak bisa dilawan.