
“Aku pernah mengingat masa-masa dahulu ketika seperti ini, ya. Ah, benar, kalau tidak salah, salah satu saudara saya juga suka menghibur diri di saat jam seperti ini. Yah, tapi dia hanya mencari warnet saja.”
Orang-orang itu yang mendengar Eza mengatakan omong kosong menatap heran sambil kebingungan seolah-olah ingin mengatakan, “eh, lo siapa? Pake SKSD lagi.”
Sementara mereka dan Yuuki kebingungan dengan perubahan situasi yang terjadi secara tiba-tiba, Eza terus menunjukkan senyum lembutnya dan terus melanjutkan basa-basinya.
“Kalau di jam-jam segini biasanya paling enak itu nongkrong di cafe sama temen-temen, kan? Yah, andaikan mereka sedang tidak sibuk, saat ini juga aku pasti dengan mereka terus main game sebagai penutupnya.”
Saat Eza terus mengatakan basa-basinya, terlihat jelas kalau kelompok geng itu ingin menghajar habis Eza. Namun saat mereka ingin maju, seseorang yang terlihat seperti pemimpin mereka maju dan anak buahnya memberikan jalan untuk dirinya.
“Hei, tolol. Lebih baik lu jangan ikut campur atau lu nanti babak belur. Lo enggak mau wajah jelek lo itu gw kencingin, kan?”
Eza yang diberi peringatan langsung masih tetap mempertahankan senyum lembutnya. Dia sama sekali tidak bergeming meski sudah dihadapkan dengan pemimpin kelompok itu.
“Sayang sekali, padahal aku hanya ingin memberikan beberapa rekomendasi tempat untuk menghibur diri kalian.”
Merasa perkataanya tidak didengarkan, pemimpin itu maju dan mencengkeram kerah baju Eza dengan berani, meski Eza lebih tinggi darinya.
“Sekali lagi gw omongin, ya. Mendingan lu enggak usah ikut campur sama urusan kita. Kalau lu masih mau maksa, gw enggak bisa jamin keselamatan lu sama keperawanan cewek di belakang lo.”
Yuuki yang mendengar ancaman sekaligus pelecehan verbal yang dilontarkan oleh ketua itu langsung kembali menatap tajam.
Peningkatan peristiwa yang semakin menegang itu semakin memakan banyak perhatian banyak orang. Tapi tidak ada seorangpun yang berani untuk berani mendekati atau melerai. Alasannya selain takut, mereka juga tidak ingin terluka karena beberapa orang dari kelompok itu mengeluarkan pisau kecil dari dalam kantong celana mereka.
Namun meski sudah diancam sampai membawa-bawa nyawanya, Eza tetap tersenyum lembut seakan hal tersebut bukan masalah baginya.
“Apakah kalian tidak mengetahui seragam apa yang kita pakai?”
“Emangnya gw peduli sama yang kayak begituan? Sekalipun lo itu orang kayak, gw bakal ngambil duit banyak dari orang tua lo, ngerti?!”
Eza yang mendengar perkataan pemimpin itu tidak kuasa menahan tawanya dan tetap tersenyum, meski senyumnya lebih ke arah senyum merendahkan.
“Pfft ... Aku penasaran apakah kamu bisa berkata seperti itu.”
“Hah? Lo ini beneran pengen mati?”
“Yah, bagi kalian memang tidak tahu. Tapi sekolah kami punya banyak orang-orang yang tidak bisa dibayangkan dari otak kecil kalian.”
Di saat Eza mengatakan itu, salah satu alis pemimpin naik membiarkan Eza melanjutkan omongannya. Ia percaya diri dengan perkataan Eza kalau dia hanya mengatakan omong kosong belaka.
“Lupakan itu. Sekali bertindak, maka mereka akan bertindak untuk melindungi siswa atau adik kelas mereka. Terutama jika ada bukti yang menyertai.”
__ADS_1
Eza yang masih dicengkeram seragamnya mengatakan dengan berani dan tangan kanannya menunjuk ke arah atas.
Pemimpin yang berada tepat di depan Eza dengan kebingungan dia melihat ke atasnya. Ekspresi sangar dan percaya dirinya yang ia perlihatkan mulai goyah. Begitu juga dengan anggotanya yang setelah ikut melihat ke arah yang ditunjuk oleh Eza, wajah mereka tampak sedikit lesu dan ketakutan.
“Apakah kalian menyadarinya? Posisi kalian di saat seperti ini sangat sedang tidak baik-baik saja. Terutama jika menarik banyak perhatian, apakah kalian mengerti apa yang aku maksud? ... Ya, lebih banyak kamera.”
Diberitahu lebih detail tentang suasananya, kelompok itu langsung melihat ke sekitarnya. Dan tentu saja dengan kata kamera yang Eza ucapkan sebelumnya sebagai kata penakut, membuat otak mereka peka dan melihat banyak ponsel yang dikeluarkan oleh warga sekitar yang menyaksikan.
Masih dalam keadaan melihat sekitar, Eza tidak ingin berhenti di sana dan kembali melanjutkan untuk menekan balik geng tersebut.
“Kalau tidak salah, saat aku berjalan kemari, ada seorang polisi yang sedang berpatroli dengan menggunakan sepeda. Kalian tahu apa yang kalian maksud, bukan?”
Cengkraman sang pemimpin semakin kuat, entah karena takut atau merasa tersudutkan. Hingga ia akhirnya melepaskan cengkramannya. Di saat lepas, Eza mendekati Yuuki dan kembali melanjutkan menekan agar bisa sepenuhnya bebas dari situasi yang berbahaya itu.
“Gadis yang ada di belakangku ini adalah orang luar negeri. Meski ayahnya adalah seorang politisi yang menduduki kursi penting di dalam parlemen, kalian tidak ingin membuat masalah dengan yang namanya hukum di luar sana, bukan? Jika kalian tidak ingin terlibat dengan semua situasi rumit seperti itu, aku sarankan untuk mengambil tawaranku sebelumnya untuk bersenang-senang.”
Mendengar tawaran Eza yang menguntungkan bagi mereka, salah satu anggotanya kemudian mendekati sang pemimpin dan membisikkan kalau sebaiknya mereka menerima tawaran Eza yang pertama.
“Tch ... Baiklah, aku terima tawaran itu. Lo semua, ayo pergi.”
“Baik.”
Kelompok geng itu kemudian meninggalkan tempat itu dengan suara hening.
“Apakah kamu tidak apa-apa? Kamu itu terlalu sembrono untuk melawan banyak laki-laki preman sekolahan.”
“ ... Mereka terlalu banyak melontarkan hinaan. Aku tidak apa-apa dihina mengenai fisik, tapi mereka juga mengatakan hal buruk tentang rambutku. Aku tidak terima orang tuaku menjadi bahan ledekan dari orang-orang yang derajatnya sama seperti sampah. Juga, mereka telah menghina keyakinan hidupku yang selama ini aku jalani. Bagaimana aku bisa tinggal diam?”
“Tetap saja, kamu itu terlalu sembrono. Bagaimana jika yang mereka katakan untuk ‘bermain’ denganmu itu menjadi kenyataan?”
“ ... Aku dapat menjaga diriku dengan baik. Meski aku tidak pintar dalam bela diri, setidaknya aku bisa membuat satu atau dua dari mereka babak belur.”
“Jumlah mereka ada lebih dari 8 orang. Apakah kamu yakin tidak akan terjadi apa-apa jika dibawa mereka?”
Yuuki mencoba untuk menjawab, tapi suaranya tertekan dan tidak dapat keluar seakan menyangkut di tenggorokannya. Suara bantahannya tadipun terdengar datar, seolah-olah dia masih marah dan menahan paksa amarahnya. Eza menggaruk-garuk kepalanya bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bagaimanapun, situasi tersebut tidak akan terjadi jika salah satu mereka tidak membuat masalah dengan sengaja menabrakkan dirinya.
“ ... Untungnya kita baik-baik saja setelah kejadian itu. Jadi kamu harus berhati-hati lagi untuk lain kali.”
“ ... Ya, aku tahu itu.”
Yuuki menghela napas panjangnya seolah-olah mengerti dan kembali tenang sesuai kata-katanya.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, bagaimana kamu tahu kalau ada kamera pengawas tepat di atas kita?”
“Kalau itu ... Aku tidak sengaja melihatnya?”
“Jangan bohong kepadaku. Kalau tidak salah kamu mengatakan kalau saudaramu juga sangat familier dengan kawasan ini, apakah karena itu?”
“Hm? Aku tidak punya seorang saudara pun yang tinggal satu kota. Mereka semua tinggal di luar provinsi.”
“ ... Eh?”
Saat Yuuki menatapnya dengan ekspresi terperangah, Eza lanjut berkata dengan senyuman tipis.
“Yah, aku tidak menyangka kalau omongan di internet bisa dipakai untuk mengelabui orang.”
“Ha-haaaaaah?! Jadi kamu ingin mengatakan kalau ceritamu tentang daerah hiburan di sekitar sini bohong?! Ah! Lalu bagaimana kamu mengetahui ayahku adalah politisi? Aku tidak pernah bercerita tentang itu.”
“Kalau itu aku pernah melihat berita di sosial media. Kamu tahu, nama keluargamu.”
Yuuki merasa kepalanya sakit saat Eza hanya mengarang semua cerita dari apa yang pernah ia lihat di sosial media.
“... Kenapa kamu melakukan hal itu?”
“Yah, kurasa kita sedang sial. Tapi saat kamu sendirian kamu harus benar-benar mengabaikannya, oke? Semuanya akan terlambat sebelum kamu menyadarinya.”
“Apa kamu ... Mengkhawatirkanku?”
“Yah, aku khawatir, oke? Jadi ingat baik-baik.”
Yuuki mengedipkan matanya dengan wajah terkejut saat mendengar jawaban jujur Eza. Dia kemudian bergumam sedikit, “begitu, ya.”
“Aku mengerti. Aku ... Akan lebih berhati-hati lagi! Terima kasih, Eza! Sampai jumpa di sekolah”
Yuuki tersenyum, mengucapkan selamat tinggal kepada Eza lalu berbalik melanjutkan jalannya dan sampai ke tujuannya yaitu stasiun, namun ....
“Jadi ... kenapa kamu masih mengikutiku sampai ke stasiun?”
Ekspresi marah yang sama ditunjukkan oleh Yuuki saat mengetahui Eza masih ada di belakangnya sampai stasiun.
“... Yah, itu karena. Aku juga menggunakan jalur ini.”
Saat mendengar jawaban itu, kekesalan Yuuki memuncak.
__ADS_1
“Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi, bakaaaaa!”