Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Jangan Ikuti Aku!


__ADS_3

Mereka keluar dari restoran keluarga setelah menghabiskan makanan dan Sylvia seperti yang sudah dijanjikan, selesai membayar semua makanannya.


Hari di langit luar sudah mulai gelap seperti yang sudah diprediksikan. Meski secara keseluruhan acara makan-makan dipenuhi oleh percakapan tentang OSIS, Eza harus tetap menunjukkan sopan santunnya meski dia selalu menghindari topik yang selalu diangkat oleh Rena.


“Terima kasih untuk traktirannya, Kak.”


Eza menundukkan sedikit badannya, hal itu ia lakukan sebagai cara ia berterima kasih kepada Sylvia yang telah repot-repot mentraktirnya makanan, sebagai hadiah dari Sylvia untuk anggotanya, juga untuk Eza yang telah membantu pekerjaan OSIS yang menumpuk.


Tak tertinggal, Rena dan Yuuki juga menunjukkan rasa terima kasih mereka kepada senior sekaligus menjadi ketua OSIS mereka yang telah memberikan perhatiannya kepada mereka berdua. “Terima kasih untuk makanannya.”


“Ya. Tidak masalah, aku senang dapat membayar makanan kalian. Jika ada waktu senggang, aku akan memanggil kalian lagi. Apakah tidak masalah dengan itu?”


“Aku pikir itu terlalu berlebihan, Kak. Setidaknya akan sangat sulit bagiku untuk menolaknya.”


Yuuki yang mendengar itu memasang wajah juteknya dan menyiku Eza yang berada di sebelahnya. “Bisakah kamu menunjukkan sopan santunmu?”


“Maaf, ok?! Aku hanya bercanda.”


“Senang melihat kalian berdua akur.” Ucap Sylvia sambil tersenyum cerah.


Yuuki yang tidak setuju dengan perkataan dari Sylvia mengangkat ketidaksenangannya, “Aku pikir hal seperti ini tidak bisa dianggap sebagai akur.”


Tapi meski mendapatkan penolakan, Sylvia tidak meladeni perkataan Yuuki yang ia anggap sebagai caranya untuk menyembunyikan rasa malunya dan terus tersenyum dalam diam.


“Karena sudah mulai gelap, kita harus segera pulang. Aku tidak keberatan untuk memberi kalian tumpangan.”


Seperti yang diharapkan dari Ketua OSIS Sylvia, kebaikan dan perhatiannya kepada siswa lain membuat Eza kembali kagum. Eza memikirkan kalau apa yang dilakukan oleh Syilvia adalah hal alami yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki banyak pengalaman dalam hidupnya.


Tapi Rena dengan segera mengangkat tangannya, “Maaf ketua, aku sangat menghargai tawaranmu, tapi aku diberitahu aku akan diantar dengan mobil dari keluargaku.”


“Begitukah?”


“Ya, aku disuruh untuk menunggu hingga mobilnya tiba.”


Sylvia mengangguk mengerti lalu menatap ke arah Yuuki dan juga Eza, “Kalau begitu, bagaimana dengan kalian? Apakah kalian juga menunggu mobil? Aku juga tidak keberatan untuk memberi kalian tumpangan sampai ke depan rumah.”


“Itu tidak perlu, Ketua. Aku akan berjalan kaki dari sini.”


“Aku juga akan berjalan kaki. Rumahku tidak terlalu jauh dari sini.”


“ ... Begitu, ya. Sayang sekali kita tidak dapat pulang bersama. Kalau begitu, aku dan Rena akan menunggu di sini sampai mobil kami tiba.”

__ADS_1


“Kalau begitu sampai jumpa, ketua.”


“Sampai jumpa, Kak. Sekali lagi terima kasih untuk makanannya.”


Yuuki membungkuk dengan indah saat berpamitan dengan mereka. Sedangkan Sylvia membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan saat Sylvia dan juga Rena, melihat Yuuki dan Eza sudah berjalan menjauhi memunggungi mereka.


Beberapa menit setelah Yuuki dan Eza berjalan menjauh dari restoran keluarga, hingga sosok ketua dan Rena sudah menghilang, mereka berjalan bersama mengikuti jalan.


Meski dibilang bersama, mereka tidak berjalan secara berdampingan, melainkan terdapat jarak yang cukup lebar di antara mereka berdua.


Jika kebetulan ada polisi yang melihat mereka berdua, Eza akan dihampiri karena dicurigai sedang mengikuti orang dari belakang. Hal itu bisa terjadi karena mata Eza yang terlihat mengerikan. Untungnya, polisi yang berpapasan dengan mereka tidak melakukan apapun, sehingga tidak ada kejadian yang seperti itu dan mereka terus berjalan seperti biasa tanpa ada sesuatu yang spesial.


Mereka terus berjalan mengikuti jalan ...


Terus berjalan ....


“Jadi, sampai kapan kamu ingin mengikutiku terus dari belakang?”


Yuuki yang merasa tidak nyaman membalikkan badannya, memasang wajah marah, dan melontarkan protesnya kepada Eza, karena di belakangnya ada Eza yang sudah beberapa menit ini terus mengikutinya.


Ya, jika bukan polisi yang mencurigai, orang yang di depannya yang akan mencurigai dirinya.


“Meski kamu bilang begitu ... Aku juga pulang ke arah sini.”


Meski Yuuki menyadari Eza tidak memiliki niat buruk kepadanya, dan Eza sendiri sudah memberitahu kalau semuanya adalah salah paham, ia tetap memasang wajah kesalnya lalu kembali berbalik sambil mendengus.


Yah, sudah sangat wajar bukan untuk gadis berhati-hati. Apalagi jika mereka berjalan sendirian di saat hari mulai gelap ... Tunggu, kenapa aku memposisikan diriku sebagai penjahat?


Setelah kesalahpahaman itu selesai, mereka kembali berjalan seperti biasa. Lalu hening. Mereka berjalan dengan posisi saling membelakangi seperti di awal, dan seperti yang diharapkan, dengan posisi itu mereka tidak dapat menemukan topik pembicaraan. Mereka tidak mempermasalahkan hal itu dan melanjutkan perjalanan mereka tanpa mengusik satu sama lain.


Kemudian, setelah beberapa menit, beberapa meter tidak jauh dari jarak mereka, di depan Yuuki terlihat segerombolan murid yang berasal dari sekolah lain. Hal itu bisa dilihat dari seragam yang mereka gunakan berbeda dengan seragam Yuuki dan Eza. Dari kerumunan itu, terdapat satu orang yang tampak sebagai pemimpin memakai kupluk berwarna merah yang sedang merokok, berjalan di depan banyaknya cowok.


“Hey, Bukannya bakal seru kalau si bodoh itu kita kerjain?”


“Gw enggak sabar liat mukanya yang babak belur itu dilihat banyak orang di sosmed.”


“Bagaimana, ketua? Kita habisin aja si gendut sama si kacamata!”


“Terserah kalian pada.”


Seorang laki-laki SMA menjawab acuh tidak acuh saat laki-laki yang mengikutinya itu memberinya saran. Meski terlihat santai, tapi dari raut wajahnya laki-laki yang memimpin kerumunan itu terlihat menahan amarahnya. Alisnya mengkerut dan ia menggigit sedikit rokok yang berada di mulutnya.

__ADS_1


Jelas sekali dia adalah seorang yang memimpin geng berandal sekolah. Eza yang melihat itu mencoba lebih dekat ke Yuuki agar suasananya tidak semakin buruk.


Tapi semua itu sedikit terlambat. Saat hanya beberapa langkah lagi agar Eza dapat berjalan berdampingan dengan Yuuki, geng pelajar itu berpapasan dengan Yuuki. Kemudian saat keadaan terlihat akan baik-baik saja, Yuuki tidak sengaja menabrakkan bahunya ke salah satu dari mereka. Lebih tepatnya, salah satu dari anggota geng itu sengaja menabrakkan bahunya kepada Yuuki. Merasa tidak terima, orang yang menabrakkan dirinya itu mengangkat suaranya.


“Aduh! Bisa jalan enggak sih, lo?! Lo kalau jalan liat pake mata, dong!”


Dengan satu kalimat itu, seluruh temannya berhenti dan menatap tajam ke arah Yuuki dengan tidak senang terhadap perlakuan yang diterima temannya.


“Waduh, waduh, enggak baik malem-malem gini keluar.”


“Baju gw jadi kotor, ganti rugi!”


“Lo kalau enggak bisa bayar tahu kan haru apa?”


Sudah sangat jelas niat mereka hanya mencari masalah. Dengan jumlah yang banyak seperti itu, mereka tidak peduli dengan sekitarnya tanpa rasa takut.


“Hei, rambutnya putih, tuh! Ubanan kali?! Cewek yang rambutnya dicat biasanya nakal, kan? Pasti di sekolahnya Cuma main-main aja.”


Yuuki yang mengabaikan geng itu sedari tadi kini tatapannya menjadi tajam. Tatapannya semakin dingin dan juga mengerikan.


Gawat ....


Merasakan amarah dari Yuuki, Eza merasakan keadaan ke depannya akan menjadi rumit. Eza segera ingin membawa lari Yuuki, tapi Yuuki dengan tatapan jijiknya melawan balik omongan mereka.


“Tipikal pelajaran rendahan yang tidak layak untuk hidup. Sangat memalukan.”


Suaranya tidak lantang, namun jelas kata-kata itu sangat menusuk. Tentunya mereka tidak terima dan semakin menekan Yuuki.


“Apa lo bilang, hah!?”


Yuuki yang sadar sudah sangat diancam, justru semakin menegaskan dirinya. Orang-orang tersebut semakin marah dan sangat terlihat banyak sekali wajah mesum yang terlihat dari mereka.


Tapi saat sebelum suasananya semakin runyam, Eza melangkah di tengah-tengah mereka.


Dengan mata tajamnya dari lahir, ia menatap tanpa gentar ke arah laki-laki yang tentunya kelihatan lebih seram dari Eza. Sambil tersenyum lembut, Eza mencoba menengahi. Benar-benar raut wajah yang tidak sesuai di situasi yang mungkin saja Eza bisa babak belur.


“Selamat petang semuanya. Sepertinya kalian sedang bersenang-senang hari ini.”


“Hah ...?”


Sekumpulan laki-laki yang tadinya ingin mengerubungi Yuuki, seketika menghentikan langkah mereka. Mereka terdiam dengan kedatangan orang lain secara tiba-tiba, terlebih dengan sapaan yang sopan. Otak mereka masih memproses didatangkan situasi yang tiba-tiba dan tidak terduga. Mereka hanya bisa melongo dengan ekspresi marah yang kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2