Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Bukannya Benda Ini Salah?


__ADS_3

Jadi, untuk mengalihkan suasana yang sangat aneh bagi Eza, ia pura-pura terbatuk dan menciptakan suasana baru yang nyaman untuknya.


“Jadi kamu ingin aku membantu membereskan barang-barang OSIS?”


“Iya ... Aku tahu kalau ini harus dilakukan oleh OSIS sendiri. Tapi kamu tahu, kalau kita sedang sangat kekurangan anggota ... Apa kamu bersedia membantu?”


“Yah ... Aku rasa aku bisa membantu. Tapi apakah tidak apa-apa jika harus aku?”


“Tidak apa-apa. Aku merasa tidak ada orang lain yang dapat aku percayai mengenai ini selain kamu. Terlebih, melakukan ini hanya berdua saja bakal sulit.”


“Selama apa yang kamu omongkan itu benar, maka ....”


Eza pergi berkeliling ke ruangan yang Rena beri tahu itu adalah gudang untuk OSIS. Isinya adalah barang-barang OSIS yang masih digunakan atau juga bekas. Karena barangnya bercampur aduk, maka sudah menjadi kewajiban OSIS untuk merapikannya.


Juga, karena mungkin ada berkas penting mengenai OSIS, memilih orang yang tepat untuk membantu juga adalah bagian dari mereka. Hal itu juga yang membuat Yuuki tidak protes, karena Yuuki juga lebih mempercayai Eza dari siapa pun. Tentunya karena akan sangat jarang orang yang berinteraksi dengan Eza.


Tapi Eza tersenyum kecut ketika melihat daftar isi apa saja yang harus ia pilih.


“Apa kamu bisa memulainya sekarang? Kamu bebas memulainya dari mana saja. Tapi aku menyarankan untuk mulai di sekitar sana.”


Sembari membaca daftar isi, Eza menjawab pertanyaan Rena, “Membereskan barang-barang dan merapikannya ... Uh-huh. Tidak ada masalah tentang itu. Tapi untuk memastikan, bila kondisinya masih terlihat bagus meski sudah sangat lama, aku harusnya menyimpannya, bukan?”


“Iya, benar. Jika terlihat cukup bagus kondisinya, maka ada kemungkinan kita akan dapat menggunakannya di masa depan.”


“Siap~”


Setelah memastikan, Eza segera ke bagian sudut lain yang ada di ruangan itu. Di sana, ia menjumpai meja dengan ukuran yang sangat besar bersamaan dengan laci yang kondisinya dipenuhi oleh banyak debu dan sarang laba-laba.


“Membersihkan ruangan yang besar ini hanya berdua saja ... Aku pikir ini tidak masuk akal. Terutama kalian berdua adalah seorang gadis.”


“Sebenarnya tidak berdua. Ketua OSIS janji akan membantu, tapi kita tidak mengharapkan lebih. Soalnya kamu tahu, ketua OSIS sangat sibuk.”


“Begitu, ya.”


Eza kembali melanjutkan pekerjaannya, membersihkan kotoran dan debu, memilah barang, dan menyimpan yang masih bagus kondisinya.


Ia dengan teliti memeriksa daftar isi agar tidak ada yang terlewat dari matanya. Sampai ia menemukan satu buah laci dan memeriksa isinya satu persatu ...


Hmmm? Apa ini? Kartu Tarot? ... Kartu remi? ... Chip kasino—


“Oi! Apa ini! Soal kartu sih aku masih bisa mengerti. Tapi mengapa ada chip kasino di sini!”

__ADS_1


“Hmm? Kalau itu sih barang sitaan yang OSIS temukan.”


“Tapi ini adalah gudang yang barangnya OSIS gunakan, bukan?”


“Aku dengar kalau OSIS yang dahulu menghilangkan rasa lelahnya di sini. Tapi apa yang persis mereka lakukan aku tidak tahu. Bisa saja mereka main karambol pakai chip itu, bukan?”


“Ketika kamu lihat kartu remi dan chip secara bersamaan, aku ragu mereka mainnya karambol.”


“Nah, karena barangnya masih bagus, lebih baik kita simpan saja.”


“Kamu mau menyimpannya, toh!”


“Hmm? Tentu saja. Mungkin kita bisa main karambol menggunakan chip yang baru ditemukan itu.”


“Jadinya main karambol!?”


Eza akhirnya memasukkannya ke dalam sebuah kardus yang sudah terisi penuh. Rena yang sangat ahli dalam mengorganisir sesuatu, mengambil kardus penuh yang berisi chip untuk ia bawa keluar. Rupa-rupanya, setelah diperiksa lebih jauh, benda tersebut bukanlah chip asli, melainkan cokelat lama yang sudah mengeras dan dibungkus layaknya chip kasino.


Setelah Rena pergi dari ruangan dan menyisakan Yuuki dan Eza saja di dalam, untuk sesaat, di dalam ruangan sunyi senyap. Suara yang bisa didengar adalah suara dari barang-barang yang sedang dirapikan atau barang-barang yang masuk ke dalam kardus. Sampai Yuuki memecah keheningan itu dengan bertanya kepada Eza.


“Meski kalian adalah teman masa kecil, aku tidak menyangka kalian bisa sangat dekat seperti itu. Apa ada sesuatu di antara kalian?”


“Tidak ada. Hubungan aku dan Rena layaknya teman masa kecil lainnya?”


“Dari anime tentu saja.”


Eza entah mengapa dapat melihat ekspresi tidak puas dari wajah Yuuki meski mereka berjauhan.


“Tapi aku tidak menyangka kalau kamu punya teman perempuan.”


“Bukankah itu sedikit kasar? Memangnya kamu anggap aku ini apa?”


“Mudah saja. Kau bisa menemukan jawabannya sendiri ketika melihat dirimu di depan cermin. Pemalas, tidak punya motivasi untuk hidup, semena-mena.”


“Baiklah-baiklah aku mengerti. Sifatku memang buruk, oke? Jadi tolong jangan hina aku lebih jauh lagi dari itu. Hatiku bisa rapuh nantinya.”


“Aku ragu kamu bisa seperti itu. Selama satu semester, aku tidak pernah melihatmu memedulikan omongan orang lain.”


“...”


Eza tidak ingin menjawab—lebih tepatnya tidak dapat menjawab perkataan dari Yuuki. Bagaimanapun, sesuatu yang membuatnya menjadi seperti ini, bukanlah sesuatu yang dapat dibanggakan oleh dirinya sendiri kepada orang lain. Karena Eza sendiri sadar, kalau hidupnya tidak lebih baik dari orang lain dan sifatnya yang seperti ini hanya akan merepotkan orang lain saja. Maka dari itu, tidak ada yang bisa ia banggakan ketika menyangkut sifatnya yang sudah terbentuk bulat sempurna di dalam dirinya.

__ADS_1


“Hei ... Bisakah kau menjelaskan, mengapa kamu bisa dengan tenang menjalani hidupmu dengan bermalas-malasan?”


Iroha ... Kamu kenapa tiba-tiba jadi cenayang. Apakah ini yang orang namakan sebagai intuisi wanita? Menyeramkan!


“ ... Jika boleh tahu. Apa yang kau cari dari pertanyaanmu itu?”


“Entahlah ... Hanya penasaran?”


Eza yang mendengar jawaban Yuuki dengan nada yang terdengar sedikit getir di telinganya tersebut membuat ekspresinya sedikit masam.


“Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir? Belakangan ini aku terus memikirkan perkataan Rena tentang dirimu, mengenai dirimu yang sebenarnya jauh lebih dari apa yang kamu perlihatkan dari penampilanmu. Aku hanya berpikir, apakah aku salah. Semua yang telah aku lakukan ...”


Mata mati Eza mulai terlihat menyeramkan ketika Yuuki mencoba mengatakan sesuatu yang sulit dipahami. Tapi meski pikirannya tidak dapat menangkap apa yang ingin disampaikan, entah mengapa hati Eza dapat menangkapnya.


“Tidak ada yang salah ...”


“Eh?”


“... Tidak ada yang salah tentang itu semua Iroha. Aku memilih diriku untuk mengikuti sebuah idealisme atau pemikiran yang ada karena ketidakmampuan diriku. Aku merasakan kekurangan pada diriku sendiri, maka dari itu aku mencoba mencari sesuatu yang cocok denganku. Dan kebetulan saja, diriku yang sekarang adalah sesuatu yang aku temukan dan cocok.”


Tidak ada suara dari barang-barang yang sedang dipindahkan atau dibersihkan. Yuuki yang berada jauh di seberang ruangan, menyimak dengan saksama apa yang dikatakan oleh Eza.


“Aku pikir, apa yang menjadikanmu sekarang ini adalah kamu sudah menemukan sesuatu yang cocok untuk dirimu. Jika aku boleh jujur maka ... Sesuatu itu bukanlah sebuah kekurangan. Aku melihatnya sebagai sebuah kelebihan ...”


“Eza ...”


“Jadi, apa pun yang kamu akan lakukan, percayakan saja pada dirimu sendiri. Dirimu yang seperti itulah yang membuat kamu berbeda dan spesial dari orang lain.”


Mendengar perkataan tulus dari Eza secara terang-terangan dan langsung di hadapannya, membuat muka Yuuki memanas dan pipinya memerah. Untungnya, karena mereka tidak saling berdekatan, Yuuki dapat tidak perlu susah payah menyembunyikan dirinya yang sedang bahagia.


Eza yang mengatakan ketulusannya kembali melanjutkan pekerjaannya seakan tidak terjadi apa-apa.


Sekitar beberapa saat kemudian, Rena sudah selesai mengantarkan barang-barang yang tidak terpakai dan kembali ke ruangan juga, pekerjaan mereka selesai.


“Dengan ini, pekerjaan kita telah selesai. Terima kasih banyak atas bantuannya, Eza. Kamu sangat membantu!”


“Terima kasih banyak, Eza.”


“Ya.”


Mengabaikan suasana canggung yang ada pada dua temannya, Rena kembali berbicara.

__ADS_1


“Sebelum kita pulang, ketua OSIS mempunyai hadiah untuk kita!”


Eza dan Yuuki hanya bisa kebingungan sambil menebak, kejutan apa yang akan diberikan kepada mereka berdua.


__ADS_2