Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Dasar Maniak


__ADS_3

Ruangan putih ini lagi ...


Ada tempat yang selalu dilihat oleh Eza hampir setiap harinya. Yaitu ruangan putih kosong, tanpa ada satu benda atau orang terkecuali dirinya sendiri, berdiri di tengah-tengah ruang yang tidak tahu apakah ada ujungnya atau tidak.


Meski begitu, saat Eza membalikkan badannya, dia selalu melihat pintu yang tertutup secara tiba-tiba. Saat Eza hendak berjalan ke arah pintu, pintu tersebut terbuka dan menampilkan siluet dari seorang gadis kecil.


Heeey!


Eza selalu memanggilnya, tapi siluet yang menampilkan sosok gadis tersebut tidak membalas panggilan Eza, dan hanya tersenyum lebar, tampak sangat bahagia.


“Ayo ikut!”


“Kamu ingin membawaku ke mana?”


“Ayo, ayo!”


Eza tersenyum masam saat gadis tersebut selalu tidak menanggapi dirinya tanpa peduli, dan terus memaksa Eza untuk ikut dengannya sambil tertawa bahagia. Eza yang melihatnya hanya pasrah “Baiklah, baiklah. Aku ikut.”


Gadis yang berada di balik pintu itu langsung berlari dan menghapus siluetnya. Eza yang tidak ingin tertinggal dengan jejaknya, mulai mengikuti dan masuk ke dalam pintu. Saat masuk, apa yang ia lihat sekarang di sekitarnya adalah sebuah taman yang sering digunakan oleh Eza bermain sewaktu kecil dahulu.


“Ayo bermain di sini!”


Selagi Eza masih merasa sedikit bingung, seruan gadis tadi kembali berseru dan membuat Eza mengalihkan pandangan ke arahnya.


“Lihat! Bunga ini! Cantik, bukan?”


“Jangan sembarangan cabut bunga di taman, oke?”


“Apa ... Tidak boleh?”


Saat Eza menghampiri sosok gadis tersebut di dekat deretan tanaman bunga sambil memperingatkannya, senyum gadis tersebut langsung menurun dan menjadi sedih.


“Baiklah, kali ini saja aku perbolehkan. Aku akan memaafkan kamu kali ini, tapi selanjutnya jangan.”


Eza yang tidak tahan dengan kesedihan gadis di depannya itu langsung mengusap kepalanya untuk membuatnya nyaman. Rambut hitam sebahu di bawah pancaran matahari yang hangat, masih terasa membekas di telapak tangan Eza. Ia juga masih bisa mengingat wajahnya yang kembali bahagia saat Eza mengusap kepalanya dengan lembut dan memaafkannya.


“Waah! Lihat! Bunganya cantik!”


“Iya, kamu benar. Bunganya terlihat sangat cantik.”


Sambil menikmati aroma harum dan kecantikan dari bunga secara berdampingan, Eza dan gadis tersebut kembali melanjutkan obrolan santainya.


“Jadi kamu mau pergi?”


“Saat aku sudah dewasa nanti, ya. Aku ingin melihat dunia lebih luas seperti yang ayahku ceritakan kepadaku. Banyak orang yang berbeda yang bisa aku temui. Kalau bisa, aku juga ingin belajar yang bukan di sini.”


“Waaah! Eza hebat! Kamu sangat pintar dan bisa melakukan apapun, ya.”


“Hehe, tidak benar, kok. Kamu juga bisa!”


Gadis itu merasa sedih ketika mendengar angan-angan masa kecil Eza, tapi juga sekaligus menerimanya dengan kagum dan memberikan pujian kepada Eza.


Eza sungguh merasa bahagia ketika gadis di sebelahnya itu memujinya dengan tulus. Hal itu juga menjadi motivasinya untuk terus meningkatkan skill, mulai dari nilai akademis, hingga sesuatu yang praktikal seperti olahraga dan musik.


“Aku juga ingin sepertimu~”


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita berjanji untuk bertemu di masa depan. Di masa kita sudah mengenal banyak orang yang beragam.”


Gadis itu tersenyum lebar dan luapan kegembiraan tidak dapat terelakkan. Dia menjadi semangat dengan matanya yang berbinar-binar dipenuhi cahaya harapan.

__ADS_1


“Kalau begitu, aku akan berusaha untuk seperti dirimu!”


“Ya! Lakukan yang terbaik!”


Matahari sudah mulai terbenam. Mereka harus saling mengucapkan selamat tinggal saat waktu tersebut.


“Ah! Aku harus pulang sekarang.”


“Aku juga.”


“Kalau begitu, sampai jumpa nanti, Eza!”


“Ya, sampai jumpa lagi ....”


Namanya ... Siapa namanya? Kalau tidak salah ... Ah! Aku ingat sekarang! Dan namanya adalah ... JOHN CENA!


Gedebukk!


“GuHOOOH!”


Tiba-tiba saja, ada hantaman yang dahsyat mendarat di perut Eza, membuatnya terpaksa bangun dengan mual.


“Goho! Guhoo!”


“URYAAAAA! SELAMAT PAGIIII!!!”


“Apa yang kamu lakukan, idiot!”


Setelah berhasil mengatur kondisi tubuhnya, Eza memelototi Rena yang sedang menahan beban kepala dengan sikunya di perut Eza. Rena yang berpose santai setelah melakukan hantaman super seperti yang dilakukan oleh petinju profesional di atas ringan.


“Memangnya kamu tidak bisa melihatnya? Aku membangunkanmu dari tidur.”


“Oh, ayolah. Apa yang kamu tidak suka dari itu?”


“Semuanya! Semua dari itu! Pagi-pagi kamu sudah buat aku kesakitan dan merasa mual! Minta maaf, kek!”


“Eh? Bukannya dibangunkan oleh adik perempuan dengan cara ditindih seperti ini merupakan impian seluruh cowok di dunia.”


“Kamu mengatakan itu seakan-akan hal seperti itu sering terjadi. Cepat bangun!”


“Boo. Kamu enggak asik.”


“Kalau asik berarti harus mati, mending aku jadi orang yang suram saja.”


Rena mengerutkan alisnya dan membuat ekspresi cemberut. Dia menggerutu sedikit, tapi tiba-tiba ekspresinya segera berubah seolah-olah mendapatkan pencerahan dan menepukkan kedua tangannya.


“Jangan-jangan ... Kamu itu suka dibangunin dengan cara yang lebih romantis? Seperti aku yang terus membisikkan sesuatu di telingamu dari samping tempat tidur sampai bangun?”


“ ... Bukannya itu bakal jadi adegan horor yang menyeramkan?”


“Eh~ ... Kalau gitu, jangan-jangan kamu lebih suka yang lebih berani? Aduh, kakak me. Sum!”


“Siapa yang kamu bilang mesum! Membayangkannya saja sudah membuatku merinding, tahu!”


“Kamu ini ... Aku jadi tidak punya cara lain untuk membangunkanmu dengan cara itu.”


“Apa yang kamu maksud dengan ‘cara itu’? “


“Apa kamu menantikannya? Duh, dasar kakak ma. Ni. Ak!”

__ADS_1


“Aku enggak tahu apa yang kamu maksud, tapi aku bakal mengurungmu di kamar mandi nanti ... Terlebih, sampai kapan kamu mau menindih perutku dengan sikut tajammu itu. Cepat minggir!”


Eza memelototi Rena yang sudah membuat keributan di pagi hari. Rena menghela napasnya seakan-akan telah meninggalkan kebahagiaan.


“Haaa ... Astaga.”


Eza bangun dari kasur dan pergi ke luar kamar menuju kamar mandi. Dia memikirkan mimpi yang baru saja ia lihat. Mimpi yang berulang kali selalu muncul dalam tidurnya dengan adegan yang 100% sama tanpa ada kesalahan. Ketika dia bertemu dengannya, semangatnya untuk belajar selalu ada karena janji itu. Janji yang dibuat bersama gadis itu.


Mungkin Eza sudah jatuh cinta dengan gadis itu. Tapi, dia sama sekali tidak bisa mengingat nama dan wajahnya.


“ ... Haah.”


Apa? aku memang payah.


Eza mengejek dirinya ketika melihat wajahnya yang sudah ia basuh dengan air. Ia bisa melihat wajahnya sendiri dan merasa kesal tanpa alasan.


Dirinya selalu berpikir, kalau dirinya tidak melepaskan tanggung jawab miliknya saat itu, apakah dirinya masih bisa menjadi orang yang sama? Atau orang yang berbeda dengan kepribadian yang lebih baik? Semuanya terus ia renungkan saat mimpi dengan gadis itu muncul.


Sekarang Eza sudah sangat sadar bahwa tugasnya dahulu yang seharusnya untuk dirinya, tugas itu dialihkan kepada Rena. Meski Rena memiliki banyak hal untuk dilakukan, tapi Rena hanya tersenyum hangat kepada Eza dengan polos.


Sampai saat ini, Eza masih bergelut dengan pikirannya, mengenai dirinya dan juga hal-hal terdahulu yang ia tidak ingin jalani dan terus lari dari semua itu.


Dasar payah ...


Sekali lagi, Eza yang melihat pantulan wajahnya di cermin mengejek dirinya sendiri, lalu pergi ke luar dengan perasaan campur aduk.


“Apakah milikmu sudah bisa dijinakkan?”


“Mati aja sana!”


Baru saja Eza keluar dari kamar mandi, Rena yang sedang duduk di meja ruang tamu mengucapkan lelucon jorok tanpa rasa malu.


“Dengar, ya. Kamu itu seorang gadis, jadi tolong jaga ucapanmu baik-baik seperti kamu berakting di sekolah.”


“Aku pikir setelah belasan tahun tinggal itu bukanlah hal yang aneh. Bukankah itu akan menjadi kenangan yang indah?”


“Dari mana kamu dapat pemikiran yang menyimpang itu?”


“Bukannya sudah jelas? Semua yang berhubungan dengan po—“


“Baiklah, baiklah hentikan!”


Walau sudah berkali-kali diperingatkan, Rena hanya akan mendengarnya dari kuping kanan lalu mengeluarkannya lagi dari kuping kiri.


“Sudah, sudah, ayo duduk di sini. Adik imutmu ini sudah membuatkan sarapan, nanti dingin.”


“Ya.”


“Makan yang banyak ya, Kak. Soalnya habis ini aku ingin pergi ke mall.”


“Heee~”


“Kamu juga ikut.”


“Aku tidak mendengar tentang ini.”


“Aku tidak menerima penolakan.”


Eza hendak memprotes kelakuan adiknya itu lebih lanjut, tapi setelah ia menyuap sarapan yang dibuat oleh adiknya, ia terlelap dengan kenikmatan dan melupakannya.

__ADS_1


__ADS_2