Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Sungguh ... Insiden Yang Mengerikan


__ADS_3

“Aku rasa begitu … Yang standar juga penting, kan?”


“Oh, apakah kalian juga memesan menu yang sama? Kalau begitu, aku juga akan memesan menu yang sama juga.”


Paling tidak, Eza sudah mengulurkan bantuannya. Meski begitu, Eza merasa nyaman dan tidak nyaman pada saat yang sama, ia berkeringat dingin pada tatapan cowok-cowok di sekitarnya.


Terutama tatapan cowok yang seumuran dengannya. Tatapannya menyiratkan bahwa Eza adalah musuh bebuyutannya.


Namun, bila mengesampingkan keadaan yang sebenarnya, Eza sudah merasa bahwa cepat atau lambat hal ini akan terjadi. Seperti yang ia duga, banyak cowok yang menganggap Eza sedang menggandeng dua kembang cantik di tangannya.


Apalagi itu bukanlah sembarang kembang. Keduanya adalah gadis cantik di tingkat di mana mereka akan cepat mengangguk jika mereka menyandang gelar “Dewi Yang Turun dari Khayangan”.


Yah, untuk dapat mengembalikan tatapan pertemanan antara cowok, aku sudah merencanakan satu gerakan yang akan membuat semuanya bahagia.


Seperti yang diucapkan Eza, ketika para cowok terus mengawasi dirinya dan mulai fokus terhadap percakapan dua gadis tanpa membawa Eza ke dalam obrolan, Eza mulai menggeser tas belanjanya sedikit keluar dengan kakinya. Melihat itu, mereka setuju bahwa Eza bukanlah laki-laki penting dan rasa penasaran di dalam warung mulai memudar.


Adegan berdarah yang tidak jadi dimulai itu kembali ditutupi oleh kedatangan karyawan yang membawa makanan mereka.


“Terima kasih telah menunggu~ Ini adalah tiga bakso air mata ibu!”


Yuuki yang baru saja melihat tampilan dari bakso yang baru saja tiba itu keceplosan, “Uuh!”, Dan menjauhkan badannya ke belakang.


Selain dampak visual yang mengesankan dari sup merah padam kental, yang terlihat seperti tangisan seorang ibu dan siksanya untuk anak yang durhaka, uap yang mengepul tampaknya juga menstimulasi selaput lendirnya.


Sedangkan, dua saudara kandung yang sudah terbiasa dengan makan makanan pedas, mengambil sendok dan garpu mereka dengan senyum lebar di wajah, sementara Yuuki sedang tersedak ringan saat ini.


“Kalau begitu, ayo makan sebelum kuahnya menjadi dingin dan mie-nya melebar.”


“Ya.”


“… Ka-kamu bbenar”


Mereka bertiga lalu mengatakan “selamat makan” dengan Yuuki yang mengucapkannya dengan Bahasa Jepang berbarengan. Eza dan Rena menyantap bakso di depan mata mereka tanpa ada sedikitpun ragu. Sementara Yuuki menyendokkan baksonya dengan gugup.


“Nnn! Enaknya! Benar-benar lezat!”


“Ya, benar. Benar-benar sesuai namanya. Rasa sakit di lidah sangat menggambarkan rasa hati sang ibu saat menangis.”


Kakak beradik itu menyeruput kuah dengan puas sambil memberikan penilaian mereka. Kini, Eza menoleh ke sebelah kanannya dan mengintip kabar Yuuki …


“…”


Di sana, dengan seluruh tubuhnya yang menjadi kaku dan matanya yang terbuka lebar dibarengi air mata yang sedikit-sedikit mengalir, Yuuki terus mengunyah tanpa berkedip. Kedua tangannya terkepal di atas meja dengan kekuatan yang menakutkan dan tidak biasa.


“… Iroha, kamu baik-baik saja?”


“… Mmm, ya, ini … enak.”


Yuuki menelan apa yang ada di dalam mulutnya, dan kemudian ia akhirnya berkedip lagi dan menunjukkan ekspresi meringis.


Eza mengulurkan box tisu sambil merasa tercengang sekaligus terkesan kepada Yuuki, karena sudah berpura-pura menjadi tangguh hingga saat ini.


“Lebih baik kamu menyeka terlebih dahulu bibirmu dengan tisu setelah setiap menyeruputnya, oke? Bibirmu bisa membengkak karena itu.”


“… Terima kasih.”


Setelah melihat Yuuki dengan patuh mengusap bibirnya, Eza mulai kembali memakan baksonya.


Ya, ini benar-benar lezat. Setiap aku memakan bakso dan menyeruput kuahnya, rasa pedas yang gurih langsung memenuhi mulutku. Kepedasannya memang membuat sakit dan berkeringat. Meski begitu, rasa pedasnya memunculkan rasa bahan rempah-rempah yang dipakai dan terus merangsang mulut dan perutku untuk terus menyantapnya.


“Ya, ini memang lezat.”


Eza menghembuskan napas puasnya. Sedangkan di sebelahnya terdengar suara merintih yang masuk ke dalam telinganya.


Dari sisi kanannya, Eza dapat mendengar keluhan yang menyedihkan. Ia lalu melirik sekilas ke arah Yuuki, ia bisa melihat tangannya berhenti untuk menyendok.


Yuuki yang menyadari tatapan Eza, seolah terdorong karena itu, ia kembali menggerakkan tangannya untuk bisa menyendok bakso miliknya.


“Baiklah, Iroha. Kamu tidak perlu memaksakan dirimu, oke?”

__ADS_1


“Apaan, sih? Aku sudah bilang kalau rasanya enak, bukan?”


Kamu yakin bilang kayak gitu sekarang?


“Tidak … maksudku, ya. Aku mengerti.”


Eza penasaran apakah dia akan baik-baik saja, tapi ia sendiri tahu tidak ada gunanya menyuruh Yuuki berhenti sekarang. Dengan pemikiran seperti itu, Eza memutuskan untuk tidak mengkhawatirkannya lagi.


Tapi apa yang mengejutkan adalah, saat sedang ingin kembali menyantap bakso miliknya, Eza justru mendengar …


“Tolong ....”


Suara di sampingnya yang Yuuki gunakan dalam bahasa Jepang sampai ke telinga Eza.


Tapi meski begitu, ia tetap mencoba untuk tidak mempedulikannya.


“Siapapun ….”


Suara yang lemah itu terus menusuk hati Eza. Namun ia harus tetap kuat.


“Mamah ….”


Sampai ketika Yuuki mulai bergantung kepada ibunya, Eza kembali menengok keadaan Yuuki.


Ah, gawat. Pupil matanya mulai membesar.


Yang mengejutkan, meski sudah sangat menderita, ekspresi wajah Yuuki tetap tidak berubah.


Ini tidak ada gunanya. Bagaimana aku bisa diam melihat dia menderita dengan bayangan kematian yang terpampang jelas?!


“Iro—”


Tepat ketika Eza mulai ingin menghentikannya, Rena tiba-tiba memanggil dari sisi lain.


“Bagaimana rasanya, Iroha?”


Mata Yuuki, yang awalnya seperti ikan mati, mulai berubah karena tergoda oleh suara saingannya dan tiba-tiba menjadi fokus.


“Ya, ini enak.”


“Aku sangat senang mendengarnya. Aku sangat senang kalau kamu juga menyukai makanan pedas.”


Yuuki menunjukkan senyum yang sangat buas dan mengerikan serta buas, sedangkan Rena hanya tersenyum polos. Dan kemudian, dengan senyum yang polos itu, dia mengulurkan botol kecil kepada Yuuki.


“Kamu tahu, di tempat ini kamu bisa menambah rasa pedasnya sesuai yang kamu inginkan dengan ‘Air Neraka’ ini. Jika Iroha tidak keberatan, maukah kau mencobanya?”


Tolong hentikan! Hidup Iroha sudah berada di ujung tanduk!


Sambil berteriak di dalam hatinya, Eza berbalik ke arah Rena. Dan saat ia melakukan itu, ia baru menyadarinya …


Dengan senyuman yang polos, di kedalaman matanya, Rena menyimpan tatapan sadis.


Gadis ini! Kamu tahu apa yang kamu lakukan?!


Eza bergetar ketakutan. Dari sampingnya, sebuah tangan putih terlihat mengambil sebuah botol kecil yang disodorkan Rena.


“Ooh. Juga, hanya dengan beberapa tetes saja, rasanya akan meningkat sangat-sangat enak, lho!”


“Tunggu sebentar, Iroha! Menurutku lebih baik kamu berhenti sekarang, oke?!”


Tidak menghiraukan peringatan Eza yang benar-benar mengkhawatirkannya, Yuuki membuka botol tersebut dan menuangkan cairan merah dari dalam. Dia menebarkan itu di atas mangkuk baksonya dan …


“!!!!!”


Hanya ada suara teriakan Yuuki yang terpendam memenuhi ruangan itu selama beberapa saat.


...****************...


Setelah itu, Yuuki yang benar-benar berubah menjadi pendiam, pulang bersama Rena dan juga Eza.

__ADS_1


Suasana hatinya bahkan belum pulih bahkan saat mereka menaiki kereta. Mungkin karena mempertimbangkan apa yang telah terjadi hari ini, Eza dan Rena memainkan smartphone mereka dalam tanpa berbicara apa-apa.


"Sampai jumpa hari senin, Iroha."


"Hari ini sangat menyenangkan. Kapan-kapan, ayo pergi bersama kembali, oke?"


"Ya, sampai jumpa."


Tak lama kemudian, Eza dan Rena turun dari kereta duluan. Setelah Yuuki melihat sosok mereka yang menghilang di stasiun, tubuhnya langsung lemas di kursi kereta.


"Tak bisa dipercaya."


Mengingat kembali kebodohan mengekspos (menurut standar dirinya sendiri) dirinya tadi, dia merasa ingin mencari lubang dan bersembunyi di dalamnya.


Dengan baju yang terbuka waktu itu ... Aku benar-benar tampil seperti gadis vulgar.


Dia membenamkan wajahnya pada kantung kertas yang ada di pangkuannya, dan untuk sesaat, Yuuki dilanda rasa malu dan penyesalan.


"Uhh ... Lidahku juga sakit. Sepertinya sudah mati rasa ... Aku ingin makan es krim ...."


Dia mengoceh seperti itu dan membuat suaranya sekecil mungkin agar tidak didengar oleh orang lain. Nadanya yang sudah pasrah dan lemas benar-benar mencerminkan Yuuki sudah dipukul sampai K.O oleh kepedasan yang luar biasa.


Namun ... dia tiba-tiba menyadari sesuatu yang aneh.


"... Hah?"


Ya, ada yang aneh. Kenapa mereka berdua, barusan, turun di stasiun yang sama? Yuuki yang masih membenamkan wajahnya dibuat penasaran.


Rumah Eza dan Rena seharusnya berjarak tiga stasiun. Bila dipikirkan secara normal, mereka seharusnya tidak turun di stasiun yang sama.


"... Eh? Eh?!"


Artinya masih ada satu hal yang perlu dipertimbangkan. Mereka berdua masih belum berniat pulang. Tidak, bagaimana jika, mereka berencana untuk mengunjungi salah satu rumah dari mereka ...?


"Eeeh?"


Faktanya, dugaannya tepat sasaran. Karena rencana mereka untuk menonton film gagal total hari ini, Rena merengek untuk datang ke rumah Eza untuk bermain game dan menonton anime, serta menghabiskan waktunya dengan semua benda hobi otakunya.


Pasalnya, Rena tidak bisa membawa barang-barang otakunya ke rumhanya sendiri, jadi dia berencana untuk menikmati barang rampasan perang di rumah Eza.


Namun, keadaan yang normal yang seperti itu tidak diketahui oleh Yuuki.


"Meski hubungan mereka adalah teman masa kecil ... Seperti yang sudah kuduga, hubungan mereka berdua memang ...?"


Keraguan mulai muncul di dalam dadanya, tapi entah bagaimana caranya, dia berhasil menekannya.


Tidak. Mungkin masih ada toko lain yang masih mereka ingin kunjungi.


Setelah meyakinkan dirinya sendiri ... tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia teringat kalau Rena mengatakan orang yang berpacaran saat ini, tidak lagi menggunakan baju berpasangan sebagai identitas. Berangkat dari sana, Yuuki lalu mengeluarkan ponselnya.


Kalau dipikir-pikir kembali, Rena tidak menjelaskannya lebih rinci.


Yuuki lalu mengetik di kolom pencarian dengan keyword "Apa yang dilakukan orang berpacaran saat ini" dan membaca seluruh pencarian yang tersedia. Tapi kemudian ...


"Apa—!?"


Jeritan anehnya tiba-tiba menarik perhatian penumpang lain yang ada di sekitarnya, tapi Yuuki tidak mempunyai waktu untuk mempedulikan itu. Karena dia terlalu terkejut dengan informasi apa yang ditampilkan di ponselnya.


Dari sekian banyak informasi yang sering dilakukan oleh pasangan normal, mata Yuuki tertuju pada tulisan "berhubungan" dengan potongan gambar laki-laki dan perempuan.


Mereka berdua saling berhadapan di depan ranjang, dengan sang cewek tersenyum malu-malu dan si cowok telanjang dada.


"Eeeh? Eeeh? Eeeeeeeh!?"


Perasaan gundah yang ia tekan tiba-tiba kembali mencuat ke permukaan dengan cepat.


Si cowok dan gadis di gambar itu dengan cepat diubah oleh wajah Rena dan jug Eza di kepalanya, dan dia buru-buru menyangkalnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi~~~~~!?"

__ADS_1


Yuuki menderita karena keraguan yang tak terjawab di atas kereta yang terus maju perlahan.


__ADS_2