
Sambil merasa khawatir tentang hal apa yang akan terjadi nanti, alis milik Eza mengkerut memikirkan sesuatu yang lain soal Yuuki.
Belanja membeli pakaian … Bukankah sesuatu seperti cowok yang menemani seorang gadis memilih pakaian, lalu saling memberikan umpan balik, bukankah sesuatu yang seperti itu tidak akan terjadi jika tanpa keintiman yang cukup?
Eza menyadari bahwa situasi yang sedang ia alami saat ini sangatlah aneh. Bagaimana mungkin Yuuki dapat dengan tenang mengatakan “Ya, tidak masalah. Pendapat cowok juga diperlukan” lalu langsung pergi menuju ruang ganti.
Mengesampingkan soal Rena yang adalah adik kandungnya sendiri, Eza pikir cukup masuk akal untuk memberikan penilaian kepadanya meski sebenarnya, Rena juga sangat jarang meminta untuk itu. Jadi Eza seharusnya sudah menyadari bahwa sudah ada yang tidak beres sejak awal.
Namun yang dibicarakan adalah Yuuki. Eza dan Yuuki baru saja kenal kurang lebih satu tahun. Pertemuan pertama mereka tentunya adalah saat mereka di kelas dan menjadi tetangga di sana. Tetapi hal tersebut tidak dapat memperkuat hubungan di antara mereka berdua cukup dalam. Jadi sebenarnya Eza tidak mengerti apa makna dibalik tindakan Yuuki tersebut.
Sambil memikirkan itu dengan memikirkan kepalanya, Eza tiba-tiba menyadari sesuatu.
Rupanya begitu … Iroha tidak mempunyai teman yang cukup dekat dengannya sehingga dia bisa menemani Iroha berbelanja bersama, jadi dia tidak mengerti situasinya, ya.
Eza, yang wajahnya menjadi panas karena terlalu mengasihaninya, tiba-tiba mengangguk dan mulai menunjukkan ekspresi yang agak kasih sayang.
“Begitu, jadi begitu … Maka jika seperti itu akan masuk akal jadinya.”
Jika Rena saat ini berada di luar dan melihat Eza tiba-tiba bergumam seperti itu, Eza akan mendapatkan tatapan menjijikan karena mungkin telah salah memahami sesuatu yang sebetulnya tidak sepenuhnya salah.
Sementara itu di dalam kamar ganti setelah menutup tirai dan membiarkan Eza menunggu di depan, Yuuki memeriksa pakaian dengan cepat.
Yuuki mulai memilih-milih pakaian yang ia pilih dari toko pakaian, lalu melihat dan memperhatikan dirinya di depan cermin sambil sedikit bergaya.
Saat dia memperhatikan dirinya di depan cermin, tiba-tiba terbesit pikiran salah paham di dalam dirinya.
Tunggu … mengapa dia sempat ragu untuk memberikan penilaian terhadap pakaian apa yang aku pakai? Jangan bilang … Ia pikir aku tidak cocok dan tidak lebih baik dari Rena?! Dan itu sebabnya dia ingin memghindari menilai pakaianku? Jangan mengejkku seenaknya!
Dia mengembungkan pipinya saat mengingat gerak-gerik Eza yang ragu saat Rena menyarankan untuk memberi komentar terhadap pakaian yang akan dicoba oleh dirinya.
Pikiran yang salah paham itu entah muncul dari mana secara tiba-tiba. Mungkin penyebabnya adalah perilaku Eza yang menutup-nutupi dirinya di depan Yuuki, yang bersikap seperti Eza lebih mengetahui sesuatu daripada Yuuki.
Hal tersebut sudah Yuuki rasakan ketika ia tahu bahwa Eza dan Rena sebenarnya sangat dekat secara tidak disangka-sangka.
Sesuatu … asal ada sesuatu yang dapat membalas sikapnya ituuu!
Dia mengerang sambil memeras otaknya, mencari jalan terbaik membalaskan dendam kepada Eza. Dan sampai pada akhirnya, ia memutuskan sesuatu.
__ADS_1
Benar juga! Kalau sudah begini, aku akan memaksimalkan situasi menguntungkan ini dan memancarkan pesonaku agar kamu malu, dan membuatmu klepek-klepek kepadaku!
Di bawah tekad yang datang dan terlahir dari kesalahpahaman sepenuhnya ke arah berbeda yang tidak dapat dipahami, Yuuki mulai merasa sangat bersemangat dan mulai serius menyeleksi pakaian yang ia ambil beberapa dari etalase.
Pertama-tama … Yang ini!
Pilihan pertama yang ia ambil adalah gaun model one-pice berwarna putih yang sangat cocok di bawah matahari terik khas musim panas.
Jika yang ini, tidak mungkin akan gagal. Dan anak cowok lebih suka dengan sesuatu yang seperti ini!
Meski mempunyai tekad yang tinggi, sebetulnya Yuuki tidak begitu paham tentang selera cowok. Dia tidak menyadari bahwa dia bermain dengan risiko tinggi dan memilih pakaian sesuai informasi yang seadanya ia dapat. Walau datang dari kakak perempuannya, ia sendiri tidak yakin apakah itu akurat atau tidak.
Dan kemudian, saat ingin mengganti pakaiannya untuk berganti … Yuuki tiba-tiba menyadari sesuatu.
Bukankah ini adalah sesuatu yang tidak senonoh?! Dia bisa berpikiran aneh-aneh tentangku!
Saat ini, yang memisahkan dirinya dengan Eza hanyalah sehelai tirai. Apalagi ada sedikit celah di bagian bawah yang dapat menyaksikan kaki orang di dalam. Begitu dia menyadarinya, rasa malu menyelimuti Yuuki.
“Eza! Menjauhlah sedikit!”
Merasa sedikit lega setelah mendengar hal tersebut, Yuuki kembali menjadi gelisah karena ia tidak menyangka bahwa suara langkah kaki lebih jelas dari yang ia duga.
Eh? Bukankah jika seperti itu, suaraku saat berganti pakaian juga akan terdengar?
Entah bagaimana, dia merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang memalukan, dan mulai tidak bisa tenang. Dia terlalu fokus dengan hal antara cowok dan cewek. Ketika ia mengingat Eza sedikit kesusahan ketika dimintai penilaian, ia mulai sedikit meluruskan kesalahpahaman itu walau tetap dia berpikir Eza tidak ingin memberikan komentar untuknya. Tapi memikirkan malu seperti itu, sekarang sudah terlambat.
Yuuki merasa sangat malu sampai-sampai ia ingin melarikan diri dari situasi tersebut. Tapi harga dirinya tidak mengizinkan dirinya untuk melakukan hal itu.
Dia dengan tegas dan memaksakan dirinya menahan rasa malu dan mulai melepas pakaiannya dengan penuh tekad.
Mencoba tidak terlalu memikirkan keberadaan Eza yang berada di luar, Yuuki dengan cepat mengganti pakaiannya yang ia tahu sebenarnya tidak ada artinya, dan mulai memerhatikan dengan cermat untuk membayangkan situasi apa yang sedang terjadi di luar.
Sepertinya … oke. Situasi aman.
Yakin bahwa situasi sepenuhnya aman, sekali lagi ia berfokus pada cermin.
Sejujurnya, Yuuki terlalu fokus terhadap sesuatu yang tidak senonoh yang mungkin dapat di dengar oleh Eza. Kekhawatiran di dalam dirinya yang berlebihan tentang hal tersebut sebetulnya sangat tidak beralasan. Karena selama ia terlalu fokus dengan kekhawatirannya, di sebelahnya ada Rena, yang sejak dari tadi sudah mengeluarkan suara gemersik pakaian yang cukup terdengar, bahkan dari luar.
__ADS_1
Namun suara itu tidak dapat Yuuki dengar secara jelas karena terlalu memikirkan sesuatu yang berlebihan di dalam dirinya. Meski alasan Rena melakukan itu adalah untuk menggoda Eza untuk sedikit berkhayal tentang sesuatu.
Di sisi lain, orang yang menjadi inti kekhawatirannya, sedang menahan diri dari tatapan pengunjung di sekitarnya. Tatapan seperti berkata, “Oh, ada lelaki di sini, apa yang ia lakukan? Apakah menunggu pacarnya? Sangat jantan sekali~”, dan tatapan itu Eza balas dengan tatapan kosong sambil mencoba bertelepati, “situasi yang seperti ini akan membuat kalian terkejut. Kalian tidak akan menyangka yang akan keluar ada dua orang gadis …”, dan Eza mencoba menahan dirinya yang sebetulnya ingin lari dari situasi tidak nyaman itu.
Juga, Eza tidak menyadari suara berisik gemerisik pakaian yang sengaja dibuat oleh Rena, serta suara hati-hati yang dibuat oleh Yuuki.
Ya, ini terlihat sangat bagus. Kerja bagus diriku! Bahkan jika bisa aku mengatakannya, ini tidak buruk.
Dia memuji dirinya sendiri sambil berpose pada cermin di depannya.
Dengan rasa percaya diri yang tinggi itu, ia mulai sedikit membuat pose-pose imut yang bisa dirinya lakukan. Ketika sedang melakukan hal itu, tiba-tiba ia kembali merasa tidak nyaman.
Eh? Tunggu … Apakah aku benar-benar akan melakukan ini? Jika dipikir-pikir, bukankah ini adalah situasi yang tidak biasa terjadi antara cowok dan cewek?!
Telat menyadari situasi yang belum pernah ia rasakan, Yuuki mencoba kembali tegar pada dirinya dan menghapus rasa tidak nyamannya. Namun …
Tapi bagaimana jika dia tidak meresponnya? Dia tidak terlalu tertarik dan tidak menanggapi? Bagaimana jika ia hanya tertarik dengan apa yang Rena katakan dan menjawab acuh tidak acuh tentangku? … Jika itu benar terjadi, mengapa aku sangat kesal saat memikirkannya?
Yuuki merasa sedikit sedih, namun dirinya mencoba menahan meski kekhawatiran itu masih ada di dalam dirinya, sampai pada akhirnya Rena memanggilnya dari sebelah.
“Iroha, apakah kau sudah siap?”
Dipanggil secara mendadak, bahu Yuuki sedikit terangkat karena terkejut, “Eh?! Ya? Aku pikir?”
“Kalau begitu, kita akan keluar bersama-sama dalam hitungan ketiga. Apakah kau setuju?”
“Eh, ya?”
Tidak menanggapi jawaban sedikit bingung Yuuki, Rena langsung setuju dengan hal tersebut.
“Baiklah. Kalau begitu, Eza. Persiapkan dirimu.”
Sambil memberitahu Eza, Rena tersenyum di dalam ruang gantinya lalu mulai menghitung.
“Kalau begitu, satu … dua … tiga!”
Suara tirai terbuka dapat terdengar, dan Eza dapat melihat sesuatu yang mengejutkan.
__ADS_1