
Friska mencari dan berkeliling ke mana-mana, dan mencoba dengan serius membeli barang-barang yang jelas-jelas tidak sesuai untuk ruang OSIS. Selain menjadi pembawa belanjaan, Eza melakukan yang terbaik untuk membuat segala sesuatunya tidak melebar kemana-mana.
Tidak bagus, orang ini terlalu bebas. Apa dia selalu seperti ini? Jika itu masalahnya, pasti cukup menyebalkan bagi semua anggota, ya?
Entah bagaimana Friska telah berhasil membeli item yang diperlukan, Eza benar-benar kelelahan secara mental saat mereka menuju ke toko teh terakhir. Sambil memenuhi perannya sebagai
pembawa belanjaan seperti yang sudah Ia nyatakan sebelumnya, Ia melihat ke arah Friska yang berjalan sambil memeluk boneka kucing di pelukannya.
Jangankan anak SMA, berjalan-jalan di pusat kota sambil memeluk boneka binatang tampaknya menjadi rintangan yang cukup berat bagi bocah SD, tapi anehnya, rasanya tidak terlalu aneh ketika Friska yang melakukannya. Seperti sangat cocok sekali.
Uhuh, ya … rasanya seperti, 'Hei boneka kucing, gantian tempat sebentar dong aku juga mau'.
Melihat kepala boneka kucing terjepit oleh bukit kembar membuatnya secara tidak sadar berpikir begitu ... Segera, Eza menggigil kedinginan saat wajah Yuuki yang menatap jijik seperti sampah muncul di benaknya.
Apa boleh buat ‘kan .... Jika ada sesuatu yang begitu menakjubkan terjadi di depan matamu, mana mungkin ada cowok yang takkan melihatnya. Karena itu salah satu sifat menyedihkan para cowok.
Eza meminta maaf kepada Yuuki yang ada di dalam kepalanya, membuat alasan dalam pojok hatinya karena suatu alasan.
“Tempatnya di sini, Eza~”
“Ya! Maafkan aku!”
“…? apa ada yang salah?”
“Tidak, umm, ya. Bukan apa- apa….”
Melihat Eza yang menundukkan kepalanya, Friska hanya membalas “Hmm ~?”, sambil memiringkan kepalanya dengan rasa penasaran dan pergi ke dalam toko.
“Umm, Kak Friska. Seperti yang diharapkan, biar aku saja yang memegangnya untukmu.”
“Aah, makasih ~. Kalau begitu, jaga baik-baik Iroha-nyan, ya ~? ”
"I-iroha-nyan ….”
Eza menerima boneka kucing dari Friska sementara wajahnya berkedut karena penamaan yang agak mengerikan.
... Tunggu, aku sudah memeganginya, tapi aku akan difoto!
Jika melihat ada gadis SMA memegangi boneka, tanggapan
orang-orang biasanya cuma memberikan senyum masam. Tapi beda lagi ceritanya jika ada cowok SMA yang memegang boneka, kamu pasti akan diperhatikan dengan seksama, tatapan yang sangat tajam dan juga tatapan cemoohan akan langsung menusuk jiwa dan raga. Ini adalah kasus di mana tidak melakukan kontak mata itu penting dan tidak mempedulikan sekitar. Tapi….
__ADS_1
“Ya ampun ~ itu benar-benar cocok untukmu ~”
“Selera macam apa yang kamu miliki, Kak.”
Eza penasaran, apa yang menarik hati Friska yang tersenyum begitu bahagia dan dari semua hal, mengeluarkan ponselnya dan mencoba untuk mengambil fotonya (mencoba untuk meninggalkan catatan).
“Katakan Cheese~”
“Nuh-uh, aku tak akan membiarkanmu, oke?”
“Eeeh ~ tidak ada salahnya ‘kan ~”
Eza dengan segera memblokir lensa kamera ponsel Friksa dengan tas belanja di tangannya. Di luar titik ini, Eza tidak lagi ragu- ragu untuk membalas sindiran Kakak kelasnya yang sudah bertindak jauh ini.
“Lihat, kamu mau mencari teh, ‘kan?”
“Aah, itu benar. Permisi, Tuan Pemilik Toko~ ”
Entah bagaimana berhasil menghindari difoto, Eza berdiri di sudut toko dan mengawasi Friska.
Friska sepertinya pengunjung reguler di toko ini, dan dia mencoba aroma daun teh sambil membicarakan sesuatu dengan
pemilik toko, yang sepertinya adalah kenalannya.
“Yah, aku tidak tahu apa-apa mengenai teh. Lagipula, aku jarang
meminum teh.”
Mungkin khawatir kalau Eza bosan menunggunya, Friska meminta pendapatnya tetapi Eza dengan sopan menolak tawaran dari kakak kelasnya tersebut.
Jika itu Rena, aku yakin dia bisa membahasnya dengan baik, terutama dalam situasi seperti ini.
Sebagai putri keluarga yang terkenal, Rena pasti memiliki pengetahuan yang baik tentang merek teh. Saat Ia memikirkan hal ini, sepertinya dia akan diizinkan untuk mencicipi teh yang dia minati. Lalu seorang karyawan wanita datang dari bagian belakang toko, membawa beberapa cangkir kertas yang diletakkan di atas nampan.
“Nnn ~ enak. Mumpung kita di sini, bagaimana kalau Eza ikut mencobanya juga?”
Usai menyicipi rasa dari salah satu cangkir kertas, Friska tersenyum lebar dan memberi isyarat kepada Eza. Situasi ini menyentuh hati dan juga jiwa raga Eza.
Ini-ini .... Peristiwa ciuman tidak langsung!
Suatu peristiwa di mana kamu dengan acuh tak acuh diberikan gelas atau botol minuman, yang isinya sudah dikonsumsi sebagian,
__ADS_1
oleh seorang gadis. Sebuah peristiwa yang menyebabkan banyak protagonis romansa komedi tersipu malu, dan memberikan sedikit kebahagiaan sebagai ganti banyak rasa malu!
Namun, aku berbeda.
Eza mengatakan hal tersebut di dalam hatinya untuk menandakan dia teguh terhadap pendiriannya.
Dalam acara semacam ini, Kamu akan kalah jika merasa malu;
Kamu akan kalah jika kamu ke-GR-an; dan aku sepenuhnya
menyadarinya. Ya, kamu harus cerdik di saat-saat seperti ini. Kamu
harus melalui ini dengan gaya!
“Baiklah kalau begitu….”
Dengan tekad seperti itu, Eza meletakkan tas belanjaan yang dibawanya dan dengan langkah yang stylish (menurut standar
diri Eza), Ia berjalan mendekati Friska—
“Ya, cobalah ini.”
“Terima kasssih!”
Dan karyawan wanita itu menawarinya cangkir baru, dan
Eza menerimanya dengan senyuman. Rupanya, dari awal memang disiapkan untuk dua orang. Ini benar-benar toko yang penuh perhatian dan murah hati. Namun, pertimbangan semacam itu tidak
terlalu disukai Eza.
Nuooooooooooo—– !! Ini ... bukan !! Aku seharusnya minum ... gelas yang itu !!
Eza menyesap teh dengan senyum terpampang sambil menderita di dalam batinnya.
“Gimana? Enak, ‘kan? ”
“Yessu, benar-benar enaksss!”
“Iya ‘kan~”
“Yessu, yessu”
__ADS_1
Eza menggeliat aneh di dalam batinnya. Beginilah bila otakmu dipenuhi dengan hal-hal otaku, yang tidak bisa membedakan antara kenyataan dan dua dimensi.