
“Aku pulang.”
Saat Yuuki mengucap salam dan membuka pintu kamarnya, smartphone milik Yuuki bergetar. Ia mendapatkan panggilan video dari kakak Perempuannya. Yuuki sempat sedikit menekan alisnya, namun ia langsung menjawab panggilan video kakaknya tersebut. Berbeda dengan Yuuki yang pada dasarnya tanpa ekspresi, kakak perempuannya hampir selalu Tersenyum sepanjang waktu. Bahkan sekarang dia masih tersenyum, seolah-olah sedang Menaburkan bunga yang tampak lembut dan dengan senang hati Menyambut adik perempuannya yang baru pulang sekolah.
“Sudah lama tidak berjumpa kembali ~, Yuuki.” Dengan senyuman menghiasi wajahnya, dari balik layar, dia merentangkan kedua Tangannya dan mendekati Yuuki—smartphone-nya— dan– kanan, kiri, kanan, dia Menciumi pipi secara berurutan dan sebagai pamungkas, dia Memeluk Yuuki—smartphone-nya— dengan erat.
Entah mengapa kakak perempuannya melakukan hal itu, tapi Yuuki yang melihat pemandangan itu tidak terlalu mempedulikannya seperti bukan hal yang aneh.
“Ya, sudah sangat lama, Kak.”
Untuk memisahkan dari pelukan kakak perempuannya yang penuh Gairah, Yuuki membalas ucapan rindu kakaknya dengan nada datar. Kemudian, kakak perempuannya Yang selama ini tersenyum hangat, menggembungkan pipinya saat Terpisah dari Yuuki.
“Ya ampun, padahal sudah kubilang untuk memanggilku ‘Onee-chan’ saat kita berbicara, ‘kan?”
“Tidak mau. Sudah terlambat untuk itu.”
Pipi kakaknya semakin menggembung besar saat menghadapi Tatapan dingin Yuuki. Sejak awal, meski keduanya memiliki darah Jepang, keduanya dibesarkan dengan budaya Eropa. Tidak ada panggilan khusus Untuk kakak laki-laki atau perempuan seperti “Onee-chan” atau “Nii-san” seperti dalam budaya bahasa Jepang. Entah itu kakak perempuan atau laki-laki, pada dasarnya mereka Akan dipanggil dengan nama mereka. Kakak perempuan Yuuki yang terlahir di Eropa, dan Yuuki yang sudah terbiasa dengan budaya Eropa juga mengikuti kebiasaan itu dan memanggil kakak perempuannya dengan nama panggilan, tapi kakak perempuannya sepertinya suka dipanggil “Onee-chan”, dan terus-terusan meminta Yuuki untuk memanggilnya seperti itu.
“Uuu … Yuuki terlalu judes…. ”
Begitu menyadari kalau ekspresi cemberutnya tidak berhasil, kakak perempuannya langsung memasang tampang menyedihkan dan Yuuki Menatapnya dengan tatapan heran. Ini bukan pertama kalinya hal Ini terjadi, tapi setiap kali kakak perempuannya menatapnya Seperti ini, dia merasa seperti telah melakukan sesuatu yang buruk.
Namun, apapun yang dikatakan, dia merasa enggan dengan cara Memanggil “Onee-chan”. Secara alami, mereka berdua merupakan Bersaudara dengan adik perempuan yang punya sifat tegas dan Seorang kakak perempuan dengan sifat yang seharusnya sangat dewasa, melihat kakak perempuannya menjadi terlalu santai membuat Yuuki merasa aneh.
__ADS_1
Yuuki lebih tinggi dari kakaknya dan usia mereka hanya berjarak Satu tahun. Sejak dulu, Yuuki lah yang harus menjaga kakaknya. Oleh karena itu, kesan Yuuki terhadap kakaknya sebagai “kakak Perempuan”-nya sudah lemah.
Lagipula, cara memanggil “Onee-chan” itu sendiri terdengar Seperti berperilaku mirip anak manja.
Setidaknya, jika memanggil “Nee-san”, Yuuki mungkin masih Mempertimbangkannya tapi, karena kakaknya berkata “Aku tidak mau cara memanggil yang begitu”, jadi mau tidak mau Yuuki tetap Menolak memanggilnya “Onee-chan”.
Memutuskan untuk tidak mengkhawatirkannya lagi, dia melepas meletakkan tasnya dan meregangkan badannya, dari balik layar, kakaknya mengedipkan Matanya dan memiringkan kepalanya. “… Yuuki, apa kamu sedang bad mood?”
“…Tidak juga?” Yuuki segera menunjukkan ekspresi ragu untuk menyembunyikan kekacauan batinnya. Namun, tampaknya tipuan seperti itu tidak berhasil pada kakaknya.
“Reaksi itu … seperti yang diharapkan, apa karena cowok itu lagi? Apa terjadi sesuatu dengan cowokmu? ”
Begitu kakaknya menunjukkan mata berbinar karena penasaran, Yuuki menuju kamar mandi sambil dengan perasaan muak. “Beneran, tidak terjadi apa-apa.”
Bahkan setelah itu, kakaknya terus mengikuti Yuuki seperti anak itik dan terus-menerus menanyakannya. Yuuki menyerah saat dia akhirnya menjatuhkan badannya ke kasur miliknya. Masih Dalam seragamnya, dia merebahkan dirinya dengan nyaman dan kakaknya, yang terus ngotot meminta Yuuki untuk berbicara, menatap santai dengan mata penasaran dari balik layar. Seolah-olah ini hal yang merepotkan, Yuuki membuka mulutnya. “Sungguh, itu bukan masalah besar … Kami baru saja bertengkar.”
“Hee ~~~ bertengkar!”
Kalau dipikir secara normal, kata tersebut bukanlah kata yang dibalas dengan nada riang, tapi entah kenapa kakaknya tampak gembira karena suatu alasan.
“… Apa?”
“Maksudku … fufuu, tak disangka Yuuki bisa bertengkar Juga, itu benar-benar tidak biasa, ‘kan. Apalagi dengan cowok.”
__ADS_1
“Yah, memang sih.”
“Begitu rupanya ~ cowok yang bisa menggerakkan hati Yuuki Akhirnya muncul, ya~”
“Apa yang sedang kamu bicarakan?” Yuuki mengerutkan kening ke arah kakaknya yang mengatakan sesuatu dengan makna lain. Kemudian kakak perempuannya membalas dengan sikap sok tahu.
“Kamu menyukainya, ‘kan? Si cowok itu.”
“…Haa?”
Ketika Yuuki mengarahkan tatapannya ke wajah kakaknya seolah Mengatakan “Orang ini ngomong apaan sih”, kakaknya menggeleng-Gelengkan kepalanya sambil berkata, “Yuuki sudah bisa bertengkar dengan cowok rupanya.”
“Aku tidak tahu apa kamu salah paham sesuatu, … hubungan Kami bukan seperti itu. Benar, kami …. ”
Adegan dari istirahat makan siang kemarin terlintas kembali ke Dalam benak Yuuki. Ekspresi terheran-heran, wajah Eza yang Mengatakan “teman”.
“Itu benar … Kami berdua hanyalah teman.”
Yuuki tersenyum sambil mengenang kenangan itu dan Menyatakannya dengan agak bangga. Ekspresi Yuuki sepertinya Mengatakan “Bagaimana dengan itu?”, kakaknya hanya menanggapi Dengan tatapannya yang menjadi lembut.
“Hmmmm~ , begitu ya … Tapi, bagaimana kalian bisa berteman, Yuuki? Bukannya kamu membenci orang yang pemalas atau tidak serius? ”
“Itu sih ....”
__ADS_1
Apa yang dikatakan kakaknya memang benar. Dan Eza Biasanya tidak termotivasi dan pemalas … Orang seperti itulah yang Dibenci Yuuki. Dan mengapa dia menerima Eza yang seperti itu sebagai Temannya. Yuuki teringat kembali pada kenangan masa lalu, yang Merupakan titik awal dari semua ini.