
Menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit menggunakan transportasi kereta, mereka berdua akhirnya sampai di pusat perbelanjaan terbesar.
Daerah yang mereka kunjungi memang terkenal akan banyaknya gedung-gedung pusat perbelanjaan, juga wisata perbelanjaan. Jadi, saat ini Eza dan Rena dapat melihat banyak sekali orang lalu-lalang membawa keranjang belanja, atau orang-orang yang menikmati jajanan pinggir jalan seperti es krim, yang memang cocok untuk dinikmati di siang hari.
Namun meski datang ke tempat pusat perbelanjaan yang ramai dan digemari oleh banyak orang, tujuan utama mereka bukanlah untuk berbelanja, melainkan menonton animasi Jepang di dalam bioskop yang ada di sana.
Berdiri di halaman pusat perbelanjaan, Rena menarik napas panjangnya dan mengeluarkannya dengan berat, menikmati aroma khas pusat perbelanjaan yang masuk ke dalam dirinya.
“Waaah! Aroma orang-orang normal sangat kuat di sini. Hey, Kak. Bukannya di dalam keadaan yang seperti ini kamu bakalan pusing dan minta izin pergi ke toilet?”
“Aku memang anak rumahan, tapi tidak separah sampai tidak bisa bersosialisasi. Lagipula, ada apa dengan topik yang mendadak itu?”
“Terus karena kamu kelamaan di dalam toilet, melihat dirimu yang menyedihkan dengan wajah yang pucat di depan cermin dan mengutuk dirimu sendiri karena payah, aku akhirnya dihampiri sama tiga laki-laki berotot dengan kulit coklat layaknya cowok pantai yang keren.”
“Oh, jadi kamu lagi cerita.”
“Mereka mengajakku untuk ke tempat karaoke. Mereka bilang ‘mau bersenang-senang dengan kita, neng?’ dan mengelilingiku hingga aku tidak bisa kabur.”
“Wah, bahaya banget, tuh.”
Rena menundukkan pandangannya ke bawah, dan memejamkan matanya sambil kedua tangannya dikepal sejajar dengan dada.
“Aku yang sedikit gemetar ketakutan dikelilingi mencoba membuat alasan, ‘maaf, tapi aku sedang menunggu seseorang’ sambil berharap mereka pergi.”
Eza yang melihat kelakuan adiknya mengeluarkan gerakan yang sedikit memalukan di depan umum itu, mencoba menahan diri dan memerhatikan lebih jauh lagi tindakannya yang sudah mulai sedikit nyeleneh.
“Mari kita dengar sedikit lagi.”
Rena yang masih bersikap dramatis langsung melanjutkan tanpa menghiraukan suasana di sekitarnya.
“Walau aku tidak menyukainya, mereka tetap memaksaku yang sedang sendirian ini. Mereka tersenyum lebar dengan ekspresi percaya diri mereka dan berkata langsung kepadaku, ‘ayolah, kita bisa temani kamu bersenang-senang. Sebentar saja untuk satu hari ini, kita bisa lebih membuatmu puas dari pacarmu itu’ dengan nada yang sedikit menggoda.”
“Bukannya situasi itu sudah gawat?”
“TAPI!!! Di saat itulah waktunya tiba! Sebuah kebetulan yang mengubah semuanya. Saat itu! Dan waktu itu juga!”
“Oh, jadi akhirnya aku sudah keluar dan mencoba menyelamatkanmu dari segerombolan penjahat? Aku bersikap keren dan akhirnya membuat mereka pergi menjauh darimu?”
__ADS_1
Rena yang mendengar perkataan Eza itu langsung menatap wajah kakaknya dengan kebingungan.
“Eh? Apaan sih yang kamu katakan? Mana mungkin kamu bisa kayak gitu. Jangan bikin acara lawak tiba-tiba, deh~.”
“Hah?!”
Eza yang merasa diejek oleh omongan adiknya menahan rasa kesalnya dan membuat ekspresi kesal, untuk protes kepada adiknya yang memasang ekspresi kesal kepada dirinya itu.
“Kamu masih tidak mengerti? Mana mungkin kamu bisa dengan percaya diri ngelakuin hal kayak gitu! Yang ada kamu memanggil petugas keamanan, kan? Jangan jadi sok keren, deh.”
Tidak ingin diejek lebih jauh oleh adiknya, Eza mulai menyerang balik. Tangan kirinya ia simpan di pinggang, dan tangan kanannya ia gunakan untuk menunjuk adiknya.
“Asal lo tau ya, Dek. Kakakmu ini pernah menyelamatkan satu gadis dari situasi yang berbahaya, tau.”
Mulut Rena terbuka mendengar pengakuan kakaknya yang tiba-tiba. Menurutnya, hal itu tidak mungkin dilakukan oleh kakaknya, sehingga Rena kembali menanggapinya dengan tertawa.
“Ahaha! Kamu itu harus pergi keluar, Kak. Jangan nonton anime terus.”
“Salah siapa coba? Kalau kamu tidak mau percaya juga tidak apa-apa. Tapi jangan nangis, ya.”
“Percaya diri banget kamu, ya. Biar kutebak! Pasti gadis itu, iya kan?”
Dengan senyum nakalnya, Rena menempelkan dirinya ke tubuh Eza, dan dengan tatapan yang seperti menggoda anak kecil, ia membisikkan sesuatu ke telinga Eza.
“Pasti gadis itu, kan? Kamu terlihat dekat sekali satu hari kemarin sampai-sampai sang gadis mentraktimu makan siang. Hey, cowok playboy~ apa yang sudah kamu lakukan kepadanya? Cepat beritahu aku~”
Meski digoda oleh Rena yang merasa penasaran tentang sesuatu yang tidak diketahui olehnya, Eza tidak ingin memberi perhatian ke arah sana dan mengabaikan sikap adiknya.
Eza menghiraukan kelakuan adiknya dan kembali berjalan menyusuri pusat perbelanjaan, meninggalkan Rena yang mengejar Eza dari belakang dengan ekspresi yang tidak puas di wajahnya.
“Kamu beneran enggak mau jawab? Boo~ jahat sekali kamu. Aku bakal nangis yang kenceng di sini!”
“Silakan saja, aku akan menonton filmnya sendirian.”
“Kamu seriusan ingin aku digoda oleh cowok lain?”
“Kenapa kamu bahas hal itu lagi?”
__ADS_1
Eza sama sekali tidak paham kenapa adiknya tiba-tiba membahas sesuatu yang acak.
Eza sudah terbiasa dengan tingkah laku adiknya yang membakar semangat di dalam tubuhnya hingga melebihi batas maksimum, ketika adiknya itu sudah membahas sesuatu yang berbau otaku.
Walau sering melakukan lelucon yang sama persis ketika berada di apartemen, Eza merasa sangat lelah ketika harus melakukannya di depan umum. Bukan sesuatu yang buruk, hanya saja Eza khawatir kalau tingkah laku mereka akan menarik perhatian dari banyak orang di sekitar.
Meski bukan masalah yang besar, Eza menginginkan setidaknya citra dia di depan umum cukup normal. Karena jika tanpa mengetahui hubungan kedua saudara kandung yang sebenarnya, orang-orang akan salah paham dan mengira mereka adalah sepasang kekasih.
“Lagian, ya. Kamu itu habis kecanduan apaan sampai-sampai menghayal digoda dengan cowok pantai?”
“Bukan sesuatu yang besar, kok. Hanya komik erotis dengan genre yang menyakitkan banyak orang.”
“Otakmu itu salah atau apa! Aku terkejut mendengar pengakuan polosmu itu!”
“Ah, ayolah. Kamu juga pasti pernah melakukannya, bukan?”
“Melakukan apa?”
“Col*”
“Berisik! Otakmu itu sudah salah! Ayo ke dokter sekarang juga!”
Tangan Rena langsung digenggam oleh Eza, yang mencoba menariknya keluar dari pusat perbelanjaan untuk mengubah rencana mereka dari menonton film, ke pusat terapi untuk membuat kondisi Rena normal kembali. Jika bisa, Eza menginginkan tipe yang lebih ekstrim agar hal-hal negatif yang dilihat Rena dihapus selamanya dari dalam otak.
“Hentikan! Aku itu masih normal!”
“Tidak ada gadis normal yang tanpa basa-basi mengatakan sesuatu yang jorok kepada kakaknya!”
Kepala Eza sudah sangat berat dengan situasi pagi-pagi yang rumit. Mendengar adiknya yang sudah terkontaminasi dengan sesuatu yang jorok, membuat Eza sebagai kakak merasa gagal untuk menjaga adiknya dari hal-hal yang aneh.
Mengingat Rena dikenal sebagai gadis yang elegan, ekspresi apa yang akan dikeluarkan oleh orang-orang ketika sudah melihat sisi sebenarnya dari sang adik. Memikirkannya saja sudah membuat Eza sedikit mual.
Setelah beberapa saat, mereka berdua akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengakhiri sandiwara mereka karena lelah, dan sepakat untuk kembali bersikap seperti biasa dan normal seperti kebanyakan orang pada umumnya, untuk berjalan menuju ke arah bioskop.
Namun belum sampai ke bioskop, di tengah-tengah keramaian pusat perbelanjaan, Eza membuka mulutnya.
“Ngomong-ngomong adik tercintaku.”
__ADS_1
“Ada apa kakak laki-laki kesayanganku?”
“Dari tadi aku melihat warna yang jarang di ujung mataku. Aku penasaran, apakah ada sesuatu yang salah dengan pengelihatanku?”