Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Aku Bukan Protagonis Harem


__ADS_3

Seperti biasanya, hari ini Eza terlihat sangat malas dan mengantuk. Namun, ada yang berbeda dari Eza dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Dia terlihat lebih memerhatikan pelajaran dari biasanya. Dia juga tidak terlihat membaringkan badannya ke atas meja seperti yang ia sering lakukan hingga menjadi kebiasaan.


Tidak ada yang spesial tentang perubahan itu. Ia tetap begadang untuk menonton anime kesayangannya, bangun telat dan datang ke sekolah dengan rasa kantuk yang berat yang membebani matanya. Hanya saja, yang membuatnya terlihat lebih semangat di jam pelajaran seperti sekarang adalah akibat dari kejadian saat jam belajar sekolah berakhir kemarin ....


“Mau pulang sekarang?”


“Ayo, lagian hari ini juga aku lagi kepingin main game di rumah. Naikin MMR sama rank biar bisa jadi jago.”


“Bukannya harus jago dulu baru bisa naikin MMR sama rank?”


“Karena udah jago dari lahir, yang namanya naikin angka gitu sih gampang banget. Tinggal sat set sat set dor beres.”


“Terus kenapa kamu bilang naikin rank biar jadi jago? Kalau mau nipu mending di kantin aja, ambil bala-bala dua bayar satu.”


Suasana ramai dengan pembicaraan hobi tentang game sudah menjadi pemandangan di kala sudah waktunya pulang sekolah. Adit dan Rizki yang tidak ada kegiatan klub hari ini semangat seperti siswa yang lain ketika jam sekolah sudah berakhir.


Eza yang sangat mengantuk hanya bisa mendengarkan ocehan mereka sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, dan setelah selesai, ia langsung mengajak duo gamer tersebut untuk keluar.


“Ayo, pulang. Semua bukunya udah beres.”


“Ok.”


Mereka bertiga lalu keluar dari gedung sekolah setelah mengganti sepatu dalam mereka dengan Eza yang selalu berada di posisi belakang, mengikuti Adit dan Rizki.


Setelah keluar dari gedung sekolah, dengan santai mereka pulang tanpa banyak berbicara. Mereka juga dapat melihat banyak siswa lainnya yang juga berjalan keluar dari sekolah untuk pulang, disertai dengan pemandangan indah dari langit sore. Tidak ada yang spesial mengenai pemandangan biasa yang bisa ditemukan di sekolah manapun—


“Masih kurang greget!!!”


... Tapi Adit yang sedari tadi berjalan seperti biasa, tiba-tiba berteriak memecahkan suasana hangat, sampai-sampai siswa lain mengalihkan pandangannya ke arah dia.


“Ngapain sih kamu tiba-tiba teriak gitu? Malu-maluin dilihatin orang, tahu.”


“Kamu ini lagi kesurupan setan sebelah mana? Kelas yang dulunya bekas rumah sakit Belanda?”


Eza dan Rizki yang berjalan bersamaan dengannya, menatap Adit dengan terheran-heran.


“Ini bukan tentang kesurupan! Emangnya kalian enggak bisa lihat keadaan sekitar?”


Eza dan Rizki yang mendengar ucapan Adit langsung melihat ke sekitarnya. Mereka melihat siswa lain dan juga klub yang sedang beraktivitas seperti biasa.


“Enggak ada apa-apa.”


“Biasa aja, tuh.”

__ADS_1


Namun baru saja Rizki mengatakan tidak ada yang aneh, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi serius seakan dia baru menyadari apa yang Adit maksudkan.


“Aku baru sadar ... Entah mengapa, aku bisa memahami perasaan Adit.”


Rizki mengatakan itu dengan nada yang sangat dramatis. Adit tersenyum lembut melihat temannya juga menyadari apa yang ia katakan. Sedangkan Eza hanya menatap mereka berdua dengan tatapan tidak tertarik.


“Pulang sekolah selalu bertiga, terlebih semuanya cowok ... Bukankan ini terlalu menyedihkan? Kenapa kita bertiga harus selalu pulang bareng di suasana yang bagus seperti ini? Harusnya masing-masing dari kita pulang menggandeng satu tangan cewek! Ya! Event pulang barengnya mana!?”


“Jangan heboh gitu juga kali. Semuanya masih ngeliatin kita.”


“Tidak! Maksudku siapa yang peduli? Semua orang juga ingin melakukan hal itu, bukan?”


“Semua orang yang kamu maksud di sini adalah mereka yang hidup dengan cara biasa, kan? Kita yang cuman otaku dan gamers jarang banget bisa bergaul sama gadis-gadis.”


“Haaa~ kamu masih berani ngomong kayak begitu, Eza? Kamu yang selalu dekat dengan dua gadis tercantik yang seangkatan dengan kita, masih mau bilang kamu itu bukan bagian dari orang-orang riajuu dan tidak dekat dengan gadis?!”


“Tidak. Apa sih yang kamu omongin?”


Dua gadis tercantik seangkatan yang dimaksud Adit adalah sang “Putri Salju” Yuuki, dan “Putri Elegan” Rena.


Dari apa yang dilihat Adit dari sudut pandangnya, Eza adalah seseorang yang beruntung karena dapat duduk bersebelahan dengan Yuuki. Sedangkan Rena, hubungan mereka sangat dekat karena mereka berdua adalah teman masa kecil yang sudah mengenal satu sama lain dengan lama. Dari sudut pandang Adit yang melihatnya, tentu saja Eza adalah orang yang sangat beruntung.


“Kamu jelas-jelas dekat dengan mereka berdua dan masih bilang kamu jarang bergaul? Apa kamu masih lupa dengan kejadian di kantin? Kita itu ngawasin kamu dari jauh dan kamu bisa dengan santai ngomong sama mereka! Cepat minta maaf!”


“Kampreeeet!”


Adit memasang pose seperti goku lalu membanting tasnya ke tanah. Eza yang menyeringai menyebalkan tertawa kejam di dalam hatinya.


“Kuuggh! Kalau gitu, cepet panggil mereka ke sini!”


“Apa sih yang kamu bicarakan?”


“Kalau kamu dekat mereka, pasti kamu sering berinteraksi dengan mereka, bukan? Panggil mereka ke sini!”


“Maksa banget jadi orang.”


Eza membuang napas berat melihat Adit yang kesal dengan perlakuan Eza.


“Asal kamu tahu saja, ya. Aku itu tidak punya nomornya Iroha. Juga, Rena itu tidak bisa selalu dihubungi karena dia itu gadis yang produktif. Lagian, kalau sudah aku panggil, kalian bisa apa?”


“Yah, kalau itu bisa dipikirkan nanti.”


Menyadari dirinya sendiri masih mungkin untuk tidak dapat berinteraksi sama sekali dengan kedua gadis, Adit kembali mengambil tasnya yang ia lempar ke tanah dengan lemas. Ia kemudian kembali berbicara.

__ADS_1


“Kalau dilihat-lihat lagi, walau sifat kamu gitu, luaran kamu cukup bagus. Kamu punya wajah tampan dan tubuh kamu tinggi. Dan jika kamu mau, bukannya kamu bisa dapat pacar dengan cepat?”


Mendengar pertanyaan Adit, Eza diam dan berpikir sejenak, “kalau dipikir-pikir untuk sekarang, aku tidak ingin punya pacar.”


“Kenapa? Jangan-jangan kamu sudah masuk ke dalam rabbit hole dan jadi pemuja 2D? Alasan kayak gitu udah basi, tau.”


“Bukan, bukan itu masalahnya ... Hanya saja aku merasa ingin sendiri?”


“Enak kalau kamu ngomong kayak gitu. Kita yang wajahnya hanya bisa dibilang pas dengan nilai KKM, berpikir seperti itu sangat sulit.”


“Aku pikir semuanya hanya masalah selera. Cepat atau lambat pasti ada juga yang menyadari betapa tampannya kalian. Untuk langkah awal, coba hilangkan dahulu sifat otaku kalian.”


“Saran yang berguna, tapi kayaknya kamu cuman ingin mengejek kita saja, kan?”


“Eh? Enggak, tuh. Buktinya apaan?”


Sejujurnya, di mata Eza, kedua temannya itu tidak terlalu buruk dari apa yang dibayangkan. Meski wajah mereka tidak tampan, wajah mereka bisa dikatakan cukup keren jika diberi sedikit sentuhan. Sifat mereka juga tidak terlalu buruk. Sebagai contohnya adalah Adit, dia mengikuti dua klub untuk bisa terkenal di kalangan gadis. Kegigihan luar biasa yang salah arah itu membuat kagum Eza.


“Lagian, kalian itu hanya kurang percaya diri saja jika berhadapan dengan seorang gadis. Kalian juga langsung lari ketika bertemu dengan Yuuki dan Rena di kantin waktu itu, kan? Yang kalian butuhkan hanyalah sedikit dorongan saja.”


“Kamu ada benarnya juga, sih. Lagian, kamu itu tidak menyangkal kalau kamu itu termasuk cowok sempurna.”


“Buat apa aku menyangkal diriku yang seperti ini? Bukankah itu sama saja dengan lari dari kenyataan? Sama seperti kalian yang tidak bisa mengatasi kegugupan saat bertatap dengan gadis.”


Eza mengangkat bahunya ketika dikatakan sebagai cowok sempurna. Walau tidak ingin orang tahu banyak tentang dirinya, Eza tidak ingin menyangkal apa yang sudah menjadi bagian dari dirinya. Terlebih, dia juga tidak dapat mengatur statusnya sendiri seperti kebanyakan game RPG.


“Kata-katamu semakin menyakitkan! Pilih yang benar, dong! Muji ya muji, kalau mau hina, hina sekalian! Jangan setengah-setengah!”


“Aku hanya mengatakan kenyataan. Sabar, ya.”


Adit sekali lagi menahan amarahnya lalu kembali berbicara, “kalau begitu, bagaimana kalau kita bermain kertas, gunting, batu? Yang kalah, harus menerima hukuman dengan berdekatan dengan seorang gadis!”


“Duh, malesin banget.”


“Cepat, Eza! Kertas, gunting, baaatu!”


Hasilnya saat mereka melakukan itu, Eza yang menunjukkan batu kalah telak oleh kedua temannya yang menggunakan kertas.


“Rasain, tuh!”


“Kalian mengatakan berdekatan dengan seorang gadis, lebih spesifiknya apa yang harus aku lakukan?”


Adit menyeringai jahat, “khusus untuk kamu, besok seharian kamu harus menuruti semua perkataannya Iroha!”

__ADS_1


__ADS_2