
Hasilnya, Eza tetap terjaga selama pelajaran berlangsung meski harus melewati beberapa jam neraka. Karena setiap kali Eza akan masuk ke alam mimpi, akan ada tusukkan di badannya dari orang yang duduk di sebelahnya.
Setelah pelajaran berakhir, akhirnya Eza mendapatkan waktu santainya. Tapi ia kemudian bingung menggunakan jam istirahatnya untuk makan siang atau tidur di kelas.
Saat ini dia benar-benar sudah sangat mengantuk, matanya sudah sangat berat untuk ia jaga. Hal itu ditambah dengan suasana kelas yang nyaman, serta angin yang berembus ringan membelai seluruh badan Eza. Di sisi lain, perutnya juga sudah merasa lapar. Bunyi meronta dari dalam perutnya bisa ia dengar dan akan sulit untuknya tidur. Ditambah, jika ia melewatkan makan siang kali ini, Eza akan kehilangan fokusnya selama jam pelajaran ke depan.
Semua pilihan rumit itu terus berada di pikiran Eza hingga ia mengerutkan alisnya.
“Ampun, deh. Kalau begini caranya akan sulit untuk istirahat.”
Eza menghela napasnya dengan berat. Sulit baginya untuk bertahan lebih lama lagi, terlebih pagi yang ia jalani dengan tusukan ujung pensil yang Yuuki luncurkan masih bisa Eza rasakan hingga ke tulang-tulangnya.
Tapi kemudian ia melihat ke arah jam dan memutuskan untuk memakai jam istirahatnya untuk makan siang. Bagaimanapun juga, ia harus tetap menjaga keadaannya dan terhindar dari tusukan-tusukan lainnya dari Yuuki.
“Lebih baik makan makanan super pedas agar bisa terus melek. Cabai adalah sumber energi, makanan pedas adalah bahan bakar tingkat lanjut.”
Sambil menggumamkan itu dengan senang, Eza bangkit dari tempat ia duduk untuk bisa pergi ke kantin. Namun baru saja ia berdiri, Yuuki datang menghampirinya dengan wajah lega karena masih melihat Eza berada di dalam kelas.
“Ah, Eza. Syukurlah kamu masih ada di sini. Apakah kamu mau ke kantin?”
“Ya, aku baru saja mau ke sana. Apa ada masalah?”
“Kebetulan aku juga ingin ke kantin. Bagaimana kalau kita berangkat ke kantin bersama?”
Setelah Yuuki mengatakan itu, orang-orang di dalam kelas yang awalnya sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka dan melirik tajam seperti video “The Rock” dengan efek suaranya ke arah Eza dan Yuuki. Eza yang mendengar ajakan Yuuki secara tiba-tiba itu juga tak kalah ikut terkejut. Selain terkejut, ia juga merasakan ancaman dari teman-teman di kelasnya dan membuat ia sedikit menggigil dan mengeluarkan keringat.
Irohaaa!!! Kenapa kamu melakukan ini?! Apa kamu tidak puas setelah menyiksaku dengan ujung pensilmu yang tajam itu!?
Eza berteriak di dalam hatinya untuk protes dan meminta ampun kepada Yuuki, tapi ia tidak dapat mengatakannya di hadapan semua orang, karena ia bisa menjadi bahan pukulan oleh teman-temannya sendiri dan berteriak “kenapa kamu meneriakki Iroha dasar otaku bodoh!” kepada Eza. Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
“Ada apa, Eza? Kenapa kamu diam? Apa ada masalah?”
Iya, ada! Lihat sekelilingmu coba?! Apa kamu enggak bisa liat banyak teman-teman kita yang tiba-tiba berubah menjadi pembunuh handal, hah!?
Seakan mendengar kata hati Eza, atau mungkin karena merasakan tatapan teman-teman sekelasnya, Yuuki lalu melihat ke sekelilingnya, dan saat ia melakukannya, seluruh orang yang menatap tajam tiba-tiba berubah kembali menjadi normal seakan tidak terjadi apa-apa. Setelah beberapa detik menatap, Yuuki mengembalikan pandangannya ke arah Eza dan saat itu juga, teman-teman sekelasnya kembali menatap tajam Eza.
Kampreeeeeeet! Awas saja kalian semua dasar karakter sampingaaaan!
Sekuat tenaganya, Eza berteriak mengumpat di dalam hatinya ke semua teman-teman sekelasnya yang sudah mengkhianati dia. Mental Eza sudah mulai terkikis saat ini. Pertama menjalani pagi yang penuh siksaan, di siang harinya ia menjadi target pembunuhan. Ia tidak membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan terus memikirkan beberapa skenario yang mungkin akan terjadi.
__ADS_1
“Hey, kamu dengar? Jangan diam saja. Jika kamu tidak mau maka bilang saja, tidak usah membuat alasan yang tidak perlu.”
Kesadaran milik Eza kembali setelah dirinya ditegur oleh Yuuki. Ia melihat Yuuki memasang ekspresi cemberut dan sedikit tidak senang di wajahnya. Saat melihat itu, Eza merasa sedikit sakit di dalam hatinya melihat ekspresi Yuuki yang seperti menyimpan banyak rahasia dan dengan itu juga, ia menerima tawaran Yuuki.
“Baiklah. Ayo kita pergi ke sana bersama.”
“Kalau begitu, ayo!”
Saat Eza setuju untuk pergi ke kantin bersamanya, Yuuki menunjukkan senyum cerah dan hangat. Ekspresi itu seakan-akan menghilangkan kalau sebelumnya memasang Yuuki memasang ekspresi yang sedih.
Selama ia menjalani hidupnya, Eza selalu tidak merasa tertarik dengan sekitarnya ia merasa semuanya terasa hambar. Tapi entah mengapa, Eza merasakan banyak emosi yang mendalam di balik ekspresi sedih Yuuki. Ekspresi yang sering ia lihat atau bahkan ia rasakan sendiri. Eza seperti merasakan perasaan yang nostalgia di dalam dirinya, dan hal tersebut menggerakkan dirinya begitu saja tanpa ia sadari.
Kemudian setelah Yuuki tersenyum kembali, Eza merasakan kelegaan di dalam hatinya. Ia merasa telah membuat keputusan yang benar, seolah-olah keputusannya itu dapat mencegah perginya orang lain dan selalu dapat ia genggam. Semua perasaan itu ia rasakan begitu saja dalam waktu yang singkat, dan Eza pergi ke kantin dengan berjalan bersebelahan dengan Yuuki, meninggalkan teman-teman sekelasnya yang masih menatap dengan tajam.
Setelah berjalan beberapa saat untuk pergi ke kantin, mereka lalu memesan makanan mereka.
“Eza, apa yang ingin aku makan?”
“Hm? Aku rasa aku ingin makanan pedas yang disediakan di menu hari ini.”
“Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak ingin makan yang lain?”
Yuuki yang mendengar jawaban Eza hanya menjawab, “Begitu?” lalu mengalihkan pandangannya ke arah yang bertugas di kantin, “hidangan pedasnya satu dan set makan siang nomor dua satu, tolong.”
Setelah menerima pesanan yang dipesan, Yuuki langsung membayar dua hidangan yang sudah di pesan dan melanjutkan untuk pergi mencari meja yang kosong. Eza yang melihat itu sedikit tercengang dan bergegas mengikuti Yuuki.
“Hei, tunggu!”
Eza terus mengejar Yuuki dari belakang dengan jalan cepat—karena tidak boleh berlari di area kantin—yang sudah cukup jauh ke arah meja kosong yang sudah Yuuki temukan. Eza akhirnya dapat menyusul Yuuki setelah dirinya sudah duduk di meja yang sudah Yuuki incar.
“Duduklah, Eza. Kamu mengganggu murid lain.” Ucap Yuuki sambil menaruh menaruh makanan mereka masing-masing di atas meja.
“Oh, kamu mau jadi kayak ketua Sylvia, ya? Hei! Tunggu, bukan itu maksudku! Mengapa kamu terburu-buru?”
“Jika tidak cepat, maka mejanya akan diambil orang lain.”
“Yah, aku tahu maksudmu. Tapi aku bisa membawa pesananku sendiri. Juga, berapa harga makanan milikku? Aku gantikan, terima kasih karena sudah membayarnya terlebih dahulu.”
“Tidak usah.”
__ADS_1
“Baiklah, tidak us—hah?”
Eza yang sudah mengeluarkan dompetnya dan segera mengambil uang di dalamnya, tiba-tiba terdiam mendengar jawaban Yuuki.
“Aku bilang tidak apa-apa. Cepatlah dimakan. Makanan akan terasa nikmat selagi masih hangat, bukan?”
“Tidak, Tidak. Ini bukan masalah tentang makanan hangat. Aku merasa tidak enak kalau kamu membayar makananku.”
Yuuki mengerutkan alisnya mendengar sikap keras kepala Eza yang tidak ingin mendengarkan apa perkataannya.
“Bukankah sudah aku bilang kalau tidak apa-apa? Aku merasa bersalah karena sudah menusuk badanmu menggunakan ujung pensil, karena itu aku mentraktirmu sebagai ucapan permintaan maafku. Juga, bukankah kamu harus mematuhi apa yang aku katakan selama satu hari ini? Jadi cepat nikmati permintaan maafku, ok?”
“Uh ... Baiklah.”
Eza tidak tahu apa yang sedang terjadi sekarang. Dia tidak pernah melihat Yuuki yang seperti ini sebelumnya, meminta maaf karena sudah menusuk-nusuk ujung pensilnya ke tubuh Eza dengan cara mentraktirnya makan. Perubahan yang drastis secara tiba-tiba membuat Eza tidak dapat mengikuti alurnya.
Saat Eza memikirkan keanehan yang sedang terjadi, Yuuki kembali membuka mulutnya.
“Sejujurnya, jika kamu tidak ingin melanjutkan hukumanmu aku tidak keberatan, kok. Jika kamu merasa terbebani dengan semua perintahku maka kamu bisa mengakhiri permainan hukumanmu.”
... Apa? Apa yang terjadi tiba-tiba!?
“Apa maksudmu?”
“Kamu merasa kesusahan selama jam pelajaran tadi, bukan? Aku tidak ingin perintahku yang aku ucapkan justru membuatmu menjadi beban. Maka dari itu, kalau kamu merasa sulit dengan semua itu, kita bisa berhenti sekarang.”
Apa yang Eza rasakan sekarang sungguh kacau dan tidak bisa ia olah secara jernih. Mulai dari perasaan aneh yang muncul saat wajah sedih Yuuki perlihatkan di dalam kelas, senyum Yuuki yang membuat Eza merasa lega, hingga sifat Yuuki yang tiba-tiba melembut, Eza sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Eza bukannya merasa tidak senang, sebaliknya justru ia merasa senang melihat Yuuki yang seperti itu. Tapi Eza sama sekali tidak mengerti mengapa ia merasa seperti itu.
Di saat Eza berkecamuk dengan pikirannya, Yuuki memecah konsentrasinya, “hey, apakah kamu mendengarkanku?”
Eza yang tersentak karena ucapan Yuuki dengan ekspresi juteknya, kembali sadar dan sedikit mengerti ...
“Tidak. Aku tidak ingin menjalani hukumanku setengah-setengah. Harga diriku sebagai lelaki akan dipertanyakan, tahu.”
“Kau yakin? Kalau begitu, nanti saat pulang sekolah bantu aku menyelesaikan tugas OSIS. Kerjakan yang benar, ok?”
“Baik.”
Setidaknya, dia merasakan sesuatu yang mungkin dulu sudah hilang, seperti datang kembali.
__ADS_1