Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Jangan Berakting


__ADS_3

Seperti yang Eza katakan, dia melihat sesuatu warna yang jarang ia lihat selama ia hidup. Warna yang dilihat oleh Eza hanya sekelabat mata itu hanya bisa dijumpai di negara-negara biru atau bersuhu dingin.


Bukan hanya itu saja, Eza juga merasakan perasaan yang tidak nyaman sejak tadi. Sebuah perasaan yang menghantui pikiran Eza yang nampaknya tidak akan berakhir dengan cepat, atau mungkin akan lebih lama sampai dia dan Rena menyelesaikan kegiatan mereka hari ini.


“Aku pikir bukan cuman kamu saja, Kak. Aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu rasakan.”


“Oh, jadi itu bukan imajinasiku saja. Aku anggap itu benar, karena sejak tadi kamu sudah mengubah modemu.”


Saat ini, Rena tidak lagi menjadi sangat aktif seperti pertama kali ia datang ke pusat perbelanjaan dengan Eza. Juga, gaya rambutnya yang pertama kali Rena kucir, ia biarkan bebas dan mulai menunjukkan mode putri elegannya. Meski dari cara bicaranya tidak berubah, perilakunya itu menunjukkan sesuatu yang hanya bisa ditunjukkan saat ia di sekolah.


“Apakah kamu baru menyadarinya?”


“Aku pikir begitu.”


“Fuuh ... Aku sudah menyadarinya jauh sebelum kamu, tahu?”


“Kamu serius? Sejak kapan?”


“Saat kamu mulai menjauhi diriku saat aku mengatakan sesuatu yang tidak bermoral.”


“Oh, bukannya itu cukup lama? ... Tunggu, kalau kamu tahu itu tidak bermoral, kenapa kamu tetap mengatakannya?”


Rena tidak menanggapi “omelan” kakaknya dengan serius, dan terus menatap ke arah depan dengan mata yang tenang layaknya seorang putri.


“Jangan pikirkan hal itu. Memangnya kamu tidak merasa kalau auranya semakin kuat?”


Disaat Eza disadarkan dengan omongan adiknya, Eza bisa merasakan sesuatu dari balik punggungnya. Ia sangat ingin mengetahui apa yang sedang dilihat oleh punggung miliknya. Karena tidak ada satu pun etalase toko di dekat mereka, Eza semakin dibuat penasaran.


“Nah, ini benar-benar tidak enak. Kamu tahu apa yang sedang terjadi?”


“Tentu saja, dengan jelas malah.”


“Mengesankan, bagaimana kamu mengetahuinya?”


“Tentu saja, itu karena aku memiliki indra keenam yang aku sembunyikan di dalam diriku.”


“Apa kamu serius ... Memangnya kamu tidak malu dengan apa yang baru saja kamu ucapkan?”


“Tentu saja aku malu dasar bodoh.”


“Jangan katakan itu dengan sikap eleganmu.”


Saat melakukan sandiwara yang tidak mereka perlukan sebenarnya, Eza memikirkan apa yang sebenarnya harus ia lakukan. Karena meski tidak dapat melihat apa yang dilihat oleh bagian belakang tubuhnya, firasat Eza mengatakan ada seseorang yang mereka berdua kenal. Terlebih itu diperkuat dengan sikap elegan Rena.


Nah, karena Rena sudah menyadari sosok yang mengikuti kita, seharusnya dia mengetahui siapa orang itu, bukan? Terlebih, Rena mengatakan bahwa warna silver dan putih yang aku lihat bukan imajinasi belaka.


Sambil memikirkan itu di dalam kepalanya, Eza juga memikirkan hal yang lainnya, yaitu cara untuk melakukan hal yang benar dilakukan. Namun tiba-tiba ...


“Ah—“

__ADS_1


“Ah.”


Wahaii adikku! Apa yang kamu lakukan?!


Eza berteriak di dalam hatinya terhadap tindakan mendadak adiknya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Eza harus berpura-pura mengikuti skenario adiknya.


Rena dengan santainya membalikkan badannya dan dengan keadaan yang aneh, kedua mata mereka bertemu satu sama lainnya.


Meski terdengar terkejut, Rena memainkan perannya sebagai orang yang tidak mengetahui situasi dan seakan-akan dirinya tidak mengetahui siapa yang mengikutinya.


Mengikuti sang adik, Eza mulai berbalik dengan kebingungan yang dibuat-buat, “Ada apa, Rena? ... Ah—“


Eza sendiri merasa ragu dengan aktingnya apakah ia dapat melaksanakannya dengan baik atau tidak, namun sepertinya lawan bicaranya tidak terlalu menaruh perhatian untuk itu.


Dia berdiri mematung sambil menahan rasa terkejutnya, berusaha menahan keluarnya keringat seminim mungkin, dan menstabilkan getaran grogi badannya. Tanpa alasan juga, matanya saling menatap dengan mata Rena dengan wajah yang sama-sama sedang bertahan menahan akting mereka.


Setelah beberapa saat terjebak dalam kondisi kontes saling menatap, otaknya mulai merespons untuk dapat keluar dari situasi yang aneh itu.


“O-oh ... Umm ... Kebetulan sekali, ya. Sejak beberapa saat tadi aku sebenarnya sudah menyadari kalian, tapi aku ragu untuk menyapa.”


Hati kedua bersaudara selaras mengucapkan “oh, jadi dia mengakuinya.” Di dalam hati mereka. Tapi mereka tidak menunjukkan itu di wajah mereka.


Meski begitu, Eza sangat merasa aneh dengan situasi settingan yang dibuar oleh adiknya. Sedangkan Rena, adiknya sendiri, yang sudah jatuh dalam mode elegannya mengangguk dengan santai dan tersenyum lalu menjawab, “begitu, ya. Kebetulan sekali.” Tanpa ada rasa canggung.


“Ya, sangat kebetulan sekali kita bisa bertemu.”


“Lalu, apakah Iroha ada urusan sampai-sampai datang ke sini?”


“Aku mengerti.”


Rena mengangguk paham sebagai sesama wanita untuk pergi berbelanja di hari libur dan sangat dimaklumi. Terlebih, pusat perbelanjaan tidak hanya menjual pakaian saja, para gadis bisa bersenang-senang di dalam sini karena mereka menyediakan berbagai macam hal.


“Apakah Rena juga ada urusan datang ke sini?”


“Ya, aku hanya pergi untuk mencari udara segar? Sedikit berbelanja tidak ada masalah dengan itu.”


“Kau lakukan itu berdua dengan ... Eza?”


Yuuki melirik ke arah Eza yang memasang wajah aktingnya, menahan rasa tidak nyaman yang sedang melanda pikiran dan tubuhnya. Dengan tambahan lirikan Yuuki yang dingin, hal itu membuat kondisi Eza semakin tertekan.


“Apa ada masalah dengan itu?”


“Ya ... Kalau kamu bertanya kepadaku ...”


Dengan saksama, dari bawah ke atas, Yuuki menatap Rena dan Eza bersamaan. Matanya menangkap warna bawahan yang Eza dan Rena kenakan sama, begitu juga dengan pakaian yang mereka kenakan. Kemeja kotak-kotak yang modis mereka kenakan bersama-sama.


Dengan semua citra yang ditangkap itu, otaknya mulai merajut satu kesimpulan.


Apakah mereka berdua memiliki hubungan khusus yang spesial?

__ADS_1


Saat kesimpulan itu muncul di dalam kepalanya, wajah Yuuki sedikit berkedut.


“Jika hanya kalian berdua ... Apakah mungkin kalian berdua ini sedang melakukan ... Kencan?”


Rena dan Eza yang mendengar itu langsung saling bertatapan dengan diam selama beberapa saat. Yuuki yang tidak segera mendapatkan jawaban mulai sedikit tidak sabaran, tapi akhirnya Rena tertawa sedikit.


“Aku? Dan Eza? Kamu sedang memikirkan apa, Iroha?”


Sedikit tersinggung, Iroha mulai membuat alasan agar bisa ucapannya bisa diterima oleh mereka berdua.


“Melihat kalian mengenakan pakaian yang sama dan kalian berjalan hanya berdua saja, bukankah itu sudah cukup untuk mengira kalian adalah pasangan yang sedang berkencan?”


“Ah, jika kamu menjelaskannya seperti itu ada benarnya juga. Tapi ada yang salah dengan itu, Iroha. Yang namanya baju pasangan itu sudah tidak ketinggalan zaman di sini.”


“Maksudmu orang-orang di sini sudah meninggalkan yang namanya kareshatsu?”


“Kita tidak punya makanan yang namanya kareshatsu.”


Eza yang merasa canggung mencoba menjawab dan ikut dalam obrolan agar bisa sedikit rileks.


“Oh, lupakan apa yang aku ucapkan.”


Yuuki menyadari dirinya mengatakan sesuatu yang salah. Seharusnya dia tidak mengatakan itu dalam bahasa Jepang, jadi dia cepat-cepat langsung mengubah topiknya.


“Ngomong-ngomong, karena kita sudah di sini. Bagaimana kalau kita pergi bersama-sama? Atau apakah aku mengganggu waktu kencan kalian?”


“Sudah aku bilang, kita tidak berkencan. Aku hanya meminta Eza untuk menemaniku saja, karena tidak ada orang lain lagi yang bisa aku ajak untuk menemaniku. Untuk pakaian, sama sekali tidak ada yang spesial, kok. Kenapa Eza bisa memakai pakaian yang sama, itu karena hadiah dari ulang tahunnya.”


“Aku pikir hadiah ulang tahun, terlebih pakaian yang sama adalah sesuatu yang spesial?”


Ucapan Yuuki membuat kesalahpahaman menjadi antara hubungan dua bersaudara itu menjadi melebar kembali. Satu-satunya cara untuk menghilangkan kesalahpahaman itu adalah dengan menghancurkannya. Yang menjadi masalah adalah ... Kedua bersaudara itu tidak tahu bagaimana cara melakukannya.


Dengan pemikiran dari otaknya, entah bagaimana Rena mendapatkan ide brilian yang bisa ia lakukan sebagai gadis yang terkenal elegan.


Jadi Rena tersenyum tipis dengan wajah yang bahagia layaknya matahari untuk menyelesaikan situasi yang tidak menguntungkan bagi keduanya itu.


“Karena kebetulan kita bertiga sudah bertemu di sini dengan alasan yang sama, bagaimana kalau kita putuskan untuk jalan-jalan bersama. Apakah kau keberatan, Iroha?”


Alis Iroha sedikit terangkat ketika mendengar ajakan Rena yang tiba-tiba.


Iroha pikir tidak masalah untuk pergi menerima ajakan dari Rena untuk pergi berbelanja bersama. Ajakan dari Rena juga menunjukkan ketegasan bahwa hubungan Rena dan Eza cukup normal. Namun meski begitu, di sisi lain hatinya ia merasa bersalah telah merusak acara mereka berdua.


Bukannya ia ingin bermaksud untuk menghilangkan kesenangan dan waktu yang dimiliki oleh Eza dan Rena, tapi saat sekilas melihat sosok mereka berdua saat itu, rasa penasarannya langsung mengambil alih tubuhnya. Dan sekarang, ia juga terjebak dalam situasi yang rumit dan tidak tahu harus berbuat apa.


“Eh? Ah ... Apakah tidak apa-apa?”


“Kenapa kamu malah bertanya kembali? Bukankah kamu yang ingin mengetahui kejanggalan hubungan kita?”


“Iya ... Kalau itu, memang benar, sih.”

__ADS_1


Iroha membuang mukanya sedikit dan mengaburkan pandangannya ke berbagai arah. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan diajak untuk pergi bersama mereka.


__ADS_2