Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Kakak Kelas Yang Tidak Dapat Aku Percaya!


__ADS_3

“Haaah…. Gadis itu, bukannya dia semakin lama semakin ngelunjak saja ….? ”


Sepulang sekolah, Eza bergumam lelah begitu setelah melihat pesan yang Ia terima dari Rena.


Dia harus pergi berbelanja untuk kebutuhan tugas OSIS tapi karena punya urusan mendadak, jadi dia meminta Eza untuk pergi menggantikannya.


[Kaaa, Kakaaaak~, kumohooooooon ♡]


“….”


Eza merasa agak kesal dan lelah di bagian terakhir pesan, yang secara licik cukup genit untuk membuatnya merasa sedikit bahagia.


“Baiklah, jadi pergi atau tidak? Kurasa aku akan pergi tapi…. ”


Eza membalas dengan lugas


[Siap] sambil menggerutu.


[Yaaay, Aku sangat mencintaimu loh, kak. Atau, oni-ii-chan! ♡]


“Yeah, yeah”


Sambil tersenyum kecut pada stiker hati yang menari dengan liar dan dikirim berturut-turut, Eza memasukkan smartphone-nya ke dalam sakunya dan menuju ke ruang OSIS.


Eza punya sisi selalu merasa tak tega menolak permintaan adik perempuannya. Sampai-sampai takkan terasa aneh jika orang lain memanggilnya siscon (sister complex) apabila mereka melihat perilakunya ini.


“Permisi.”


Eza mengetuk pintu ruang OSIS dan membukanya. Di dalam ruangan, ada dua orang.


“Masuklah, Eza. Aku minta maaf karena membuatmu datang jauh-


jauh untuk membantu kami lagi.”


“Yah, aku datang hanya untuk menggantikan Rena saja.”


Salah satu orang di ruangan tersebut adalah ketua OSIS yang mempunyai aura hebat dan disegani oleh Eza, ketua OSIS Sylvia. Dan yang lainnya….


“Ooh? Jadi kamu yang namanya Eza itu, ya? Aku Aku Friska Putri Naya. Aku adalah teman sekelas Sylvia dan sekretaris OSIS. Senang berjumpa denganmu oke ~? ”


“Ah, sama-sama. Ketua OSIS selalu membantuku terus.”


Friska menyapanya dengan senyuman lembut dan ceria. Sebagai tanggapan, Eza membungkuk sedikit sambil berpikir, “Kedua kakak kelas di depanku ini benar-benar punya aura yang sangat kontras, ya."


“Hari ini kudengar akan berbelanja dengan Kak Friska ...”


“Kamu bisa memanggilku Iska kalau kau mau, oke? Teman Sylvia adalah temanku juga~”

__ADS_1


“Ah iya….”


Sambil berpikir “Di-Dia orangnya gampang bergaul”, Eza tersentak ke belakang sedikit pada Friska yang berlari ke arahnya sambil tersenyum lebar.


“Kak Friska atau Kak Iska ~, yang mana saja tidak masalah, oke? ~”


“Uhuh… kalau begitu, Kak Friska.”


Eza mengalihkan pandangannya dengan malu-malu. Setelah akhirnya di depannya, Maria menggenggam tangan kanan Masachika dengan kedua tangannya dan menggoyangkannya dengan ringan ke atas dan ke bawah.


“Mm-hmm, senang bertemu, denganmu ….”


Jika ini dalam acara jumpa fans dengan idol atau aktris terkenal, ekspresi Friska yang berjabat tangan sembari tersenyum bisa membuat seorang cowok menjadi tawanan cinta dalam sekejap.


Tapi, ekspresinya mendadak berubah serius begitu melihat wajah Eza dari dekat. Mata menyipitnya yang biasanya memberikan perasaan lembut sekarang terbuka lebar-lebar, dan senyumannya yang ramah benar- benar menghilang dari wajahnya.


“Ad-Ada apa?”


Eza secara tidak sadar mencoba untuk mundur karena terkejut dengan perubahan sikap Friska, tapi Ia hanya bisa mundur satu langkah karena tangan kanannya digenggam dengan kekuatan yang tidak terduga.


Friska menatap lekat-lekat wajah Eza dengan ekspresi yang sangat tajam, seolah-olah tatapannya bisa menembus lubang di wajah Eza.


Ditatap begitu dekat sementara tangannya digenggam dengan kedua tangan oleh kakak kelas berparas cantik yang baru Ia temui untuk pertama kalinya membuat Eza sangat gugup, dan Ia mulai merasa tidak nyaman.


“Apa ada yang salah dengan wajah Eza? Apa ada sesuatu yang menghantui punggung Eza?”


“Ketua, jika kamu ingin mengatakan sesuatu seperti itu, seharusnya 'Apa ada sesuatu yang menempel di wajahnya?'"


Sylvia mengulurkan uluran tangan dan Eza segera meraihnya. Sylvia memujinya sambil mengacungkan jempol pada balasan cerdiknya. Saat melihat acara melawak yang tiba-tiba itu, Friska berkedip perlahan dan mulai menunjukkan senyum lembutnya yang biasa.


“Aah, maafkan aku. Aku terlalu asyik berpikir 'Jadi ini orang yang bisa membuat Sylvia kagum, ya ~' ”


Friska segera melepaskan tangannya, dan meletakkan tangannya di pipinya sambil memiringkan kepalanya meminta maaf. Seolah-olah ingin menenangkan diri, dia lalu bertepuk tangan lalu berbicara. "Baiklah, ayo kita pergi."


Eza mengedipkan matanya pada perubahan sikap yang dilakukan Friska yang mendadak. Tentu saja Eza dibuat sedikit terkejut dengan perubahan sikap itu, tapi Ia tidak dapat menunjukkan keterkejutan di sini karena Ia berpura-pura kalau sesuatu yang seperti ini sudah dan biasa dan mengerti tentang situasi yang sedang dihadapi.


“Baik, kak. ”


“Baiklah Ketua, kami pergi dulu~.”


“Ya, aku mengandalkanmu.”


“Kalau begitu, permisi.”


“Aku juga mengandalkanmu ya, Eza.”


“Iya.”

__ADS_1


Sambil membungkuk sedikit, mereka berdua meninggalkan ruang OSIS.


“Kita akan pergi berbelanja persediaan, kan? Meski aku belum sempat bertanya pada Rena mengenai rinciannya.”


“Benar sekali~ ruang OSIS menggunakan banyak barang, tahu ~”


“Uhuh ... di SMP, OSIS biasanya memesan keperluan sekaligus untuk sesuatu seperti ini, tapi sepertinya di SMA kelihatannya berbeda, ya?"


“Kami juga melakukan itu untuk barang habis pakai, oke ~? Tapi bagaimanapun juga itu adalah ruang OSIS yang kami gunakan. Bukannya kita ingin menambahkan sedikit warna kita sendiri? Kamu harus memilih sesuatu dengan mata kepalamu sendiri. Misalnya saja, teh. Kamu tidak bisa memilih yang bagus tanpa mencium aromanya."


“Ooh, jadi seperti itu … Jika begitu masalahnya, aku merasa bimbang apa tidak masalah bagi orang luar seperti aku untuk semakin terlibat."


“Kurasa begitu ... lalu, bukannya tidak ada masalah jika memang Eza juga ikut bergabung dengan OSIS?”


“Yah, aku tidak tertarik dengan itu.”


“Masa? Sayang sekali~ ” Eza tersenyum kecut padanya sambil mengangkat bahunya yang sepertinya benar-benar mengecewakan.


“Kalau begitu, kurasa aku akan melakukan yang terbaik sebagai pembawa belanjaan.”


“Ya, tolong lakukan, oke ~?”


Sebagai orang luar organisasi, kurasa aku akan melakukan yang


terbaik menjadi pembawa bagasi ketimbang memberikan pendapat yang buruk ... itulah yang Eza pikirkan, tapi pemikiran semacam itu ternyata sedikit naif.


“Aromanya sangat harum ~. Untuk saat ini, aku akan menguji semua jenisnya—”


“Tidak, harusnya tidak boleh ada aroma begitu di ruang OSIS, ‘kan? Tolong lakukan hal semacam ini di kamarmu sendiri."


“Ya ampun~ boneka kucing-kucing ini terlihat seperti Iroha! Ah, benar juga. Bagaimana kalau kita menyusun deretan boneka binatang yang mewakili semua anggota OSIS?”


“Tempat dreamland macam apa yang mau kamu buat, kak?! Mengesampingkan anggota gadis yang lain, pasti Ketua merasa tidak betah bila ada benda-benda seperti itu di ruang OSIS!”


“Ah, boneka burung dengan wig di sini adalah ketua OSIS~”


“Tidak, seperti yang kubilang…. Tung— , mereka sangat mirip!”


“Kalau yang ini——.”


“Tidak, mereka memang mirip, tapi tetap saja! Boneka binatang di ruang OSIS biasanya dilarang, ‘kan!”


“Eeeeh~”


“Tidak, akulah yang seharusnya bilang 'Eeeeh ~'”


“Muu … Aku mengerti. Tapi kucing-kucing ini lucu, jadi aku akan membeli satu untuk diriku sendiri.”

__ADS_1


“Aah, kamu tidak boleh menaruhnya di kwitansi yang sama! Kamu nanti akan dimarahi oleh Iroha!”


Eza punya firasat buruk saat Friska masuk ke toko mewah tanpa ragu-ragu pada satu titik tetapi itu lebih dari yang dia bayangkan. Jiwa bebas Friska terbang jauh melampaui imajinasi Eza yang bisa gapai dan bayangkan.


__ADS_2