Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Membantu Satu Dua Hal Tidak Masalah


__ADS_3

Ditinggal oleh kedua temannya karena kegiatan klub, saat ini Eza berjalan seperti biasa dengan tatapan tidak tertarik dan malas sambil membawa tasnya ke arah punggung. Sesekali Eza menutup mulutnya ketika dia menguap karena bosan dan melihat ke arah sekitarnya, pemandangan masa muda para anak SMA yang terlihat sibuk melakukan banyak hal terpampang jelas di depan matanya.


Walau Eza juga merupakan seorang cowok SMA yang kuat, aktivitas sehari-harinya sebagai anak SMA hanyalah menonton anime dan bermain game sambil rebahan di dalam kamarnya. Ketika dia memikirkan hal itu sepintas di dalam pikirannya, ketidakpedulian dirinya langsung menghapus pikiran tersebut dan terus melanjutkan langkahnya.


Yah, ketika harus memikirkan itu kembali aku tidak tahu harus memperlakukan diriku seperti apa dan bagaimana.


Rasa di dalam diri Eza yang sudah tertanam hingga berakar dalam membuat dirinya tidak bisa kembali ke masa itu. Ke masa-masa yang seharusnya menjadi bagian Eza namun tidak ia ambil. Rasa penyesalan yang seperti itu yang membuat ia memalingkan pandangan dan melanjutkan apa yang ia jalani saat ini. Jadi jika harus menghilangkan akar di dalam tubuhnya, ia akan menjadi sangat kebingungan dengan segalanya.


“Hmm? Bukankan itu ketua OSIS? Apa yang sedang ia lakukan?”


Ketika Eza sedang berjalan sambil melihat-lihat sekitarnya, ia mendapati punggung sosok ketua OSIS yang sedang berdiri di rerumputan taman. Dia terus diam berdiri dengan kedua lengan di pinggang dan dari pengelihatan Eza, ketua OSIS sedang menatap sesuatu ke bawah. Ketika Eza mengalihkan pandangannya ke arah yang ia asumsikan sedang dilihat oleh ketua OSIS Sylvia, Eza dapat melihat satu buah box kardus yang ukurannya cukup besar dengan banyak buku di dalamnya dan berserakan di sekitarnya.


Sebagai sosok yang mengakui dirinya malas, Eza sangat jarang untuk menaruh banyak perhatian kepada orang-orang, tetapi postur tubuh dari ketua OSIS membuat dirinya penasaran apa yang sedang terjadi. Orang-orang yang berjalan di sekitarnya juga hanya melewati ketua OSIS begitu saja dan Eza memutuskan untuk menghampiri ketua OSIS Sylvia.


"Sebagai seorang cowok, membantu gadis dalam kesusahan adalah tanggung jawab yang harus diambil. Walau aku sendiri tidak cocok mengatakan hal itu." Sambil mengumpat dirinya sendiri seperti itu di dalam hatinya, Eza melangkahkan kakinya hingga berada tepat di belakang ketua OSIS Sylvia.


“Selamat sore, ketua.”


Ketika dirinya tiba-tiba disapa oleh seseorang, Sylvia langsung membalikkan badannya dan melihat siapa yang memanggilnya. Ekspresi penasaran saat berbalik langsung menghilang berganti dengan senyum cerah saat melihat sosok Eza yang terpampang jelas di depannya.


“Aah, selamat sore juga Eza. Apakah kau hanya sendiri saja?”


“Ya, seperti itu kira-kira. Aku ditinggal pulang sendiri karena temanku mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Ngomong-ngomong, apakah ada masalah, Kak? Sepertinya kondisi kak Sylvia sedang tidak baik-baik saja di sini.” ucap Eza sambil melihat ke arah tumpukan buku yang ada di dalam kotak.


“Maksudmu tentang kotak dan buku-buku ini? Aku berniat untuk memindahkannya dari banyak ruangan ke ruangan OSIS untuk disimpan.”


“Jadi itu semua adalah berkas OSIS?”


“Ya, kurang lebih seperti itu. Karena sekolah ini besar sekali, tugas OSIS sangat banyak untuk ditangani oleh beberapa orang saja. Jika boleh jujur, ini seperti aku dipaksa bekerja untuk perusahaan gelap dengan gaji yang kecil.”


“Aku pikir dengan semua keuntungan yang diberikan pihak sekolah untuk OSIS, sangat tidak layak dibandingkan dengan kata gaji kecil perusahaan gelap.”


Dengan senyum dewasa milik Sylvia yang tidak menjawab lelucon Eza, ia pikir dengan senyum itu sudah menunjukkan jawaban yang jelas kalau Sylvia mengetahui hal itu dan memilih untuk diam.


Lagipula, Kak Sylvia adalah orang yang dapat memanfaatkan sesuatu secara maksimal, maka tidak akan aneh jika dirinya juga akan memanfaatkan secara penuh benefit menjadi ketua OSIS di akademi ini.


Melihat kepribadian dan citra Sylvia sebagai ketua OSIS membuat Eza berpikir jika itu adalah dia, maka keadaan yang tidak menguntungkan pun akan dibuatnya menjadi keadaan “wah! Bukannya yang seperti ini 100% untung!” dan membuat dirinya bermandikan cahaya emas.


Tapi Eza masih tidak mengerti mengapa dirinya repot-repot membawa itu sendirian. Meski akademi ini adalah akademi yang bergengsi, Eza pikir tidak akan mungkin jika ketua OSIS juga punya rahasia sendiri. Jawaban yang paling masuk akal dan terbesit di pikiran Eza saat ini adalah karena kekurangan anggota, maka Sylvia harus turun tangan.


Jika tidak salah ingat, aku pernah melihat kak Sylvia membawa barang-barang dengan tangannya sendiri. Sungguh sangat pekerja keras, ya ....


Jika itu adalah kepribadian Eza yang tumbuh dari awal, apakah mungkin dirinya juga bisa mendapatkan citra yang sama seperti Sylvia. Membayangkan itu saja sudah tidak mungkin dapat dilihat lebih jauh oleh Eza bagaimana masa depannya sendiri.

__ADS_1


“Jadi, apakah tidak ada orang lain yang bisa membantu membawa berkas-berkas itu? Juga, sepertinya orang-orang di sekitar nampak tidak peduli dengan ini semua.”


Mengetahui maksud dibalik perkataan Eza, Sylvia tertawa pendek dan meluruskan kondisinya kepada Eza. “Bukan seperti itu. Kebanyakan dari mereka yang melewati kita sudah ada lama sebelum dirimu ada di sini dan sudah lebih dulu menawarkan bantuan, tapi aku menolaknya.”


“Oh, kalau begitu Kak Sylvia sudah berdiri lama di sini?”


“Benar.”


“Kalau begitu, mengapa kakak tidak menerima tawaran bantuan dari mereka?”


“Karena aku sudah memberitahu kalau Friska akan datang membantuku. Tapi ... Sepertinya ini sudah lama dari yang aku kira.”


“Kalau begitu, bagaimana jika aku yang membantumu, Kak? Kak Sylvia bisa memberitahu Kak Friska terlebih dahulu.”


“Apakah tidak apa-apa?”


“Sama sekali tidak masalah. Aku juga berpikir ini adalah waktu yang bagus untuk membunuh waktuku. Lebih baik daripada hanya bengong di rumah saja, bukan?”


“Kalau begitu mohon bantuannya, Eza.”


Sylvia tersenyum lembut kepada Eza sebagai rasa terima kasihnya. Ia lalu memberikan pesan kepada Friska kalau dirinya sudah dibantu oleh Eza dan memberitahu untuk Friska tidak datang ke tempatnya sekarang. Tak lama, Friska membalas pesan dari Sylvia. Ia meminta maaf karena memakan waktu yang lama untuk datang. Rupanya Friska yang sedang mengerjakan sesuatu di ruangan OSIS membutuhkan waktu yang lebih lama untuk bisa diselesaikan.


Eza yang diberitahu situasinya oleh Sylvia hanya bisa bersyukur kalau dirinya berada di waktu yang tepat untuk bisa membantu. Meski biasanya dirinya tidak ingin membantu sesuatu yang merepotkan seperti mengangkat barang, entah mengapa hari ini ia ingin melakukan sesuatu yang berbeda dari biasanya yang hanya duduk di depan TV sambil menonton anime favorit, jadi saat ini dirinya sedang dalam mood yang baik.


“Hanya ada Kak Sylvia dan Kak Friska saja di sini. Di mana Iroha dan Rena?”


Sylvia yang baru saja duduk dan merapikan berkas-berkasnya lalu menjawab pertanyaan Eza, “Aah, mereka juga sedang melakukan tugas lain.”


“Hee~ sepertinya pekerjaan OSIS tidak berhenti-henti. Aku kagum bagaimana OSIS bisa melakukan itu semua dengan anggota yang sedikit.”


“Tidak ada yang berat dari itu semua, Eza. Karena kita semua ada di sini mengejar tujuan masing-masing, maka jika tidak dilakukan tujuan tersebut tidak akan tercapai. Bukan begitu?”


“Jika dibilang seperti itu ... Rasanya masuk akal.”


Eza merenungkan kata-kata Sylvia di benaknya. Untuk mencapai tujuan masing-masing ... Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal tentang hal itu, tapi itu terasa dekat. Sangat berbeda dengan perasaan yang pernah ia alami sebelumnya.


“Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan oleh Rena dan Iroha?” Demi mengalihkan perhatiannya, Eza bertanya sambil melihat ke sekeliling ruangan sekali lagi.


“Rena pergi untuk mengurus peralatan yang lain lagi. Untuk Iroha, dia sedang memimpin rapat anggaran antar klub. Kalau dipikir-pikir, apakah dia baik-baik saja?”


“Rapat anggaran?”


“Jangan khawatir, ini adalah rapat tahunan. Sebenarnya—“

__ADS_1


Menurut yang Sylvia katakan, rapat anggaran diadakan setiap satu tahun sekali. Selama satu tahun tersebut, OSIS akan mengevaluasi anggaran seluruh klub. Dengan standar yang sudah ada, OSIS yang dibantu sekolah akan menilai bagaimana klub itu berjalan dengan anggaran yang disediakan. Jika hasilnya bagus, maka OSIS dan sekolah akan mempertimbangkan klub tersebut mendapatkan anggaran yang lebih banyak.


Begitu juga sebaliknya, jika dalam satu tahun klub tersebut dinilai tidak memuaskan, anggaran maupun fasilitas klub akan dikurangi dan dialihkan ke klub lain. Dengan sistem yang seperti itu, sekolah mengharapkan klub untuk meningkatkan prestasi dan kegiatannya agar para murid dapat berkembang, serta mendapatkan pengalaman yang bagus selama mereka bergabung.


“Sebetulnya ada Friska yang mengurus rapat anggaran tersebut ....”


“Tetapi Iroha yang menjadi mediatornya kali ini?”


“Ya, seperti yang kau bisa lihat dan ketahui, OSIS kekurangan anggota. Friska sedang sibuk dengan tugasnya dan sebagai bendahara, Iroha bisa menjadi pemimpin dalam rapat tahunan itu. Kupikir itu bisa menjadi pengalaman juga, jadi aku mempercayakan kepadanya ... Tapi sepertinya aku sudah berlebihan, ya.” Setelah melirik jam, Sylvia melihat ke arah jendela dengan tatapan khawatir.


“Apakah dia akan baik-baik saja?”


“Hmm? Yah, itu hanya rapat. Situasinya mungkin bisa memanas, jadi aku rasa tidak akan sampai pada tahap mereka protes keras ... Ah, itu mengingatkanku.”


Sylvia mengatakan itu sambil mengangkat bahunya, lalu mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Yang dikeluarkannya adalah sebuah buku polio.


“Sebelumnya dia terus memegang buku itu, namun sepertinya dia lupa telah meninggalkannya di mejaku setelah mengambil beberapa berkas yang dibutuhkan. Jika tidak keberatan, maukah kau mengantarkannya untuk dirinya?”


Eza merasa sedikit terbebani ketika dimintai bantuan itu. Namun, sosok Iroha yang mengalami kesulitan dengan gerombolan anak nakal beberapa waktu yang lalu terlintas di dalam benaknya. Perlahan, perasaan tidak enak menyebar di dadanya.


“... Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dahulu.”


“Ya. Hati-hati.”


Eza dengan segera meninggalkan Sylvia dan Friska yang berada di ruangan OSIS dan pergi menuju ke tempat Iroha berada. Sambil berjalan, Eza melihat judul buku yang dilupakan oleh Yuuki.


“Bukannya ini ... Sangat bahaya?”


**


Sementara itu di ruangan OSIS.


“Apakah tidak apa-apa memperlakukan seperti itu? Aku pikir dia akan marah jika mengetahuinya.”


“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya akan baik-baik saja. Terlebih, aku pikir Eza akan lebih menyadari tujuannya bersama dengan OSIS di sini.”


“Apakah seperti itu?~ Aku tidak dapat melihat jalannya akan seperti itu.”


“Jika tidak maka tidak apa-apa. Tujuanku hanya ada satu, aku pikir kamu juga mengetahuinya.”


“Sylvia memang jahat, ya~ mempermainkan keuntunganmu.”


Sylvia hanya tersenyum lembut sambil meminum tehnya, menunggu hasil dari apa yang sudah ia buat, dan kembali menyusun berkas-berkas yang baru dibawa.

__ADS_1


__ADS_2