
Di antara banyak orang yang dibuat bingung oleh pendatang Baru yang muncul tiba-tiba, beberapa siswa, termasuk ketua klub yang sedang berdebat, “Eza ....”, berseru kaget. Mereka semua adalah orang-orang Yang mengenal Eza saat Ia masih menjabat sebagai 'pendamping ketua OSIS' waktu saat SMP.
“Eza …”
Yuuki memanggil namanya dengan suara yang penuh keterkejutan Dan kebingungan, tapi sepertinya bergantung padanya. Eza Menepuk punggung Yuuki dan melangkah maju ke depan untuk Menutupi Yuuki dengan punggungnya seolah-olah berusaha Melindunginya.
“Salam kenal semuanya, aku Eza dari kelas 1-B. Maaf atas keterlambatannya tapi, aku ada di sini karena ketua OSIS menyuruhku datang dan membantu Iroha di sini dalam rapat anggaran antar klub. Aku dengar beberapa keributan sebelumnya, apakah itu dipicu karena kurangnya data kalian? ”
“Ya, itu benar.”
“Terima kasih banyak.”
Yang menjawab pertanyaan Eza adalah ketua klub yang dapat mengendalikan situasinya Yang entah kenapa masih tetap diam sampai sekarang. Sementara anggota klub lainnya melontarkan ejekan, Ia tetap Diam dan menatap Eza dengan mata setengah berharap dan Setengah mempercayainya.
Seolah menanggapi tatapannya, Eza melihat sekeliling Sekali lagi dan menatap semua wajah dari kedua sisi sebelum Berbicara. “Lalu, bagaimana menurut kalian tentang hal seperti ini. Aku mempunyai beberapa data yang bisa mengatasi semua permasalahan dan perdebatan yang ada. Dengan begitu, aku meminta kalian untuk setuju dan memulai rapat anggaran ini mulai dari awal. Dengan situasi yang seperti ini, aku pikir hal ini adalah jalan yang terbaik, bukan begitu?”
Mendengar usulan Eza, banyak ketua klub yang mendengarnya menjadi Bingung dan beberapa diantaranya juga seakan bersikap antagonis.
“Aku pikir itu tidak diperlukan. Rapat anggaran tahunan ini terlalu memakan banyak waktu. Akan lebih cepat selesai jika kalian pihak OSIS memberi klub kami hak menambah anggaran, dengan begitu kegiatan klub akan berjalan lebih bagus dan prestasi akan semakin di dapat.”
“Ya, itu hal yang bagus. Klub yang mempunyai prestasi lebih harus menjadi prioritas, bukan?”
“Ada apa dengan hal konyol itu? Jika begitu jadinya, maka klub kecil tidak akan berkembang!”
Rentetan suara protes mulai menyerang Eza. Namun, Semuanya langsung mereda hanya dengan satu suara yang berasal dari depa kelas.
“Kalau begitu, bagaimana dengan melihat semua yang aku bawa di sini? Jauh lebih bagus dengan data bukan?”
Orang yang angkat bicara adalah Eza. Dia tersenyum dengan percaya diri sambil membuat aura dominasinya semakin kuat agar bisa mengendalikan suasana. Setelah itu dia berbalik dan menghadap papan tulis, menempel sebuah kertas yang ukurannya memenuhi sebagian ruang papan tulis, serta menulis beberapa bagian yang ada di buku yang Eza bawa sebelumnya.
Saat mendengar usulan tak terduga, “Apa sih yang sebenarnya yang ingin dia lakukan ...?”, Suasana hati semacam itu mulai menyebar di antara seluruh ketua klub yang hadir di ruangan itu, suara yang ingin menolak namun tidak bisa dapat dirasakan siapapun di sana.
Namun, keengganan mereka langsung dibungkam oleh perkataan Eza yang setelah menulis semua yang diperlukannya, “Bisakah kalian melihat dengan jelas apa yang tertera di papan tulis ini? Aku pikir semuanya akan mengerti hanya dengan melihatnya secara sekilas, bukan?”
Tatapan enggan yang hilang kembali datang dan bercampur dengan tatapan cemas di mata para ketua klub. Seakan udara di ruangan rapat menipis, orang-orang yang ada di sana menahan napas mereka secara tidak sadar setelah melihat sesuatu yang Eza beri di papak tulis.
“.... Adapun di pihak kami, kami tak keberatan dengan kondisi itu Tapi bagaimana dengan sisi kalian? Apakah kalian bisa mempertanggungjawabkan anggaran kalian yang besar dan melaporkannya secara teratur kepada OSIS?”
Merasakan suasana hati para ketua klub, beberapa ketua klub Bertanya kepada ketua yang lainnya. Mereka juga mengangguk dengan Kerutan halus di wajahnya.
__ADS_1
“Jadi, itulah yang akan kami lakukan. OSIS senang hal ini berjalan dengan lancar karena kalian cepat paham dengan situasi ini. Kalau begitu, silakan datang ke ruangan OSIS untuk menyerahkan formulir kalian ... Sekarang, mari kita bahas lebih detailnya lagi.”
Eza menyimpulkan seperti itu, dan pembicaraan antara seluruh pihak secara tak terduga mampu diselesaikan dengan Mudah.
**
Setelah diskusi selesai, Eza dan Yuuki berjalan Menyusuri lorong gedung klub dan menuju ke gedung sekolah utama. Keduanya berjalan dengan tenang tanpa adanya Percakapan maupun bertukar pandang.
“… .Aah ~, maaf soal itu.” Lalu akhirnya Eza angkat bicara, karena tidak mampu Menahan suasana yang hening. Yuuki kemudian berbalik ke arah Eza dengan ekspresi bingung.
“Aku membicarakan diriku yang ikut campur dan mengalihkan Pembicaraan secara sewenang-wenang. Aku hanya membuatmu Kehilangan muka, ‘kan?”
“….Tidak juga.”
Menanggapi dengan singkat, Yuuki sekali lagi menghadap ke Depan. Namun, segera saat masih menghadap ke depan, “Umm”, dia Angkat bicara.
“Kenapa kamu ... Membuat usulan semacam itu?”
“Hm?”
“Kalau dipikir-pikir secara normal, mana mungkin seluruh klub mau Menerima usulan semacam itu. Dari sudut pandangku, sepertinya Kamu sudah tahu kalau semuanya akan setuju dan tidak akan protes. Bahkan beberapa diantaranya memberi tatapan percaya kepadamu.”
“Tentu saja aku akan menyadarinya. Kamu terus menatap beberapa ketua klub saat melancarkan protes, bukan?”
Sambil merasa terkesan karena diawasi dengan penuh perhatian, Eza membeberkan sebuah rahasia dengan nada basa-basi. “Ini rahasia, oke?”
“? Oke.”
“Beberapa di antara ketu klub di sana, ada yang aku kenal dan mempunyai reputasi yang bagus untuk meyakinkan orang.”
“Eh !?” Mata Yuuki membelalak dengan megah dan menatap Eza saat menemukan informasi tak terduga.
“Selama waktu diskusi, ketua klub yang bermasalah terus-terusan diam Saja, ‘kan? Ia tidak bisa mengatakan apa-apa karena seseorang yang dapat mematahkan argumennya ada Di sisi lain. Ini sedikit mencampurkan urusan publik dan pribadi, Tapi kurasa mau bagaimana lagi. ”
“Jadi begitu ... Rupanya.”
“Di sisi lain, orang yang mampu melakukan itu merasa canggung karena dia sadar bahwa Pihaknya juga tidak dapat mengatakan apapun. Itulah mengapa aku tahu jika aku membuat saran seperti itu di sana, beberapa ketua di sana langsung ikut mendukung usulanku. ”
“… Begitu ya.”
__ADS_1
“Ya, itulah yang disebut sekali dayung, dua atau tiga pulau terlampaui! ”
Bukannya aku tidak merasa kalau ketua klub di sana yang tidak tahu apa-apa cuma mendapat getahnya doang , dan Eza menambahkan sambil tersenyum. Yuuki juga sedikit tersenyum menanggapi ucapan Eza.
“….Tunggu—”
Tapi kemudian, saat mereka melihat cewek berdiri di ujung koridor gedung sekolah utama, senyuman Eza berubah sedikit getir.
“Hei, apa diskusinya berjalan lancar?”
“Ketua….”
Cewek yang menunggu mereka adalah Sylvia. Ia sepertinya tidak Meragukan keberadaan Eza bersama Yuuki, dan tersenyum Seolah-olah sudah mengetahui segalanya.
“.... Eza datang dengan mengusulkan sesuatu dan membuka data yang ia bawa. Eza langsung mengusulkan beberapa hal danbegitulah Diskusi mencapai kesepakatan …. Itu semua berkat Eza.”
“Begitu ya, terima kasih atas kerja kerasmu, Iroha.”
Sylvia menunjukkan apresiasinya tanpa mengatakan apapun yang tidak perlu pada Yuuki yang melaporkan kebenaran dalam nada yang sebenarnya. Melihat Sylvia seperti itu, yang paling bisa dilakukan Eza hanyalah menatapnya dengan tatapan mencela.
“Apa semuanya ... Berjalan sesuai rencanamu?”
“Hmm? Bukannya aku punya alasan seperti itu.”
“Pada saat kamu tidak mengatakan, ‘Apa yang kamu bicarakan?’, Tampaknya Ketua merasa bersalah dalam hal ini sampai batas Tertentu.”
“Ups … Kamu menebak dengan tepat.”
Ketika Sylvia dengan jujur mengangkat kedua tangannya, Eza menghela nafas seolah energinya telah tersedot keluar Darinya.
“Jadi gimana? Apa kamu sudah memutuskannya? ”
“….”
Semuanya sudah terlihat jelas, pikir Eza dalam hati, Sementara kali ini Ia dengan jujur mengibarkan bendera putih.
“Ya, baik … Eza Kelvin Aditya yang tidak layak ini, ingin bergabung Dengan OSIS sebagai anggota terbarunya .”
“Ya, senang bisa menerima anggota seperti dirimu.”
__ADS_1
Sylvia menunjukkan senyum, senyum pemikat dan Eza Tersenyum pahit sepertinya ingin mengatakan, aku bukan Tandingannya. Kedua orang dengan senyum kontras di wajah mereka Berjabat tangan dengan kuat. Yuuki sedang menonton adegan itu dari jarak satu langkah Dengan ekspresi yang agak rumit di wajahnya.