Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Kamu Menyentuh Di Mana?!


__ADS_3

Mengkonfirmasi dengan Yuuki melalui pandangan sekilas, Ia kemudian membuka loker. Di dalam loker tersebut terdapat buku teks dan kotak peralatan yang tertata rapi. Sangat cocok dengan kepribadian Yuuki yang ketat terhadap dirinya.


Di bagian lebih dalam, di bawah payung terlipat ada sepasang kaus kaki dalam kantong plastik bening.


Merasa seperti melakukan sesuatu yang tidak senonoh lagi, Eza mengambil kaus kaki dari kantong plastik dan bergegas kembali ke kursinya.


“Ini.”


Kemudian, saat Ia di hadapan Yuuki dan menyodorkan kaus kaki, Yuuki melemparkan bom lain ke arahnya.


“Lalu, bisakah kamu memakaikannya padaku?”


“Haaaaaaaaaaaaah !?”


Saat Eza berbalik sambil berteriak aneh, Ia melihat Yuuki mengangkat kaki kanannya ke arah Eza.


Mungkin karena cuma ada mereka berdua, berbeda dari biasanya, Yuuki bahkan tidak berusaha menyembunyikan kegembiraannya dan memiringkan kepalanya sambil menyeringai.


“Apa ada yang salah?”


“Tidak, lebih tepatnya, apa ada yang salah denganmu !?”


“Ini bentuk rasa terima kasihku karena sudah mau mengambilkan


kaus kakiku. Ini hadiah untukmu, ‘kan?”


“Yah, itu hanya hadiah untuk orang-orang aneh ....”


“Ara~? Bukannya kamu juga salah satu dari mereka?”


“Enak aja! Bagaimana ini disebut hadiah !?”


Sambil memasang ekspresi yang seolah-olah menemukan hal tak


terduga, lagi-lagi, Yuuki menyilangkan kakinya dan Eza


berteriak saat memalingkan muka darinya. Ia bermaksud memprotes, “Sudah selesai, kan !? Ampuni hamba ini!"


Yuuki memain-mainkan rambutnya sambil mengalihkan pandangannya dengan wajah yang tampak memerah. Melihat penampilannya yang seperti itu, otak Eza melaju kencang ke arah yang aneh dengan kecepatan yang tidak terduga.


Eza sudah memikirkan hal itu sejak lama. Namun, kesimpulan yang Ia dapatkan hanyalah, “Aku pikir, itu mungkin karena Iroha adalah seorang eksibisionis secara mental.”


Yuuki merupakan tipe orang perfeksionis dan pekerja keras. Demi bisa menjadi diri idealnya, dia terus-menerus mendisiplinkan


dirinya sendiri dan bekerja tanpa lelah.


Namun, Eza pernah mendengar kalau orang-orang yang memaksakan diri mereka sendiri seperti itu setiap hari, ingin melepaskan stress yang sudah menumpuk ke tempat lain.

__ADS_1


Jadi, dari sudut pandang Eza, melakukan tindakan yang tidak seperti biasanya dilakukan oleh Yuuki, merupakan contoh dari kasus tersebut. Hal itu bisa sangat masuk akal karena sudah banyak contoh di luar sana.


Sama seperti seorang maniak yang berjalan-jalan di tempat publik tanpa mengenakan ******, Eza pikir dia mungkin menikmati sensasi berada di tepian ketangkap basah atau tidak dengan membuat komentar yang memalukan di depan orang lain.


Itulah teori Eza yang ia dapatkan. Dengan kata lain, apa yang ingin Ia coba katakan ialah ...


Jika dianya suka, itu berarti aman!!


Menurut teori Eza, Yuuki adalah orang yang menikmati rasa malu. Dengan kata lain, Yuuki akan bahagia sedangkan dirinya sendiri juga ikut bahagia. Ya, ini adalah situasi sama-sama UNTUNG!


Yuuki tersenyum sambil terkekeh menatap Eza yang seperti itu. Yuuki lalu meluruskan kedua kakinya yang bersila.


“Yah, tidak apa-apa. Aku akan melakukannya sen— ”


“Tidak, itu tidak perlu.”


“Eh–?”


Ketika Yuuki hendak memintanya untuk menyerahkan kaus kaki itu, Eza langsung berlutut di depan Yuuki sambil memegang kaus kaki di tangannya. Perubahan sikap Eza menyebabkan Yuuki berkedip karena terkejut.


Namun, pada saat berikutnya, tangan Eza sudah berada di kaki kanannya dan mata Yuuki membelalak karena terkejut.


“Hyaa !?”


Yuuki menjerit imut karena merasakan sentuhan jari jemari orang lain dari tumit sampai ke pergelangan kakinya yang terasa geli atau menjijikkan. Kakinya tersentak secara refleks dan dia buru-buru memperbaiki posisi roknya dengan tangannya.


“Ah, apa maksudmu memberontak, ah, tung– !?”


Sambil meneriakkan suara aneh, Yuuki berusaha menahan roknya


dengan tangan kanannya dan dengan cepat menutup mulutnya


dengan tangan kirinya.


Meski keterkejutan memenuhi mata Yuuki, Eza hanya tersenyum ke arahnya dan berkata.


“Apa, bukannya kamu sendiri yang menyuruhku untuk memakaikannya, ‘kan?”


“Iya, sih, tapi—! Tunggu dulu sebentar, aku masih belum mempersiapkan hati— ”


Meski begitu, tanpa menghiraukan perkataan Yuuki, Eza mengaitkan kedua ibu jari di mulut kaus kaki tersebut dan dengan cepat memasang kaus kaki tersebut di kaki Yuuki.


Sensasi kaus kaki yang menjalar ke atas kakinya membuat tulang punggung Yuuki merinding.


“Ah, jangan—”


Setelah itu, ibu jari Eza menyentuh paha Yuuki melalui kaus kaki tipis–

__ADS_1


“~~~ Menurutmu tanganmu menyentuh ke mana !!!”


Langsung saja, kaki Yuuki menendang dan menghantam rahang Eza dengan indah. Eza jatuh telentang dan bagian belakang kepalanya membentur kursi duduknya sendiri.


“~ kuh !!”


“Ah, ma-maafkan aku. Apa kamu baik-baik saja?”


Dengan tubuh terlentang, Eza meringkuk seolah-olah nyawanya melayang dari mulutnya yang menganga dan pingsan karena kesakitan. Seperti yang diharapkan, Yuuki berjongkok menghawatirkan keadaan Eza. Di hadapan Yuuki yang sementara waktu melupakan rasa malu dan amarahnya untuk mencemaskannya, Eza dengan gemetaran mengulurkan tangan kanannya ke lantai dan menelusuri lantai dengan jari telunjuknya.


Pemandangan itu sangat mirip dengan orang sekarat yang meninggalkan pesan kematian menggunakan darahnya sendiri.


Tentu saja tidak ada darah di jari Eza. Jari-jarinya hanya menggoresi lantai tapi mata Yuuki bisa dengan jelas melihat kata-kata yang coba ditulis Eza.


Itu hanya satu kata. “Putih”.


“!?!?”


Saat dia memahaminya, Yuuki dengan cepat menurunkan roknya. Wajahnya langsung berubah merah padam karena menahan rasa amarah dan malu.


“~~ wah, kh ~~”


Dia sepertinya tidak tahu bagaimana cara melampiaskan amarahnya pada seseorang yang terbaring di lantai. Tangan kanan Yuuki membuka dan mengepal sementara mengeluarkan suara yang tidak jelas untuk beberapa saat. Meski tiba-tiba, dia dengan cepat mengambil kaus kaki lainnya dari atas meja Eza dan dengan cepat meletakkannya di kaki kirinya.


Dan kemudian, dia memakai sepatu dalam ruangannya; menghadap ke arah Eza yang masih terbaring mati di lantai; dan berteriak dalam bahasa Jepang.


"Tak bisa dipercaya! Idiot! Mati saja sana!!"


Dia berteriak seperti anak kecil dan berjalan keluar kelas dengan langkah menghentak. Dua gadis lain yang baru saja akan memasuki kelas dengan tergesa-gesa memberi jalan untuknya sementara dikejutkan oleh keadaannya yang tidak biasa.


“Eh? Apa yang terjadi? Barusan Putri Yuuki berteriak seperti orang gila?”


“Dia berteriak dalam bahasa Jepang, ‘kan? Apa-apaan ini? Eh? Tuan putri menggila?”


Mereka berdua melihat sosok Yuuki dengan melongo. Mereka dengan santai melihat ke ruang kelas dan di sana, mereka menemukan Eza sedang menggosok bagian belakang


kepalanya.


“Pagi, Eza ... Apa terjadi sesuatu? ”


“Ya, pagi… Tidak, tidak juga kok?”


“Pagi, Eza ... Apa yang terjadi dengan kepalamu?”


“Yah…. Kupikir, ada jerawat tumbuh di sini”


“Hmm~?”

__ADS_1


Kedua gadis itu lalu meninggalkan Eza dengan keadaan bertanya-tanya.


__ADS_2