
“Hadiah? Dari ketua?”
Rena yang bertugas membuang barang tidak terpakai, secara kebetulan bertemu dengan ketuanya saat di perjalanan menuju tempat pembuangan. Meski ketua OSIS sendiri sudah sangat sibuk, dia masih menyempatkan untuk memberi “semangat” kepada anggotanya yang sudah bekerja keras. Bahkan saat bertemu dengannya, Rena bisa melihat banyak debu dan beberapa keringat menempel pada baju dan kulit ketua OSIS.
“Ya. Ketua bilang kita sudah bekerja keras telah merapikan beberapa barang di gudang. Karena hanya sedikit orang yang mengerjakannya, ketua khawatir kita kelelahan. Setidaknya, itulah yang dikatakan ketua saat aku bertemu dengannya tadi.”
Karena kurangnya SDM di dalam OSIS, mereka harus berusaha dua kali lipat dari biasanya, terutama SDM dari laki-laki. Meski memungkinkan untuk meminta bantuan guru, OSIS di sekolah ini terkenal independen dengan pekerjaan mereka. Jadi Eza rasa mempertahankan citra mereka yang seperti itu membuat mereka terlihat lebih baik.
Eza tidak ingin membuat ulasan negatif, jika diteruskan, mungkin dia akan selalu berpikiran negatif tentang OSIS dan berpikir bahwa mereka mempunyai motto organisasi sendiri. Atau juga ada peraturan tentang seberapa para guru bisa ikut campur ke dalam kegiatan mereka. Jadi dia lebih memilih menyelesaikan pikirannya dengan ikut senang terhadap hadiah yang diberikan kepada para gadis.
“Bagus untuk kalian, bukan? Usaha dibayarkan dengan baik.”
Eza yang berdiri mendengar merasa senang juga puas di dalam dirinya. Para gadis-gadis yang ada di dekatnya itu pantas mendapatkan apa yang mereka buat.
Menjadi OSIS satu semester dengan anggota yang sedikit, Eza pikir itu bukanlah hal yang mudah. Meski dia tidak pernah merasakan langsung, setidaknya ia pikir OSIS akan sangat berbeda dengan klub yang akan baik-baik saja dengan sedikit orang, toh klub juga akan dibubarkan jika hanya punya sedikit orang.
Hmm? Bukankah itu sama saja aku mengatakan “kenapa OSIS tidak bubar saja” secara tidak langsung?
Disaat Eza sedang berusaha menyingkirkan pikiran negatif yang hampir menguasainya, Rena tersenyum ke arah Eza.
“Kamu juga akan mendapatkan bagian, Eza.”
“Eh, aku? Apakah tidak masalah?”
“Aku pikir? Karena ketua OSIS juga yang mengatakannya kepadaku.”
“Apakah ketua OSIS mengetahui aku ikut membantu kalian?”
“Iya, dia mengetahuinya. Lagipula aku yang menyarankannya.”
Eza hanya menatap diam ke arah Rena dan berkata di dalam hatinya, “Yah, seperti yang aku duga.”
“Tapi sebelum kita bisa menerima hadiahnya. Ketua ingin meminta bantuan kembali. Kali ini dia ingin meminta kita untuk membersihkan gudang peralatan. Apakah kalian masih sanggup?”
“Iya. Karena aku juga bagian dari OSIS, maka sudah semestinya aku mengerjakan bagian dari OSIS.”
“Yah ... Jika kalian memang kekurangan orang maka aku bisa membantu.”
__ADS_1
“Terima kasih, Eza! Mari kita lakukan yang terbaik, Iroha!”
“Ya.” Mereka berdua menjawab secara bersamaan.
“Baiklah ... Kalau begitu, mari kita ke gedungnya.”
Mereka bertiga lalu berjalan menyusuri lorong ke gudang lain yang jaraknya cukup jauh dari gedung penyimpanan pertama mereka. Sesampainya di sana, Rena yang memegang kunci mulai membuka pintu gudang dan melebarkannya. Setelah terbuka lebar, tampak ruangan gudang penyimpanan peralatan yang tidak tersusun rapi.
Diawali dengan Rena, mereka masuk ke dalam dan melihat ke sekitar. Setelah itu, mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah rak yang menyimpan peralatan. Sementara Eza menatap dengan mata malasnya, Rena segera memberikan kertas yang berisi daftar alat-alat OSIS kepada semua orang.
“Kalau begitu, Eza. Kamu bisa mulai dari sana?”
“Siap~”
Sambil menjawab, Eza langsung menuju rak yang ditunjuk oleh Rena.
Jadi ini semua adalah peralatan OSIS? Meja dan kursi lipat ... Mari kita lihat apa yang harus aku lakukan. Memeriksa kuantitas dan juga kualitasnya ... Tugas OSIS merepotkan.
“Aku penasaran. Apakah OSIS memang mengerjakan tugas yang seperti ini?”
“Hmm ... Setelah dijelaskan seperti itu rasanya mengagumkan. Kalau begitu, Iroha,” ucap Eza sambil melihat ke arah Yuuki “Apakah saat SMP kau juga bagian dari OSIS?”
Yuuki yang sedang berjongkok mengerjakan tugasnya di sisi lain bagian ruangan, melihat sebentar ke arah Eza saat namanya dipanggil lalu kembali melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Maksudmu saat aku masih di Jepang?”
“Apakah saat SMP kamu tidak ada di Jepang?”
Tangan Yuuki sempat berhenti sebentar, namun ia kembali menggerakkannya, “Aku masih di sana saat SMP ... Iya, aku juga sempat menjadi bagian dari OSIS saat berada di sana.”
“Heeh ... Lalu bagaimana OSIS di sana? Apakah yang kalian lakukan sama?”
“Untuk apa kamu menanyakan hal ini? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?”
Nada Yuuki terdengar cukup kesal, namun juga tidak marah. Mendengar itu Eza kembali melanjutkan.
“Tidak ada yang khusus. Hanya penasaran apakah ada perbedaan di antara keduanya.”
__ADS_1
Yuuki tidak langsung menjawabnya, mungkin tidak ingin mengatakan apa pun. Jadi Eza hanya diam saja hingga Yuuki berbicara kembali.
“Apa yang aku kerjakan dahulu di OSIS saat masih SMP di Jepang tidak jauh berbeda dengan di sini. Jika itu ada maka hal-hal seperti peraturan atau juga budaya. Secara keseluruhan, tidak terlalu berbeda.”
“Jadi begitu ...”
Eza menjawabnya dengan nada yang biasa saja. Tapi di dalam hatinya ia berteriak.
Apa!? Jadi OSIS di sana sama membosankannya dengan OSIS di sini!? Sialan kau realitas! Aku tidak akan pernah melihat OSIS yang overpower dan menguasai seluruh sekolah seperti yang ada di dalam anime!
Eza mengumpat sebisanya di dalam hatinya setelah mengetahui fakta membosankan dari dunia yang ia tempati. Sambil menahan kesedihan di dalam hatinya, ia kembali melakukan pekerjaannya.
“Aku melihat beberapa benda seperti tripod dan barang-barang lainnya. Apakah itu juga milik OSIS?”
“Ya. Meski klub fotografi juga memilikinya, saat kita membutuhkan bantuan mereka, setidaknya kami memiliki peralatan untuk membantu mereka.”
“Heeeh~”
Sambil merasa takjub, Eza kembali memeriksa jumlah persis seperti yang ada di daftar, menyingkirkan yang sudah usang, dan meletakkan sesuai dengan tipe benda masing-masing.
“Mengesankan sekali. Pilihan yang tepat membawamu kemari, kamu sangat ahli melakukannya.”
“Makasih~”
Diberi pujian langsung dari Rena, Eza merasa staminanya mulai memburuk. Dia juga entah mengapa dirinya ditatap oleh Yuuki dari balik punggungnya.
Ah ... Lenganku, sakit.
Lengan dan pinggul Eza mulai terasa nyeri saat berulang kali harus melakukan pekerjaan memindahkan barang. Ia harus menutupi dirinya dalam kepura-puraan fisiknya melemah.
Karena beberapa tahun ke belakang ia menjadi otaku tulen dan jarang berolahraga, kondisinya semakin memburuk. Jika ia setidaknya melakukan olahraga, kondisinya mungkin tidak seburuk sekarang.
Berat~ beraaat~ Ah ... Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku seharusnya menolak saja tadi ... Jika tahu ini sangat berat dan menolaknya, saat ini aku sudah berada di kasur yang empuk sekarang~
Sambil membuat keluhan di dalam hati kecilnya, Eza berusaha mengubah pikiran negatifnya menjadi energi untuk bisa bekerja lebih cepat. Di belakang, Yuuki memanggil namanya.
“... Err. Eza, bisa bantu ke sini sebentar?”
__ADS_1