
“Tidak, itu tidak benar. Kami di sini sudah mengeluarkan banyak usaha untuk semua yang diperlukan. Klubku sudah berjuang untuk bisa sampai titik ini. Aku tidak bisa menerima pernyataan kalian.”
“Apa yang mendasarimu menjadi sangat percaya diri dengan semua itu? Klub kami lebih berusaha daripada klub kalian. Klubku sudah mencetak beberapa prestasi untuk diberikan kepada sekolah. Sebagai sesama ketua seharusnya semua yang ada di sini paham betapa pentingnya itu. Di sisi lain ... Kau hanya bisa menggonggong tentang usaha, pada kenyataannya yang kalian lakukan hanyalah bermain-main belaka.”
“Jika berpatokan kepada pendapatmu, maka klubku lah yang lebih pantas. Aku bisa yakin bahwa milikku juga melakukan banyak hal dibandingkan dengan klubmu.”
Saat ini ruangan yang dijadikan sebagai ruang rapat berada di situasi yang sedang memanas. Meja yang disusun melingkar di dalam kelas berubah menjadi ketegangan yang bisa dirasakan siapapun bila berdiri di tengahnya. Seluruh ketua ekstrakurikuler berkumpul di dalam, saling menatap tajam dengan seluruh pihak karena tidak ingin ada yang mengalah.
Sebelumnya, situasi memanas yang sedang terjadi sekarang tidak terjadi sebelumnya. Bahkan jika bisa dibilang, situasi yang saling mengancam dan saling mengejek 180° derajat berbeda dari situasi awal mulai rapat.
“Kumohon, tenanglah dulu. Tidak ada gunanya saling meneriaki satu sama lain, bukan?”
Yuuki, yang berada di depan mereka sebagai pemimpin rapat sudah mencoba menengahi situasi memanas tersebut untuk sekian kalinya, tapi masih belum berhasil.
Untuk berjaga-jaga situasi yang seperti sekarang terjadi, Yuuki sudah menyiapkan beberapa kondisi dan juga saran dari ketua OSIS, Sylvia agar situasi yang tidak kondusif bisa diselesaikan dengan baik.
Namun, perselisihan yang seharusnya tidak terjadi justru menjadi besar dan membuat rencana yang seharusnya berjalan lurus, belok ke arah yang tidak diinginkan. Bahkan, masih belum mencapai kesepakatan dan terus berdebat, ruang diskusi sudah berubah menjadi perselisihan dengan kata-kata kotor.
Yuuki sudah mencoba memikirkan sesuatu yang bisa membuat semua pihak berkompromi, tapi seluruh pihak sepenuhnya menolak untuk mengalah sama sekali.
Kenapa ... Kenapa semuanya ....
Awalnya, Yuuki sebagai ketua untuk memimpin rapat hari ini menjalankan tugasnya sebagai pemimpin rapat dengan semestinya. Membuka acara dan menjelaskan mengapa rapat diadakan, kemudian menjelaskan secara jelas seluruh anggaran sekolah untuk seluruh ekstrakurikuler.
Dalam tahap tersebut, semuanya berjalan lancar meski jika dilihat, kebanyakan dari orang yang mengikuti rapat terlihat sangat tidak antusias maupun tertarik. Mereka menguap dan bermain-main dengan kesibukannya sendiri.
Meski para ketua tersebut membawa bendahara klubnya bersama mereka, laporan keuangan yang dibawa dan dipegang sama sekali tidak tersentuh bahkan Yuuki merasa benda yang sangat penting dalam rapat ini tidak ada nilainya di mata mereka.
Yuuki yang menyadari dan memerhatikan hal tersebut sejak awal rapat mulai mencoba menahan perasaan kesal di dalam hatinya itu. Dia baru pertama kali menjalankan tugas menjadi pemimpin rapat anggaran untuk pertama kalinya, mungkin saja ada suatu prosedur yang diperlukan untuk menjalankan prosesnya, ia masih berpikir positif untuk hal tersebut.
Tapi, bahkan setelah waktu yang panjang ia menjelaskan dengan rinci seluruh anggaran, situasi tidak tertarik yang dipancarkan kebanyakan ketua di sana masih ada. Beberapa di antaranya bahkan ada yang tertidur.
“Apakah kalian semua mendengarkan!?”
Yuuki yang sudah tidak tahan dengan situasinya pun mulai naik pitam. Suaranya menjadi lebih tinggi sedikit lalu mencoba memberi pertanyaan dengan sedikit ejekan kepada para ketua klub. Dia mulai menanyai satu persatu ketua klub tentang keadaan mereka, tapi selalu dijawab dengan singkat. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan mereka bebas berbicara untuk mengutarakan pendapat mereka. Dan hasil dari itu adalah keadaan yang memanas sekarang.
Bahkan saat berdebat panas, apa yang mereka perdebatkan sama sekali tidak punya inti untuk diselesaikan. Sama seperti pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”, atau seperti orang tuli yang berbicara dengan orang tuli lainnya. Yuuki yang merasakan itu sudah mulai muak.
__ADS_1
“Tolong, tolong tenang dulu!”
Sambil mati-matian berusaha meninggikan suaranya untuk mengembalikan situasi menjadi kondusif, hati Yuuki sudah diambang batas. Bahkan bagi Yuuki dan ketua klub cewek yang tidak punya nyali besar, dikelilingi oleh banyak cowok yang lebih tua terasa sedikit menyeramkan.
Selain itu, setiap saran yang dibuatnya ditolak mentah-mentah, dan terus menerus mendapatkan perkataan kasar dari banyak orang yang berdebat di sana. Seperti yang diharapkan, bahkan Yuuki akan sangat kewalahan secara mental.
Dia berhasil bertahan sejauh ini hanya karena rasa tanggung jawab atas pekerjaan yang ia terima dan semangat kompetitifnya yang tinggi. Tapi meski begitu, sudah muak dengan orang-orang tidak serius di sekelilingnya, serta tekanan mental perkataan kasar yang bahkan tidak ada gunanya, dia sudah hampir tidak sanggup lagi.
Semuanya ... Semuanya sama saja. Apa yang berbeda dari sebelumnya? Ini semua tidak ada bedanya dari yang dulu ....
***
“Penghargaan terbaik dalam presentasi kelompok diberikan kepada … Tim B!”
Suara tepuk tangan memenuhi seisi kelas. Di antara mereka hanya ada satu orang, seorang gadis muda yang menggigit bibir dan menundukkan kepalanya. Yuuki sudah menjadi anak kelas 4 Sd saat itu. Dia bersekolah di sekolah Sd tertentu di Tokyo, Jepang.
Pada saat itulah, Yuuki baru menyadari bahwa dirinya berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Pemicunya ialah … tugas presentasi kelompok yang dilakukan di kelas.
Murid-murid dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang. Mereka akan menghabiskan dua minggu untuk meneliti tentang suatu topik, dan mengumpulkan konten yang mereka teliti pada sebuah kertas besar lalu mempresentasikannya.
Topik yang disajikan kelompok Yuuki adalah, “pekerjaan di area sekitar”. Mereka mewawancarai toko-toko di lingkungan sekitar sekolah dan anggota keluarga tentang pekerjaan mereka untuk mengetahui apa yang mereka lakukan dalam pekerjaan mereka. Itu adalah topik sepele yang bisa dikerjakan anak SD.
Setiap sepulang sekolah, dia melakukan serangkaian wawancara di toko-toko di daerah yang ditugaskan kepadanya sampai tiba waktu makan malam. Apa yang dia teliti dalam satu minggu sudah cukup untuk mengisi seluruh buku catatan. Namun, dia mengharapkan kesempurnaan pada hari pertemuan dengan grup.
Yuuki tercengang mendengar pengakuan anggota lainnya di grup.
“Ah. Maaf. Aku belum melakukannya”
“Di sini ada toko roti, dan ini toko pakaian. Eh? Isi pekerjaan mereka? Tentu saja, jika itu toko roti mereka menjual roti, dan jika itu toko pakaian, mereka menjual baju, ‘kan?”
“Maaf, aku baru setengah jalan ~. Tapi, masih ada satu minggu lagi. Aku yakin ini akan baik-baik saja.”
Terlalu banyak alasan … dari sudut pandang Yuuki, apa yang mereka lakukan terlalu malas. Bahkan jika semua informasi yang didapat dari tiga lainnya digabungkan, informasinya bahkan tidak sepadan dengan setengah dari informasi yang telah diteliti Yuuki.
Itulah kenyataannya. Tapi yang terpenting, terlepas dari semua ini, bagi mereka bertiga yang tidak menunjukkan tanda-tanda terburu-buru atau meminta maaf, Yuuki terkejut dan sangat marah. Saat mereka bertiga melihat buku catatan yang telah dikumpulkan Yuuki, amarahnya meledak.
“Whoah, apa-apaan ini. Kamu terlalu serius mengenai tugas ini”
__ADS_1
“Rinci sekali. Pasti kita tak akan menggunakan semuanya, iya ‘kan?”
“Iroha … apa boleh tidak membaca, semua ini?”
Mereka bertiga saling memandang satu sama lain, dengan mata yang tampak terkejut. Mereka tersenyum kaku seolah-olah mengatakan “Aa ~ aah, dia sudah kelewatan”.
Eh? Apa ini, salahku?
Tepat setelah keraguan seperti itu melintas di benaknya, amarah pun mencuat dari dasar perut Yuuki.
Tidak, itu bukan salahku. Aku hanya…… bekerja serius dengan kemampuan terbaikku pada tugas yang sudah diberikan. Aku tidak salah. Merekalah yang salah.
Kemarahan dan rasa jijiknya meledak secara instan. Yuuki masih terlalu muda untuk menekan hal itu.
“Hei, kenapa kalian tidak melakukan ini dengan serius?”
Matanya melotot. Siswa SD yang emosional bereaksi secara sensitif terhadap kata-kata tajam yang diucapkan dengan nada mencela. Dari sana, tidak butuh waktu lama untuk memicu perdebatan sengit.
Guru langsung turun tangan karena mereka berada di kelas, tapi dalam waktu singkat itu kerenggangan muncul antara Yuuki dan ketiga anggota lainnya, sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk bekerja sama.
“Jika kamu tidak terlalu menyukainya, lakukan saja sendiri !!”
Kata-kata yang dilontarkan oleh salah satu anggota dalam kelompok tersebut membuat Yuuki semakin keras kepala. Kemudian, dengan waktu yang tersisa, Yuuki mencoba membawa isi presentasinya ke level yang paling dia sukai. Namun, ada batasan untuk apa yang bisa dilakukan satu orang dan presentasi yang dihasilkan tidak mendekati level yang Yuuki inginkan. Alhasil, penghargaan yang diincar Yuuki jatuh ke grup lain.
Yuuki tidak bisa memahaminya.
Teman sekelas yang tidak menganggap serius tugas yang diberikan. Mereka yang tidak merasa kalah dan justru tertawa dengan bodoh.
Seandainya semua orang menganggapnya seserius diriku, kita tidak akan pernah kalah. Tidak, jika aku melakukannya sendiri dari awal, aku pasti akan menang! Aku berbeda dari yang lain. Aku satu-satunya yang serius, dan hanya aku yang menganggap ini serius. Aku benar-benar berpikir untuk menang.
Ketika dia menyadari hal ini, Yuuki berhenti mengharapkan orang lain melakukan hal yang sama.
Tidak ada yang bisa mengimbangi levelku. Mereka tidak menganggapnya seserius diriku, dengan tingkat keseriusan yang sama. Mereka dapat melakukan apapun yang mereka inginkan. Aku tidak akan pernah dikalahkan oleh mereka yang tidak pernah berusaha dan termotivasi. Saat kalian bermain-main, aku akan berada di atas semua orang.
Aku tidak butuh kerja sama dengan orang lain. Aku akan melakukan semuanya sendiri. Sebaliknya, terlalu merepotkan berurusan dengan yang namanya niat setengah-setengah atau rasa tanggung jawab.
Bahkan saat dia tumbuh dewasa, dan memperoleh keterampilan sosial sampai batas tertentu, prinsip hidup Yuuki tetap tidak berubah. Tidak, justru itu menjadi semakin kuat setiap tahunnya. Kurangnya motivasi dari teman-teman sekelasnya, kekecewaan pada orang lain yang terbangun setiap kali dia menyadari betapa rendahnya level mereka, tanpa dia sadari, berubah menjadi sikap merendahkan yang tidak disadari terhadap orang-orang di sekitarnya.
__ADS_1
Setelah dia menyadari hal ini, demi menghindari konflik dengan orang-orang di sekitarnya, Yuuki mulai membatasi dirinya dalam berurusan dengan orang lain. Benar-benar menyendiri. Dia memiliki bakat dan semangat kompetitif yang membedakannya dari orang lain. Itulah alasan dibalik sikap acuhnya.