
Kesimpulannya, itu bukanlah sesuatu yang istimewa.
“Eee ~ eh baiklah, itu saja untuk hari ini. Aah, tidak perlu sambutan segala. Baiklah kalau begitu.”
Setelah mengatakan itu dengan cepat, guru wali kelas dengan cepat meninggalkan kelas. Jam wali kelas pagi selesai cukup cepat dan masih ada lima menit tersisa sebelum jam pelajaran pertama dimulai.
Namun, para siswa kelas 1-B tidak beranjak dari tempat duduknya, dan mereka mulai berbicara satu sama lain dengan berbisik. Ada alasan mengapa wali kelas mereka mengakhiri kelas lebih awal dan beberapa siswa yang agak gugup.
Itu karena wajah tanpa ekspresi Putri Yuuki yang biasa tidak terlihat di mana pun. Ekspresinya dipenuhi dengan ekspresi kesal dan cemberut sambil memangku dagunya di tangannya.
“He-hei… itu, apa yang sebenarnya terjadi, sih?”
“Aku tidak tahu … aku mendengar sesuatu kalau itu ada kaitannya dengan Eza.”
“Yah, aku bisa membayangkan ketidaksenangan Yuuki-san karena Eza membuatnya marah, bukan. Tepatnya, apa yang terjadi?”
“Aku mendengar omelan kencang Putri Iroha waktu itu."
“Eh? Kenapa?”
“Siapa yang tahu? Dia mengomel dalam bahasa Jepang, jadi aku tidak tahu."
Di dalam kelas di mana berbagai macam spekulasi terus beredar, Adit meninggalkan kursinya diam-diam dan menyelinap ke sisi Eza.
“O-oi”
“Apa?”
Agak kewalahan dengan suasana di sekitarnya, Eza pun merespon dengan berbisik. Adit lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Eza dan berbisik padanya.
“Kamu, apa yang sudah kamu perbuat sampai membuat Iroha marah dan kena enzuigiri?”
__ADS_1
“Kenapa malah jadi seperti itu !?” Eza berteriak tanpa sadar dan menundukkan kepalanya saat melihat mata Yuuki melirik ke arahnya.
Ngomong-ngomong, enzuigiri yang dimaksud adalah tendangan berputar yang mengarah ke belakang kepala lawan saat melompat.
Itu adalah sesuatu yang bahkan tidak boleh ditiru oleh anak nakal.
“Mana mungkin Iroha menggunakan teknik berbahaya seperti itu, kan?”
“Ku-kurasa begitu.”
“Ya, paling banter itu sih dia melakukan tendangan jungkir balik ke rahang."
“Tidak, jika itu masalahnya, itu akan luar biasa, ‘kan?”
Adit tersenyum masam karena mengira itu hanyalah lelucon, dan Eza tersenyum ambigu sambil berpikir, “tapi aku setengah serius”.
“Jadi, kenapa putri Iroha sampai bad mood begitu?”
“Itu karena kamu melakukan sesuatu, kan? Ayo, mengaku saja.”
“Hm ~ mm, yah, kurasa kamu bisa bilang kalau aku memang melakukan sesuatu?”
Jika boleh jujur, Eza memang melakukan sesuatu.. Namun, jika ia mengatakan sesuatu seperti, “aku menyentuh kakinya dan melihat ****** ******** setelah itu”, ia dapat meramalkan kalau ia akan segera diadili di kelas dan dieksekusi dengan suara bulat di depan umum.
Karena itu, Eza mengelak dari pertanyaan takeshi sambil memutar otak untuk memikirkan bagaimana menghibur Yuuki.
“Aaah ~… Iroha?"
Pertama-tama, ia memanggil Yuuki, yang sedang meletakkan dagu di tangannya melihat ke luar jendela, untuk meminta maaf padanya.
Yuuki hanya melirik ke arah Eza sambil menjawab dengan suara tajam.
__ADS_1
“… ada apa, Eza”
Entah bagaimana, suara hatinya bisa ikutan terdengar. Di akhir kata Jepang-nya, “Eza” ditulis dengan huruf kecil.
Bahkan Eza ingin mengatakan banyak hal kepadanya tentang itu, tapi sebagai seseorang yang berpura-pura tidak mengerti bahasa Jepang, ia tidak bisa mengatakan apa-apa.
Nah, jika ia mengajukan keberatan sembari mengatakan sesuatu seperti, “sayang sekali, aku adalah cowok penyuka opp*ai”, kesan Eza di dalam kepala Yuuki akan jatuh sampai ke titik terendah. Selain itu, semua gadis di kelas pasti akan berbondong-bondong memandang jijik Eza. Pada akhirnya, mungkin itu adalah pilihan yang tepat untuk tidak mengatakan apa-apa.
Tapi ~ kalau dipikir-pikir, aku tidak melakukan hal yang buruk, ‘kan?
Tanggapan dingin Yuuki membawa pemikiran seperti itu di benak Eza.
Sejak awal, Yuuki sendirilah yang menyuruh Eza untuk memakaikan kaus kakinya, dan Yuuki lah yang menendang kakinya karena malu.
Akibatnya, fakta bahwa ****** ******** terlihat adalah sesuatu yang tak terelakkan. Dan kemudian menunjukkannya setelah itu dengan gaya pesan sekarat mungkin sesuatu yang tidak perlu, pikirnya. Dan itu juga karena ia berusaha membuat Yuuki tidak
Mengkhawatirkannya karena kejenakaannya yang kejam… adapun Eza, ia sedikit tidak puas karena dirinya dipandang jadi penyebabnya.
Namun, Eza juga mengerti bahwa dalam situasi seperti ini, posisi seorang cowok terkadang lemah. Ia memutuskan untuk pergi meminta maaf tanpa mengatakan apa-apa.
“Umm, maafkan aku, oke? Atas kejadian yang sebelumnya.”
“… aku tidak terlalu keberatan? Aku juga salah, aku tidak marah lagi, oke? ”
Suara batin Eza berkata, “lalu kenapa suasana hatimu masih terlihat sangat buruk ~”, dan suara batin teman sekelas yang telah mendengarkan bertumpuk satu demi satu dengan, “itu pasti bohong ...”
Kenyataanya, dia memang tidak berbohong. Sebenarnya, Yuuki sudah tidak marah lagi. Satu-satunya yang ada di dalam benak Yuuki saat ini adalah rasa malu karena kakinya disentuh dan ****** ******** terlihat.
Selain itu, tidak peduli bagaimana dia bereaksi terhadap ini, dia sendiri yang mengatakan, “pakaikan ini untukku?” Dan merasa malu pada dirinya sendiri karena telah melakukannya. Di tambah pula, rasa malu karena dia berteriak seperti anak kecil dan semua hal lain yang dia lakukan memenuhi pikiran Yuuki.
Jika ada lubang, dia merasa ingin masuk, menutupnya, membuatnya kedap suara, dan berteriak di dalam sekencang-kencangnya. Supaya perasaan batinnya tidak keceplosan, dengan sengaja, dia mengeluarkan aura “aku sedang bad mood !!”
__ADS_1