
“ ….”
Di bagian halaman utama pusat perbelanjaan, Eza memasang wajah masam sambil melihat ke arah seorang gadis di depannya yang sedang terduduk lesu.
Eza menggaruk bagian belakang kepalanya sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan saat seorang gadis tersebut, memasang ekspresi bersalah.
Sepertinya dia berpikir kalau dirinya sudah merepotkan kedua temannya, dan dia sekarang tidak tahu harus berbuat apa.
Disaat seperti itu, Eza yang melihat ke arah sampingnya mencoba mengirim pesan rahasia menggunakan teknik mata, yang entah bagaimana caranya bisa dimengerti oleh mereka berdua.
Rena … Apakah kau tidak bisa melakukan sesuatu?
Tatapan kuat berisi pesan tersebut Eza sampaikan kepada penerimanya, Rena untuk memberikan bantuan mengubah suasana.
Rena yang menangkap sinyal SOS dari Eza langsung menjawabnya.
Eh~? Aku lagi?
Ekspresi Rena tidak berubah, tapi jika Eza melihat lebih dalam ke tatapan matanya, ia bisa mengetahui kalau adiknya itu sedang mengeluh.
Mau bagaimana lagi, yang seperti ini hanya kaum cewek yang bisa lakukan.
Iya deh~
Pesan SOS yang Eza kirimkan berhasil terkirim dan dijawab dengan bantuan yang akan segera datang secepatnya.
Namun meski begitu, Rena yang berdiri di dekat Yuuki sebenarnya juga merasa canggung. Dengan kondisi yang seperti itu, Rena dengan takut-takut bertanya ke arah Yuuki yang terlihat lesu.
Namun, tidak ada tanggapan darinya.
Sepertinya Yuuki benar-benar sudah berpikir bahwa dia merepotkan kedua temannya itu.
Seharusnya dia tidak merasa sangat bersalah seperti ini, bukan?
Apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya ialah mereka bertiga menuju ke lantai tiga, tempat pertama toko yang Yuuki sering kunjungi saat pergi ke pusat perbelanjaan ini. Saat sampai di sana, ternyata toko langganan utama Yuuki tutup. Bahkan dari sekian banyaknya toko di sebelah yang berjejeran, hanya toko langganan Yuuki yang tutup.
Berpikir positif, mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan ke toko kedua langganan Yuuki, kali ini toko tersebut berada di lantai lima. Anehnya, hanya toko tersebut kembali yang tutup dari sekian banyak toko.
Masih berpikir itu hanyalah kebetulan, mereka lalu kembali ke lantai satu, lantai utama pusat perbelanjaan yang mereka kunjungi saat ini.
Yuuki mengatakan kalau tempat terakhir yang akan mereka kunjungi buka, dia sudah memastikan itu sebelumnya. Namun sialnya lagi, setelah sampai ke lantai satu dan berjalan cukup jauh mencari toko yang dimaksud, toko tersebut juga sudah dalam keadaan terkunci.
Entah nasib sial apa yang sedang melekat ke dalam diri Yuuki, namun dengan semua itu Yuuki merasa bersalah karena telah membuat Eza dan Rena berputar-putar tanpa arah.
“Iroha, kamu tahu kamu tidak harus merasa bersalah seperti itu, kan?”
Sekali lagi, Rena mencoba untuk mengembalikan mood Iroha seperti semula.
Tak lama kemudian, Yuuki perlahan mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Eza juga Rena dengan tatapan seperti seorang bersalah, dan ingin meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
“ … Maafkan aku.”
__ADS_1
“Kami berdua tidak marah, kok.”
“ … Apa begitu?”
Dalam beberapa hal … Eza yang melihat keadaan Yuuki yang seperti itu, sangat kontras dengan sifatnya yang memiliki kepercayaan diri tinggi dan bangga akan dirinya sendiri.
Meski begitu, hal seperti itu adalah sesuatu yang bagus, karena sekarang Rena dapat dengan mudah berinteraksi dengan Yuuki dan mengembalikan suasana bahagia mereka.
“ … Apa kau tidak apa-apa?”
“Aku pikir … ya.”
Yuuki menjawab pertanyaan Eza dengan lemah lembut, suara orang yang seperti baru pulih dari kondisi terpuruknya.
Setelah menghabiskan satu tahun di kelas yang sama, rupanya Eza baru menyadari jika Yuuki adalah gadis biasa. Mungkin sifat tegang rasanya lebih tinggi dari yang ia kira.
“Sudah-sudah! Jika berdiam diri seperti ini terus tidak akan ada artinya!”
Rena dengan aktif mulai mengubah suasana kembali agar ceria seperti sedia kala. Meskipun rencana untuk pergi berbelanja berduaan saja dengan kakaknya gagal total, ia tidak ingin menghabiskan waktu satu hari ini dengan penyesalan.
Maka dari itu, setidaknya Rena ingin mengukir memori yang tidak akan bisa terulang dengan orang yang berbeda. Terlebih, dia sudah memikirkan sesuatu yang menarik di dalam kepalanya.
“Nah! Ayo pergi ke toko yang lain saja. Di sini sangat banyak toko yang menjual pakaian, aku pikir itu bisa menambah daftar tempat favoritmu, bukan begitu?”
“ … Kau benar.”
Rena kemudian melihat ke sekelilingnya. Ketika ia melihat sekeliling tempat mereka beristirahat, ia melihat satu toko yang cukup menarik perhatiannya.
Jika beruntung, mereka bisa menemukan pakaian tertutup dengan bahan tipis. Pakaian yang seperti itu yang akan membuat mereka lebih nyaman.
“Oh, tempat itu terlihat menarik! Ayo coba ke sana!”
Ketika Rena bertanya kepada Yuuki tentang hal itu, Yuuki mengangguk seperti pasrah karena tidak ada pilihan lain.
Mereka bertiga lalu memasuki toko pakaian bersama-sama. Angin dari AC menyambut mereka tepat di pintu masuk, disusul oleh aroma toko pakaian di sana.
Di dalam toko ternyata mereka dapat melihat banyak jenis pakaian. Bukan hanya pakaian tipis saja, mereka juga dapat melihat banyak pakain berbahan tebal terpajang di seluruh toko. Sejauh mata mereka memandang, mereka dapat melihat jenis pakaian yang beragam dan hal tersebut juga mulai membuat suasana kembali menjadi lebih segar.
Rena dan Yuuki tampak sangat menikmati waktu bersama mereka dengan memilih pakaian dan saling berbagi pendapat. Eza yang melihat itu hanya bisa ikut tersenyum.
Lain kali, jika Rena kembali bertindak aneh, mungkin aku bisa membawanya berbelanja pakaian.
Ya, dia hanya tersenyum memikirkan bagaimana agar kelakuan tidak terprediksi adiknya itu dapat dicegah.
Saat memikirkan ide brilian itu di dalam kepalanya, Eza kembali tersadar. Dia kemudian dapat melihat sosok Yuuki dengan wajah cemberutnya, serta Rena yang berdiri di sebelahnya memasang ekspresi licik sambil memanggil Eza menggunakan tangannya layaknya patung kucing.
Sepertinya ide tadi langsung pupus begitu saja. Tidak berguna deh~
Sambil menahan perasaan tidak enak yang berada di dalam hatinya, Eza mendekati sosok Rena dan juga Yuuki yang masing-masing mereka memegang sebuah pakaian di tangan mereka.
"Apa kamu memerlukan sesuatu sampai-sampai memanggilku?”
__ADS_1
“Ya, tentu saja. Untuk apa aku memanggilmu jika tidak ada sesuatu?”
“Jadi aku benar-benar diperlakukan seperti alat!?”
“Sudahlah, kau juga setuju untuk mengambil peranmu kali ini, bukan? Yang lebih penting adalah kali ini.”
Rena memperlihatkan pakaian yang masih terpasang di gantungan baju sambil tersenyum kepada Eza.
“Apa ada yang salah dengan bajunya?”
Mendengar jawaban Eza, ekspresi Rena seketika berubah sedikit cemberut karena merasa tidak puas dengan apa yang Eza katakan.
“Kamu ini benar-benar payah, yah~ Kalau seperti itu terus, kamu mungkin bakal tidak akan menikah, loh.”
Merasa tertampar dengan perkataan Rena yang Eza pikir masuk akal, Eza kemudian langsung menanyakan apa yang sedang diinginkan oleh Rena.
“Jadi kamu ingin aku apakan dengan baju itu?”
“Mudah saja. Kamu harus memberi penilaian tentang apakah pakaian yang kita coba cocok atau tidak. Seperti itu, sederhana bukan?”
“Memangnya kamu tidak bisa melakukan hal itu sendiri?”
Rena membuang napasnya dengan berat, lalu menatap Eza dengan tajam.
“Dengarkan baik-baik. Seorang gadis perlu untuk tampil sempurna di depan umum, maka dari itu kita memerlukan pendapat. Karena kita berdua akan mencoba, jadi mana mungkin kita bisa memberikan pendapat ketika diri sendiri saja sudah bingung dengan pilihan diri sendiri.”
“Tunggu, kamu bilang kamu melakukan itu berdua?”
“Ya. Apa ada masalah?”
“Bukankah itu berarti aku harus memberikan penilaianku kepada Iroha?”
“Tentu saja. Bukankah itu adalah hal yang jelas?”
Eza lalu melihat ke arah Yuuki yang ada di sebelah. Di sana ia sudah dapat melihat kembali ekspresi yang biasa ia lihat di wajah Yuuki. Wajah cemberut dengan alis menurun ke bawah menandakan protes dan ketidaksukaan.
“Apakah kau tidak ingin? Jika tidak maka tidak apa-apa. Aku akan melakukannya sendiri kalau begitu.”
“Yah, bukannya aku tidak mau. Tapi apakah kau tidak apa-apa dengan itu?”
“Tidak apa-apa. Pendapat laki-laki juga dibutuhkan di sini.”
“Baiklah. Jika memang seperti itu maka aku akan menilainya untuk kalian.”
Mendengar seluruhnya sudah setuju, Rena menepuk kedua tangannya, “Baiklah, mari kita mulai. Mohon kerja samanya, Eza~”
Sambil mengucapkan hal tersebut, Rena dan Yuuki meninggalkan Eza ke dalam bilik ruang ganti.
Namun sebelum sepenuhnya masuk, Rena mengeluarkan kepalanya dan melihat ke arah Eza. Eza yang memperhatikan melihat itu kebingungan sampai akhirnya Rena menjulurkan lidahnya lalu masuk sepenuhnya ke dalam.
Awas saja anak itu!
__ADS_1
Eza hanya bisa berteriak protes di dalam hatinya karena sudah terjebak rencana adiknya itu.