Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1

Yang Duduk Di Sebelahku Adalah Orang Jepang Asli! Volume 1
Jangan Main-Main!


__ADS_3

Sore hari ketika sekolah sudah selesai dan banyak murid yang sudah pulang, Eza masih berada di tempat duduknya.


Tidak ada alasan yang terlalu penting. Cuma hal sepele saja, dia terlalu nyaman dengan suasana sore, jadi dia rebahan di atas meja dan tertidur.


Selain itu, hari ini adalah jadwal dirinya untuk melakukan piket kelas. Sudah menjadi hal biasa untuk Eza membiarkan teman sekelasnya pergi, lalu mengerjakan tugasnya dikala sepi. Ia hanya ingin rebahan sebentar, karena tempat duduknya tepat di sebelah jendela, angin sepoi-sepoi yang masuk membuat dirinya nyaman.


Ketika matanya sudah terbuka, ia merenggangkan badannya yang kaku lalu melihat ke arah sekitar. Tentunya tidak ada siapa pun sejauh mata ia memandang. Namun saat ia melihat ke meja di sebelahnya, ia masih melihat tas milik Yuuki menggantung di sana.


“Anak itu rajin sekali, ya.”


Di sekolah ini, piket dilakukan oleh beberapa murid secara bergiliran. Caranya menentukan jadwalnya bebas, untuk kelas Eza, mereka melakukannya dengan mengadakan undian. Tidak ada masalah tentang hal itu, yang terpenting setiap individu melakukan tanggung jawabnya dengan baik.


Alasan mengapa Yuuki masih berada di sekolah sama seperti Eza yang masih ada di kelas, karena jadwal piketnya juga berbarengan dengan Eza. Dengan kata lain, salah satu rekan Eza untuk piket adalah Yuuki.


Jika ditanya ke mana yang lainnya, tentu saja mereka sudah pulang. Namun jangan salah sangka, mereka membersihkan bagian lorong dan juga sekitar kelas di luar. Sepertinya teman Eza sudah menyerahkan sepenuhnya bagian dalam untuk dirinya ketika ia tertidur di kelas seusai pelajaran selesai.


“Nah, sekarang mulai dari mana, ya?”


Eza menyadari kalau dirinya adalah seorang pemalas dan juga mengetahui sifatnya itu dapat merepotkan banyak orang. Oleh karena itu, ia sebisa mungkin mengurangi amukan masyarakat yang bisa kapan saja menimpa dirinya. Tentunya ia juga melakukan tugasnya sebagai bagian dari masyarakat.


Oleh karena itu juga, tidak peduli seberapa malasnya dia dan seberapa besar orang menganggapnya pemalas, ia tidak akan meninggalkan tugasnya jika memang ia diberi tanggung jawab itu. Meski hanya mengerjakan bagian sisanya saja (yang tentunya tidak sedikit), ia akan tetap melakukannya sebagai bagian dari rasa percaya yang sudah diberikan kepadanya. Begitulah Eza.


“Kalau aku memberikan nilai untuk karyaku sendiri di website, tentu saja itu lima dari lima, bukan? Aku merasa sempurna, dari perspektif diriku sendiri tentunya.”


Eza melihat sekeliling kelas dari pojok lain hingga pojok lain dengan anggukan puas.


Semuanya tertata rapi, baik itu meja, kursi, atau pun atribut kelas. Semuanya terlihat bersih dan tidak ada satu benda yang tidak pada tempatnya. Sempurna!


Kebetulan, seharusnya tugas membersihkan kelas ini dibagi dua dengan Yuuki. Biasanya Eza hanya merapikan bangku dan menyusun benda-benda, tapi karena suasana hatinya sedang bagus, ia melakukan bagian Yuuki dan mencoba mengatakan, “Apa yang kamu lakukan? Aku sudah membersihkan ini. Lebih baik kamu pulang” dan menghindari kemarahan dari Yuuki.


Ia kemudian kembali ke tempat duduknya dan menunggu Yuuki datang ke kelas, yang kemungkinan besar akan lama, jadi Eza kembali berbaring di atas mejanya, menikmati angin sore yang membuat matanya kembali mengantuk. Itulah yang ia inginkan, tapi karena sudah tidur tadi, jadi Eza hanya memandang klub olahraga yang sedang melakukan latihan di lapangan.


“Keliatannya capek. Biasanya kalau ada yang berantem, dramanya bisa satu bulan lebih.”


Beberapa menit setelah mengolok-olok masa muda orang lain, pintu kelas bergeser terbuka, memperlihatkan sosok berlian yang bermandikan cahaya oranye dari langit sore. Mata Eza terbuka lebar-lebar, bukan karena pemandangan indah, tapi karena tumpukan kertas yang di bawa oleh Yuuki yang ditopang oleh kedua tangannya.


“Apa yang kamu bawa? Apa kamu baik-baik saja? Apakah kamu perlu bantuan?”


Eza yang melihat Yuuki yang sudah berjalan masuk sedikit ke dalam kelas dari tempat duduknya, dapat melihat wajah cemberut dari balik tumpukan kertas yang hampir mengubur wajah Yuuki.


“ ... Kalau kamu tahu aku butuh bantuan, bisa enggak kamu bantuin aku ambil setengahnya.”


“Iya ...”

__ADS_1


Setelah selesai menggoda sedikit Yuuki, Eza beranjak dari bangkunya dan berjalan ke arah Yuuki, mengambil sebagian tumpukan kertas agar bisa meringankan beban di tangan Yuuki.


Saat pandangannya sudah jauh lebih baik, Yuuki melihat ke sekeliling lalu menaikkan satu alisnya. Dia menyadari kelas sudah terlihat jauh lebih bersih dibanding terakhir kali ia meninggalkan kelas.


Melihat ekspresi Yuuki, Eza dengan santai berjalan ke arah mejanya dan menyombongkan dirinya sendiri.


“Aku sudah membersihkan kelasnya, jangan khawatirkan tentang itu.”


“Begitu? Baguslah ... Kita bisa fokus ke hal yang lainnya.”


“Hanya itu saja? Apakah kamu tidak merasa takjub?”


“Memangnya kamu berharap aku ngomong apa? Palingan kamu enggak bisa tidur lagi, kan?”


“ ... Kayaknya Bahasa Indonesia kamu semakin lancar.”


“Setidaknya kamu harus bisa pertahankan rasa tidak bisa tidurmu dalam pelajaran besok.”


“ ... Aku akan berjuang?”


Yuuki menghela napas jengkel dan mengikuti jalan Eza dari belakang. “Aku akan mengurus sisanya nanti.”


Eza hanya memasang wajah datar biasanya mendengar ucapan Yuuki yang seperti itu.


Yuuki yang mengikuti dari belakang dengan wajah yang serius, bukannya berjalan ke arah mejanya sendiri, ia justru duduk di bangku depan Eza.


“Apa ada yang kamu perlukan?”


“Ya. Kita akan mengerjakan ini berdua, sensei yang menyuruh.”


“Kenapa kamu pakai sebutan sensei?”


“Karena aku merasa aneh saat hanya mengucapkan guru saja. Terlebih, panggilan sensei juga untuk menunjukkan hormatku kepada mereka.”


Eza hanya menatap Yuuki di depannya yang sedang sibuk dengan alat tulisnya, seperti biasa, ia bisa melihat ekspresi seriusnya di sana. Eza berpikir seberapa seriusnya orang di depannya ini.


“Jadi kamu disuruh untuk mengerjakan ini sendiri?”


“Bukan sendiri, tapi berdua sama kamu.”


“Maaf? Tapi aku sangat ingat aku tidak sedang membeli barang dari toko online, lho!”


“Aku juga tidak bisa mengembalikan barang yang sudah dipesan. Jadi terima saja dan kerjakan, ok?”

__ADS_1


“Rasanya malesin.”


Setelah mengatakan itu, Yuuki menatap tajam ke arah Eza. Tapi kemudian membuang napasnya merasa lelah dan mulai mencorat-coret kertas yang dibawanya.


“Saat sensei menanyakan apakah ada seseorang yang bisa membantuku, aku tidak bisa memikirkan nama lain selain dirimu. Aku juga tidak tahu mengapa, tapi mungkin karena perkataan Rena saat itu? Yah, kebetulan juga kamu ada jadwal piket hari ini, bukan? Makanya aku bilang ke sensei kalau kamu


bakal membantuku. Tapi kalau kau ingin pulang, aku bisa mengerjakan ini sendiri. Jadi jangan khawatir.”


Di saat Yuuki mengatakan itu, Eza hanya menatap dengan mata matinya dalam diam.


“Kalau hanya itu, aku juga bisa membantu.”


“Kamu tidak usah memaksakan diri. Tenang saja, ini akan selesai dalam waktu yang cepat.”


“Memangnya aku seburuk itu apa!”


“Aku tidak bilang kamu itu tidak bisa diandalkan, oke? Haaa ... Jika kamu ingin membantu maka kerjakanlah bagian sensei, karena aku juga harus mengerjakan bagian OSIS.”


“Oke~”


Usai mengatakan itu, Eza membuka tasnya dan meraba-raba dalam tasnya untuk mengambil alat tulis miliknya, dan mulai mengerjakan lembaran demi lembaran yang menumpuk banyak.


Yuuki yang melihat itu dengan serius mulai tersenyum kecil saat melihat sosok Eza dengan serius mengerjakan bagiannya. Dia pikir, dia bisa menyerahkan kepada Eza dengan santai dan membiarkannya menyelesaikan sendiri.


Dia mungkin sudah salah menilai Eza selama ini dan mulai mempercayai apa yang dikatakan Rena, kalau Eza mempunyai kemampuan yang berbanding terbalik dengan penampilannya. Memikirkan itu, entah mengapa membuat hatinya sedikit berdegup kencang.


Setelah sudah beberapa menit berlalu, dengan cepat, Eza menyelesaikan lembar demi lembar sambil mempertahankan fase pengerjaannya yang cepat. Tapi ...


Gawat! Suasananya bikin aku ngantuk lagi!


Suara-suara di luar yang dihasilkan oleh beberapa klub olahraga di luar, entah mengapa berubah menjadi bagian penghantar lagu tidur di telinganya.


Meski begitu, ia tetap mencoba untuk menahan rasa kantuknya dan bertahan dari serangan musuh. Tapi begitu ia sudah dapat mempertahan kesadarannya, angin sepoi-sepoi yang membelai lembut, membuat Eza tidak dapat menahan kantuknya lagi dan saat ia ingin menyebrangi jembatan mimpi ...


“Uuuh!”


Saat dirinya sudah dapat melihat peri dan taman bunga, ada ujung pensil yang menusuk lengannya.


Tulang lenganku!!! Darah! Rasanya akan berdarah!


Mendapat serangan mendadak, Eza ingin melemparkan protes, namun nyalinya langsung menciut ketika Yuuki menatap tajam ke arah Eza.


Di saat Yuuki sudah mendapatkan kesan yang bagus mengenai Eza, kesan itu langsung dihancurkan oleh orangnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2