
“Ooh, kalian sudah kembali. Terima kasih atas kerja kerasmu … dan, kamu membawa sesuatu yang luar biasa di sana.”
Sylvia, yang sedang mengerjakan tugas dokumen di ruang OSIS, menunjukkan senyum masam saat melihat Friska memegangi boneka kucing.
“Imut, ‘kan?”
“Yah, imut sih tapi … Apa kamu berniat akan menaruhnya di ruang OSIS? ”
“Eh~ boleh~?”
“Tidak, tolong jangan sampai melakukan itu.”
“Ketua, di mana aku harus meletakkan ini?”
Eza bertanya sambil mengangkat tas belanjaannya. Sylvia bangkit dari mejanya lalu datang menghampiri untuk melihat isinya.
“Biar kulihat-lihat dulu … Ya, sepertinya persediaan yang biasa. Kamu benar-benar sangat membantu, Eza. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika aku mempercayakan semuanya pada teman sekelasku yang bernama Friska ini …. ”
“Ruangan OSIS akan berubah menjadi taman dreamland.”
“… Begitu rupanya. Ya, aku sangat senang. Terima kasih.”
Mungkin setelah menebak banyak hal dengan melihat Friska yang memegang boneka, Sylvia menepuk bahu Eza dengan ekspresi lembut.
“Bagaimana dengan itu, Eza. Kenapa kamu tidak ikut bergabung dengan OSIS?”
“Umm kalau masalah itu … jika hanya membantu sesekali, aku tidak keberatan.”
“Kalau begitu maumu, bagaimana kalau kamu menjadi anggota di nama doang? Aku takkan mengatakan apa-apa jika kamu tidak mau."
“Aah, Kakak Friska juga ikut mendukung, ya.”
“Umm kalau jadi anggota di namanya saja … Aku tak berpikir kalau bukan seperti itu cara kerjanya. Maksudku, aku mengerti jika Rena yang bertanya, tapi kenapa Ketua sangat ingin membuatku bergabung?”
Ketika Eza bertanya dengan curiga, Sylvia menutupi mulutnya dengan ekspresi seolah berkata, “Sebaliknya, menurutku inilah yang aneh.”
“Hmm … Justru sebaliknya, kenapa kamu tidak ingin bergabung dengan OSIS? Aku merasa kalau tidak mau melakukan pekerjaan yang melelahkan bukanlah satu-satunya alasanmu menolak ajakan bergabung iya, ‘kan?”
“… Aku ... bukan seseorang yang layak menjadi anggota OSIS.”
Aku sama sekali tidak pantas ... memperoleh posisi itu saat aku tidak memiliki keinginan yang kuat untuk meraih posisi itu, atau kesiapan untuk memikul tanggung jawab yang menyertai posisi tersebut.
__ADS_1
Saat Eza tersenyum getir dan ekspresinya mulai suram, Sylvia mengangkat alisnya, memiringkan kepalanya dengan ragu “Hmm?”.
“Aku tidak berpikir kalau kamu itu bukan orang yang layak. Lagipula, bukannya kamu memiliki rekam jejak yang bagus sebagai seseorang yang mempunyai banyak hal? Rena juga memberitahuku akan hal itu.”
“Aku dapat mengatakan ini dengan yakin karena pernah mengalaminya. Lagipula dari awal, aku hanya menjalani hidupku dengan sesuai apa yang aku minati saja … Dan bukan karena aku punya keinginan untuk mendapatkan posisi itu.”
“…. Hmm, dan memangnya ada yang salah dengan itu?”
“Eh?”
Eza tanpa sadar mengangkat suaranya saat mendengar ucapan Sylvia yang terheran-heran. Sylvia kemudian menyeringai, dan berbicara dengan dadanya yang membengkak dengan bangga.
“Bahkan aku menjadi ketua OSIS demi bisa membuat orang lain yang menatap rendah diriku untuk bisa merubah menjadi tatapan kagum, kau tahu? Aku akan mengatakan itu lebih dari motif yang tidak murni daripada motifmu, bukan begitu?!”
“Eh? Ap-apa benar-benar itu alasannya?”
Eza terkejut dengan pernyataan berani Sylvia seolah-olah tidak ada yang perlu merasa malu. Saat Eza membuka lebar matanya karena terkejut, Sylvia mengoperasikan smartphone-nya dan menunjukkan satu foto padanya.
“Lihat ini.”
“….? Umm, apa itu adalah adik perempuanmu? ”
“Eh !?”
Kalau secara blak-blakan, foto yang ditampilkan di sana adalah cewek yang sangat tidak menarik dan gemuk yang sama sekali tidak mirip seperti Sylvia saat ini. Rambutnya tidak rapi; kacamatanya ketinggalan zaman; dan wajahnya dipenuhi jerawat. Ditambah pula, caranya meringkuk tubuhnya yang besar secara horizontal dan vertikal seolah-olah Ia tidak yakin pada dirinya sendiri, kesan rendah diri yang kuat, dan bahkan tidak ada sedikitpun kemiripan dengan Sylvia yang sekarang.
“Seperti yang sudah kamu lihat sendiri, dua tahun lalu aku adalah tipikal cewek suram. Nilaiku jelek dan aku juga tidak pandai berolahraga. Sejujurnya, aku tidak terlalu suka pergi ke sekolah tapi ... terlepas dari kenyataan kalau aku tidak layak untuk itu, aku jatuh cinta dengan salah satu pesona murid terbaik di angkatanku. ”
“Dan dia adalah….”
“Ya, aku tidak bisa menyebutkan namanya. Tapi suatu yang pasti, dengan semangat seperti itu aku bisa merubah cara pandangku sepenuhnya.”
Fakta bahwa Ketua OSIS memiliki karisma dan karakter yang kuat sudah menjadi buah bibir di sekolah. Sampai-sampai Eza, yang tidak tertarik dengan ghibah seperti itu, bisa ikutan mengetahuinya. Namun, hingga saat ini Eza mengira kalau elit dari kasta teratas sekolah harus berjuang keras demi mencapai posisi puncak yang diidam-idamkan. Ia tidak menyangka kalau Ketua OSIS berkarisma itu dulunya berasal dari kasta terendah sekolah.
“Jadi, aku berusaha mati-matian untuk menjadi cewek yang layak menjadi orang terpandang. Bahkan aku memenangkan posisi ini sebagai Ketua OSIS adalah bagian dari itu. Bagaimana menurutmu? Niat yang tidak murni, ‘kan?”
“Ha ha ha ... Ya, kurasa begitu …”
Adapun Eza, Ia hanya bisa tertawa setelah diberitahu sampai sejauh ini olehnya dengan begitu percaya diri. Saat Eza hanya tersenyum kecut tidak tahu harus berkata apa, Sylvia lanjut berbicara.
“Itu sebabnya, ya ... Tidak peduli motif apa yang menjadi alasanmu. Bahkan, teman sekelasku yang ada di sana juga bergabung dengan OSIS karena dia diundang oleh diriku.”
__ADS_1
“Benarkah?”
“Itu benar, loh? ~ Yah, sebagian lagi karena aku memang tertarik,”
Friska menegaskan itu dengan senyum lembut di wajahnya. Kemudian wajah Friska menjadi sedikit serius, dan berbicara seolah menegurnya dengan lembut.
“Dengar ... Aku pikir tidak masalah motifnya, selama kamu meninggalkan hasil yang bagus maka tidak masalah. Baik untuk cinta atau persahabatan, tidak masalah selama kamu melakukan sesuatu untuk kepentingan siswa sebagai bagian dari OSIS.”
“Apa … begitu?”
“Tentu saja. Jika tidak, bagaimanapun, politisi harus menjadi orang suci dulu untuk menjadi politisi.”
“Ahaha, aku rasa itu ada benarnya juga.”
Saat Eza tertawa sinis dan agak lucu, Sylvia juga ikut mengangguk, seolah-olah menegaskan kata-kata Friska.
“Itu yang aku maksud. Tidak peduli motifnya, bersama dengan Rena kemarin, kamu sudah meninggalkan hasil yang luar biasa sebagai seseorang yang pantas berada di OSIS. Tidak ada yang perlu merasa malu-malu segala, atau merasa bersalah.”
Kata-kata tersebut tanpa diduga bergema kuat di hati Eza. Ia ... entah kenapa selalu merasa bersalah. Tidak peduli seberapa banyak pencapaian yang Ia peroleh, "Ada orang lain yang lebih pantas untuk posisi ini daripada aku", pemikiran seperti itu akan selalu muncul.
Rasa bersalah karena telah merebut posisi dari "seseorang" itu selalu membayangi hati Eza. Tidak peduli seberapa banyak lingkungan sekitar memujinya, jika orangnya sendiri tidak dapat mengenalinya, itu sama saja tidak ada artinya. Tidak peduli kemuliaan apa yang dia terima, tanpa disertai harga diri itu hanya akan menjadi kemuliaan kosong.
Bahkan dirinya yang sudah menempuh jalan seperti itu, tidak bisa lagi untuk memutarbalikkan keadaan yang sudah terlanjur kacau. Tapi sekarang, melalui kata-kata Sylvia dan Friska, Eza bisa mengenali sedikit dari dirinya yang dulu.
“Jika kamu bergabung dengan OSIS supaya seseorang bisa menjadi Ketua OSIS, Itu lebih dari cukup. Aku, serta Friska dan seluruh anggota yang ada di sini, kami menyambutmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengeluh.”
Eza merasa ingin menitikkan air mata ketika Sylvia mengatakan itu dengan bangga sembari menunjukkan senyum tak kenal takut. Ia tidak tahu apa itu karena Ia senang merasa dimaafkan untuk masa lalunya, atau karena kekaguman pada Sylvia yang begitu mempesona.
“… .Aku akan, memikirkannya dulu.”
“Ya, pikirkan baik-baik. Sudah jadi hak istimewa para anak muda untuk mengkhawatirkan hal-hal semacam itu.”
“Bukannya Ketua masih anak muda juga ~. Sejujurnya, kamu tidak terlihat seperti siswa SMA,”
“Hahaha, memang! Bahkan beberapa waktu yang lalu, aku dikira sebagai mahasiswa pascasarjana!”
Eza juga sedikit tersenyum pada kedua Senpai baik hati yang tersenyum cerah.
Supaya seseorang bisa menjadi Ketua OSIS, ya ….
Ia merenungkan kata-kata Sylvia di benaknya, dan terkejut oleh orang yang secara alami muncul di pikirannya segera setelah itu. Itu karena ... orang yang muncul bukan Rena ….
__ADS_1