
" Cell bertahan gue mohon, hiks hiks ". Tangis Renata menatap Marcel yang lemah.
" Boss, gue yakin loe kuat ". Timpal veer dengan khawatir.
" Dok, tolong dia berapapun biayanya tak jadi masalah asalkan dia selamat ". Veer yang sudah tidak bisa membendung kesedihannya.
***** Sebelumnya *****
" Bos, mau kemana? ngedate sama Renata ya ". Sindir Veer ke Marcel.
" Cuma mau cari angin ". Jawab Marcel dengan singkat.
" Gue siapin mobil ya bos ". Lanjut Veer menawari Marcel.
" Tak perlu Veer, gue cuma Mau jalan-jalan didekat sini. Cari Angin ". Marcel tersenyum.
" O' ya Veer Ada kabar tentang adik-adik gue? ". Tanya Marcel lanjut.
" Don't Worry bos, mereka baik-baik saja ". Veer membohongi bossnya agar bossnya tak mengkhawatirkan adik-adiknya.
" Gue ikut ya boss ". Veer sambil meringis memamerkan gigi putihnya.
Marcel memberi kode setuju Veer mengikutinya.
" Boss, Renata ga kita ajak sekalian? ". Tanya Veer.
" Loe ga liat dia disana ". Marcel menunjuk dengan dagunya ke arah Renata yang sedang membeli cake.
Tiba-tiba mata Marcel terfocus dengan seorang pria paruh baya sedang menyaberang tanpa melihat kanan dan kiri. Sedang mobil dari arah berlawanan sedang melaju dengan kencang seakan ingin menabrak seorang pria paruh baya. Marcel berlari dengan kencang mendorong pria paruh baya. Tubuh Marcel terpental jauh sesaat mobil yang melaju kencang menabrak tubuhnya.
" MARCELLL "
" BOSS ".
Suara teriakan Renata dan Veer bersamaan. Kemudian mereka berlari mendekati Marcel yang masih tergeletak di tengah jalan raya.
Tangis Renata pecah melihat kondisi Marcel yang bersimpuh darah.
***** Di Rumah Sakit *****
" Dok, tolong selamatkan nyawanya ". Pinta Renata dengan masih dalam menangis.
" Boss, loe pasti bisa melewati ini semua. Bertahan boss ". Lanjut Veer yang tak bisa lagi menahan tangisnya.
" Saya akan berusaha, bantu Do'a ya ". Ucap Dokter Satria dengan pasti.
Marcel kemudian dibawa keruang operasi. Hampir dua jam lebih Marcel berada didal.
Renata yang duduk didepan pintu sambil memegang lutut menangis dan berdo'a, mengingat ketika pertama dia bertemu Marcel.
Sedangkan Veer mondar mandir mengkhawatirkan sahabat sekaligus bossnya.
Pintu operasi terbuka, wajah lelah Dokter Satria terlihat. Perlahan Renata berdiri menanyakan bagaimana kondisi laki-laki tercintanya.
" Dok, gimana keadaan Marcel ". Tanya Renata dan Veer. Sedang seorang paruh baya yang di tolong Marcel menunggu jawaban Dokter Satria.
" Tuan Marcel butuh donor darah, kebetulan stock darah AB+ di Rumah Sakit ini sedang kehabisan ". Penjelasan Dokter Satria.
Renata dan Veer saling menatap, seakan menanyakan apa dari mereka ada yang memiliki donor darah seperti Marcel. Mereka berdua saling menggeleng.
Tidak dengan seorang pria paruh baya.
" Darah saya sama dengan pasien dok, selamatkan dia. Karena bagaimanapun dia telah menyelamatkan nyawa saya ". Ucap pria paruh baya yang belum diketahui namanya.
" Silahkan tuan, anda segera masuk. Untuk keluarga pasien tetap cari donor lagi yang sama karena pasien cukup kehilangan banyak darah". Lanjut ucap Dokter Satria.
" Veer, segera hubungi keluarga Marcel. Gue yakin Shandy dan Ellena memiliki donor darah yang sama ". Timpal Renata.
" Tapi__, gue ga tega kalo harus hubungi Ellena Ren..., dia begitu menyayangi Marcel ". Jawab Veer
" Veer kita ga ada waktu, nyawa Marcel taruhannya. Gue mohon Veer, gue ga mau kehilangan Marcel untuk yang kedua kalo nya ". Tangis Renata pecah.
__ADS_1
" Loe ma Marcel___ ". Tanya Veer dengan penasaran.
Renata mengangguk mengiyakan dugaan Veer tentang hubungannya dengan Marcel.
Veer akhirnya menghubungi Shandy, Veer pikir lebih baik menghubungi Shandy daripada Ellena. Karena Veer fikir Ellena ga akan sanggup mendengar Marcel celaka.
" Ada apa ka? ". Tanya Shandy.
" Shand, Marcel kecelakaan dia membutuhkan banyak darah. Gue ingin loe kesini sekarang juga ". Jawab Veer tanpa basa basi karena mengkhawatirkan kondisi Marcel.
" Loe ga bercanda kan ka? ".
Tangis Veer terdengar, Shandy pun tak terasa meneteskan air mata.
" Kaka bertahan lah tunggu Shandy". Batin Shandy.
***** Ellena *****
" Telfon dari siapa ka Lee? es creamnya sample cair nih ". Ellena sambil menyodorkan es cream Zacklee.
" Oh ini dari dosen, skripsi gue ma yang lain di ACC ". zacklee membohongi Ellena.
" Selamat ka ". Ellena menyodorkan tangannya untuk Zacklee sambil melemparkan senyumnya.
Zacklee tersenyum, tetapi pikiran dan hatinya sedih mengingat kabar tentang Marcel.
" Kita pulang yuh, uda malam nanti masuk angin ". Celetuk Zacklee sambil tertawa.
" Kaka takut masuk angin ". Ellena bertanya dengan wajah lucunya.
" Yee, loe pikir gue kakek-Kakek ". Zacklee gemas sambil mangkup wajah Ellena dan mencubit pipinya.
" Sakit tau ka, nyebelin ". Gerutu Ellena.
Zacklee tertawa melihat tingkah lucu Ellena, menggodanya sekarang menjadi hoby barunya.
Sesampainya di Rumah,
" Tante, tante sejak kapan ada di Rumah Ellena? ". Tanya Ellena.
Trias tersenyum,
" Sejak ada yang jatuh cinta ". Bisik Trias ke telinga Ellena, membuat Ellena membelalakkan matanya.
" MAMA ". suara Zacklee .
Trias tertawa terbahak-bahak, dia berhasil menggoda Ellena dan putra tampannya Zacklee.
" Kalian ini, ditunggu Go publiknya ". Ledek Trias sambil berlalu dari Ellena dan Zacklee yang masih saling menatap malu.
Ellena dan Zacklee pun salah tingkah,
Ellena yang merasakan desiran aneh semenjak kejadian kemarin menjadi malu setiap ada yang membahas tentangnya.
Sedang Zacklee berusaha untuk mengalihkan perasaannya. Meski dia tau sebenarnya arti perasaannya itu.
" Nih, Mama masak masakan kesukaanmu Ell ". Trias mengalihkan kegugupan mereka berdua.
" Ka Shandy mana tante? ". Tanya Ellena yang tiba-tiba matanya beralih mencari keberadaan Shandy.
Trias dan Zacklee saling menatap. Mereka bingung dengan jawaban mereka masing-masing.
" Tuan muda tadi ada urusan mendadak non, katanya ada urusan kuliah ". Suara Mak Ijah menyelamatkan Trias dan Zacklee.
" Kenapa dia ga pamitan sama aku ya". Ellena ngedumel protes.
" Awas nanti kalo minta tolong lagi kayak kemarin ogah bantuin ". Ellena mencibir Shandy.
" Dasar kaka jaelangkung ".
Trias dan Mak Ijah yang melihat Ellena ngedumel tertawa, sedangkan Zacklee masih memikirkan cara supaya Ellena tidak curiga kepergian Shandy.
__ADS_1
" Tante tidur sini kan? ". Tanya Ellena.
" Tante sih terserah Lee ". Trias melirik putranya.
" Apaan sih Ma, Lee tetap pulang ". Jawab Zacklee.
" Lee, kasihan Ellena ga da temennya. Kita disini dulu ya, boleh kan Ell ". Trias berpura-pura supaya Zacklee mau menemaninya nginap di Rumah Shandy.
" E, Anu... terserah tante ". Ellena gugup.
" Dasar si Emak jahil bilang aja mau deketin gue ma Ellena ". Gerutu Zacklee.
" Tuh kan, Ellena aja setuju ". Senyum Trias makin merekah.
" Kalian berdua kenapa sih daritadi cuma saling mencuri pandang, jangan- jangan___". Trias memancing Ellena dan Zacklee yang sedang mencuri pandang.
" MAMA"
" TANTE".
Ellena dan Zacklee berucap bersamaan. Trias semakin terkekeh melihat mereka selalu kompak.
" Kalian ini, lama-lama kompak.. tanda-tanda jodoh kali ya ". Trias terkekeh sambil berlalu meninggalkan Ellena dan Zacklee ke dapur.
" Maafin Mama gue ya Ell, beliau supaya bercanda ". Zacklee menggusah kegugupannya.
" Ga_ga apa-apa ka, Tante orangnya Asyik ". Jawab Ellena.
Selesai makan malam mereka bertiga berkumpul diruang keluarga. Trias dan Zacklee menginap di Rumah shandy untuk menemani Ellena. Ketika Ellena akan mengambil minum tak sengaja dia menyenggol foto Marcel yang berada diatas nakas pendek.
Hati Ellena tiba-tiba gusar melihat foto Marcel jatuh berantakan.
" Sudah tiga hari Ka Marcel tak ada kabar, tak biasanya dia seperti ini ". Batin Ellena dengan khawatir.
" Nona ga kenapa-kenapa? ". Tanya Trias dan Mak Ijah yang melihat Ellena terduduk lemas.
Jarinya tergores pecahan kaca ketika Ellena memungutnya.
Zacklee yang melihatnya begitu khawatir.
Dengan cepat dia menggapai tangan Ellena kemudian menyesapnya.
Ellena terkejut, desiran itu muncul lagi sejenak melupakan yang terjadi pada Marcel. Ellena menatap wajah Zacklee dengan dalam. Semakin dalam, desiran itu semakin terasa.
Ellena menatap setiap inci wajah Zacklee.
" Tampan ". Batin Ellena.
" Bocil, bisa ga untuk ga ceroboh ".
Ucapan Zacklee membuyarkan lamunan Ellena.
Ketika mata itu saling menatap, desiran itu semakin nyata. Ada rasa dimana mereka tak ingin jauh.
" Maaf ka ". Jawab Ellena dengan lirih.
" Jangan maaf terus dong cilll, gue jadi ga bisa marahin loe. Intinya gue ga mau loe kenapa-kenapa karena gue Cin___ ". Zacklee tak melanjutkan ucapannya. Dia menyadari apa yang akan diungkapkannya. Kemudian berdiri mengambil obat merah.
Trias dan Mak Ijah hanya menyaksikan tingkah keduanya. Trias tersenyum bahagia karena dia sudah tau jika putra tampannya sedang dilanda jatuh cinta.
" Cinta itu merubah segalanya ya Mak ". Ungkapan Trias.
" Nyonya besar langsung di Lamar aja Nona Ellena nya ". Jawab Mak Ijah sambil berbisik.
Trias menoleh ke Mak Ijah dan mereka tertawa bahagia.
🥀🥀🥀🥀🥀
Hai-hai para Readers Sejati...
Jangan lupa tinggalkan jejakmu ya👍
__ADS_1