
Sekitar pukul 11.00 waktu kanada Shandy dan rombongan tiba.
Mobil jemputan mereka sudah stand dua jam sebelum pesawat mereka mendarat.
Shandy yang terlihat lelah tak perduli dengan kondisinya sebelum bertemu Kakanya.
Begitupun dengan Albert dan Adam mereka pun merasa cemas dengan kondisi Marcel.
Satu jam lebih akhirnya mereka sampai ke Rumah Sakit tempat Marcel dirawat. Shandy melihat Veer dan Renata didepan ruang ICU.
" Ka Veer, gimana kondisi Ka Marcel ". Tanya Shandy.
Veer memeluk Shandy, menguatkan Shandy.
" Marcel Koma Shand, loe harus kuat ". Bisik Veer ditelinga Shandy.
Renata yang mendengarnya terisak, matanya sembab karena menangis semalaman.
Shandy merasa lemas mendengar kondisi Kakanya. Albert dan Adam pun merasa sedih atas kondisi keponakannya.
" Ini ga mungkin ka, ka Marcel orang yang kuat ". Teriak Shandy, air mata Shandy sudah tidak bisa terbendung lagi.
Shandy mengingat ketika Marcel merawatnya dengan Ellena diwaktu kecil.
Mengingat ketika dia selalu membangkang perintah Marcel untuk menyayangi Ellena.
Adam memeluk Shandy yang mulai terpuruk.
Begitupun dengan Albert,
" Marcel pasti bangga denganmu Shand, berjuanglah kuat demi Marcel dan Ellena ". Dukungan Albert membuat Shandy sadar.
Shandy mengangguk dia mengingat masih ada Ellena yang harus dia bahagiakan.
Diujung terdapat sosok sepasang mata yang menyesal telah meninggalkan putra-putra hebatnya. Seorang paruh baya yang ingin sekali memeluk putranya. Tapi, keinginannya terhenti dikala dia mengingat wanita tercintanya yang sudah dikecewakannya.
" Shandy, ini Papa ". Ucap Malik dengan lirih sambil menatap putranya.
Albert yang tak sengaja melihat sosok Malik sedang memperhatikan Shandy.
Matanya memperjelas penglihatannya jika yang dilihat benar-benar Malik.
" Keluarga Tuan Marcel ". Sapa seorang perawat yang keluar dari ruangan Marcel.
Ingin rasanya Malik berlari mendengar panggilan keluarga. Tapi langkahnya terasa berat mengingat penyesalannya meninggalkan Riska.
" Iya sus, saya adiknya ". Sahut Shandy dengan segera.
" Tuan segera masuk, karena pasien membutuhkan banyak darah. Dokter sudah menunggu di dalam ruangan ".
Shandy dengan langkah cepat mengikuti suster tersebut ke dalam ruangan Marcel.
Malik masih menatap diujung ruang, Albert yang tak sabar akhirnya mendekati Malik yang sedang berdiri dengan sudut mata yang berair.
Malik yang menyadari Albert akan mendekatinya segera pergi. Tapi Albert dengan cepat menghentikan langkah Malik.
" Malik, aku tau kamu Malik ". Ucap Albert.
Malik menunduk malu.
__ADS_1
" Lik, kemana aja kamu. Apa kamu tak merindukan putra putrimu? ". Tanya Albert.
" Putri ". Malik terkejut dengan ucapan Albert.
" Iya lik, Putrimu sangat cantik dia mirip sekali dengan Riska, sedangkan hidungnya sangat mirip denganmu ". Lanjut Albert dengan tersenyum mengingat Ellena.
" Kamu bilang Putriku sangat cantik? ". Malik kembali bertanya.
" O, aku lupa Lik kalo kamu belum tau soal ini. Waktu kejadian saat itu niat Riska ingin ngasih surprise atas kehamilannya yang ke tiga. Tapi___ kamu malah mengecewakannya ". Ucap Albert dengan kecewa.
" Maafin aku, aku sungguh tak pantas untuk Riska dan anak-anakku. Bahkan disaat hati mereka terluka karenaku anakku masih mau menyelamatkan nyawaku ". Malik menangis menyesal.
" Albert pertemukan aku dengan Riska, aku mau minta maaf dengannya dan akan memperbaiki semuanya ". Pinta Malik.
" Kamu terlambat Lik ". Sahut Albert dengan sedih.
" Maksud kamu Riska sudah menikah dengan orang lain? ". Tanya Malik dengan dugaannya.
" Riska sudah meninggal ". Jawab Albert dengan pelan.
Malik terduduk lemas, dia tak menyangka jika Riska wanita yang sangat dicintainya telah meninggal. Rasa bersalah Malik semakin dalam. Dadanya terasa sesak.
" Riska meninggal sesaat setelah melahirkan putri cantik kalian ". Lanjut Albert menceritakan.
" Kamu ga tau bagaimana terpukulnya putramu saat itu, apalagi mereka dibebani putri kalian yang masih bayi. Semua ini perjuangan Marcel. Marcel anakmu yang sekarang terbaring lemah tak berdaya Malik ".
Tangis Malik semakin pecah, membayangkan bagaimana susahnya putranya membesarkan seorang bayi.
" Aku Menyesal Albert, aku menyesal ". Suara Malik dengan isakan tangisnya.
" Bantu aku kembali kepada anak-anakku Albert ". Lanjut pinta Malik.
Albert mengangguk menandakan setuju. Kemudian Albert menanyakan kemana istrinya, Malik menceritakan semua prahara Rumah tangganya dengan Martha. Mereka berpisah setelah satu tahun pernikahannya karena tidak kuat karena kondisi ekonomi Malik yang bangkrut kala itu.
Malik menceritakan ketika dia mendonorkan darah nya. Malik sempat menanyakan nama anak yang menolongnya.
Malik terkejut ketika tau bahwa yang menolongnya bernama Marcel Malik Maheswari. Kemudian Malik menyelidiki tempat tinggal Marcel kepada Veer dan Renata.
***** Shandy *****
Shandy menatap haru wajah Marcel yang belum sadarkan diri.
" Dok, kapan kakaku sadar? " . Tanya Shandy.
" Kita berdo'a saja semoga Tuhan memberikan yang terbaik buat Tuan Marcel ". Dokter Satria memberi semangat Shandy.
" Gue yakin, loe kuat ka ". Shandy menyentuh tangan Marcel.
Kemudian Shandy keluar, menunggu didepan ruangan Marcel bersama Veer dan Renata. Sedangkan Adam masuk ke ruangan Marcel menjenguk kondisi keponakannya.
" Shand, nih minum dulu ". Sapa Veer sambil menyodorkan sebotol minuman kepada Shandy.
" Siapa dia ka? ". Tanya Shandy ketika matanya tertuju oleh wanita yang berwajah kucel, mata sembab akibat kelelahan.
Renata menoleh ke arah Shandy.
" Dia Renata, kekasih boss ". Jawab Veer.
Renata terkejut ketika Veer mengatakan kekasih kepada Shandy.
__ADS_1
" Kamu Renata yang sudah meninggalkan kakaku ". Sindir Shandy dengan tatapan sinis.
Renata menunduk menyesali kesalahannya.
" Maafin aku Shand ". Ucap Renata dengan lirih.
" Gue harap kali ini loe ga ngulangin kesalahan loe dimasalalu " . Shandy memperingatkan Renata dengan menghembuskan nafas Kasarnya.
Kali ini Shandy tak ingin berdebat.
" Shand, istirahat dulu biar om dan paman yang menjaga Marcel ". Ucap Albert yang datang bersama Malik.
" Dia siapa om? ". Tanya Shandy yang penasaran dengan laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah disampingnya.
" Dia orang yang di tolong kakakmu ". Jawab Albert.
" Hei Tuan, bisa ga ngerepotin kakak gue. Gara-gara loe ceroboh kakak gue celaka ". Shandy dengan emosi yang meluap-luap menunjuk orang tua didepannya.
" Kakak gue sampe koma, kalo ada apa-apa gue hajar loe ".
Veer dan Albert menahan Shandy yang emosi.
" Maafkan saya nak, gara-gara saya ceroboh sampai mencelakakan kakakmu ". Ucap Malik dengan tenang.
Tidak dengan Shandy, dia masih emosi sampe ingin menghajar Malik. Tapi Albert langsung menamparnya.
PLAKKK!!!
" Hentikan Shand, kamu ga pantas mencaci maki dia ". Albert mulai tak terima dengan sikap Shandy.
Veer menenangkan Shandy, agar tidak tersulut emosi lagi.
" Gue ga peduli om, sekali breng*** tetap breng*** !! ". Cibir Shandy.
" CUKUP Shand!!!! Dia Papamu!! Dia Malik!!! ". Albert sudah tak tahan sampe akhirnya mengucapkan suatu kebenaran.
" Om, ini ga lucu!! "
" Shand, dia memang Papamu ". Albert meyakinkan Shandy.
" Sekarang gue tau om, setelah dia membunuh Mama sekarang gantian dia mau membunuh Ka Marcel. Jawab!!! iya kan ". Emosi Shandy mulai mencuat lagi.
" Nak, Papa ga bermaksud___ ".
Belum sampai Malik melanjutkan ucapannya, Shandy sudah emosi. Mengingat masa kecilnya yang susah akibat papanya.
Renata, Veer, dan Adam terkejut mendengar kebenaran ini.
Mereka tak menyangka jika hari ini mereka akan bertemu orang yang mengecewakannya.
Adam pun merasa Emosi melihat Malik. Dia tak terima atas apa yang terjadi pada Riska adiknya.
" Malik ". Adam berucap.
Malik pun menoleh ke arah Adam. Rasa takutnya kembali datang ketika menatap mantan Kaka iparnya. Ada perasaan malu dalam hatinya.
***** π₯π₯π₯π₯ *****
Hai para Readers minal ' Aidzin wal Faizin, mohon maaf lahir batinπ
__ADS_1
Thotor sekali lagi minta kemurahan jempol kalian yaπ
Semoga Rezeki para Readers Lancarrr π€²π€²