
❤❤❤
" KAKAAAAA, Ellena pulang.. Kaka dimana ". Teriak Ellena ketika sesampai di Rumah.
Tadinya Ellena enggan di bonceng motor jangkrik sama Zacklee, tapi mau gimana lagi gara - gara Ponsel Ellena disita Zacklee jadi dia terpaksa harus naik motor yang aneh menurutnya.
Zacklee memang sengaja menyita Ponsel Ellena ketika dia akan menghubungi taxi online. Entah mengapa Zacklee tak mau jauh dari Ellena semenjak pelukannya dipantao tadi.
Ketika Ellena menuruti Zacklee, rasa bahagia dari hatinya membuatnya tersenyum bahagia.
" Bocil, bisa ga sih ga teriak - teriak. Loe ga takut orang serumah jadi tuli telinganya gara-gara suara panci ambyar loe ". Sahut Zacklee sambil mengorek - ngorek telinganya yang ga gatal.
Ellena hanya menanggapi dengan senyum jahilnya. Membuat Zacklee semakin gemas.
" Cantik kamu darimana saja? ". Tanya Trias dan Albert yang tiba - tiba muncul dari ruang keluarga.
" Tan.. tante, tante koq disini ". Tanya Ellena terkejut ketika melihat Trias dan Albert yang juga berada di Rumah Ellena.
Trias kemudian memeluk Ellena, mengusap punggung Ellena halus. Ellena mendengar suara serak Trias yang sedang menangis.
" Tante nangis? ". Ellena sedikit mendorong pelukan Trias untuk melihat wajah Trias.
" Tante, Ellen baik - baik saja. Ellen sudah mengerti kenapa Ka Shandy melakukan ini semua. Ellena yakin Ka Marcel pasti kuat dan bisa bertahan ".
Trias tak sanggup berkata apa-apa, dia menatap wajah Ellena. Di pandangnya Ellena dalam-dalam. " Ellena kuat seperti Riska ". Batin Trias yang kemudian memeluk Ellena kembali.
" Kita berangkat sekarang ". Ucapan Albert.
" Ka Shandy... ". Sahut Ellena dengan cemad.
" Tenang cil, dia uda nunggu kita ". Ucap Zacklee.
Kemudian mereka bertiga menuju ke tempat yang sudah ditunggu Shandy dan Veer.
Ellena yang melihat Shandy langsung memeluk Shandy dan meminta maaf atas kebodohannya.
" Mpusss, jangan bikin ketampananku luntur gara-gara air mata nih ". Shandy sambil mengusap air matanya, dia merasa terharu dengan sikap Ellena.
" Kakakku selalu tampan ". Jawab Ellena dengan senyum.
" Maafin kaka juga ya mpus, kaka ga bermaksud merasahasiakan ini semua ". Lanjut Shandy menjelaskan.
" Ehem, ada yang panas nih lihat kalian mesra - mesraan ". Celetuk Alex yang ikut juga berada disana.
Alex sengaja ikut Shandy ke Kanada. Sedang Revan dan Devan tidak bisa ikut bersama mereka sedang mempersiapkan acara perpisahan kampus 2 minggu lagi.
Zacklee yang mendengar celetukan Alex, mengabaikannya dan memasuki pesawat lebih dulu.
Sedang yang lain tertawa melihat tingkah Zacklee dan mengikuti masuk ke dalam pesawat.
Sepanjang perjalanan Shandy menceritakan dan memperlihatkan Foto Marcel ke Trias dan Ellena. Sempat sesekali air mata mereka tumpah ketika mendengar dan melihat kondisi Marcel.
Zacklee dan Alex pun merasa sedih melihat kondisi ka Marcel.
Perjalanan panjang mereka akhirnya sampai ke tempat tujuan. Ellena yang tak sabar dengan langkah cepat menuju ke ruang rawat Marcel. Dilihatnya didepan pintu seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah sedang memandang putranya di balik kaca dengan berlinang air mata. Ellena mendekatinya,
" Permisi Tuan ". Sapa Ellena dengan ramah.
Malik menoleh ke arah suara wanita yang menyapanya. Dia terkejut melihat wanita cantik yang menyapanya.
" Riska ". Ucap Malik dengan terkejut.
" Tuan mengenal mama saya ". Ellena terkejut pula jika laki-laki paruh baya yang disapanya mengenal Mamanya.
Dengan cepat, Shandy menarik Ellena untuk tidak melanjutkan obrolannya.
" Ellena, sebaiknya loe segera masuk ".
Ellena mengangguk dan menatap laki-laki paruh baya yang disapanya tadi.
Kemudian Ellena masuk ke ruang rawat Marcel. Ellena sudah tidak sabar ingin mendekati Marcel tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Renata yang sedang menangis di samping Marcel.
" Ka Renata ". Ucap Ellena lirih tetapi langkahnya terdengar ditelinga Renata dan membuat Renata menoleh ke arah langkah laki tersebut.
" Kau Ellena ". Tanya Renata yang melihat Ellena berdiri.
" I... iya ka ". Jawab Ellena dengan gugup. Selama ini Ellena hanya mendengar cerita dan foto Renata dari Marcel. Ellena ingat betapa bahagia kakaknya bercerita tentang Renata. Ellena juga mengingat ketika Kakaknya pulang dini hari dalam kondisi mabuk karena di tinggal Renata.
" Harapanku ada di kamu Ell, sadar kan Marcelku ". Isak tangis Renata pecah, dan Ellena memeluk Renata.
" Ka, kita berdo'a bersama. Ellena yakin Ka Marcel kuat ". Ellena yang tak kuat merasakan sesak seperti Renata.
__ADS_1
Kemudian Renata membiarkan Ellena berdua dengan Marcel.
" Hai kaka tampanku, apa kabar? ". Sapa Ellena ke Marcel yang sedang terbaring belum sadarkan diri.
" Kaka jahat, kenapa ga pernah hubungin Ellena? Kaka tau ga, Ellena takut dan khawatir ". Ucapan Ellena mulai serak menahan tangis.
" Apa kaka ga Mencemaskanku? Ellena bahkan tak pernah tidur hanya menunggu kabar dari Kaka ". Kali ini tangis Ellena tak bisa dibendung lagi. Air matanya mengalir ke pipi mulusnya. Kemudian wajah Ellena menunduk, menggenggam tangan Marcel yang penuh dengan selang infus.
" Cepat bangun ka, Ellena rindu kaka ".
Ellena menangis meluapkan tangisan yang ditahannya.
Shandy yang melihat dari balik kaca tak bisa menahan rasa sedihnya melihat Ellena yang begitu terpukul.
Zacklee menepuk bahu Shandy, menguatkannya. Sedang Alex yang juara rusuh kali ini terlihat jinak.
" Ellena pasti bisa membuat Marcel sadar ". Sahut Veer yang ikut melihat di balik kaca.
Renata mengangguk setuju dengan ucapan Veer.
Sedangkan Trias dan Albert menemui Malik.
Trias tidak menyangka jika Malik dipertemukan dengan putra putrinya dalam keadaan seperti ini.
" Dimana Martha? ". Tanya Trias kepada Malik.
" Terakhir kali yang kudengar dia berada di indo, dia meninggalkanku Trias di saat perusahaanku bangkrut ". Jawab Malik dengan sedih.
" Sudahlah Malik, sekarang jagalah putra-putrimu dengan baik. Jangan tinggalkan mereka. Mereka sudah cukup menderita akibat kecerobohanmu dengan Martha ". Ketus Trias.
" Tapi, Apa mereka mau menerimaku kembali? aku sudah banyak bersalah kepada mereka ". Lanjut Malik yang menyadari kesalahannya.
" Mereka anak yang pintar dan santun. Riska berhasil mendidiknya menjadi orang yang baik ". Sahut Albert yang disetujui Trias.
" Putriku... " . Tanya Malik dengan penasaran.
" Iya, itu putrimu Ellena ". Sahut Trias yang mengerti pertanyaan Malik.
" Dia sangat mirip dengan Riska, Mata Riska yang teduh ada pada dia ". Malik mengingat pertemuan pertamanya dengan Ellena beberapa menit yang lalu.
Kemudian Trias menceritakan proses kelahiran Ellena tanpa Malik. Air mata Trias mengalir setiap mengenang peristiwa itu.
Malik menunduk menyesali perbuatannya.
" Ellena rindu kaka ".
Tiba-tiba jari-jari Marcel bergerak, Ellena tersadar dari tangisnya. Menoleh ke arah Marcel yang masih tertidur dalam komanya.
" Ka Marcel... Ka... Kaka bangun... ". Ellena panik dan segera keluar tetapi tangannya tertahan, ternyata Marcel yang menahan ya.
" Adikku sayang ma...maafin kaka ". Suara lemah Marcel terdengar.
" Ka, kaka ga boleh banyak gerak. Ellena panggil dokter ". Sahut Ellena yang begitu panik dan bahagia melihat Marcel tersadar dari tidurnya.
Renata yang melihat Marcel sadar berteriak memanggil Marcel.
Veer, Shandy, Zacklee dan Alex terkejut dengan bangunnya Marcel.
" Ellena memang sebuah keberuntungan " Ucap Veer dengan haru bahagia.
Ellena keluar dari ruang rawat dan berlari memeluk Shandy.
" Kaka, Ka Marcel ka... ka Marcel sudah sadar ".
Shandy menangkup wajah Ellena yang basah kemudian memeluknya.
" Makasih mpus, loe berhasil ".
Dokter yang di panggil Alex dengan segera memasuki ruang rawat Marcel dan memeriksa kondisi Marcel.
" Amazing, loe kuat Cel ". Ucap dokter Satria.
" Tanggung jawab gue ke adik-adik gue masih besar, gue harus kuat Sat ". Jawab Marcel masih dengan suara lemahnya.
" Sepertinya loe harus kenalan sama adikku loe Cel ". Dokter Satria tersenyum .
Setelah dokter Satria memeriksa kondisi Marcel yang sudah stabil, dokter Satria memindahkan ruang Marcel.
Renata yang melihat kondisi Marcel membaik, memeluk Marcel dengan tangis harunya.
" Kau menyebalkan Marcel, kau membuat semua orang Mengkhawatirkanmu. Kau bahkan membuatku tak pernah tidur malam hanya untuk sekedar mendengar suaramu".
__ADS_1
Renata yang kesal karena lelah mengkhawatirkan keadaan Marcel.
Marcel yang mendengar ceracau Renata hanya tersenyum. Dia bahagia karena Renata akhirnya kembali padanya.
" Uhuk.. uhuk ". Suara batuk Shandy mengganggu dua insan yang sedang merindu.
" Sorry calon kaka ipar, gue ganggu bentar. Yang antri uda banyak ". Celetuk Shandy, membuat wajah Renata seketika malu.
Marcel yang melihat tingkah Shandy dan Renata tersenyum. Marcel tak menyangka jika Shandy bisa menerima Renata sebagai calon kaka iparnya. Entah apa yang sudah terjadi selama Marcel tertidur, yang pasti yang sekarang dirasakannya semua berubah menjadi lebih baik.
" Dimana Ellena, Shand ". Tanya Marcel yang belum melihat batang hidung adiknya.
" Dia lagi pedekate tuh sama si dokter ". Jawab Shandy dengan terkekeh. Karena kenyataannya Ellena hanya bertanya tentang kondisi Kakaknya dengan Zacklee.
" Sehat terus ya calon kaka ipar halu ". Celetuk Alex yang membuat seluruh tertawa dengan ucapan Alex.
" Loe suka adik gue ". Mata Shandy membelalak mendengar ucapan Alex.
" Kalo suka sudah pasti suka lah, Dedek Ellena calon masa depan halu gue ". Dengan Pede Alex membayangkan Ellena yang kemudian, PLETAAAKKK!!!
" Bangun Woyy Raja halu!!! , mau tu Anya gue embat ". Goda Shandy yang terkekeh geli melihat tingkah sahabat somplaknya.
" Awas loe kalo sampe macem-macemin Anya gue ". Ancam Alex yang kesal dengan Shandy.
" Gue ga macem-macem, cuma satu macem aja cukup ". Sahut Shandy dengan tertawa puas ngerjain Alex.
" Loe sahabat kagak ada baik-baiknya Shand ". Gerutu Alex.
Marcel, Veer dan Renata tertawa melihat tingkah adiknya.
Ceklekkkk!!!
Ellena dan Zacklee masuk ruang Marcel.
" Kalian ini berisik banget, ga tau apa ada orang sakit ". Ucap Zacklee
" Tau nih ka Shandy dan ka rusuh, suara nya kedengeran sampe ruang Pendaftaran tau ". Sahut Ellena.
" Kalian tumben kompakan ". Ucap Shandy dan Alex bersamaan.
" Berisikkk!!! ". Sahut Zacklee.
" Kaka, kata dokter Satria kaka harus banyak istirahat ga boleh jangan - kangenan, ga boleh lirik - lirikan, katanya lagi disuruh cepet merit kalo sembuh ". Ucap Ellena dengan semangat.
Renata dan Marcel saling menatap.
" Udaaah... ga usah saling tatap - tatapan, Ka Marcel semangat sembuh biar segera ke pelaminan ". Lanjut Ellena dengan tersenyum.
" Mpus, loe kagak salah obat kan? ". Shandy sambil memegang Dahi Ellena.
" Ya enggak lah ka. Kaka apa ga mau apa punya keponakan yang lucu ". Mata Ellena berkedip - kedip memberi kode.
" O.. iya mpus gue setuju ". Sahut Shandy dengan tertawa mengerti kode Ellena.
" Ka popeye siap lembur buat acara pernikahan Ka Marcel dan Ka Renata? ". Ellena bertanya kepada Veer .
" Siap adik cantikku ". Jawab Veer setuju.
" Kalian ini. Kaka cuma pingin kalian selalu akur dan kompak. Terimakasih selalu berada di samping kaka ". Ucap Marcel.
Shandy dan Ellena memeluk Marcel bersamaan.
" Jaga selalu adikmu Shand, dia begitu berharga di keluarga kita ". Lanjut Marcel.
" Kaka tak perlu khawatir, Shandy akan menjaga kaka dan Ellena meskipun suatu hari kita sudah disibukkan dengan anak - anak kita ". Ucap Shandy dengan tersenyum kecil, membayangkan jika mereka terpisah dengan kehidupan keluarga masing - masing.
Marcel bahagia karena adik-adiknya sudah akur dan kompak. Harapan yang ingin sekali dia capai akhirnya terwujud. Membuat keluarganya saling menguatkan.
Mata Marcel berteriak dengan sosok seorang laki-laki yang dia kenal sedang bersama Tante Trias dan om Albert.
Pandangannya membawanya ke kenangan masa lalu yang pahit.
Malik menatap Marcel dengan air Mata yang mengalir di pipinya. Langkahnya terasa berat ingin mendekati putranya yang telah mengorbankan nyawa demi dirinya.
Ruangan pun berubah menjadi hening dan tegang.
Shandy menatap sinis ke arah Malik. Sedang Ellena pikirannya masih belum sampai dengan apa yang dilihatnya.
Renata memegang tangan Marcel, menatapnya dengan sendu seakan berkata " Maafkan dia ".
Marcel yang mengerti tatapan Renata, membalas pegangan tangan Renata, seakan membalas jika semuanya baik - baik saja.
__ADS_1
🔸🔸🔸🔸🔸