Young Single Mom

Young Single Mom
Ceritanya panjang


__ADS_3

Aku hanya mengikutinya tanpa banyak bicara karena tidak mau berdebat di pagi hari dan merusak moodku,setelah kurang lebih 15 menit perjalanan menuju kantorku,kami sampai didepan kantor dan Aryo segera menurunkanku.


"Nanti pulangnya tunggu aku disini jangan pulang duluan !." ia kemudian ! emang dia siapa ngatur-ngatur. Dasar aneh !." Aku menggerutu sambil berjalan kedalam kantor.


Tanpa kusadari ternyata ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikanku...


"Awwwww !" pekik ku. tiba-tiba ada tangan yang menarikku cukup kencang yang berhasil membuatku terkejut sekaligus kesakitan.


"Aw sakiiiit" Aku merintih sembari memegangi tanganku dan fokus memandangi bekas pegangan yang kemerahan tanpa memperhatikan siapa yang tengah menarikku dengan paksa sebelum akhirnya orang itu melepaskan tanganku dan diganti dengan pelukan yang cukup erat.


Aku hanya pasrah dan menenggelamkan wajahku di dada bidang orang itu. Ya aku hafal dengan aroma tubuh ini...


"Maaf, sakit ya ?" suara ini,suara yang dulu sering kudengar namun kali ini memang terdengar agak sedikit berbeda,suaranya lirih dan tampak berat ia mengeluarkannya.


"Aku rindu." ia mengusap ujung kepalaku lembut dan menciuminya sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya disana. hatiku terasa sakit mendengar keluhnya namun apa boleh buat? aku tak bisa lagi membalas ucapan rindunya,walaupun sebenarnya aku juga sangat merindukannya. Bahkan aku lebih memilih pasrah dan diam tanpa merubah posisiku,menikmati saat-saat ini yang mungkin saja ini terakhir kali aku bisa memeluknya.


"Kenapa aku sulit menghubungimu ra?" ia melepaskan pelukannya pelan dan memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya. Mataku berkaca-kaca hingga nyaris menjatuhkan tetesan cairan bening dari mataku. Aku tak bisa berpaling dari wajahnya,ia tampak lesu.


"Kamu sakit ?" aku menarikkan diri untuk kembali kedalam pelukannya karena takut ia akan melihatku menangis.


Pelan ia melepaskan pelukanku dan menatap wajahku cukup lama. Aku menundukkan pandanganku tak berani memandangnya.


"heyy ra !"


"hmmm?"


"kamu kenapa diem?"


"Kamu takut sama aku po?"


Akhirnya aku berani menatapnya sebentar sebelum akhirnya kembali menundukkan pandanganku. ia menyunggingkan kedua sudut bibirnya dan mengacak-acak ujung rambutku.


"Ayo!" ia memegang erat tanganku dan berjalan menuju kedai yang berada di depan kantorku tanpa melepaskan tanganku.


"Thai tea?" Tanpa bertanya dua kali,ia langsung memesankan minuman kesukaanku.


Aku berlalu pergi mencari tempat duduk yang ada diujung kedai sambil meminta izin pada pak zack kalau aku terlambat dan tidak bisa mengikuti morning call melalui pesan singkat.


Langit duduk di depanku dan tersenyum memandangku.


"Ibu tanya kabarmu terus ra."


"oh ya ?"


"Ibu takut kamu gak mau lagi sama aku gara-gara kejadian kemarin."


Aku mengalihkan pandanganku dan menatap kesembarang arah.


"Ra ?"


"Langit, maaf ya,aku bener-bener takut sama kejadian kemaren."


"Tapi ra..."


"Aku takut Lang,aku gak mau lagi berurusan sama apapun itu yang berhubungan sama kamu !" Aku memberanikan diri memberikan jawaban tegas padanya dengan kedua mataku yang sudah deras mengalir.


"Aku ngerti ra,tapi aku gak mau kita jauh. Kamu tau kan gimana keluargaku suka sama kamu ? cuma kamu ra yang bisa masuk ke dalam keluargaku dan kamu juga yang udah tahu seluk beluk keluargaku."


"Iya Lang,aku juga sayang sama mereka. Tapi aku kecewa sama kamu. Aku yakin mereka juga kecewa sama kamu."


"Ra..."


"Aku malu Lang,ibu udah menaruh harapan besar buat minta tolong sama aku buat ngerubah kamu,kamu juga udah mulai nunjukin perubahan yang baik kemarin. Tapi kenapa tiba-tiba ada kejadian itu?"


"Ara..."


"Aku merasa gagal padahal udah dikasih kepercayaan sama ibu Lang. Kamu masih aja begini gak terbuka sama aku. Aku udah gabisa lagi Lang,maaf... hiks hiks hiks." Tangisku pecah tanpa menghiraukan perhatian orang yang ada di kedai itu.


"Jangan begini ra,aku mohon sama kamu,aku minta maaf... tolong pikirin aku ra,kasian ibu."


"Kamu udah harus dewasa Lang,kamu anak tertua seenggaknya jadilah contoh yang baik buat adik-adik kamu. Semoga kamu bahagia Lang." Aku beranjak dari tempat dudukku dan berlalu pergi meninggalkan Langit yang masih duduk dan menundukkan kepalanya disana. Demi Tuhan hatiku terasa hancur tak tega melihatnya,tapi ini bukan pertama kalinya ia mengecewakanku. Kali ini aku harus tegas pada diriku sendiri.


* * *


Selamat datang. suara finger print yang ku tekan berhasil mencuri perhatian bagi siapa saja yang mendengarnya.


"Telaaaaat lageeeeeee." Aku berpapasan dengan pak zack,ia berlalu dan suaranya sungguh terdengar sangat lantang ditelinga didalam ruangan yang cukup riuh oleh suara karyawan yang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masih. Demi apapun aku ingin menutup wajahku dengan sesuatu karena malu. Aku melirik kearah meja teman-temanku yang menunduk dan menyembunyikan wajahnya sedang menertawakanku. Aku pun mempercepat langkahku untuk menuju meja kerjaku,ingin segera terlepas dari tatapan-tatapan itu.


"Awaaaas ya kaliaaan" Aku menggerutu pada teman-temanku yang menertawakanku.


"Kok sembab? kenapa? habis nangis kamu?" Fafa tiba-tiba mendekat dan memperhatikan wajahku.


"Hah? Kenapa ra kenapa?" Bianca tidak mau kalah melemparkan pertanyaan padaku penasaran.


"Aaaah nanti aja aku cerita pas istirahat."


"Okay."


* * *


Saat melangkahkan kakiku keluar dari bangunan megah tempatku bekerja,aku melihat mobil berwarna hitam yang terasa tak asing bagiku terparkir tak jauh dari pintu keluar. Aku buru-buru mengalihkan pandanganku pura-pura tak melihat kearahnya dan berjalan menjauh untuk menghindar, namun usahaku ternyata sia-sia karena Aryo dengan sigap mengejarku dan menarikku masuk kedalam mobilnya.


"Aku kan udah bilang,pulang kerja tunggu aku disini."


"Maksa ?"


"Laper gak? kamu pengen makan apa?"


"Hih !"


"Ayam bakar mau gak? mau kan? Iya deh kita makan ayam bakar."


Menjawab ucapannya hanya sia-sia. Lebih baik aku membiarkannya.


"Kok gak sampe-sampe sih mas? mau makan dimana?"


"Bentar ya."


Ia menepikan mobilnya disebuah kedai makan yang ada di atas bukit,cukup jauh dari keramaian kota. Dari sana terlihat pemandangan yang cukup indah.


"Kita makan disini. Yok turun !"


"Yaelah mas,kalo cuma makan ayam bakar mah didepan kosku juga bisa,ngapain jauh-jauh sampai sini?? Ya Alloh mas mas,kurang kerjaan banget sih kamu."


"Hahaha udah ayo,ngomel mulu... laper ini !"


"Bodooooooo..."


"Hahahaha..."


Aryo memang terlihat berusaha cukup keras untuk menghiburku. maka dari itu aku pun tak bisa mengabaikan kebaikannya begitu saja. Aku merasa harus berterima kasih padanya. Padahal sebenarnya ini bukan tugasnya untuk menghibur seseorang,namun dia tetap berbaik hati kepadaku.


* * *


Aku bersantai merebahkan badanku di ranjang sambil menonton acara di televisi.


"Tap...tap" terdengar suara langkah kaki mendekat


"Oglek.... Oglek..." ganggang pintu kamarku bergerak.


"Oglek... Oglek..." dan bergerak lagi.


"Ceklek" Suara pintu kamar sebelah terbuka.


"Aaaaaaaaa..." Terdengar suara wanita yang tak lain adalah Fitri menjerit.


"Maaf mba,kaget ya ?" Terdengar suara pria samar-samar.


"Iya mas,saya kaget."


"Hehe maaf mba maaf"


"dug... dug... tap... tap..." terdengar suara langkah kaki menjauh,rupanya ia pergi. Tak lama kemudian Fitri pun juga pergi.


Setelah kepergian mereka aku mendekat kearah pintu dengan perasaan takut,sebelum membuka pintu aku membuka tirai jendela terlebih dahulu untuk melihat keadaan namun terlihat sepi dan tak ada siapapun didepan kamar sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka pintu kamarku. Aku menggerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri seperti mencari seseorang namun tak ada seorangpun disana.


Aku pun kembali lagi masuk ke dalam kamar aku gemetar ketakutan tak karuan. Bertanya-tanya siapa yang berusaha membuka pintu kamarku. Aku cepat-cepat meraih ponselku dan menelepon Fitri.


"Hallo mba Fitri."


"Ya hallo mba Ara."


"Mba kamu dimana?"


"Aku lagi beli makan dibawah mba."


"Mba tadi siapa yang didepan kamar?"


"Lahh aku kira itu temen mba Ara,pas aku buka pintu mau keluar dia kaget gitu mba,mukanya kayak ketakutan terus kayak buru-buru pergi gitu. gak lama kan aku turun,tapi dia udah gak ada tuh dibawah aku gak lihat."


"Waduhh siapa ya mba? aku takut banget ini gemeteran. Kalo Langit biasanya dia bilang dulu kalo mau dateng."


"Yaudah tenang dulu mba,bentar lagi aku balik.tunggu... bentar ya." Fitri mematikan panggilannya sepihak dan tak lama kemudian ia kembali ke kamar dengan membawa makanannya.


"Tok... Tok... ceklek"

__ADS_1


"Mba ini ayo makan dulu." ia menyodorkan makanan dan sibuk mempersiapkan makanan untuk kita berdua.


"Tadi ciri-cirinya gimana mba?"


"Ya badannya proporsional tinggi gitu mba,Aku kira tadi mas Langit."


"Masa Langit sih,tapi kenapa pergi lagi kayak ketakutan gitu ya? Eh dia pake baju apa mba?"


"Pakai kaos item mba sama celana pendek."


"Biasanya Langit pakaiannya gitu sih,tapi kok aneh ya?."


Aku meraih ponselku berniat untuk menghubungi Langit namun niat itu ku urungkan dan aku lebih memilih menghubungi adiknya Langit.


"Dik mas Langit dirumah gak?" ~aku


"Iya ini di rumah mba." ~Adik Langit


Malam itu kami berdua memutuskan untuk tidur berdua karena sama-sama takut kalau saja orang aneh yang tadi datang akan kembali lagi. Ditambah sudah dipastikan itu bukan Langit.


* * *


Keesokan harinya aku sudah tidak melihat adanya Fitri di dalam kamarku. nampaknya ia sudah kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap bekerja.


Seperti biasa aku juga pergi bekerja dengan di jemput Aryo,namun kali ini ia tidak menjemputku ke atas dan hanya menungguku di bawah di dalam mobilnya.


Ia menyodorkan sebuah paperbag berwarna coklat yang berisi paket breakfast padaku.


"Dimakan !"


Aku mengangguk dan meraih paperbag kemudian melahap habis makanan yang ada didalamnya.


"Semalem kamu kemana mas?"


"Iiiih tumben tanya? hehe"


"Serius mas heuuuft"


"Kenapa? kamu udah mulai tertarik sama aktivitas ku sekarang ya ? hehehe"


"Dihh... semalem ada orang dateng ke kosku,dia kayak mau buka paksa pintu kamarku gitu."


"Terus kamu liat orangnya gak?" Tiba-tiba raut wajahnya berubah serius setelah sebelumnya cengengesan.


"Gak liat,aku belum sempet buka dia udah kabur,tapi penghuni kamar sebelahku liat."


"Ciri-cirinya gimana? kayak Langit gak?"


"Kata temenku ciri-cirinya kayak Langit,tapi udah aku pastiin itu bukan Langit deh."


"Kok kamu bisa yakin kalo itu bukan dia?."


"Iya,soalnya semalem aku langsung tanya sama adeknya."


"Yaudah,nanti aku cari tahu ya. eh kok kamu gak bilang sama aku semalem? kenapa gak langsung hubungi aku sih ?."


"Aku gak kepikiran hehe."


"Di inget-inget ya,mulai sekarang kalo ada apa-apa,orang yang pertama kali kamu hubungi harus aku ! gak boleh orang lain !."


"Kok gitu sih? Iya iyaaaaa."


"Inget ! nanti sore pulangnya tunggu disini !"


* * *


Sore harinya


"Dek menurut analisa dari timku,kayaknya yang semalem dateng ke kosmu itu anak buahnya si Langit."


"Loh kok? kenapa gitu?."


"Mereka dendam sama kamu,ya karena kemaren mereka terancam."


"Kok jadi gini sih,aku kan gak salah."


"Kamu ada komunikasi sama Langit gak kemaren-kemaren?"


"I-iya mas,aku sempet ketemu sama dia kemaren."


"Nahh itu ! mulai sekarang jangan lagi ketemu sama dia atau aku gak akan ketemu kamu lagi." Setelah mengucapkan kata-kata dengan nada yang sangat tegas,raut wajahnya berubah serius hingga terlihat kemerahan seperti marah. ia diam dan menambah kecepatan laju mobilnya. Aku diam karena takut melihatnya.


Saat sampai didepan kos,aku merasa sangat lega dan cepat-cepat ingin turun dan keluar dari dalam mobilnya. namun saat hendak ingin membuka pintu mobilnya,tiba-tiba tangannya memegang lenganku erat.


"Dek,aku mohon jangan sampai ketemu Langit lagi ya... aku gak suka." saat kutatap wajahnya,ia terlihat tulus memohon,ia melepaskan lenganku pelan dan mengusap pipi kiriku.


* * *


Sudah lewat tengah malam tapi aku masih belum bisa memejamkan mataku karena kepikiran dengan perkataan Aryo. masih terbayang juga raut wajahnya. seperti bukan perasaan biasa melainkan ada perasaan lain darinya untukku.


"Tring... tring..."


Aku meraih ponselku saat mendengar ada notifikasi yang masuk.


"Nomor baru? siapa ya? gak ada fotonya" aku bergumam sendiri.


"Hayy ra. kamu masih kos ditempat yang dulu kan ?." ~Anonym


"Siapa ya?." ~Aku


"Aku main kesitu ya?."~Anonym


"Aku bawain macD nih." ~Anonym


"Kok gak dibls? Aku naik ya ? hehe." ~Anonym


Aku ketakukan karena tiba-tiba ada nomor yang tak dikenal menghubungiku pada waktu yang sudah lewat tengah malam ditambah si Fitri yang sedang mudik ke kampung halamannya yang berarti kamar sebelahku sedang kosong. Tanpa pikir panjang aku langsung menghubungi Risti yang untung saja ia belum tidur juga.


"Ris... ris.. ada yang kirim pesan ke aku begini." tak lupa aku melampirkan foto sreenshoot isi percakapanku pada pemilik nomor tak dikenal itu. ~Aku


"Iiiih kok serem sih ra,bentar aku coba keluar liat keadaan depan kamarmu." ~Risti


"Oke." ~Aku


"Gak ada siapa-siapa tuh,kamu keluar aja sekarang tidur kamarku,cepet kesini aku tungguin !." ~Risti


Aku beranjak dan langsung berlari menuju kamar Risti lengkap dengan membawa selimut dan bantal. Aku dan Risti pun berdiskusi dan menganalisa kira-kira siapa pemilik nomer ini hingga kami tak bisa tidur hingga pagi. untung saja hari sabtu yang artinya kami berdua libur kerja.


* * *


Drrrrt... Drrrrrt....


"Hallo"


"Hallo"


"Kamu dimana?"


"Di kos,kenapa?"


"Bohong ! mana ada?."


"Lahh emang di kos kok gak percaya !."


"Aku didepan kamarmu. keluar kalo emang di kos!."


Ceklek


Aku keluar dari kamar Risti masih dengan penampilan khas bangun tidur yang berantakan. Aku melihat Aryo sudah berdiri didepan kamarku.


"Dor !!!." ia terkejut karena melihatku datang dari belakangnya yang harusnya dari depannya.


"Kamu datang darimana?."


Aku hanya menaikkan kedua pundakku tanpa menjawab pertanyaannya.


"Ada apa kesini mas?" Aku melemparkan pertanyaan padanya sambil sibuk membuka pintu kamarku. setelah pintu berhasil terbuka aku mendudukkan badanku tepat didepan Aryo yang masih berdiri.


"Mandi sana !."


"Kok nyuruh-nyuruh sih ? suka-suka aku lah."


"Kamu gak pengen jalan-jalan?."


"Gak,males."


"Buruan mandi ! Aku mau ngajakin kamu jalan-jalan mumpung libur. harus mau !"


"Halahh iya iyaaa." Aku berlalu masuk kedalam kamar mandi dengan langkah gontai.


"Udah siap? yok !."


"Mau kemana sih?." Aku melemparkan pertanyaan ditengah perjalanan karena penasaran.


"Kamu pengen kemana aja sama pengen ngapain aja sebutin ! Aku bakal nurutin semuanya !."

__ADS_1


"Yeeee kesambet ! yaudah,aku mau ke gunung tapi makannya seafood,nah loh bisa gak nurutin ? di gunung mana ada seafood hahaha !." Aku tertawa puas mengatakan keinginanku yang hampir tidak mungkin.


"Cuma gitu doang ? Oke ! Aku jabanin dek. hahaha."


Seketika aku menghentikan tawaku karena melihat raut wajah Aryo yang terlihat begitu yakin mampu menuruti keinginanku.


Tak lama kemudian Aryo membawaku ke sebuah supermarket dan mulai memilih beberapa seafood segar.


"Bodoh !." Aku menepukkan tanganku ke jidatku menyadari kebodohanku.


"Pilih semua seafood yang kamu mau !."


"Aku kan maunya ke gunung."


"Iya,habis ini kita ke gunung."


Setelah selesai memilih semua seafood,kami berdua pergi ke kasir untuk membayar semuanya. Kami melanjutkan perjalanan menuju gunung. ternyata disana Aryo memiliki teman yang punya kedai makan.


"Bro masakin ini ya yang enak !."


"Siap ! tau aja kalo disini gak ada seafood hahaha."


Tak begitu lama akhirnya banyak masakan seafood sudah tersaji di atas meja dan siap untuk disantap.


"Kok masih manyun aja sih ? senyum dong ! Aku udah nurutin keinginanmu lho." Aryo menyunggingkan senyum bahagia ke arahku.


"Iyaaa." Aku melemparkan senyum paksa padanya dan melanjutkan untuk makan.


Cukup lama kami menghabiskan waktu berdua sambil melihat pemandangan indah dari sana hingga saat mulai petang kami memutuskan untuk kembali pulang.


"Eh dek,ngomong-ngomong kenapa tadi kamu gak tidur di kamarmu sendiri?."


"Oh itu,semalem ada yang ngirim pesan singkat begini ke aku mas." aku memperlihatkan pesan tersebut pada Aryo.


"Wah udah mulai berani ya mereka."


"Aku takut bangetlah,mana ngirimnya jam segitu lagi."


"Terus kamu gak langsung hubungi aku lagi semalem?."


"Hehe lupa,udah takut duluan gak bisa mikir."


Aryo terlihat agak kesal dan hanya memfokuskan pandangannya ke depan.


* * *


Malam harinya aku memutuskan untuk tidur bersama Risti lagi karena masih takut dengan kejadian malam sebelumnya. Aku menghabiskan hari mingguku bersama Risti di kos.


"Aku ada tiket gratis nonton nih,nonton yuk!" Ajak Risti yang berhasil membuatku membelalakkan mataku kegirangan.


"Ayookkk mauuu."


"Siap-siap yok,langsung cus kita !"


"Siap !."


Sesampainya di bioskop,masih ada beberapa waktu sebelum film dimulai sehingga kami harus menunggu. kami memutuskan untuk membeli beberapa snack yang akan kita makan selama menonton. Kami menonton film yang berjudul 1917.Film ini di sutradarai oleh Sam Mendes yang juga sutradara pembuat (James Bond) SKYFALL,ia menghadirkan karya epik Perang Dunia I, 1917. Saat puncak Perang Dunia Pertama, dua prajurit muda Inggris, Schofield (George MacKay) dan Blake (Dean -Charles Chapman) diberi misi yang terlihat mustahil. Sebuah perlombaan melawan waktu, mereka harus melintasi wilayah musuh dan menyampaikan pesan untuk menghentikan serangan yang dapat merenggut ratusan tentara Inggris berikut saudara kandung Blake ada di antara mereka. Film itu berdurasi 2 jam dan berhasil menghibur hari libur kami berdua.


* * *


"Ara lagi dimana? kerja gak nak ?" ~Ibu Langit


"Iya Ara ditempat kerja bu,gimana?." ~Aku


"Ah yasudah,ini ibu masak banyak sebenarnya kalo kamu gak sibuk ibu pengen kamu kesini,tapi kalo kamu lagi kerja biar Langit antar makan ketempat kerjamu aja ya." ~Ibu Langit


"Jangan bu makasih,gak usah repot-repot. Ara gaenak sama ibu, Ara sudah makan kok. Itu biar dimakan ibu sekeluarga aja." ~Aku


"Tunggu ya nak,Langit dalam perjalanan kesitu. Dimakan lho ya !." ~Ibu Langit


"Ibu... makasih banyak ya,Ara ngrepotin Ibu." ~Aku


"Ibu senang, Kamu sama sekali gak ngrepotin." ~Ibu Langit


Aku sudah menunggu di depan kantor sebelum Langit tiba. Tak lama aku menunggu ia datang dengan membawa bungkusan makanan dari ibunya.


"Kamu lama nunggunya ra?." Langit menyodorkan bungkusan makanan ke arahku.


"Gak kok." Aku meraih makanannya dan Langit mendudukan dirinya disebelahku


"Bilangin ke ibu to Lang,jangan repot-repot kayak gini aku gak enak sama ibu."


"Ibu tadi yang maksa ra,aku gabisa nolaknya."


"Kamu gak bilang terus terang sama ibu ya ?."


"Aku harus bilang apa sama ibu ra ?."


"Ya bilang kalo hubungan kita udah gak kayak dulu lagi,aku takut ibu masih nge harepin aku Lang,aku juga takut bikin ibu kamu sakit hati." Aku menundukkan kepalaku sambil memegang erat bungkusan makanan yang telah ibunya Langit berikan. Aku sedih mengingat ibunya begitu baik padaku hingga membuatku tak tega untuk membuatnya sakit hati.


"Itu yang aku takutkan ra kalo aku bilang yang sebenernya." Langit memegang tangan kananku dengan kedua tangannya,seperti ia enggan melepaskan tanganku.


"Ra... aku mohon kasih aku kesempatan. Kamu gak sayang sama hubungan kita?."


"Maaf ya Lang." Aku melepaskan tangan Langit pelan dan beranjak pergi meninggalkannya.


Aku kembali kedalam gedung,bukan ruanganku yang menjadi tujuanku namun foodcourt yang saat itu adalah jam makan siang artinya teman-temanku sedang berada disana.


"Waaaa kelihatannya enak." Tatapan Bi tertuju pada makanan yang aku bawa dan aku letakkan dimeja yang kami gunakan untuk makan.


"Darimana ini ra? tumben bawa bekel. gak masak sendiri kan ?." Tanya Fafa penasaran.


"Eh kok mukanya sedih gitu? kenapa lagi sayang ?." Bi kembali menimpali pertanyaan setelah mengalihkan pandangannya dari makanan yang aku bawa.


"Ini makanan dari ibunya Langit mak,tadi Langit yang nganter kesini. Aku udah gak mau berhubungan sama segala hal tentang Langit tapi tetep aja rasanya aku sedih."


"Ya gak papa pelan-pelan,pasti gak mudah tapi kamu harus bisa. kamu harus tegas sama diri kamu. jangan kasih kesempatan buat Langit lagi. Dia gak pernah belajar kalo kamu kasih kesempatan terus." Bi memberiku nasihat.


"Kalo mereka masih baik sama kamu yaudah terima aja kebaikannya asal bukan untuk hubungan kamu sama Langitnya lho ya." Fafa ikut menimpali.


"Iya mak,aku paham."


"Udah jangan sedih. Ayok dimakan ini kayaknya enak lho." Kami menghabiskan makanan yang dibuatkan oleh ibunya Langit,makanan yang ia buat memang terasa enak bahkan lebih enak daripada makanan yang ada di foodcourt.


* * *


Sepulang kerja,kami tidak langsung kembali pulang karena masih ada kegiatan olahraga yang diadakan rutin seminggu sekali bagi para karyawan agar kondisi badan tetap fit walaupun dihajar dengan tugas-tugas yang membabi buta.


Aku,Fafa dan Bianca pergi ke lapangan badminton bersama-sama dalam satu mobil.


Walaupun hanya seminggu sekali tapi kegiatan tersebut berhasil membuat badan terasa lebih bugar pikiran pun jadi sedikit lebih bahagia. Acara yang ditunggu-tunggu setiap minggunya oleh lara karyawan.


Lapangan yang kami sewa cukup luas,cukup untuk 3 pertandingan sekaligus. Dengan karyawam yang cukup banyak,tentu lapangan ini cukup mumpuni.


Kami bertiga,Aku,Fafa dan Bi menguasai lapangan yang paling ujung karena kami tak begitu jago bermain namun kami tetap senang memainkannya. Lapangan yang lainnya digunakan oleh para karyawan pria yang sudah jago bermain badminton.


Kami memang pulang agak larut karena durasi bermainnya juga cukup lama,selesai bermain pun kami tidak langsung pulang melainkan masih mengobrol untuk sekedar istirahat sembari menghilangkan rasa lelah dan juga makan bersama.


Selesai makan bersama,kami bertiga pun pulang dan Bi mengantarkanku pulang ke kosan.


"Ati-ati ya,see you." Aku melambaikan tanganku ke arah Bi setelah turun dari mobilnya.


Saat hendak melangkahkan kakiku masuk ke dalam kos tiba-tiba mobil warna hitam menghampiriku. Tak lama kemudian Aryo terlihat turun dari dalam mobilnya.


"Ra..!" raut wajahnya terlihat agak tegang. Tak butuh waktu lama ia menghampiriku kemudian mendekatkan wajahnya dan memegang kedua pipiku. Aku terkejut dan menatapnya seperti membatu.


"Kamu darimana? aku nungguin kamu dari tadi ?."


"Ah aku lupa ngasih tau kamu ya,maaf mas." Aku melepaskan tangannya pelan dan merasa bersalah.


"Aku nungguin kamu didepan kantor tapi kamu gak keluar-keluar,sampai akhirnya aku nungguin kamu disini ra."


"Ayo naik." Aku menarik tangannya untuk kubawa keatas karena merasa kasian melihatnya yang sudah menungguku sangat lama. Aku menyuruhnya duduk di kursi yang ada didepan kamarku dan mengambilkannya minumannya.


"Kamu minum dulu deh mas." Aku menyodorkan gelas yang berisikan air putih ke arahnya dan duduk disebelahnya. Ia segera meminumnya.


"Maaf ya mas... Aku...."


Bersambung.


-


-


-


-


Hay hay readers kesayangan aku makasih ya masih setia baca YSM. Maaf ya karena author lama updatenya. Nahh karena kemaren author lama updatenya,jadi episode YSM kali ini author bikin agak panjang hehe


Semoga kalian suka dan gak bosen ya,tunggu update selanjutnya karena kita hampir sampai pada inti ceritanya.


Jika kalian suka dengan karya author pliss tinggalkan komentar,like dan vote biar rame ya...


Pembaca selalu diminta bijak dalam membaca novel ini !

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2